Dear, You (All)


-ditulis pada tanggal 8 Februari, pukul 23.00-

Yang terjadi beberapa jam sebelum ini membuat saya tergerak untuk menuliskan hal ini. Pertama kalinya menggunakan “saya”, karena kalau menggunakan aku, takutnya agak cringe mengingat topik tulisan ini.

Malam ini, teman lelaki saya dengan sopan menyatakan kalau dia akan berhenti untuk memperjuangkan saya. Beberapa bulan sebelumnya, ia memang mengakui keinginannya untuk menjadikan kami lebih dari sekadar teman; bahkan meminta izin, untuk menyukai saya (kembali) dan menjadikan saya sebagai tujuan akhirnya. Sama sekali tidak ada pembahasan spesifik soal hubungan, dia murni hanya menyatakan perasaannya. Saat itu, pengakuannya diwarnai ketidakyakinan—sebab pikirnya saya masih dibayangi masa lalu yang menjebak. Meski menerima semua itu dengan wajah tenang, saya tak luput memerhatikan nada suaranya yang meragu atau sikapnya yang agak gugup. Dalam hati, saya memuji keberaniannya.
Kami berteman baik cukup lama, dan ini bukan pertama kalinya dia menyatakan perasaan kepada saya ataupun berupaya melakukan pendekatan. Kalau boleh saya katakan, waktu kami saja yang tidak pernah tepat. Ya, seperti penggalan lagu Fiersa Besari, “Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah..” Sebagian diri saya berpikir, dia adalah hal baik yang mungkin bisa saya miliki dalam hidup saya ke depannya—tidak sebagai teman, tentu. Namun, entah kenapa..hmm. Saya ingin menulis ‘keadaan kami tidak pernah bagus’, tapi sepertinya itu semua bullshit dan keegoisan saya semata yang ingin menyalahkan keadaan. Sebab, meski menyebalkan, harus saya akui, barangkali semua ketidakjadian itu adalah kesalahan saya.

Bermula dari semua itu, sekalian saja saya buat tulisan ini sebagai bentuk ‘tumpahan emosi’ untuk orang-orang yang pernah hadir di hidup saya. Menaruh hati, mengagumi, bahkan berniat dan berusaha memperjuangkan saya.
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk narsis, kepedean, sok-sok-an atau bagaimana. Kalau kamu membacanya seperti itu, hakmu, sih. Saya hanya berharap semoga kamu memahami maksud saya.

Semasa SMA, teman-teman dekat saya—baik lelaki maupun perempuan—pernah bercanda, kalau saya hanya tertarik pada laki-laki yang kurang baik, sedangkan mereka yang benar-benar baik malah diabaikan bahkan ditolak. Saya ikut tertawa bersama mereka. Tentu saja itu tidak benar! Namun, meski menyebalkan, faktanya menunjukkan... ah, begitulah. Pertanyaan besar yang mengendap di kepala saya hingga saat ini adalah, “Ketika yang tulus menghampiri, mengapa sulit bagi saya membuka hati? Kenapa saya selalu jatuh pada orang-orang yang tidak menyayangi saya sebesar saya kepada mereka, bahkan mungkin tidak membalas perasaan saya sama sekali? Apa yang sebenarnya saya cari?”
 Kemudian, pada satu titik saya sampai pada kesimpulan: semua ini untuk pembelajaran hidup. Saya memang harus menelan semua kepahitan sekarang sebelum mengecap manis di akhir. Dinikmati saja—kebodohannya. Pernah dulu, dengan dagu terangkat, mata berkilat menantang dan senyum menyeringai, saya berseru kepada teman-teman, “Iya gapapa nih gue dapet yang buruk-buruk, nanti pas nikah gue pamerin ke kalean semua kalau akhirnya gue dapet cowok yang baik!”
Hahaha. In a childish way but i wish it comes true.

A datang ketika luka saya dari hubungan sebelumnya masih belum kering. Tapi dia adalah segala yang saya butuhkan. Saya menyukainya. Dia pun sama. Sayangnya, saya menolaknya. Dia tak pernah tahu, alasan saya saat itu adalah karena rasa tidak percaya pada diri sendiri.
B hadir. Dengan tulus menawarkan sebentuk kasih lainnya ketika saya sedang dimabuk kepayang oleh laki-laki brengski hingga seolah berubah jadi masokis. Saya tidak bisa melihat B dengan cara yang sama seperti dia terhadap saya. Ini terjadi dengan dua orang yang berbeda.
C muncul, memberi perhatian lebih dari yang pantas saya terima. Mata saya tertutup, alih-alih melihat ketulusannya, saya keburu merasa risih dan itu membuatnya menarik diri dari saya.
Lalu ada D. Laki-laki baik lainnya yang saya temui di kehidupan kampus. Yang diam-diam menaruh minuman di gagang pintu kostan saya, yang membawa banyak sekali makanan dan minuman ketika saya sedang tidak mood, yang telah banyak memperhatikan saya meski saya tidak selalu melakukan hal yang sama kepadanya.
Untuk yang selalu tersenyum ketika bertemu saya, menyapa dengan bahagia seolah saya adalah hal indah yang pantas ia puja (dan ini bukan GR, dia memang terang-terangan mengejar saya dalam waktu yang lama). Untuk yang pernah memperdengarkan kepada saya lagu Bondan Fade 2 Black yang berjudul Bunga dan berkata, “Ini lagu aku buat kamu,” yang kemudian membuat saya sedikit terenyuh karena lirik lagu itu menggambarkan bagaimana dia melihat saya. Juga untuk yang pernah menjadikan saya sebagai motivasinya ketika berusaha jadi tentara, bahkan repot-repot mengabari saya sewaktu ia tidak lolos, padahal saya tidak pernah ada selama ia meniti prosesnya. Saya bahkan agak terkejut, dia benar-benar mengupayakan itu dengan menjadikan saya sebagai motivasinya.
Terima kasih pernah menyukai saya. Sebagai teman, terima kasih sudah memperlakukan saya dengan baik.

Detik ini, ketika saya menuliskan ini sambil merefleksikan kehidupan asmara saya yang tidak selalu mulus (hahaha), saya bisa melihat bahwa saya sangat kurang dalam menghargai diri sendiri. Saya seringkali sibuk mencintai dan menghargai orang lain hingga lupa melakukannya untuk diri sendiri. Saya sibuk menjadi baik untuk mereka yang saya cintai (tapi tidak balik mencintai saya), sehingga saya mengabaikan mereka yang sibuk mencintai saya dengan benar. Kemudian, hal itu terus berulang—kesalahan demi kesalahan, yang nyaris membentuk pola. Saya sibuk menjadi yang terbaik bagi orang lain dengan cara saya sendiri hingga selalu kehilangan kandidat-partner-baik yang mungkin dapat membuat saya lebih baik lagi.
Hidup terkadang selucu itu. Atau saya dan pikiran saya saja yang membuat semua ini jadi ‘selucu’ itu.

Nah, bagaimana cara saya menutup tulisan ini..?
Pertama, untuk orang-orang yang pernah menyukai dan berjuang untuk saya.
Sekali lagi, terima kasih telah memperlakukan saya dengan baik. Saya senang hingga saat ini kita semua masih—amat—berteman baik. Kita sudah sama-sama tumbuh dewasa, semoga kita semua juga bisa mendapatkan yang terbaik pada akhirnya. Dan yang paling penting, kuat dan tabah dalam menjalani lika-liku kehidupan orang dewasa yang rumit ini sebelum mencapai akhir yang membahagiakan. Ini tulus. Maaf dan terima kasih.
Kedua, untuk orang-orang yang pernah saya cintai, tapi tidak memedulikan saya sama besarnya. Untuk hubungan-hubungan kita yang pernah gagal. Hahaha. No hard feeling. Sudah lama saya bisa memandang semua itu dalam kacamata jenaka. Saya telah lama bisa menertawakan kebodohan dan ketidakdewasaan kita. Terima kasih pernah hadir di hidup saya. Saya juga senang hingga saat ini kita masih berteman baik.

Sekali lagi, saya tidak bermaksud kepedan, narsis, sok-sok-an, atau apa pun lewat tulisan ini. Untuk mereka yang termasuk ke dalam yang saya sebutkan di atas: mungkin kalian sudah lupa, atau saya bukanlah bagian penting yang mengendap dalam memori kalian. Tetapi, saya tidak pernah melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah saya terima. Atas hubungan yang gagal—bahkan gagal ketika belum sampai ke tahap hubungan—saya tidak pernah melihatnya sebagai kesalahan. Memang tidak semua yang terjadi itu adalah hal istimewa, karena hanya beberapa di antaranya saja yang benar membekas di hati saya. Namun, izinkan saya tetap mengucapkan terima kasih lewat tulisan ini. Sebab tidak ada pertemuan yang kebetulan. Tidak ada yang kebetulan.

Saya sangat memercayai semua yang terjadi di muka bumi ini sudah diatur oleh Yang Kuasa. Yang terjadi, pastilah akan terjadi. Ada hikmah di balik setiap kejadian. Ada pelajaran yang bisa dipetik. Perkara jodoh, yah..memang misteri. Seperti kematian. Untuk kita semua..semoga kita selalu bisa ikhlas dalam menerima ketentuan yang digariskan oleh Tuhan, dan tak pernah menyerah berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita.

You Might Also Like

0 komentar