Sick is Sucks(?)


25/06/2019.
Aku lagi mikir-mikir apa kiranya pengalaman lain yang bisa dibagi di sini, dan kali aja bermanfaat buat orang lain. Eh, ketemu.
Kalau ada yang cukup sering terjadi padaku seumur-umur selain punya cerita romansa yang aneh-aneh, jawabannya: sakit. Bukan sakit hati lho, tapi sakit beneran. Dulu setidaknya.
Sewaktu SMA, setiap akhir tahun ajaran aku memiliki semacam ‘tradisi’ menginap di rumah sakit hahaha. Tentu gak disengaja, gak tahu juga kenapa timingnya selalu pas akhir semesteran. Asumsiku, sebagai pemilik tubuhku sendiri, sepanjang tahun itu aku terlalu memforsir diri sibuk berkegiatan ini-itu, sehingga akhirnya...tepar.

X
Gejalanya gitu-gitu aja. Demam, lalu berobat ke klinik. Berhari-hari belum turun, baru dirujuk ke RS untuk berobat ke poli penyakit dalam.
Setelah diperiksa salah satu dokter spesialis (Dr. Andi namanya, dia yang selalu nanganin aku setiap berobat ke RS) aku harus cek darah dan nunggu hasilnya sekitar sejam-dua jam. Hasilnya, aku positif tifus. Dokter menyarankan aku dirawat inap supaya pemulihannya lebih maksimal.
Dan hal ini terjadi dua tahun berturut-turut. Penghujung kelas X dan kelas XI.
Aku harap aku bisa sekalian nulis lebih detail gejala dan tahap pengobatannya. Atau minimal makanan dan minuman yang harus dikonsumsi maupun dihindari selama pemulihan tifus, tapi udah gak ingat hahaha. Biasanya kalau dirawat inap gitu dikasih brosur terkait penyakit yang diderita. Isinya penjelasan umum tentang penyakit tersebut, pantangannya, bahkan doa kesembuhan juga.
Sebelnya, selama kelas X berkontribusi sebagai calon anggota OSIS, aku gak bisa ikutan LDKS di penghujung kelas X itu karena lagi terkapar di RS. Pada akhirnya tetap berhasil jadi anggota sih, tapi kalau dengar dari cerita teman-teman OSIS waktu lagi kumpul bareng, momen pas LDKS seru-seru—jadi ketinggalan, deh. Aku rada menghibur diri kalau masih bisa ikut ngerasain LDKS nanti ketika tiba waktunya regenerasi, meskipun bukan lagi sebagai peserta tapi penyelenggara. Sayangnya, lain ekspektasi, lain kenyataan.

XI
Pada penghujung tahun ajaran kedua, aku masuk RS lagi karena penyakit yang sama. Kali ini rasanya lebih lemes. Aku ingat suatu siang di rumah, setelah ngambil minum dari dapur, aku sempat bercermin dan membatin, “gila, ini gue yang emang putih banget apa emang lagi pucet?” wkwkwk sumpah waktu itu rasanya mukaku putiiiiiih banget sampe ke bibir. Kalau dalam novel-novel dibahasakannya, ‘..darah surut dari wajahku..’. Setelah berobat ke RS, ternyata memang gak hanya tifus, tapi juga kurang darah (well, ini menjelaskan kenapa bayanganku sangat pucat di cermin).
Berbeda dengan kali pertama yang hanya dirawat tiga hari, saat itu aku dirawat satu minggu. Aku juga harus menerima transfusi darah sebanyak satu setengah kantong. Dan lagi-lagi, aku gak bisa hadir LDKS.
Harus kukatakan bahwa aku beruntung bisa mendapat pengobatan maksimal dan keluarga yang selalu sigap menemani selama di rumah sakit. Belum lagi sesi-sesi kontrol pasca opname. Kasihan juga sih hehehe, sempat berpikir “ngeribetin banget deh gue” tapi.. jelas yang setiap orangtua inginkan hanya kesembuhan anaknya, jadi aku hanya perlu fokus ke situ tanpa mikir yang gak perlu.

XII
Entah kenapa mau ketawa nulis yang ini.
Mungkin karena aku merasa payah banget keliatan gak bisa jaga kesehatan sendiri. Tapi emang kali ini sakitnya bukan sekadar ‘kecapekan’. Bahkan bisa dibilang tifus hanya ‘kedok’ aja. Untuk yang satu ini aku masih ingat—jadi bisa kuceritakan detail.
Beberapa hari menjelang Ujian Nasional, aku sakit. Hasil cek darah menunjukkan positif tifus lagi. “Bisa rawat jalan kok tapi harus diminum teratur obatnya. Ini tifusnya lumayan tinggi pasti lemes banget,” kata dokter kliniknya menanggapi kekhawatiran Mama sekiranya aku tidak bisa melaksanakan UN.
Sejujurnya, UN hanyalah kekhawatiran nomor dua. Yang pertama adalah, aku takut gak bisa ikut perpisahan sekolah secara pelaksanaannya diadakan seminggu setelah UN HAHAHA.
Singkat cerita, aku tetap ikut ujian. Karena disuruh gak boleh kecapean, berangkat maupun pulang sekolah jadi minta nebeng teman. Berangkat sama A, pulang sama B. Ckckck, kalau diingat lagi jadi bersyukur punya teman pada baik. Walaupun aku benar-benar merasa fisikku sangat tidak fit—pilek plus batuk berdahak terus-terusan dan mudah kedinginan, aku masih bisa haha-hihi sana-sini saat di sekolah. Pernah baca juga kalau kitanya lagi senang atau bersemangat, sakitpun bisa terasa tidak terlalu membebani. Eh, ternyata belum aja. Aku ingat sepulang sekolah di hari kedua ujian, suhu tubuhku naik lagi. Rasanya udah mau pingsan.
**
Usai masa ujian—ajaibnya—sakitku hilang. Suhu tubuh normal, meskipun masih sedikit batuk pilek. Ini meyakinkan Mama kalau sakitku kemarin hanya karena tekanan ujian. Aku menjalani hariku normal dan ceria seperti biasa, sampai tiba hari perpisahan.
Hujan turun siang itu, menyisakan hawa dingin hingga sore harinya. Aku masih di sekolah menikmati beberapa penampilan di Panggung Seni, sekaligus menunggu sohibqu si A. Aku nebeng pulang sama dia lagi. Ribet kan naik angkot dengan gaun kebaya semata kaki?
Kami menyusuri lorong sambil ngobrol, dan aku batuk. A bilang batuknya seram. Aku cuma ketawa. Saat berjalan di lapangan, aku terbatuk-batuk lagi, saking kerasnya sampai aku berjongkok dan air mataku keluar. “Lin, sumpah serem banget,” kata si A. Waduh-nya, itu terjadi waktu mantan lagi lewat. Dia sampe nyamperin, mukanya kaget banget dan nanya, “Alin kenapa?”
“Gak tahu,” kataku, mau nangis. (Ini gue nangis karena batuk atau disamperin dia yak? Wkwkwk becanda).
Di halaman sekolah aku begitu lagi, dan di sana ada teman-teman kelas tetangga. Mereka nolong aku yang batuk sampai terbungkuk-bungkuk dan akhirnya beneran nangis. Sakit sekaligus kaget, seharian haha-hihi pulangnya begini. Waktu itu aku muntah, tapi bukan muntahin makan minum. Ga usah disebut kali ya. Temenku bilang mungkin aku masuk angin. Pokoknya, kejadian hari itu hanyalah awal dari serangkaian kejadian sejenis lainnya~
**
Aku sakit selama sebulan. Rekor. Untung lagi libur.
Bolak-balik ke klinik hingga RS, dikasih obat demam-batuk-pilek sampai obat penambah darah, gak mempan. Tiap malam demamku selalu turun dengan keringat yang membanjir, tetapi pagi hari suhu tubuhku naik lagi. Berat badanku turun empat kilo, susah-susah aku naikinnya eh menyusut begitu aja. Dalam kurun waktu sebulan empat kali muntah, diawali dengan batuk-batuk yang keras. Aku sampai ngemilin jeruk nipis buat ngilangin batuk, tapi gak pernah terasa lebih baik. Punggung sebelah kiriku, di bagiah tengah, lambat laun terasa sakit. Aku mulai gak bisa menarik napas panjang-panjang karena satu titik di punggungku itu semakin terasa nyeri tiap aku melakukannya. Bayangin aja kaya gitu selama sebulan.
Dr. Andi menyuruhku ke sub bagian radiologi untuk di-rontgen. Begitu masuk ke ruangan beliau lagi, sambil menerawang hasil foto rontgen ia berkata dengan dahi berkerut, “Bu, ini mah TBC.” Gambar paru-paruku tidak jelas karena diselubungi sesuatu yang berwarna putih. Bahkan di paru sebelah kiriku hanya kelihatan bagian atasnya aja. Sambil menunjuk bagian itu dokter menjelaskan, “Yang putih-putih ini cairannya, Tuh, udah separuh kerendam gini.”
Kata dokter, setiap orang punya virus TB di dalam tubuhnya, dan berkembang-tidaknya hal itu bergantung pada kondisi masing-masing individu. Kalau daya tahan tubuh kuat, si TB gak akan menjadi penyakit, pun sebaliknya. Setelah aku mengulik sendiri dari internet, Indonesia negara ketiga dengan pasien TB terbanyak di dunia, gak tahu kalau sekarang. Gejala-gejala yang kutemukan ternyata sama persis dengan yang kualami: berat badan menyusut, keringat berlebih, batuk lebih dari dua minggu. Gejalanya memang mirip tifus, tapi tifus gak menyebabkan batuk. Dokter juga bilang, rawat jalan bisa dilakukan tapi akan sulit. Aku harus konsisten minum obat setiap hari selama kurang lebih 6-8 bulan. I was like, ?????? Segitu aku belum tahu kalau aku akan sebenci itu dengan rasa obatnya yang ukurannya segede gaban.
Aku di-opname lagi. Kali ini selang infusnya udah kayak keran bercabang. Ada dua cairan yang harus dimasukin ke tubuhku. Aku masuk ruang paviliun dokter spesialisasi paru-paru. Pertama kali ia memeriksaku, stetoskopnya ditempel ke punggungku dan aku disuruh menarik napas. Berat. Katanya, ia bisa mendengar suara air di paru-paruku yang ternyata cukup banyak. Pantesan napasku terasa berrrrat, ada airnya.
Karena perlu tindakan medis, kalau gak salah orangtuaku harus menandatangani surat persetujuan tindakan gitu. Sejujurnya aku ngeri, imajinasiku tidak bisa membayangkan bagaimana cara mengeluarkan cairan dari paru-paru tanpa harus memasukkan sesuatu ke dalamnya. Namun, bisa kulihat orangtuaku lebih khawatir. Jadi aku berlagak biasa-biasa saja dan selow.
Hari H, tirai antara tempat tidur dan ruang tv kamar perawatanku diturunkan. Dokter menawari Papa untuk melihat (barangkali pikirnya mau mendampingi atau apalah), tapi aku dengar sendiri Papa bilang gak berani. W-o-W orang seperti papski aja gak berani, makin masang muka biasa ajalah saya dan ngechat salah satu teman kelasku untuk mengalihkan perhatian dari-entah-apa sang dokter dan perawatnya lakukan di belakangku. Yup, tindakannya dilakukan dalam keadaan sadar. Sempet bikin parno, apalagi mereka bawa gunting, suntikan, dan botol air mineral 1,5 liter. Aku duduk, hidungku dipasangi selang oksigen. Dokternya bilang, “Kalau nanti kerasa sesak ngomong, ya.”
Di titik punggungku yang sakit itu, aku disuntik dua kali untuk dibikin ‘baal’ katanya. Mati rasa deh. Terasa ketika isi suntikan itu menyebar cepat. Aku gak ngerasa sakit, hanya kayak ada selang kecil yang ‘nyangkut’ di punggungku. Lalu terdengar suara kucuran air seperti saat kamu menyalakan keran.
“Sini pak, liat aja gapapa,” kata Pak Dokternya lagi ke Papa.
Walaupun penasaran, aku gak mau menoleh ke belakang. Aku cuma bisa menilai dari percakapan mereka.
“Ohh iya itu airnya keluar,” ujar Papa.
“Untung masih bersih cairannya, kalau udah kekuninggan atau sampai berdarah, itu lebih parah,” jelas dokternya.
Setelah agak lama, aku mulai terbatuk karena sesak, dokter dan perawatpun menghentikan ‘pengaliran aer’. Yang kudengar dari ortu kemudian sih, cairannya sangat banyak hingga botol air mineral 1,5 liter itu hampir penuh. Setelah bla-bla-bla-bla, aku tertidur.
**
Pertama kalinya minum obat di rumah pascaopname, aku muntah. Setelah ke RS lagi dan cek darah (lagi) yang berkaitan dengan liver gitu, ternyata tubuhku gak kuat dengan dosis normal obat TB untuk orang dewasa. Aku diberi obat dengan dosis lebih rendah dan jumlah lebih banyak karena ‘pecahan’ dari dosis normal. Jangka waktu mengonsumsi obatnya juga diperpanjang jadi 8 bulan, normalnya 6 bulan.
Ada satu obat berwarna oren kemerahan seukuran ujung jari kelingking. Itu yang paling kubenci karena rasanya gak enak banget demi Allah. Mirip rasa obat penambah darah tapi ini lebih...iwwww pokoknya. Sayang, dialah pemeran utama untuk memerangi TB, jadi mau gak mau harus kuminum. Ini juga yang menjadikan Mama ‘agak keras’ menyuruhku minum obat, sebab aku suka berlama-lama melakukannya. Dibelilah banyak pisang untuk membantuku menelan si oren menyebalkan itu. Dokter bilang, gak boleh ada satu haripun terlewat. Pengobatan TB harus sampai tuntas.
Well, aku berobat sampai semester dua kuliah kalau gak salah. Hasil rontgen menunjukkan paru-paruku tampak normal lagi. Dan setelah itu, aku lebih jarang jatuh sakit. Berat badan juga kembali, bahkan lebih, hehehe.
Sayangnya, ada efek samping pribadi. Dari dulu aku bukan tipikal orang yang susah nelan obat entah itu kapsul/tablet (kan ada tuh orang-orang yang susah nelan, sampai harus digerus dulu atau dibuat puyer), tapi sejak diwajibkan minum obat selama delapan bulanan, rasa-rasanya tubuhku sulit mencerna obat berukuran besar lagi. Sekitar awal tahun ketiga kuliah, aku sakit dan Mama menyodorkan obat yang kami beli dari klinik. Tiba-tiba aku merasa perutku mengejang kaku—seolah mengantisipasi masuknya obat. Benar saja, selang beberapa menit setelah meminumnya, aku muntah. “Trauma itu,” gumam Mama. Esoknya, aku dicarikan obat sirup deh~

Kalau kuingat lagi, aku merasa takjub sekaligus bersyukur karena bisa melalui semua momen sakit itu dan sehat walafiat kembali. Memang gak enak, apalagi ‘sakit’ dikategorikan sebagai sesuatu yang negatif. Namun, bukan berarti gak ada sisi positif yang bisa dilihat, kan?

You Might Also Like

0 komentar