Bulan Keenam #6

Ramadan sudah tinggal lusa.

Mestinya aku termasuk dari mereka yang bersukacita menyambut bulan suci. Nyatanya, antusiasme itu tidak ada. Padahal, tahun lalu aku dipenuhi kegagalan. Ah, orang tidak akan pernah mengerti kegagalan seperti apa yang kumaksud, karena hanya aku sendiri yang tahu persis. Yang pasti, aku sadar mestinya aku mempergunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Tidak mengabaikan fakta bahwa Tuhan telah berbaik hati masih mempertemukan aku dengan bulan penuh rahmat.

 

Sudah enam bulan berlalu.

Rutinitasku masih begitu-begitu saja. Gejolak emosiku masih sama. Bedanya, aku yang sudah lelah ini semakin lelah. Lelah menangis, lelah peduli, lelah bertahan, lelah berusaha mengembalikan hidupku seperti semula. Kupikir aku sudah membiarkan diriku terlalu lama berlarut dalam hal ini, hingga aku kesulitan menemukan jalan kembali. Bukan berarti aku tidak mencoba. Justeru itu masalahnya. Selama ini aku sudah berusaha keras, dan sekarang aku hanya lelah. Keinginan untuk tenggelam saja masih bersarang di belakang kepalaku. Aku mendapati diriku sesekali masih menengok ke arah sana, melihatnya sebagai opsi paling akhir sekaligus jalan pintas paling dekat. Namun, aku sepenuhnya sadar itu adalah tindakan yang dikecam. Tuhan takkan pernah memaafkan orang-orang yang mengambil keputusan itu.

 

Aku masih mencoba menata hidupku.

Aku terus mencari kegiatan baru. Aku ingin melukis lagi. Setelah dilema antara pianika dan kalimba, akhirnya aku membeli pianika kemarin. Aku mencoba journalling dengan cara baru, sebab kesukaanku menulis dan membaca agak menguap. Beberapa buku kubiarkan saja belum terbaca. Aku terus memberdayakan akun bookstagram ala-ala milikku. Aku ingin memotong rambutku, padahal belum begitu panjang. Ingin menaikkan berat badanku yang sudah menyusut, tapi malas makan. Hari ini aku melewatkan makan siang tanpa kelaparan. Dan tidur. Ya, tidur! Tidur adalah kemewahan yang membuatku lari sejenak dari realita yang hampa ini. Sudah berapa malam terlewat tanpa aku bermimpi. Begitu bangun, aku dihantam kenyataan yang belum bisa aku tinggalkan sampai sekarang.

 

Hhhh melelahkan.

Di satu sisi aku merasa begitu rapuh dan lemah, tapi di sisi lain aku tahu diriku kuat.

Ya..fakta bahwa sampai detik ini aku masih bernapas dan mampu mengenali emosiku sendiri, serta menyalurkannya dengan ragam cara, membuktikan bahwa aku mampu. Ya kan? (bilang saja iya). Kalau aku selemah itu, aku sudah mempraktikkan bayang-bayang yang menghantui kepalaku beberapa bulan ini.

 

Apresiasi diri.

Dua malam lalu saat di perjalanan pulang, aku lihat tukang jualan bunga yang lebih ramai dari biasanya. Mereka berada di sisi-sisi jalan. Di hadapan mereka ada sejumlah plastik berisi kembang untuk ditabur di pemakaman. Tak kalah banyak juga buket bunga maupun sebatang yang biasa dihadiahi untuk orang terkasih.

Baiklah, di jalan tempatku biasa lewat, ada satu florist. Terus terang aku selalu memperhatikan tempat itu. Kadang rasanya mataku memancarkan damba. Ingin membeli bunganya untuk kumiliki sendiri. Bunga-bunga itu cantik, dan aku amat menyukainya. Aku ingin memberikannya pada diriku sendiri, hanya karena aku menyukainya. Tapi, entah kenapa aku tidak pernah jadi melakukannya. Sampai saat ini tiap aku melewati florist itu, aku hanya bisa menatapnya datar. Sudah tak ada lagi hasrat dalam diriku.

 

Menulis soal bunga ini mengingatkanku ketika aku ikut mendengar percakapan seseorang dengan temanku. Dia bilang, dia ingin memberikanku bunga. Jangan salah, bukan dengan cara yang romantis. Aku lebih melihatnya sebagai bentuk permintaan maaf untukku. Menebus sedikit rasa bersalah dan menyesalnya, kalaupun ia memang punya. Orang yang terdengar mencelaku karena baginya amarahku seperti orang kerasukan, tapi sejurus kemudian aku mendengar bagaimana dia menyebutku seperti anak kecil yang manis, karena celotehan tulisanku yang ia baca. Sekarang orang itu sudah mati. Setidaknya, itulah kebohongan yang sedang kucamkan pada diriku.

 

Sudahlah, kenapa aku membicarakan ini.

Aku tak tahu bagaimana tulisan ini akan terbaca. Aku juga tak mengerti mengapa aku duduk tegak di atas kasurku, mengabaikan jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam kurang dan fakta bahwa besok hari Senin, hanya untuk menuliskan hal ini. Ini tidak pernah benar-benar melegakan. Hanya sedikit mengurangi nyerinya. Namun, itu membantuku bertahan,

 

Meski mustahil, meski aku harus meniti segala proses penyembuhan ini dengan perlahan, aku masih tak bisa mengeyahkan harapan agar kepedihan ini menguap dengan cepat dan—ajaibnya—begitu saja. Waktu akan menyembuhkan segala luka, katanya. Aku akan mencoba gigih meminta pada Sang Pemilik Waktu agar hidupku kembali baik dan berwarna. Walau aku harus berjuang sendirian.