19 Things #3



 Setelah ragam postinganku belakangan yang cukup melo, aku lebih bisa berpikir jernih sekarang untuk..mengenang beberapa memori, katakanlah begitu. Bukan sesuatu yang istimewa, sih. Malah sebenarnya ini bukan hal-hal yang mengandung “baik” atau “buruk”. Hanya ingatan di kepalaku. Menuliskannya hanya untuk sekadar mau. Tanpa maksud atau rasa apa pun.


1.

"Temukan ikan di antara cabe ini," kataku, mengirimkan foto semangkuk cabai merah dan oranye.

"Mana ada. Tes mata emangnya?"

Aku melingkari salah satu cabai yang ujungnya nampak seperti mulut yang membuka, dan persis di atasnya ada setitik celah bagai mata. Cekikikan sendirian. Receh.

"Gila kamu ya," sahutmu.

Mungkin. Rupanya, aku senang membagikan hal-hal remeh padamu. Entah lewat foto atau sekadar kata-kata. Kaos kakiku yang basah di perjalanan ke kantor, jepit rambut yang patah sepulang dari jalan-jalan, sarung tangan kebesaran dan repotnya menggunakan kacamata “ngelas” ketika bekerja. Aku melapor padamu seperti buku harian. 


2.

Film pertama yang ditonton, dan menjadi yang terakhir kali karena pandemi. Aku tahu kamu mau kita menyusul teman-teman lain ke Bandung. Sayang, kita malah berakhir di drive thru Mcd tengah malam yang berhujan. Makan kentang sambil kudengarkan cerita soal kejadian mistis di rumahmu.

 

3.

Percakapan-percakapan kita hingga larut malam. Via telepon atau panggilan video. Ternyata semua bisa diperbincangkan. Kadang aku menyimak sambil mencuci piring, makan, bahkan sikat gigi. Ponselnya ku-mute, jadi kamu hanya perlu terus bicara tanpa mendengar grasak-grusuknya aku. Oya, kita pernah bercakap hampir sampai subuh. Nada bicara sudah saling melantur. Mata sama-sama terpejam. Telepon biar terputus sendiri begitu saja.

Pernah suatu malam.

"Eh, kamu--"  senyap. Kata-katamu terputus. Begitu tiba-tiba matamu terpejam dan aku sadar kamu tengah jatuh tertidur. Itu adalah salah satu hal paling lucu yang pernah kulihat seumur hidup. Aku tahu kamu mengantuk meski masih memperpanjang percakapan. Hanya saja, tak kusangka seseorang bisa begitu dalam detik berikutnya. Tertidur di tengah mengajukan pertanyaan.


4.

Aku suka sekali iga bakar si jangkung. Tapi aku mulai sebal waktu kamu menuangkan terlalu banyak kecap. Resapan bumbu di dagingnya malah jadi lenyap. Apa kamu dendam karena sebelumnya aku berisik? Gaduh, tidak sengaja menendang kursi.

 

5.

Kamu selalu bilang, kemenanganku di Hago adalah hoki. Atau, dirimu sengaja mengalah supaya aku sumringah. Memang menyebalkan, kupikir aku jago bermain congklak, tapi masih saja selalu kalah.

 

6.

Ke Ngikan tanpa ada percakapan di sana dan sepanjang perjalanan. Mungkin kita hanya sama-sama capek. Aku marah dan kaupun juga. Keesokan harinya aku ribut mencari atm-ku yang hilang. Ingat?


7.

Seperti biasa, kita tak pernah benar-benar membahas permasalahan yang disebutkan di telepon saat bersua. Malam itu, kita malah membantu pendatang dari Surabaya yang terkunci di luar mobilnya sendiri. Kamu berperan lebih banyak, sih. Aku hanya menyumbang topik saat di perjalanan. Anyway, kamu kelihatan senang dan puas bisa membantu orang.

 

8.

Karena kamu, pertanyaan “Mau makan apa?” terdengar sama sulitnya dengan soal-soal fisika.


9.

Aspasia. Senangnya bisa dikepung hijau-hijau lagi! Sayang tidak bisa menyentuh langsung kelinci-kelinci gembul yang berlarian di rerumputan. Kenapa ya waktu itu kita tidak masuk saja? Sampai sekarang aku dibayangi penyesalan ‘hanya’ perkara tidak mendekati hewan bertelinga panjang itu.

 

10.

Kembali ke gerbang utama dengan tanpa kendaraan ternyata sangat melelahkan. Untung udaranya segar dan dingin. Seharusnya kamu menanjak duluan saja. Bukan malah menyamai langkahku dengan ekspresi mengejek kalau aku akan pingsan bila ditinggal. Haha, kuakui memang saat itu aku seperti nenek-nenek.

 

11.

Kita mengunjungi tiga tempat makan yang paling kurindukan dari kehidupan mahasiswaku. Sayang sekali aku mengurungkan niat membeli Kabobs di Jatos. Mengorbankan sementara kartu identitas dan menjadi mahasiswa yang hendak mengembalikan buku ke Cisral, rasanya puas menyusuri seantero wilayah yang kukenal baik empat tahun terakhir. Kubiarkan wajahku hinggap di kaca jendelamu dan merasakan terpaan angin yang dibumbui nostalgia. Aku menyesal sekali kehilangan video dokumentasi hari itu. Amat sangat menyesal. Seperti seolah aku takkan mudah lagi kembali ke sana.

 

Terima kasih sudah membantu melampiaskan rindu. Aku juga jadi tahu pemilik kosanku dulu sudah punya bayi lagi. Senangnya. Amat sangat senang mengenang ini di kepalaku.

 

12.

Aku mau saja menemanimu berlama-lama mencari pakaian. Tapi, rasanya sungguh tidak enak bersantai ketika kehilangan indera penciumanmu dan kepalamu terasa berat. Wajahku pasti membiaskan pucat dan lelah. Aku bahkan tidak bisa benar-benar menikmati pizza yang kumakan. Tak dipungkiri, pada hari itu aku senang kamu ada.

Juga saat aku terbaring dengan selang infus yang alirannya bergerak lambat. Menunggu hasil tes darah. Aku memalingkan wajah ketika kamu tiba. Malu. Aku nampak kepayahan. Rasanya memang seperti itu. Tapi lagi, pada malam itu aku senang kamu ada.


13.

Sapu tangan cokelat. Ada hujan di bahumu. Lama dan deras. Tidak apa-apa ya?

 

14.

Warung kaki lima di sekitar Peruri tidak ada lagi. Sayang, kita jadi tidak bisa menertawakan kembali peristiwa pada tanggal 11 Maret 2020 lalu. Aku serius.

 

15.

Menurutku, KEF tempat yang cukup nyaman untuk mengerjakan tes, atau bahkan sekadar berbincang. Menurutmu bagaimana? Ah, kamu seperti diburu waktu saat itu, jadi mungkin tidak terlalu memerhatikan sekitar.


16.

Tak ada angin, tiada hujan. Kutitipkan secuil camilan untuk menemani akhir bulanmu yang hampir selalu kamu keluhkan. Ada yang lucu. Sadar tidak, kita hampir selalu tidak baik-baik saja setiap mendekati akhir bulan? Hahaha. Menjadi semacam pola.


17.

Keluar dari Gramedia tanpa buku pilihan apa-apa. Pertemuan pertama setelah keadaannya berbeda. Aku tidak bisa tak malu ketika menyusuri rak-rak buku bertema Islami, dengan cengiranmu yang terasa mengejek.

"Oh, aku pura-pura gak liat deh," katamu sambil lalu, melihatku jadi kagok. Aku berjongkok untuk menjamah sebuah buku bertemakan motivasi Islam, ketika kusadar kamu memerhatikan dari belakang. Masih dengan sisa tawa di wajahmu. Hahaha. Sore itu memang rasanya aku banyak tersenyum lebar. Kamu juga.

Setelah puas melihat-lihat, aku berbisik jahil, "Kamu malu gak kalau kita keluar aja tapi gak beli apa-apa?"

"Enggak," sahutmu nyengir. "Yuk."

"Yuk."

 

18.

"Pilih warna hitam atau coklat?" tanyaku sore itu, tanpa basa-basi. Via telepon, tanpa kamu duga. Masih dalam rangka ingin memberikanmu sesuatu. Aku menghabiskan hampir satu jam di sana hanya untuk 'berdebat' denganmu sebelum, selama, dan setelah membelinya. Kita sama-sama ngotot. Kamu tidak mau menerima, dan aku yang memaksakan keinginan. Situasinya cukup lucu hingga aku tak bisa tidak tertawa walau menyebalkan. Mas-mas pegawai yang melayaniku juga gagal menyembunyikan senyumnya mendengar celotehanku. Aku nyengir meminta maaf.

Ini, hadiah yang juga tak pernah sampai. Tapi tidak apa-apa.


19.

Ada hal yang selalu ingin kucoba, dan telah lama kutelusuri referensinya di Pinterest. Yup, memberikan gift box ala-ala! Hihi.

Aku bersemangat sekali mencari kotak dengan harga bagus dan kualitas oke. Ketemu. Bahkan dilengkapi dengan pitanya juga. Biru yang elegan. Aku berhasil pula dapat kertas cacah untuk lapisan bawahnya.

Sewaktu mencari isian, aku tidak berniat menjadikannya serba biru meskipun itu akan lebih mengandung nilai estetik dan cantik. Alih-alih memilih berdasarkan warna produk, tentu aku harus menyesuaikan denganmu yang cukup pemilih.

Memang semua itu gagal kamu nikmati sendiri. Tidak apa-apa. Hanya hal-hal 'receh' seperti itu.


Ingin kukatakan sebagai penutup.

Walau tidak ada yang tahu, aku tetap pernah menjadi pendukungmu nomor satu.

Pernah.


Selesai

Nah, sudah. Biar sisanya di kepalaku saja. Barangkali aku menulis ini sebagai pengingat bagi diriku juga, untuk tidak terlalu memberi hati pada segala rasa yang kita punya. Membencilah seperlunya, sayangilah secukupnya. Ingat yang baik-baik (untuk ke depannya saja, sekarang jangan). Setiap orang memiliki sisi baik dan buruk, Tidak ada yang benar-benar sempurna. Bahkan kenangan yang menempel di otak kita tidak  melulu soal keburukan. Yah, walau, secara ilmiah memang dibenarkan kalau manusia lebih mengingat hal-hal negatif ketimbang positif.


Ternyata, aku tidak pandai mendendam. Tidak mahir pula membenci. Ruang untuk memaafkan memang selalu ada, hanya pintunya yang kutidak tahu kapan akan membuka. Yang jelas, aku tidak mahir membenci lama-lama. Jangan pertanyakan soal luka. Meski berkaitan, itu lain cerita.


Anggap tulisan ini fiksi. Berpura-puralah tidak membaca ini. Aku hanya ingin mengimbangi tulisan-tulisanku sebelumnya. Bahwa tidak seluruh ceritanya bermuatan tak menyenangkan. Hehe.

Bagaimanapun, semua ini hanya memori yang kumiliki sendiri. Ya, aku mengklaimnya sebagai milikku saja. Imajinasiku. Karena itulah yang terbaik untuk keadaan sekarang.


Baik. Itu saja.