Sep 16, 2019

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

September 16, 2019
seharusnya pake cover bukunya tapi ah sudahlah yang ada aja dulu hahaha


Identitas Buku:
Judul : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun Terbit : 2018 (Cetakan Ketiga)
Jumlah Hlm : 246
Harga : 65.000


“..dan jika saya sekarang menghabiskan sebagian besar hidup saya, yang singkat, di dunia, dengan menghindari apa pun yang menyakitkan dan tidak membuat nyaman, pada dasarnya saya sedang menghindari kehidupan.” – Mark Manson

Rasanya buku ini sudah sangat terkenal. Karena aku latah, maka jadilah aku salah satu di antara sekian yang memutuskan membeli buku karya Mark Manson ini. Menurutku pribadi, yang menjadikan buku ini banyak menarik perhatian orang adalah kalimat yang tertera di halaman sampulnya—sebuah seni untuk bersikap bodo amat, cukup tampil beda dibandingkan ragam buku self-improvement lainnya yang mencatut embel-embel berpikir positif atau semacam upgrade yourself with blablabla method. Here we goow.

Penulis
Bermodal nekat keluar dari pekerjaannya untuk memulai suatu bisnis online di umur 24 tahun, Mark manson kini telah menjadi blogger kenamaan. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya setelah Mark berumur 25 tahun, ia sudah melanglang buana ke lebih dari 50 negara. Namun, hanya karena fakta ‘keberhasilannya’ saat ini, bukan berarti dapat disimpulkan masa lalunya dipenuhi perjuangan penuh ambisi untuk menjadi seperti sekarang. Mark mengakui bahwa hidupnya dulu like a shit. Seperti dikeluarkan dari sekolah pada usia 13 tahun karena narkoba, dan perkara perceraian orangtua. Pengalaman traumatis di masa muda Mark memunculkan kebutuhan akan penerimaan dan peneguhan bahwa dirinya cukup berharga dan dicintai, yang akhirnya mengantarkan Mark pada tahun-tahun kelam di mana ia menjadi seorang yang—disebutnya—brengsek. Namun, di situlah titik yang membuat Mark dapat mengenal seni hidup, yang akan dibagikannya dalam bentuk argumen dan cerita ke dalam buku ini.

Sinopsis
Secara singkat, 9 bab dalam buku ini bermuara pada cara sederhana yang ditawarkan Mark untuk menjalani hidup yang lebih ringan, yakni meminimalisir hal-hal yang akan kita pedulikan. Dengan kata lain, bersikap cuek atau bodo amat terhadap hal-hal tertentu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Untuk itu, penting menetapkan nilai-nilai apa yang akan dianut oleh kita, karena nilai-nilai tersebutlah yang menjadi tolok ukur mana hal yang sebenarnya layak untuk kita ‘urusi’, dan mana yang seharusnya dibiarkan saja. Menurutku, itulah poin pertama buku ini. Poin keduanya ialah reminder untuk menghargai perasaan negatif yang hinggap dalam hidup kita, tidak serta-merta malah menepisnya demi mewujudkan gagasan ‘hidup bahagia adalah ketika kamu tidak pernah terlibat masalah’. Kedua poin tersebut merupakan garis besar isi buku ini.
Disadari atau tidak, situasi dunia saat ini memaksa kita untuk menjadi lebih dalam bidang apapun, seperti lebih banyak uang, lebih cantik, dan lebih lebih lebih lainnya. Hal-hal semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang salah juga. Namun, Mark bermaksud menegaskan ada kalanya kita harus berhenti sejenak dan menerima keadaan yang sebenarnya. Penerimaan—itulah yang seharusnya dilakukan oleh seseorang lebih dulu. Terlebih, mengingat saat ini standar kebahagiaan hidup rasanya diukur dari orang-orang sekitar kita. Media sosial telah menjadi ruang bertumbuh suburnya segala keinginan ‘lebih’ itu dan mendistraksi pemikiran kita terhadap cara hidup yang ideal.

Komentar
Cara Mark menyampaikan pemikiran dalam buku ini cenderung sarkas, tetapi straight to the point. Kalau dalam bahasa Mark, “tidak ada omong kosong motivasional”. Judul setiap babnya memang cenderung tidak biasa, sebagaimana Bab 1 yang dibuka dengan judul “Jangan Berusaha”, Bab 2 “Kebahagiaan Itu Masalah”, dan Bab 3 “Anda Tidak Istimewa”. Aku pribadi memiliki banyak buku self-help, dan biasanya si penulis membuai pembaca dengan kata-kata manis semacam “Setiap individu itu istimewa”, atau “Ambil setiap kesempatan dan yakinlah Anda bisa”. Di sisi lain, ada bahasan Mark yang menekankan pentingnya berkata ‘tidak’. Kelihatan perbedaannya, ya? Walaupun tujuan semua genre self-help cenderung sama saja—membantu hidupmu menjadi lebih baik—tapi pendekatan yang tidak umum tentu akan memengaruhi cara pandang kita dalam mencerna informasinya dan merealisasikan semua itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Aku tidak akan berkomentar panjang-panjang untuk buku yang satu ini. Jujur, aku sempat berhenti di pertengahan karena...entahlah, pada titik tertentu di pertengahan kesulitan menangkap maksudnya dan agak bosan juga. Setelah berusaha diteruskan, daya tarik buku ini kembali lagi hingga aku berhasil menamatkan buku. Aku juga menyadari banyak pemikiran Mark yang kurang lebih sama dengan ajaran filsafat Stoa; dan ia memang sempat menyebut soal Stoa di halaman tertentu.

Sebagai penutup, ini ada penggalan kutipan dari Mark.
“Derita adalah bagian dari proses. Penting untuk merasakan-nya. Jika Anda banyak mengejar kesenangan di atas rasa sakit, jika Anda membiarkan diri terlena dalam kepongahan dan pemikiran positif yang delusional, jika Anda terus memanjakan diri dalam berbagai hal atau kegiatan, Anda tidak akan pernah menemukan motivasi yang menjadi syarat untuk benar-benar berubah.” – Mark Manson.