Bakteri (1)


Dimulai dari pertengahan Februari hingga penghujung Maret kini, di kepala gadis itu tersedia ruang khusus untuk memikirkan sesuatu—atau seseorang? Entahlah. Terkadang caranya berpikir begitu rumit. Hal sederhana terkesan menjadi sulit. Belum lagi, gadis itu punya kebiasaan membohongi dirinya sendiri, hingga antara realita dan imaji nyaris tak bisa dibedakan lagi.
Namun, ini semua bukan tentang gadis itu semata.
Gadis itu tak pernah mengira sebelumnya, sosok pria yang kemudian dalam benaknya ia sebut Bakteri, akan menjadi bagian dari cerita kesehariannya.

Mari kita mundur.
Kesan pertama gadis itu saat mereka pertama kali bertemu adalah, Bakteri cukup menarik. Meskipun entah kenapa wajahnya terkesan galak, dan matanya nampak lelah. Pada waktu-waktu berikutnya si gadis perhatikan, mata pria itu memang kerap nampak lelah. Gadis itu memutuskan untuk tidak memerhatikan lebih jauh. Bakteri bukanlah siapa-siapa, dan takkan menjadi siapa-siapa. Mereka hanya dua orang asing yang kebetulan berada di bawah naungan atap yang sama. Bukankah ada hal lebih penting yang harus si gadis urus ketimbang memerhatikan sesosok pria?

Minggu-minggu selanjutnya.
Gadis yang hangat itu tak bisa menolak canda. Selera humornya sedikit aneh, tapi ia bisa menertawakan banyak hal, dan terbuka dengan beragam topik pembicaraan. matanya melebar saaat menyimak lawan bicaranya. Sikapnya tenang, seolah selalu siap mendengarkan. Hal inikah yang membuatnya terkesan lebih mudah mengakrabkan diri dengan sekitarnya? Karena tahu-tahu, Bakteri menjadi salah seorang yang gemar menghampiri gadis itu.
Interaksi antara Bakteri dan gadis itu tak banyak. Tak lebih pula dari sekadar sapaan singkat, guyonan tidak jelas, dan senyum yang saling mengembang. Rupanya, Bakteri tak segalak yang si gadis kira. Pria itu kerap tersenyum, entah bagaimana menampilkan kesan konyol. Sesuai dengan pembawaannya yang sepertinya gemar bercanda. Ah, tapi tahu apa gadis itu? Mereka tak saling kenal lebih jauh.

Suatu hari, pertengahan bulan Februari.
Gadis itu melemparkan dirinya ke tempat tidur. Mengembuskan napas lega bisa bersantai dan merasakan empuknya kasur milik sendiri pada Minggu pagi. Dua hari sebelumnya, ia menghabiskan waktu di Bandung. Bercengkerama dengan teman-teman dan mengunjungi beragam tempat. Saat si gadis tengah memejamkan mata, seseorang menyapanya lewat kotak pesan. Pesan singkat yang menjadi awal dari semuanya.
Itu Bakteri.


**
Semua berjalan begitu saja.
Hampir setiap harinya, ada orang yang mengantarkan gadis itu pulang. Obrolan mereka tidak selalu penting, tapi rupanya banyak hal sepele yang juga menarik untuk diperbincangkan. Tak cukup saat bertatap muka, telepon pun menjadi solusinya. Hari demi hari berlalu, gadis itu menganggap sang pria adalah teman yang cukup asyik, meskipun mereka jelas tidak sebaya. Sudah berapa kali mereka menghabiskan waktu bersama, walau hanya sekadar mengisi perut setelah lelah bekerja sambil bertukar cerita? Gadis itu mulai terbiasa dengan kehadiran sang pria, baik di kotak pesannya maupun secara nyata.
Kalau kau mengira gadis itu sudah jatuh hati pada sang pria, jawabannya adalah...belum. Lebih tepatnya, gadis itu tidak mengizinkan dirinya untuk menyukai pria itu—tapi tak bisa menyingkirkan kemungkinan hal itu akan terjadi juga. Benang kusut mulai menggumpal di kepala si gadis. Hari-hari berikutnya, ia sibuk menelaah perasaan dirinya sendiri, mana yang salah dan benar, serta apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup teman prianya sebelum gadis itu hadir.
...
...
...

Waktu terus berjalan, dan gadis itu semakin merasa terikat dengan teman prianya. Tentu saja, teman. Mereka tak pernah lebih dari sekadar teman. Meskipun acapkali begitu banyak hal terjadi yang mengaburkan garis pertemanan di antara mereka, pada faktanya mereka hanyalah teman. (Baik, berapa kali kau membaca kata ‘teman’ dalam paragraf ini?).

Tarik-ulur. Maju-mundur. Bimbang, tapi rindu. Ragu, tapi butuh. Segalanya abu-abu.
Aku sendiri penasaran, apa yang akan terjadi nantinya antara Bakteri dan gadis itu?
Sebagai pihak ketiga, aku hanya bisa menunggu.

You Might Also Like

0 komentar