Nov 9, 2019

# Celotehan

Sudah Masuk Musim Hujan


6 November 2019.
Siang ini hujan di Karawang, tapi terasa gerah. Tidak ada angin, atau hawa dingin yang biasa menyertai hujan. Samar-samar aku mencium bau tanah basah—salah satu hal menyenangkan yang diberikan hujan. Petrichor, begitu mereka menyebutnya.
Aku jadi ingat sore kemarin. Hujan juga mengguyur Bandung. Namun, udara terasa sesak. Padahal aku berada di ruang terbuka—halaman kampus yang membentang luas, di tengah keramaian teman-teman yang mengenakan toga, menenteng ijazah dan bunga-bunga dengan senyum lebar mengembang di wajah mereka. Kupikir, sesak itu berasal dari kepulan asap rokok di segala sisi. Beberapa orang ternyata memilih merorok saat itu. Mungkin karena hawanya mendukung (?). Aku tidak tahu.
Omong-omong soal Bandung. Aku menghabiskan beberapa hari di sana, menginap di tempat temanku. Bagiku, selalu menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Mendengarkan cerita mereka atau membagikan ceritaku sendiri. Dibuat tersenyum meski hanya diam menyimak obrolan, atau aku yang menjadi alasan mereka tertawa. Kemarin aku berkumpul dengan teman-teman sejurusanku, dan teman-teman SMA yang masih menetap di Bandung. Lagi—aku bersyukur karena memiliki ikatan pertemanan yang masih awet hingga saat ini.
Yang pasti, kedatanganku ke Bandung cukup mengobati kerinduan yang kurasakan selama di jakarta.
Ah, Jakarta, ya.
Aku benar-benar ingin bercerita banyak hal di sini. Terlalu banyak yang telah terjadi, dan sudah kutumpahkan beberapa di antaranya ke jurnal harianku. Beberapa minggu terakhir perasaanku campur aduk. Sedih-senang silih berganti (well, aku tahu hidup memang seperti itu, tapi kali ini rasanya amat memusingkan). Seringkali aku merasa kosong, nyaris tersesat, seolah aku tidak tahu kemana arah dan tujuanku pergi. Aku kesana-kemari. Berkutat dengan pekerjaanku, bertemu dengan teman si ini dan si itu. Namun, ada titik-titik di mana ketika sendirian aku kembali larut dalam pikiranku. Memikirkan hal-hal di luar diriku. Dari sekian banyak hal yang kupikirkan, aku sadar sangat sedikit—nyaris tak pernah ada—ruang di otakku yang kugunakan untuk memikirkan diri sendiri.
Nah, ini agak sulit dijelaskan. Dan aku memang tidak berencana menjelaskan lebih detail di sini. Aku mau mendeskripsikan hari-hariku di Jakarta dulu saja.
Rasanya, waktuku banyak habis di perjalanan dan di kantor. Untuk yang kedua, aku cukup menikmatinya. Seperti yang pernah kutuliskan, orang-orang di sana baik dan menyenangkan. Hal-hal lain yang terasa memberatkan dapat kukesampingkan, karena aku tahu paling tidak aku punya partner sharing yang pengertian. Kalaupun aku mengalami saat-saat sulit, mereka bisa kuandalkan untuk membantuku melewati itu.
NAH LAGI. Biasanya kecamuk pikiranku selalu terjadi saat di perjalanan. Entah saat di grab bike, atau di dalam transjakarta. Terlebih kemacetan Jakarta memperpanjang durasi otakku untuk memikirkan banyak hal. Tentu saja di beberapa kesempatan aku memilih tidur (re: kalau dapat tempat duduk), membaca buku, atau mendengarkan musik. Jika sudah malam dan aku harus naik transportasi umum, fokusku hanyalah bernapas dengan benar di tengah desakan orang-orang yang baru pulang bekerja dan menyesakkan bus. Pada awalnya, kupikir aku tidak sanggup jika harus seperti itu setiap harinya.
Pemandangan di luar bus terkadang menenangkan. Seringkali juga tidak. Jakarta tidak pernah tidur, kata salah seorang temanku. Memang benar. Gemerlap kotanya cukup menghibur hatiku saat tubuh sudah lelah dan ingin cepat-cepat menemui kasur tapi terhambat macet. Di sisi lain, rentetan kendaraan yang memenuhi jalanan membuatku muak. Bukan pemandangan yang ingin kunikmati saat pikiranku sendiri sudah ramai.
Di sela-sela waktu itulah, aku rindu Jatinangor, dan Bandung.
Di otakku, segala hal yang berkaitan dengan dua tempat tersebut seolah berada dalam satu kotak yang dilabeli ‘MENYENANGKAN’. Bukan berarti Karawang dan Jakarta sama sekali tidak, tetapi.. yah, ini berkaitan dengan kesan pribadi empat tahun berkuliah di sana dan hidup ngekos, sih.
Aku menuliskan ini sejak tadi sambil mendengarkan musik. Keasyikan nyanyi, sampai lupa mau menulis apa lagi. Aku jadi hilang fokus mau mengakhiri tulisan ini seperti apa. Jadi, segitu dulu saja. Semoga harimu selalu menyenangkan, di mana pun kamu berada.