Belok ke Gramedia


29 November 2019

Tidak banyak yang kulakukan. Atau, sebenarnya banyak, tapi yang mau kubagikan hanya hal-hal berikut ini.
Minggu lalu, aku pergi ke kawasan SCBD dan mampir ke kantor lamaku sembari menunggu seorang temanku  dari gedung lain pulang kerja. Kami berdua sudah terdaftar untuk menonton acara talkshow favorit kami langsung di studionya di wilayah Jakarta Selatan. Ini kesempatan kedua kami, setelah kesempatan yang pertama gagal karena bertepatan dengan kepindahan tim acara tersebut ke studio lain yang menjadikan shooting live dibatalkan. Lucunya, pemberitahuan tersebut baru datang ketika temanku sudah berada di kereta yang membawanya dari Karawang menuju Jakarta.

Kembali ke saat ini.
Sepulangnya dia dari tempat kerja, dan aku yang baru saja temu kangen dengan rekan-rekan kerja di kantor lamaku, kami—lagi-lagi—menuju FX, dan menjatuhkan pilihan makan malam di Ichiban Sushi (lagi). PR acara tersebut sebelumnya sudah menginfokan agar kami stand by pukul 20.00. Kami cukup terburu-buru, mengingat saat itu sudah pukul 19.30 lebih, dan pesanan temanku belum juga tiba. Aku sendiri sudah menghabiskan chicken katsu roll milikku dan hanya menanggapi kerisauannya dengan celotehan kemungkinan-kemungkinan yang ujungnya kami tertawakan.
Singkat cerita, kami banyak tertawa juga sesampainya di studio. Aku pun sangat antusias untuk melihat keempat host acara tersebut. Terlebih, kami beruntung karena bintang tamu saat itu sangat lovable dan membuat suasana semakin ramai. Sejak aku melangkahkan kaki masuk ke studio, aku sungguh masih tidak percaya karena bisa menyaksikan acara itu langsung. Selalu menonton mereka melalui televisi dan youtube, membuatku agak meragukan kenyataan bahwa aku benar-benar duduk di kursi penonton.
Menyenangkan.

Malam sudah larut. Aku menginap di kosan temanku itu. Bangunan tiga lantai yang terlihat minimalis dan bersih dengan nuansa putih-hitam. Berada di kos-kosan membuatku rindu rasanya ngekos, tinggal sendirian dan berkeliaran mencari makan dengan celana training, kerudung panjang, cardigan atau sweater, dan sandal. Begitu banyak pilihan makanan, tapi aku dan teman-temanku acapkali berkata dengan bingung, “hari ini mau makan apa ya?”

Keesokan harinya.
Aku sudah berencana akan mengunjungi sebuah event job fair di daerah Kuningan. Aku bahkan sudah mendaftar melalui email. Namun, keberadaan kosan temanku yang hanya berjarak 500 meter dari gudang buku Gramedia Palmerah membuatku tergoda untuk mengunjunginya. Aku tipikal orang yang bisa-bisa saja menjelajahi seantero toko buku dan keluar tanpa membeli apa pun—aku bisa menahan diri. Tapi untuk kali itu, aku tidak yakin takkan mengeluarkan uang untuk satu-dua buku. Lalu aku berpikir, jika toh pada akhirnya aku akan membeli buku juga, kenapa tidak sekalian aku datangi gramedia terbesar?

Sepertinya secara tak sadar aku sudah lama ingin mengunjungi Gramedia Matraman. Kumanfaatkan kesempatan ini. Berbeloklah rencanaku jadi ke Gramedia.
Sebagian diriku merasakan secercah perasaan tidak enak. Aneh rasanya berkelana sendirian hari itu demi memuaskan egoku. Di satu sisi lainnya, aku menganggap ini sebagai penghiburan. Jika memang aku harus pergi sendirian, aku sedang ingin dikelilingi oleh buku-buku, bukan kerumunan orang yang tengah mencari pekerjaan. Aku lelah memaksa diri melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan, alih-alih apa yang kuinginkan. Berangkatlah aku dari Halte Slipi Petamburan menuju Halte Tegalan.

Aku sempat merasa pusing selama di perjalanan. Roti tawar beroleskan nutella yang kumakan tadi pagi memang tidak cukup untuk orang sepertiku. Aku sempat khawatir, cuaca di luar sangat panas dan perjalanan terasa lumayan jauh. AC di dalam transjakarta hampir tidak terasa. Belum lagi aku menyesal karena mengenakan baju biru dongker milikku yang bahannya terasa panas itu. Untung aku membawa minyak kayu putih, kuhirup dalam-dalam aromanya. Sesekali mengurut pelipisku dengan botol kecilnya.

Aku mendesah lega saat meniti jembatan penyeberangan, dan melihat Hokben di samping gedung Gramedia. Aku langsung mendarat ke sana dan—seperti biasa—memesan menu Hoka Hemat. Yang berapa saja, yang penting ada egg roll-nya. Dengan kondisi masih kegerahan, aku makan pelan-pelan, berusaha tidak mengunyah cepat seperti aku yang biasanya. Mataku tak lepas dari timeline Twitter di ponselku.
Sudah kuduga segala perasaan dan pikiran negatif yang hinggap di kepalaku pastilah karena lapar. Makan benar-benar bisa mengembalikan mood.

Dan, yah, dimulailah ‘penjelajahan’ itu. Aku menyisir tumpukan buku di halaman depan, yang dilabeli “Gudang Buku Gramedia” dengan embel-embel “diskon 50-70%” dan tumpukan buku di basement yang dilabeli “Clearance Sale”. Setelahnya, barulah aku masuk ke dalam gedung dan menyerap seluruh detail di setiap lantainya.

Aku benar-benar  memutari setiap lantai. Terlebih di lantai dua, di mana rak-rak buku self improvement, Islamic, fiction/novel, business dan social bersarang. Proses pemilihan bukuku selalu lama, dan aku benar-benar menikmatinya. Ini yang kulakukan sebelum memutuskan membeli sebuah buku:
1.Baca bagian belakang buku. Jika kupikir itu menarik, aku akan mencari satu dari tumpukan buku tersebut yang tidak disampul plastik (hampir selalu ada yang seperti itu untuk setiap jenis buku).
2. Cek daftar isi dan profil penulis
3. Mencoba membaca cepat satu-dua paragraf untuk mengetahui gaya penulisannya, apakah enak dibaca
4. Kadang aku juga memerhatikan font style yang digunakan, layout halaman, bahkan spacing linenya apakah cukup memberikan tampilan yang membuatku nyaman membacanya.

Karena sangat menyukai buku dan sadar tak bisa terus-terusan membeli buku hanya karena ingin dan berakhir membiarkannya menumpuk di lemariku, secara naluriah aku menjadi sangat selektif terhadap buku yang akan kubaca. Tidak sembarang buku kubeli. Semacam ada standar tersendiri yang kumiliki sebelum memutuskan membeli sebuah buku baru. Dan, ini amat berkaitan dengan selera. Mungkin di lain postingan akan kubahas lebih jauh. Untuk sekarang, cukup segini dulu saja.

Oh iya, pada akhirnya aku membeli buku Rahasia Magnet Rezeki karya Nasrullah. Buku itu berada di urutan pertama rak Top 10 Gramedia. Pertama kali membaca blurbnya, aku memang sudah menjadikannya ‘kandidat’ untuk kubeli. Namun, aku harus mengitari rak-rak lain hingga tiba di rak Business and Management untuk menemukan buku tersebut tanpa sampul plastik untuk kuintip isinya. Untuk memastikan, isinya benar-benar bagus dan worth to buy.

See you on another post.

photo by Abby Chung from Pexels