Another #4


“Udah lin, ini terakhir kalinya ya nulis soal ini,”
batinku tiap kali akan memposting sesuatu di blog. Terakhir, meski bukan akhir. Nyatanya tidak semudah itu. Begini memang caraku healing—terserah orang mau bilang apa. Seperti mereka mau tanggung jawab saja kalau kepalaku meledak.

 

(I)

Tahu apa yang lucu? Dan ini benar-benar lucu karena aku tertawa.

Ketika setengah mati mencoba melepas, ada yang mati-matian berusaha mengikat.

Ketika bersimbah air mata sepanjang malam, ada yang tengah tertawa di sepanjang perjalanan—menikmati waktu bersama.

Ketika mencari-cari dengan siapa lagi habiskan waktu ‘tuk hibur diri, ada yang mencari-cari segala cara dan kesempatan untuk memenangkan hati.

Ketika terus berandai bagaimana cara menghilangkan memori dalam sekedipan mata, ada yang sejak awal tidak merasa terganggu karena memang tak punya rasa.

Ketika sibuk bertahan hari demi hari, merasa waktu berjalan lambat sekali; ada yang tidak peduli apa pun asal keinginannya terpenuhi. A-p-a-p-u-n. S-i-a-p-a-p-u-n.

Lucu sekali. Aku terus tertawa membayangkan kontrasnya keadaan itu.

Tertawa, terluka, dan menjadi bodoh sendirian.

Dan sekarang aku tengah merayakannya.

Sinting.

 

(II)

Hal ini menyerangku di segala sisi. Titik sentralnya adalah: kepercayaanku pada diriku dan orang-orang di sekitarku. Kemudian merembet ke hal-hal lain yang tak dapat kukatakan terus terang. Rasa-rasanya aku kesulitan keluar dari situasi ini, otakku selalu buntu karena aku sungguh tak punya tempat untuk 'kabur' selain hanya dihadapi saja.

 

Pernah dengar istilah psikosomatis?

Itu adalah keadaan ketika kesehatan mentalmu mempengaruhi kesehatan fisik. Tekanan emosional yang terpendam dapat menjelma sebagai sakit fisik atau gejala lain. Yang kubaca begitu.

 

Aku merasakannya beberapa minggu terakhir. Seringkali tiap teringat hal-hal tertentu, dadaku terasa panas dan berdebar. Belakangan malah selalu terasa berat seolah ada yang menggayut tepat di tengah. Perutku terasa tak nyaman. Aku pernah merasa nyeri di kedua sisi rahangku karena terlalu banyak menangis. Pelipisku sakit. Aku mudah sekali merasa lapar, tapi tidak nafsu ketika makan. Aku kerap bangun pagi dalam keadaan tidak bersemangat. Terlelap dalam keadaan mataku basah. Menyedihkan sekaligus menggelikan (di masa depan aku akan menertawakan hal ini. Aku harus. Janji.)

 

Ini memang hal paling konyol yang pernah kualami, sekaligus perkara patah hati paling serius. Sebenarnya aku tidak mau menyebutnya gamblang, tapi seperti itulah keadaannya dan aku sedang tidak dapat membuat batasan perkara. Alih-alih menyoal rasa yang tertinggal dan sejenisnya, aku dicekam ketakutan akan kemungkinan yang akan datang. Aku takut diriku tidak mampu menghadapinya. Seluruh proses ini saja sudah berat.

 

(III)

Kalau mau berpikir seobjektif dan sedewasa mungkin, sebenarnya permasalahan ini bisa membantuku menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, ya, cara mendekatkan diri lebih lagi pada Tuhan.

 

Belakangan terjadi hal yang membuatku tersenyum masam. Aku mengira-ngira, skenario macam apa yang tengah dibuatkan Tuhan untukku. Aku benar-benar di-push dalam situasi yang memaksaku menghadapi sumber lukaku sendiri. Aku mau tertawa, tapi juga menangis. Hahaha. Kupikir aku hampir gila. Kemudian kuingat lagi, selalu kuulangi di kepalaku, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Dia tahu aku bisa melewati semua ini. Dia tahu aku tidak akan hilang akal dan mengambil keputusan ekstrem. Tapi, kadang-kadang diriku sendiri pun mengejutkanku.

 

Aku juga berpikir bahwa Tuhan cemburu padaku.

Selama berbulan-bulan lamanya hatiku terikat pada seseorang yang membuatku mengabaikan hak-hak yang mestinya kutunaikan. Baik dan buruk memang tidak bisa berjalan seiring. Aku harus memilih. Oh, bukan. Aku harus memaksakan diri mengambil keputusan yang benar. Namun, karena cukup sulit bagiku, aku pun sempat banyak berdoa pada Tuhan agar semuanya dimudahkan. Jika kami tidak saling mempengaruhi dalam kebaikan, maka jauhkan kami. Jika itu akan sangat berat bagiku, bantu aku melepaskan diri. Aku sendiri loh yang secara sadar sudah meminta itu. Dan Allah benar-benar mengabulkan permohonanku dengan sebuah kejadian yang mendobrak emosiku sehingga keluarlah keputusan seperti itu.

 

Kemudian, di tahap ini pun, mungkin Allah masih cemburu. Sebab, aku masih lari ke teman-temanku. Aku lebih memilih menangis di hadapan mereka dibanding usai shalatku (pernah juga sih, itupun harusnya menangisi dosa-dosa, bukan malah menangisi detail lainnya wk..), aku lebih memilih pulang agak larut karena habis bercengkerama dengan teman-temanku, sehingga jam tidurku kurang dan aku bablas tidur sampai subuh—melewatkan kesempatan shalat malam. Dan sebagainya.

 

Jadi, kalau mau posthink, kupikir Allah terus menekanku dalam situasi ini agar aku hanya benar-benar kembali dan mengadu kepada-Nya. Aku sudah terlalu lama dan jaaaaauh tersesat sampai kurasa hatiku sudah rusak. Asli. Serius. Salah satu doaku adalah meminta diganti hati yang baru karena kupikir yang satu ini sudah terlalu parah damagenya dan perlahan menggelap. Tentu bukan menghitam seluruhnya, karena kalau memang begitu, aku takkan punya kesadaran seperti ini. Namun, aku tetap takut. Aku sudah kehilangan diriku sendiri selama mencintai satu orang, Kondisi yang kualami sekarang adalah proses menemukannya kembali. Nah, lagu Lose You to Love Me-nya Selena Gomez cocok banget jadi backsound menulis ini.

 

(IV)

Aku banyak menghubungi teman-teman SMP, SMA, dan kuliahku. Bertukar kabar meski hanya via chat, DM, atau telepon. Aku perlu diingatkan kembali bahwa aku memiliki kehidupan lain di luar lingkunganku yang sekarang. Terkadang aku membuka lagi galeri foto-foto lamaku, kuperhatikan diriku—wajah, ekspresiku, penampilanku. Aku mencoba melihat diriku dari sudut pandang orang-orang sekitar. Ada sedikit kesadaran seperti, “Alin, hidup kamu luar biasa selama ini. Jangan berhenti. Alin, jangan lupa sama diri kamu sebelum mengenal ini semua.”

 

Otakku memutar kembali semua perkataan teman-temanku selama fase jatuh ini, atau ketikan mereka di kolom chat:

 

“Aku tau kamu anak yang pinter, Alin. Kamu bisa ngelewatin ini.”

“Nangis gapapa. Terpuruk wajar. Tapi jangan nyalahin diri sendiri, jangan ngerasa kayak sampah. Ayo, seorang Alin, lho..yang aku kejar selama ini. Jangan merasa insecure sama diri sendiri.”

“Mau kemanapun siap anter kok, kalau butuh refreshing”

“Pokoknya aku gak akan nyerah ngingetin kamu, tapi kamu jangan nyerah perjuangin harga diri kamu. Kamu harus balik lagi ke Alin yang dulu, yang ceria sebelum kamu ketemu dia.”

“Kita selalu ada kok buat kamu Alin, jangan ngerasa sendirian ya.”

“Fokus sama diri kamu sendiri, semua butuh proses. Pelan-pelan aja. Ini turning point kamu.”

“Aku sekarang cuma bisa dengerin keluhan kamu dulu, kasih support. It’s okay, kamu berharga. Kamu bukan sampah. Kamu masih punya aku dan temen-temenmu yang lain. Jangan pernah mikir kalau kamu sampah, Manusia di bumi ada 7 milyar, 3 milyarnya laki-laki. Masih banyak yang mau sama kamu dari 3 milyar itu.”

 ...dan masih banyak lainnya.

Di satu sisi aku sangat mensyukuri kehadiran semuanya. Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada mereka karena setia menemaniku selama proses ini. Sekarang, sudah terhitung satu bulan lebih. Waktu berjalan terasa lambat sekali. Menyiksaku selama pergulirannya. Dan aku tidak pernah benar-benar tahu kapan akan sembuh. Tapi aku sedang berusaha.

Aku hanya bisa berdoa supaya Allah membalas semuaaa kebaikan teman-temanku.


(V)

Kondisiku naik turun. Tidak pernah benar-benar stabil. Tapi..alhamdulillah aku masih waras. Walau tak terhitung berapa kali kubilang “Aku mau gila. Aku hampir gila. Aku bisa gila”. Aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau. Tapi aku juga lelah.

Hal lucu lainnya di sini adalah, aku menyadari betul apa yang tengah terjadi pada diriku. Aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Tapi aku tidak mau bergerak. Aku stuck di tempat dan berharap...semua ini berlalu dalam sekedipan mata. Semudah itu.

Seringkali terjadi, ketika curhat, aku menjabarkan kronologinya dan hal-hal tersembunyi di baliknya; interpretasi terhadap peristiwa itu, dan kesimpulan yang kutarik. Temanku akan berkata, "Nah, Lin. Itu kamu udah tahu...kamu sadar sendiri, Lin." Dan aku akan berkata, "Memang, sih." Lalu diam. Entah apa yang kuharapkan. Aku sama sekali tidak tahu.

Hanya diriku sendiri yang dapat mengeluarkanku dari situasi ini. Aku benar-benar punya masalah genting. Aku ingin sekali kembali pada waktu di mana aku tidak pernah mengenal ini semua...barangkali hidup akan lebih mudah, karena ternyata sesulit ini menerima dan ikhlas atas hal-hal yang tak dapat kita kendalikan. Aku lelah sekali menangis, benar-benar lelah dan sakit rasanya.

Jadi..begitulah.


(VI)

Mudah-mudahan segalanya semakin membaik.