Aug 15, 2019

# Celotehan

That Day


11 Agustus.

Beberapa orang tidak suka dihadiahi bunga asli, karena menurut mereka, benda itu tak bisa disimpan lama-lama. Tiga hari berikutnya mungkin malah akan berakhir di tempat sampah. Tetapi aku suka-suka saja. Tidak masalah bila bunga tidak memiliki nilai guna jangka panjang. Sama seperti beberapa hari lalu, tanggal 8 Agustus 2019 saat aku menerima banyak sekali bunga dari teman-teman kuliah maupun sekolah. Aku menyimpannya di dalam sebuah tabung plastik yang berisi air dan menaruhnya di meja tamu di rumah. Melihat itu masih membuatku tersenyum hingga hari ini.
Aku ingin berbagi cerita tentang hari itu, ketika sekian ratus mahasiswa mengenakan  toga berwarna merah. Yang wanita, datang dengan sepatu berhak tinggi dan polesan makeup di wajah. Yang pria, tampak gagah dengan balutan jas dibalik toganya dan sepatu mengkilap. Jelas kaum Adam tidak perlu ‘seribet’ wanita ketika menghadiri acara penting seperti wisuda.
Aku beruntung karena mendapat penata rias dengan harga—menurutku—terjangkau dan hasil yang memuaskan. Dia telah membantuku tidak tampak buluk dan gembel di hari itu. Dan, lagi-lagi, aku merasa beruntung karena kebagian sesi IV di hari Kamis siang. Selain agenda upacara wisuda setengah jam lebih cepat dibanding sesi pagi, kami keluar aula di sore hari—ketika matahari tidak lagi terik dan membuat gerah, sehingga sesi foto berlangsung tanpa bulir-bulir keringat menghiasi wajahku.
Teman-teman menghampiriku dengan senyum semringah sambil memberikan bunga. “Selamat ya,” ucap mereka. Beberapa di antaranya memelukku penuh semangat, cipika-cipiki ria dan menyerahkan kantong plastik atau kertas berisi hadiah. Jelas, aku juga berfoto bersama dengan keluargaku—yang jelas menjadi motivasi terbesar sepanjang hidupku.
Senang rasanya, melihat teman-teman SMA dan teman-teman kuliahku di satu tempat. Ya, sesenang itu. Momen itu mengingatkan diriku betapa baiknya Allah karena telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik—yang selanjutnya dapat dengan bangga kusebut teman.
Momen wisuda juga menjadi ajang penghargaan untuk diriku sendiri karena telah terus berusaha, dan kembali melangkah ketika aku berhenti sebab lelah. Memang hanya diriku sendiri dan Allah yang tahu persis, bagaimana jatuh-bangun prosesnya. Mama bilang ia terharu ketika namaku disebut saat mengambil ijazah, beserta embel-embel ‘Dengan Pujian’ yang kudapatkan. Papa, meski tidak banyak berkomentar, aku tahu juga bangga.
Bersyukur juga karena..masih mampu mengecap bangku perguruan tinggi—ketika masih banyak orang di luar sana yang belum mampu melakukannya.
Aku harap tulisan ini tidak menimbulkan kesan negatif bagi yang membacanya. Aku cuma mau bilang (oke, ini klasik) kalau sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Semua mahasiswa di tingkat akhir pasti tahu up and down garap skripsi itu seperti apa. Mulai dari cari topik sampai kesulitan di lapangan. Berapa kali kita mengeluh capek, kesal, tidak sabar, sampai akhirnya tersenyum semringah setelah keluar ruang sidang. Tidak ada yang mudah. Tetapi, di penghujung jalan, jelas hasil takkan mengkhianati usaha kita. 
Semoga kita semua—siapa pun kamu yang tengah membaca ini—selalu dilimpahi kenikmatan oleh Tuhan. Kalaupun hal-hal kurang baik menimpa kita, semoga hal itu dapat membawa kita ke arah yang lebih baik. Aamiin.