Poetry


Mengheningkan Kamu
Oleh: Nur Amalina Widyaningrum

Bersama anganku yang mengembara
Serbuan memori menggapai minta dirangkai
Dalam satu bingkai kenangan,
dengan kayu lapuk dicumbu rayap
Selagi angin berbisik mengetuk jendela,
alam sadarku membentang di kaki langit
Gerimis mengantar rindu yang membumi,
sementara bulan enggan memeluk malam
Yang mencintaiku hanya kopi
Menjaga dari keterlelapan
dalam mimpi-mimpi yang semu
Lain halnya engkau
Candu yang menjagaku berjelaga
dalam mimpi-mimpi tiada akhir
--------
Puisi ini diikutsertakan dalam lomba sastra tingkat nasional “Gelar Sastra Februwriting 2018” yang diadakan oleh @indonesia_menulis dan website portal sastrafest.com



Semesta Merindumu
Oleh: Nur Amalina Widyaningrum

Sang surya perlahan berjingkat memberi peluk
Hangatnya membelai lembut rambutku
Menyembul manis di puncak langit, seperti senyummu
Bukankah sebelum ini alam selalu kalah
Oleh pesonamu yang indah merekah
Tapi bila kau saksama, pagi ini langit nampak sumringah

Semilir angin menamparku yang tengah termenung
Air mata merebak menjelma embun di ujung daun
Kicau burung seramai pertengkaran kita dulu
Lama sudah waktu berlalu sejak peristiwa itu

Sang surya bergabung dalam keriuhan khas ibukota
Meramaikan nyaringnya seteru dalam memoriku menggema
Prasangkaku berkembang bengis, aku hilang kendali—lagi!
‘Aku tak tahan lagi denganmu.’ ucapmu
‘Tidak—jangan!’ bagai disambar petir aku tersadar
Kau tidak pernah pergi, namun kini terjadi
Hatiku teriris sementara sisi lain diriku menyeringai sinis
Mampuslah kau dalam tangis! Hahaha!
Gempuran emosi bergolak menjadi kepulan uap
Mengudara di antara panasnya hawa hingga langit memerah
Aku menatapnya marah, betapa kejam takdir bekerja!
Ataukah ini hanya asumsi seorang terluka yang putus asa?

Senja larut bersama hening yang menyelinap
Rembulan tajam menatap kala diriku kian meratap
Begitu jauh, kau berjalan dan hilang ditelan gelap
Tak ada lagi yang bisa kulakukan
Tak kusemat lagi kata penyemangat
Tak kubisikkan lagi kata sayang
Perasaan yang menggebu harus ditekan
Desak kebutuhan harus ditahan
Rindu yang menyala harus dipadamkan
Barangkali dimusnahkan
Mungkinkah?

Sejak lahir fajar hingga malam menyergap
Manusia lain merutuk diburu waktu
Aku? mengutuk kenangan yang membelenggu
Di mana ada kamu.
 --------

Puisi ini diikutsertakan dalam lomba sastra tingkat nasional “Gelar Sastra Februwriting 2018” yang diadakan oleh @indonesia_menulis dan website portal sastrafest.com



No comments:

Post a Comment