Serba-serbi Proses Rekrutmen Asisstant BNI Syariah

Photo by Black ice from Pexels


Hai.
Kali ini aku mau sharing yang rada berfaedah, yaitu pengalaman ikut seleksi ADP BNI Syariah (Asisstant Development Program). InsyaAllah berguna untuk yang baca sebagai gambaran, dan bentuk introspeksi juga bagi diri aku sendiri.
Waktu itu BNI Syariah di kotaku lagi buka lowongan asisstant, berkas lamaran bisa dikirim via e-mail atau menyerahkan langsung ke kantornya. Karena aku masih bisa ke sana langsung, jadi aku apply lewat opsi kedua. Dititip ke satpam dengan bismillah. Hahaha.

Interview
Tepat dua minggu kemudian, aku mendapat panggilan interview. Diminta mengenakan pakaian office look dan membawa berkas tertentu. Pada hari H, ternyata yang datang untuk interview lumayan banyak. Sekitar 20-25 orang mungkin. Atau lebih. Aku gak hitungin satu-satu. Ya iya atuh, ngapain. Kami menunggu cukup lama, sampai akhirnya sesi interview dimulai, dan tiba giliranku dipanggil ke ruangan.
HR memintaku memperkenalkan diri, menceritakan kelebihan dan kekurangan, bertanya tahu loker ini darimana, serta minatku untuk di frontliner atau back office. Beliau juga memberi pertanyaan, andaikata aku di posisi marketing, siapa sasaranku dalam memasarkan salah satu produk X dari BNI Syariah. Jadi, jangan cuma sibuk menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang berorientasi diri, tapi juga informasi tentang perusahaan tersebut sedetail mungkin. Oh ya, sebelum ditutup, aku ditanya apa bisa mengaji. Beberapa cerita lain yang kudengar, ada juga yang dites baca Alquran langsung.
HR berbaik hati mengingatkanku, kalau nantinya lolos ke tahap psikotes, harus mempersiapkan diri dengan baik dari jauh hari. Terlebih kalau belum pernah ikut psikotes kerja. Beliau bilang, pernah terjadi gak ada satupun kandidat yang lolos tahap psikotes. Aw, makin-makin belajarlah sayah.

Psikotes
Tepat satu minggu kemudian aku mendapat panggilan untuk psikotes. Alhamdulillah. Tes dilakukan di Jakarta, dari pagi sampai sore hari. Yang diujikan di antaranya tes menggambar manusia, tes menggambar pohon, tes kraepin-pauli, tes pengetahuan umum, tes kemampuan spasial (memilih gambar, menggabungkan potongan gambar, dan mengurutkan cerita bergambar). Selain itu, tentu saja ada tes hitungan (kebanyakan berbentuk soal cerita) dan kemampuan bahasa (analogi, sinonim, dll). Intinya, simak baik-baik instruksi dari instruktur tesnya. Walaupun kamu udah pernah ikut tes sebelumnya atau merasa udah pelajarin baik-baik, yaaa tetap dengarkan aja dengan saksama.
Para peserta tes juga diberikan lembaran berisi pertanyaan-pertanyaan seputar identitas diri, pencapaian atau tantangan terberat, dan masih banyak lagi. Menurutku ini yang paling sulit, karena jawabannya harus diuraikan dengan jelas. Bukan semacam pilihan ganda, apalagi tes kepribadian yang tidak ada benar atau salahnya—hanya diminta mengisi sesuai apa adanya dirimu. Tes yang ini tidak terikat waktu, bahkan sembari para peserta mengisinya, kami akan dipanggil satu per satu sesuai nomor peserta untuk mengikuti tahap interview selanjutnya.
Anyway, aku suka sama tes koran. Hahahaha. Itu yang paling bikin tegang dan pegel banget sih, tapi seru asliiii. Aku kerjainnya ngebut tapi tetap fokus ngitung. ‘Bales dendam’ karena di soal-soal hitungan sebelumnya banyak yang skip karena aku kelamaan ngitung dan waktunya keburu habis.

Interview Psikolog
Sesi wawancara kali ini dilakukan oleh psikolog dari lembaga tempatku mengikuti tes. Selagi kita menjawab, beliau akan mencatat. Aku ditanya mendetail soal pengalaman bekerja sebelumnya. Kesulitan apa yang aku hadapi, dan bagaimana caraku mengatasinya. Apa alasanku memilih BNI Syariah, dan kenapa aku yang gak berlatarbelakang pendidikan di bidang perbankan ini tertarik untuk bekerja di bank. Alhamdulillah aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi kecepetan ngomongnya, sampai mbak interviewernya dua kali minta aku pelan-pelan karena beliau sambil mencatat. Tapi ngobrol sama mbaknya enak sih, bukan kayak lagi wawancara kerja. Jadi aku tanpa sadar nyerocos berasa lagi curhat sama temen.
Setelah selesai, aku kembali ke ruangan dan lanjut mengerjakan tes menggambar sampai akhirnya sudah bisa pulang—dengan galau. Separuh bangga bisa mengerjakan dengan baik, separuh merasa gagal padahal aku sudah belajar setiap hari sebelumnya.

Interview User
Beberapa hari berselang, aku mendapat panggilan lagi untuk interview. Kali ini yang mewawancarai adalah pimpinan. Karena sedikit dadakan, aku gak banyak mempersiapkan diri. Terlebih, aku sama sekali gak menyangka dari belasan orang, aku termasuk dari sejumlah kecil yang dipanggil. Aku pikir aku gagal, aku bahkan sudah sempat mendapat panggilan tes dari pihak lain dan fokus belajar untuk itu.
Pertanyaannya kurang lebih sama dengan interview sebelumnya, tapi jelas lebih mengintimidasi karena.. pimpinan, guys. Beliau ingin tahu latar belakang keluargaku, alasanku tertarik ke bidang pekerjaan ini, apa prestasi terbaik, dan berkali-kali menanyakan kesiapanku. Sebelumnya beliau bilang ingin memprioritaskan putra daerah (KTP-ku bukan asli daerah setempat karena aku pindah ke sini 10 tahun lalu), tapi melihat hasil tesku, katanya aku bisa dipertimbangkan. Tapi tetap aja, aku pulang tanpa berharap apa-apa.

Medical Check Up
Beberapa hari berikutnya, aku diinfokan untuk datang ke RS yang sudah ditentukan untuk melakukan medical check up. It means aku lolos ke tahap terakhir! Terhitung jam 10 malam aku diminta puasa makan, hanya minum air putih saja. Aku minum susu beruang dua botol, banyak air putih, dan tidur lebih awal. Pagi-pagi sekali sudah ke RS, yang untungnya dekat rumah dan terasa familiar sebab aku sering ke sana. Aku bolak-balik melakukan tes darah, tes urine, rontgen, usg, dll.

Kalau boleh kasih saran, yang bisa kubilang:
1.     Untuk psikotes, jangan lupa sarapan dan bawa minum, bawa uang buat makan siang atau ngebekal juga terserah. Karena umumnya berlangsung seharian. Istirahat yang cukup di malam sebelumnya.
2.    Banyak baca dan latihan soal psikotes kerja kalau belum pernah. Setidaknya biar ketika instruktur jelasin, kamu udah punya gambaran sendiri dan langsung ‘nyambung’
3.     Persiapkan materi dan latihan bicara untuk interview. Gak tau sih kalau orang lain, apakah mereka spontan (uhuy). Aku pribadi selalu latihan dulu biar aku punya gambaran mendetail bagaimana bersikap dan nada bicaraku ketika sesi itu berlangsung.
4.   Perkiraan daftar pertanyaan yang diajukan, model tes-tesnya, dan lain-lain bertebaran di internet. Jangan malas caritahu sendiri.
5.   Doa. Minta selalu dikasih yang terbaik sama Allah. Kalau memang rezekinya di sana, semoga dikuatkan untuk bisa mengikuti segala prosesnya dengan baik. Kalau pada akhirnya bukan, minta dikasih kesabaran dan pikiran yang jernih untuk memandang segala sesuatunya dari kacamata positif.

Aku benar-benar menggantungkan semuanya ke Tuhan. Dan rasanya baru kali itu aku benar-benar bisa memaknai nikmatnya “gak berharap sama manusia”. Berusaha ya iya, tapi sepulang mengikuti setiap tahapan tesnya aku gak pernah ngarep banget berhasil lolos. Yang aku tau, i’ve done my best that day.

Fun fact.
Sejak panggilan telepon pertama itu (initial interview), aku iseng menyimpan nomor kontaknya dengan nama “TEMPAT KERJAKU”. Aku tersenyum-senyum sendiri waktu melakukannya. Pede banget, lin, batinku. Tapi, saat itu aku sedang baca buku Allan dan Barbara Pease tentang kekuatan pikiran dan hukum tarik-menarik. Juga buku Nasrullah tentang Magnet Rezeki. Kalau dari diri sendiri benar-benar yakin (dan itu adalah suatu getaran yang positif), sangat mungkin ‘semesta’ menangkap getarannya dan memproyeksikan itu menjadi nyata. Terlebih, ucapan adalah doa. Berkata yang baik-baik aja, kan? Siapa tahu kejadian.

Seperti apa yang aku alami ini.

Semoga maksud baik melalui tulisan ini tersampaikan dan bermanfaat buat teman-teman yang baca.