Jul 7, 2019

# Review Buku

Menyelami Filosofi Teras Untuk Hidup Yang Lebih Damai



Identitas Buku:
Judul: Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Buku Kompas
Tahun Terbit: 2019 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm: 320
Harga: 98.000



“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.” – Marcus Aurelius (Meditations)

[Siapa itu Marcus Aurelius?] Well, beliau merupakan seorang kaisar yang dikenal sebagai salah satu dari The Five Good Emperors dan menjadi salah seorang filsuf Stoisisme. Kalau bagimu beberapa terasa asing, sama deh. Aku pribadi belum pernah membaca buku self-improvement yang berlandaskan filsafat teori seperti ini. Biasanya hanya dari segi psikologi, kesehatan, atau ilmu komunikasi. Terpikir membeli pun tidak, aku meminjamnya dari seorang teman setelah iseng membaca beberapa halaman pertamanya dan mendapati bahwa buku ini menarik! Dugaanku, memampang kata ‘filosofi/filsafat’ di judulnya mengindikasikan bacaan ini akan cukup berat dicerna (anggapan ini lahir berdasarkan selera dan keterbiasaan membaca buku dengan topik tertentu, ya) Eh taunya, filsafat kuno kok kelihatannya sangat lekat sekali dengan keseharian di zaman sekarang?

Penulis
Ini adalah buku kelima Henry Manampiring setelah sebelumnya melahirkan beberapa karya, dua di antaranya The Alpha Girl’s Guide dan The Alpha Girl’s Playbook. Henry sempat didiagnosis menderita Major Depressive Disorder oleh psikiater setelah dikecamuk berbagai pikiran buruk, cemas, dan kemurungan selama beberapa waktu lamanya hingga terasa mulai mengganggu kesehariannya dan orang-orang sekitar. Di tengah masa pengobatan, ia menemukan buku How To Be A Stoic karya Massimo Pigliucci yang mengarahkannya pada ‘metode terapi tanpa obat’ yakni, filsafat Stoa (Stoisisme). Hasil pembelajarannya mengenal lebih dalam dan pengalamannya merealisasikan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari dituangkan ke dalam buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa KIni).

Sinopsis
Nama sesungguhnya adalah stoisisme, berasal dari kata ‘stoa’ dalam bahasa Yunani yang memiliki arti ‘teras berpilar’tempat Zeno si pendiri pertama filosofi ini mengajar. Para pengikutnya disebut dengan kaum Stoa. Henry menggunakan istilah ‘filosofi teras’ dalam penulisan buku ini karena rupanya penyebutan kata stoisisme dirasa sulit bagi beberapa orang.
Seperti yang diceritakan oleh Henry, filosofi berusia 2.300 tahun yang dikenal sebagai aliran yang mengajarkan jalan hidup ini tidak menjanjikan cara untuk menghilangkan kesulitan hidup, melainkan cara mengembangkan sikap mental kita yang lebih kuat untuk melaluinya.
Terbagi menjadi 12 bab dengan subbab pembahasan yang cukup banyak, pada dasarnya poin utama filosofi teras adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali melalui keselarasan hidup bersama alam (in accordance with nature). Sebagai manusia yang jelas berbeda dari binatang, kita diharuskan menggunakan akal sehat dan nalar sebaik-baiknya. Di sini, rasionalitas ditekankan sebagai keistimewaan manusia itu sendiri. Aku akan membagi sedikit yang menurutku paling menarik di antara semua bahasannya.
Pembaca akan dikenalkan dengan dikotomi kendali. Sederhananya, prinsip fundamental ini menekankan pada fakta bahwasanya ada hal-hal di dunia ini yang dapat kita kendalikan (pikiran/tindakan kita sendiri), dan ada pula yang tidak (pikiran/tindakan orang lain, peristiwa alam, popularitas, kekayaan, kesehatan). Maka jangan terobsesi untuk menjadikan segala sesuatunya berjalan seperti yang kita mau. Akan tetapi, prinsip ini sempat menuai protes sebab faktanya manusia masih memiliki andil terhadap hal-hal tertentu. Misalnya saja, nilai akhir yang akan diberikan dosen sungguh di luar kendali kita, namun kita dapat memengaruhi hasil akhirnya dengan berupaya mengerjakan tugas yang diberikan sebaik mungkin. Di situlah letak ‘kendali’ kita yang disebut oleh William Irvine sebagai ‘internal goal’, dan nilai yang diberikan dosen sebagai ‘outcome’, yang selanjutnya dikenal dengan trikotomi kendali.
Salah satu poin menarik lainnya adalah tentang interpretasi dan persepsi individu terhadap sesuatu hal. Epictetus (salah satu filsuf Stoa lainnya) menyatakan,  “It’s not things that trouble us, but our judgement about things.” Semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita sendiri. Jadi, jangan lagi salah mengartikan bahwa ‘logika’ dan ‘emosi’ adalah dua hal yang bertentangan ya! Ketika ada peristiwa buruk terjadi, kita langsung membuat penilaian bahwa kita didzalimi orang lain, lantas merasa paling bernasib buruk sedunia, sehingga emosi negatif lainnya mengikuti: bete seharian dan bermuka masam.
Perihal interpretasi ini semakin menarik ketika aku menemukan subab ‘Melawan Lebay’. Yup, disadari atau tidak terkadang manusia suka mendramatisir hal-hal yang berkaitan dengan perasaannya. Menurut filosofi ini—yang juga sejalan dengan pendapat pribadiku—wajar dan manusiawi ketika kamu merasa marah atau sedih saat mengalami peristiwa tertentu seperti kecopetan, dikhianati teman, gagal ujian, bahkan putus cinta.  Akan tetapi, perlu diingat bahwasanya hal-hal ini bukan sesuatu yang baru, kamu bukan orang pertama di muka bumi ini yang mengalaminya. Setiap orang, setiap harinya, dari zaman sebelum masehi hingga saat ini barangkali tengah mengalami hal yang sama. Mungkin kasarnya, jangan terlalu merasa ‘istimewa’ karena sesuatu (baik/buruk) sedang menimpamu. Lagipula sepuluh-duapuluh tahun mendatang semua akan terlupakan. Menurutku, pernyataan ini memperingatkan individu untuk tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaannya, yang mana itu juga bagian dari emosi negatif.
See? Kita tidak diajarkan untuk menghilangkan emosi negatif, melainkan mengendalikannya, sebab mustahil bagi seorang manusia hidup tanpa dilanda emosi negatif.


Komentar
Menurut akooh, gaya penulisan Henry di buku ini benar-benar menjauhkan anggapan memahami filsafat itu sulit. Bahasa yang digunakan mudah dicerna, disampaikan dengan ringan pula tanpa kesan menggurui.  Pembahasannya komprehensif dan relatable dengan kehidupan individu sehari-hari. Ditambah lagi beberapa fenomena dengan topik tertentu yang dicontohkan disertai penjelasan tambahan dari pakar bidangnya. Seperti pembahasan parenting yang tidak hanya dilihat dari sudut pandang Stoa, tetapi juga dari segi psikologi anak dan pendidikan.
Buku ini juga ada sedikit ilustrasinya, jadi tidak begitu membosankan. Walaupun—bagiku—huruf yang terbilang kecil-kecil sehingga setiap lembarnya terlihat ‘lebih padat’ tulisan menjadi faktor yang membuatku tidak tertarik membaca pada awalnya. Overall, buku ini bagus untuk aku, kamu, kita yang overthinking. Bukan berarti aku menelan mentah-mentah semua isi buku ini. Ada beberapa pemikiran yang aku tidak setuju, juga beberapa yang meski sudah kubayangkan berkali-kali tetap rasanya sulit untuk diaplikasikan karena agak bertentangan dengan nilai-nilai yang kupegang selama ini. Well, lain pembaca, lain pendapat ya kan.

Pada aspek ‘hal-hal di luar kendali’ ada subbab yang mengkhususkan tentang opini orang lain yang—lagi-lagi—sangat relatable dengan kondisi masa kini. Berikut penggalannya sebagai penutup:


“Epictetus menyebutkan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali kita itu ‘bagaikan budak..dan milik orang lain’. Interpretasi saya adalah bahwa pendapat-pendapat orang lain tersebut bisa memperbudak kita. Kita terus-menerus ingin menyenangkan orang lain, memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan approval orang lain, meraih sebanyak-banyaknya likes dan views. Dari pilihan baju sampai calon suami/istri, semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan melainkan tanpa sadar untuk menuruti orang lain. Apa bedanya kita dengan budak?” – Henry Manampiring.