Nadin Amizah, Jogja, dan Bayangan

 

Photo by Angga Kurniawan on Unsplash


Sabtu.

Aku mengetik ini ketika hujan turun cukup deras di luar sana. Disela notifikasi beberapa menit lagi menuju Konser Tunggal Virtual Selamat Ulang Tahun oleh Nadin Amizah. Aku melewatkannya tahun lalu, karena memang belum menikmati musiknya. Baru beberapa bulan terakhir, Bertaut terngiang-ngiang di kepalaku sebab lantai kantor yang kutempati kerap memutarnya. Aku yang telah lama menulikan diri dari bermacam lagu, tak pernah paham betul letak istimewanya.

 

Suatu siang dalam perjalanan, di sisi jendela tempatku biasa memandang keluar dengan earphone di telinga, tiba-tiba saja suara khas mengetuk gendang telingaku. Aku melewatkan intronya. Tahu-tahu, hidup berjalan seperti bajingan, katanya. Membuatku tersihir. Begitu saja, Bertaut mengantarkanku pada Kalah Bertaruh.

 

Baiklah, mari kita bercerita.

Mestinya aku menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tenggat waktu, tapi hingga saat ini aku belum menemukan feel untuk melanjutkannya lagi. Aku harus menuliskannya dengan sempurna, begitu yang kurencanakan. Jadi, aku memutuskan untuk “pemanasan” dengan mengisi blog dulu. Bercerita tentang waktu sebelum ini hingga hari ini.

 

Tepat seminggu lalu, Jogja di malam hari cukup bersahabat. Tidak ada hujan. Aku dan beberapa temanku berkeliaran di Malioboro. Berbelanja, atau sekadar melihat-lihat dan mengambil foto. Kami juga sempat mampir untuk jajan. Sayang sekali untukku pribadi, keramaian malam itu membuat energiku terkuras hanya dengan berada di tengahnya. Aku memang sangat menikmatinya, hanya saja ada hal lain yang lebih membuatku tertarik sehingga seolah raga dan pikiranku tidak terkoneksi sebagaimana mestinya. Kalau kuingat lagi, kalau saja aku tahu akan sangat menyenangi momen-momen di sana, aku akan lebih menghayati setiap detiknya.

 

Aku berangkat sekitar pukul delapan tiga puluh malam dengan bus. Rasanya seperti kembali ke masa sekolah saat kau akan studi wisata. Aku mendapat kursi di sisi jendela (favorit!) dan teman duduk yang menyenangkan. Aku berangkat tanpa mengharap apa-apa. Hanya ingin membebaskan diri sejenak dari kotaku. Untuk sampai di Dieng, bus kami berhenti tiga kali di rest area. Setibanya di sana udara dingin dan lebat hujan menyambut. Aku urung membeli topi rajut untuk kepalaku dan sarung tangan. Cardigan rajut yang kubawa sudah cukup tebal. Saking tebalnya seorang bapak mengira aku sedang sakit. Kaus kakiku basah di toilet, tapi mengenakan sepatu tanpa kaus kaki memang bukan masalah bagiku.

 

Dan, begitulah. Kami menaiki bus yang lebih kecil untuk mencapai negeri di atas awan, candi yang-aku-lupa-namanya, dan spot bukan-telaga-warna tapi sungguh bau belerang. (Kenapa aku tiba-tiba sangat pelupa saat menulis ini).

 

Ya intinya, setelah hari-hari kerja yang menyedihkanku di minggu itu, Tuhan berbaikhati

menghiburku dengan Dieng dan Jogja di akhir pekan, dan segala istimewanya yang kini bisa

kudekap. Aku senang berteman baru, dikelilingi mereka yang tidak mengenalku lebih

jauh—sebutlah mengetahui seberantakan apa diriku saat itu. Aku senang bisa melampiaskan kerinduan berjalan bebas di malam hari tanpa

setitik cemas. Terlebih di kota yang sangat “hidup”. Tak perlu memedulikan apapun,

hanya tertawa dan berbincang. Diam pun terasa melegakan. Ah, barangkali aku sudah

terlalu haus akan liburan. Setiap detailnya—yang mampu kuceritakan tapi lebih baik

kusimpan sendirian—terasa berkesan.

 

Ya, setelah hari-hari kerja yang menyedihkanku di minggu itu, Tuhan berbaikhati menghiburku dengan Jogja di akhir pekan dan segala istimewanya yang kini bisa kudekap. Aku senang berteman baru, dikelilingi mereka yang tidak mengenalku lebih jauh—sebutlah mengetahui seberantakan apa diriku saat itu, apalagi seperti apa masa laluku. Aku senang bisa melampiaskan kerinduan berjalan bebas di malam hari tanpa setitik cemas. Terlebih di kota yang sangat “hidup”. Tak perlu memedulikan apapun, hanya tertawa dan berbincang. Diam pun terasa melegakan. Ah, barangkali aku sudah terlalu haus akan liburan. Setiap detailnya—yang mampu kuceritakan tapi lebih baik kusimpan sendirian—terasa berkesan.

 

Btw, hari ini aku menghabiskan separuh waktuku di luar. Bercengkerama. Teman baikku membawa kabar tak kalah baik. Aku turut berbahagia, meski di sisi lain ada perasaan familiar yang menghantui. Sensasi itu mengingatkanku betapa lama waktu berlalu tanpa aku jauh melihat ke dalam diri—lagi. Beberapa waktu terakhir aku membiarkan seluruhnya melewatiku begitu saja. Aku tidak berpikir panjang, tapi juga tetap berhati-hati.

 

Sejujurnya, jauh di belakang kepalaku, masih ada sesuatu dari Oktober lalu yang membayang. Tak pernah benar-benar hilang, dan aku sudah lelah menyuruhnya enyah. Yang pasti, kali ini—syukurlah—aku memegang kendali penuh atas diriku. Bayang gelap itu tak lagi membuatku terseret, terombang-ambing, dan kehilangan pijakan. Ia seolah hanya ada di sudut ruang, seperti noda membandel yang belum kutemukan sabun ampuhnya. Keberadaannya cukup mengganggu.

 

Tapi, kupikir aku sudah jauh lebih baik sekarang.

Aku tertawa dan bercanda. Aku marah dan masih memilih diam. Tapi setidaknya, aku tak menangis lagi saat sedih. Dalam beberapa hal aku memang merasa semakin jauh, tapi aku masih dalam batas kewarasanku, sehingga...kupikir aku pasti akan kembali ‘kan?