Jul 26, 2019

July

July 26, 2019
Selamat malam jagat raya blogku.


Terakhir aku posting sesuatu tanggal 7 Juli, dan sekarang udah tanggal 26. Gak terasa 
waktu cepet banget berlalu, padahal sehari-harinya di rumah aku cuma beres-beres, malas-malasan, baca atau nulis. Iya, karena sekarang udah gak ngekos lagi dan lebih banyak ngabisin waktu di rumah, ceritanya mau bikin diri jadi lebih produktif hingga menjelang hari wisuda. Hiyahiyahiya. Aku bikin semacam...to do list. Setiap harinya harus melakukan hal-hal berfaedah yang gak akan kusebutkan spesifik di sini.
Terus, pasca sidang skripsi Mei lalu, aku punya hobi baru. Refresh email. HAHAHAHA. Soalnya aku cukup sering berseliweran di situs-situs penyedia informasi loker. Yah namanya juga alumni...Sampai akhirnya, aku dapat panggilan.
Ini juga salah satu hal yang mau aku ceritakan sedikit di sini.

Menuju Magang
Aku mendaftar internship di sebuah perusahaan startup yang kantornya terletak di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Setelah dapat pemberitahuan lolos tahap administrasi, aku dikirimi beberapa soal sebagai tahapan tes tertulis. Omong-omong, posisi yang aku lamar ini admin media sosial. Karena aku punya pengalaman terkait ini, aku cukup pede untuk mengklaim diriku memang cukup menguasai bidang ini. Gak awam-awam banget lah.
Aku ngerjain setiap soal dengan seniat mungkin. Nongkrong di Cozyfield bermodalkan beli sepiring kentang goreng supaya bisa duduk berlama-lama di sana dan ngetik dengan tenang, riset kecil-kecilan dan berkutat dengan editing e-flyer di Canva selama beberapa jam. Aku mengirim lembar jawabannya cuma setengah jam sebelum deadline. Deg-degan.
Kurang dari satu jam, aku dapat chat yang menyatakan aku diundang untuk menghadiri interview. Senang? Iya. Singkat cerita, aku ke Jakarta.
Rasanya....wow aja, deh. Diartikan norak juga boleh, tapi lebih ke excited sih karena ini pengalaman pertama. Jangan hujat aku, guys.
Aku tiba di kawasan yang membuat kepalaku harus selalu menengadah untuk melihat puncak gedung-gedung pencakar langit yang berdiri gagah di sana. Masuk ke salah satu tower, bertemu dengan tim startup, mendapati kesan pertama yang cukup menyenangkan. Sempat ada ‘drama’ dulu selepas keluar gedung, karena satu dan lain hal aku gak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Padahal aku sangat menginginkan posisi ini, karena perusahaannya juga bergerak di bidang literasi dan merangkap penerbitan—dimana salah satu impianku adalah bekerja di bidang tersebut. Ketika kesempatan ini ditawarkan tepat di depan mataku, jelas aku merasa harganya ‘terlalu mahal’ untuk dilepas. Di sisi lain aku gak bisa ‘jalan’ tanpa restu orang-orang terdekat. Ini cukup membuatku luntang-lantung minum capuccino sendirian di salah satu kedai di pinggir jalan setelah keluar gedung dan nangis sepanjang perjalanan pulang naik grabbike. Galau. Tapi akhirnya, aku tetap magang di sini sih. Hahaha.

Selama Magang
Rasanya terlalu dini untuk berbagi, mengingat aku juga baru tiga hari di tempat ini. Secara keseluruhan, aku suka di sini. Kantornya menawarkan view gedung-gedung cantik yang menjulang tinggi dan, di bawah sana, lalu lintas Sudirman yang tertata rapi. Di atas meja-meja kantor, selalu ada buku. Bahkan di hari pertamaku bekerja, sedang dilakukan siaran langsung proses wawancara antara media A dengan narasumber yang ahli di bidang kepenulisan. Bener-bener ilmu gratis.
Orang-orang di kantorku kurang lebih seumuran denganku. Walaupun belum terhitung lama, tapi aku sudah cukup bisa mengenali karakter beberapa di antara mereka. Intinya, semua baik—dan menyenangkan.
Aku tahu aku patut bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini—dan aku memang mensyukurinya. Lingkungan yang bersahabat, bisa bekerja di tempat yang supernyaman, lekat dengan hal-hal yang kusuka—buku-buku, dan menulis cerita. Tentu gak sesempurna itu, tapi aku mencoba untuk melihat keseluruhannya dalam kacamata yang positif. Seperti, ketika aku harus lama menunggu busway, dan berdiri di sepanjang perjalanannya. Pulang dan pergi. Aku memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku atau menonton sesuatu dari hp pakai earphone. Kadang-kadang  juga berseliweran di media sosial dan balesin pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Aku menghibur diri dengan hiruk-pikuk kota Jakarta, mobil dan motor yang selalu memadati jalanan, atau segerombol orang yang berdesakan menanti transportasi umum. Juga gedung-gedung tinggi yang selalu membuatku terpikir soal efek rumah kaca. Hehe.
Di sisi lain, tentu aku gak luput dari emosi yang kurang menyenangkan. Seperti...lelah, kangen teman-teman kuliah (kalau gak magang, pastinya aku bakal curi waktu untuk ke Bandung/Jatinangor dan main ke kosan temen), kangen rumah, dan sejenisnya. Walaupun sebenernya hari ini baru genap seminggu magang—bahkan gak bener-bener seminggu juga sih. Pokoknya, ketika dilanda emosi yang kurang menyenangkan, aku memilih untuk membiarkannya itu mengalir aja. Galau-galau dulu sejenak, lalu tetap berusaha positive thinking.
Oke, karena aku rasa udah mulai ngaco nulisnya, mending diakhiri aja. Aku cuma mau nuangin sesuatu ke blog ini. Sebenernya, aku lagi ikutan kompetisi nulis novel sebulan, tapi...kehilangan semagat untuk nerusinnya lagi karena ter-distract dengan hal-hal lain yang lebih menyita perhatianku. Ya sudahlah.
Untuk saat ini, aku gak tahu apa yang kuharapkan sih. Atau, seperti apa rencana ke depannya. Aku hanya mencoba fokus untuk mengerjakan sebaik-baiknya kegiatanku sekarang. Selagi menanti hari wisuda... Sebelum benar-benar resmi keluar dari Unpad, dan masuk ke dunia yang sesungguhnya. A-n-j-a-y.
Semoga aku, kamu, kita semua, selalu sehat dan semangat ngejalanin keseharian kita.

Jul 7, 2019

Menyelami Filosofi Teras Untuk Hidup Yang Lebih Damai

July 07, 2019


Identitas Buku:
Judul: Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Buku Kompas
Tahun Terbit: 2019 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm: 320
Harga: 98.000



“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.” – Marcus Aurelius (Meditations)

[Siapa itu Marcus Aurelius?] Well, beliau merupakan seorang kaisar yang dikenal sebagai salah satu dari The Five Good Emperors dan menjadi salah seorang filsuf Stoisisme. Kalau bagimu beberapa terasa asing, sama deh. Aku pribadi belum pernah membaca buku self-improvement yang berlandaskan filsafat teori seperti ini. Biasanya hanya dari segi psikologi, kesehatan, atau ilmu komunikasi. Terpikir membeli pun tidak, aku meminjamnya dari seorang teman setelah iseng membaca beberapa halaman pertamanya dan mendapati bahwa buku ini menarik! Dugaanku, memampang kata ‘filosofi/filsafat’ di judulnya mengindikasikan bacaan ini akan cukup berat dicerna (anggapan ini lahir berdasarkan selera dan keterbiasaan membaca buku dengan topik tertentu, ya) Eh taunya, filsafat kuno kok kelihatannya sangat lekat sekali dengan keseharian di zaman sekarang?

Penulis
Ini adalah buku kelima Henry Manampiring setelah sebelumnya melahirkan beberapa karya, dua di antaranya The Alpha Girl’s Guide dan The Alpha Girl’s Playbook. Henry sempat didiagnosis menderita Major Depressive Disorder oleh psikiater setelah dikecamuk berbagai pikiran buruk, cemas, dan kemurungan selama beberapa waktu lamanya hingga terasa mulai mengganggu kesehariannya dan orang-orang sekitar. Di tengah masa pengobatan, ia menemukan buku How To Be A Stoic karya Massimo Pigliucci yang mengarahkannya pada ‘metode terapi tanpa obat’ yakni, filsafat Stoa (Stoisisme). Hasil pembelajarannya mengenal lebih dalam dan pengalamannya merealisasikan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari dituangkan ke dalam buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa KIni).

Sinopsis
Nama sesungguhnya adalah stoisisme, berasal dari kata ‘stoa’ dalam bahasa Yunani yang memiliki arti ‘teras berpilar’tempat Zeno si pendiri pertama filosofi ini mengajar. Para pengikutnya disebut dengan kaum Stoa. Henry menggunakan istilah ‘filosofi teras’ dalam penulisan buku ini karena rupanya penyebutan kata stoisisme dirasa sulit bagi beberapa orang.
Seperti yang diceritakan oleh Henry, filosofi berusia 2.300 tahun yang dikenal sebagai aliran yang mengajarkan jalan hidup ini tidak menjanjikan cara untuk menghilangkan kesulitan hidup, melainkan cara mengembangkan sikap mental kita yang lebih kuat untuk melaluinya.
Terbagi menjadi 12 bab dengan subbab pembahasan yang cukup banyak, pada dasarnya poin utama filosofi teras adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali melalui keselarasan hidup bersama alam (in accordance with nature). Sebagai manusia yang jelas berbeda dari binatang, kita diharuskan menggunakan akal sehat dan nalar sebaik-baiknya. Di sini, rasionalitas ditekankan sebagai keistimewaan manusia itu sendiri. Aku akan membagi sedikit yang menurutku paling menarik di antara semua bahasannya.
Pembaca akan dikenalkan dengan dikotomi kendali. Sederhananya, prinsip fundamental ini menekankan pada fakta bahwasanya ada hal-hal di dunia ini yang dapat kita kendalikan (pikiran/tindakan kita sendiri), dan ada pula yang tidak (pikiran/tindakan orang lain, peristiwa alam, popularitas, kekayaan, kesehatan). Maka jangan terobsesi untuk menjadikan segala sesuatunya berjalan seperti yang kita mau. Akan tetapi, prinsip ini sempat menuai protes sebab faktanya manusia masih memiliki andil terhadap hal-hal tertentu. Misalnya saja, nilai akhir yang akan diberikan dosen sungguh di luar kendali kita, namun kita dapat memengaruhi hasil akhirnya dengan berupaya mengerjakan tugas yang diberikan sebaik mungkin. Di situlah letak ‘kendali’ kita yang disebut oleh William Irvine sebagai ‘internal goal’, dan nilai yang diberikan dosen sebagai ‘outcome’, yang selanjutnya dikenal dengan trikotomi kendali.
Salah satu poin menarik lainnya adalah tentang interpretasi dan persepsi individu terhadap sesuatu hal. Epictetus (salah satu filsuf Stoa lainnya) menyatakan,  “It’s not things that trouble us, but our judgement about things.” Semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita sendiri. Jadi, jangan lagi salah mengartikan bahwa ‘logika’ dan ‘emosi’ adalah dua hal yang bertentangan ya! Ketika ada peristiwa buruk terjadi, kita langsung membuat penilaian bahwa kita didzalimi orang lain, lantas merasa paling bernasib buruk sedunia, sehingga emosi negatif lainnya mengikuti: bete seharian dan bermuka masam.
Perihal interpretasi ini semakin menarik ketika aku menemukan subab ‘Melawan Lebay’. Yup, disadari atau tidak terkadang manusia suka mendramatisir hal-hal yang berkaitan dengan perasaannya. Menurut filosofi ini—yang juga sejalan dengan pendapat pribadiku—wajar dan manusiawi ketika kamu merasa marah atau sedih saat mengalami peristiwa tertentu seperti kecopetan, dikhianati teman, gagal ujian, bahkan putus cinta.  Akan tetapi, perlu diingat bahwasanya hal-hal ini bukan sesuatu yang baru, kamu bukan orang pertama di muka bumi ini yang mengalaminya. Setiap orang, setiap harinya, dari zaman sebelum masehi hingga saat ini barangkali tengah mengalami hal yang sama. Mungkin kasarnya, jangan terlalu merasa ‘istimewa’ karena sesuatu (baik/buruk) sedang menimpamu. Lagipula sepuluh-duapuluh tahun mendatang semua akan terlupakan. Menurutku, pernyataan ini memperingatkan individu untuk tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaannya, yang mana itu juga bagian dari emosi negatif.
See? Kita tidak diajarkan untuk menghilangkan emosi negatif, melainkan mengendalikannya, sebab mustahil bagi seorang manusia hidup tanpa dilanda emosi negatif.


Komentar
Menurut akooh, gaya penulisan Henry di buku ini benar-benar menjauhkan anggapan memahami filsafat itu sulit. Bahasa yang digunakan mudah dicerna, disampaikan dengan ringan pula tanpa kesan menggurui.  Pembahasannya komprehensif dan relatable dengan kehidupan individu sehari-hari. Ditambah lagi beberapa fenomena dengan topik tertentu yang dicontohkan disertai penjelasan tambahan dari pakar bidangnya. Seperti pembahasan parenting yang tidak hanya dilihat dari sudut pandang Stoa, tetapi juga dari segi psikologi anak dan pendidikan.
Buku ini juga ada sedikit ilustrasinya, jadi tidak begitu membosankan. Walaupun—bagiku—huruf yang terbilang kecil-kecil sehingga setiap lembarnya terlihat ‘lebih padat’ tulisan menjadi faktor yang membuatku tidak tertarik membaca pada awalnya. Overall, buku ini bagus untuk aku, kamu, kita yang overthinking. Bukan berarti aku menelan mentah-mentah semua isi buku ini. Ada beberapa pemikiran yang aku tidak setuju, juga beberapa yang meski sudah kubayangkan berkali-kali tetap rasanya sulit untuk diaplikasikan karena agak bertentangan dengan nilai-nilai yang kupegang selama ini. Well, lain pembaca, lain pendapat ya kan.

Pada aspek ‘hal-hal di luar kendali’ ada subbab yang mengkhususkan tentang opini orang lain yang—lagi-lagi—sangat relatable dengan kondisi masa kini. Berikut penggalannya sebagai penutup:


“Epictetus menyebutkan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali kita itu ‘bagaikan budak..dan milik orang lain’. Interpretasi saya adalah bahwa pendapat-pendapat orang lain tersebut bisa memperbudak kita. Kita terus-menerus ingin menyenangkan orang lain, memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan approval orang lain, meraih sebanyak-banyaknya likes dan views. Dari pilihan baju sampai calon suami/istri, semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan melainkan tanpa sadar untuk menuruti orang lain. Apa bedanya kita dengan budak?” – Henry Manampiring.

Sick is Sucks(?)

July 07, 2019
25/06/2019.
Aku lagi mikir-mikir apa kiranya pengalaman lain yang bisa dibagi di sini, dan kali aja bermanfaat buat orang lain. Eh, ketemu.
Kalau ada yang cukup sering terjadi padaku seumur-umur selain punya cerita romansa yang aneh-aneh, jawabannya: sakit. Bukan sakit hati lho, tapi sakit beneran. Dulu setidaknya.
Sewaktu SMA, setiap akhir tahun ajaran aku memiliki semacam ‘tradisi’ menginap di rumah sakit hahaha. Tentu gak disengaja, gak tahu juga kenapa timingnya selalu pas akhir semesteran. Asumsiku, sebagai pemilik tubuhku sendiri, sepanjang tahun itu aku terlalu memforsir diri sibuk berkegiatan ini-itu, sehingga akhirnya...tepar.

X
Gejalanya gitu-gitu aja. Demam, lalu berobat ke klinik. Berhari-hari belum turun, baru dirujuk ke RS untuk berobat ke poli penyakit dalam.
Setelah diperiksa salah satu dokter spesialis (Dr. Andi namanya, dia yang selalu nanganin aku setiap berobat ke RS) aku harus cek darah dan nunggu hasilnya sekitar sejam-dua jam. Hasilnya, aku positif tifus. Dokter menyarankan aku dirawat inap supaya pemulihannya lebih maksimal.
Dan hal ini terjadi dua tahun berturut-turut. Penghujung kelas X dan kelas XI.
Aku harap aku bisa sekalian nulis lebih detail gejala dan tahap pengobatannya. Atau minimal makanan dan minuman yang harus dikonsumsi maupun dihindari selama pemulihan tifus, tapi udah gak ingat hahaha. Biasanya kalau dirawat inap gitu dikasih brosur terkait penyakit yang diderita. Isinya penjelasan umum tentang penyakit tersebut, pantangannya, bahkan doa kesembuhan juga.
Sebelnya, selama kelas X berkontribusi sebagai calon anggota OSIS, aku gak bisa ikutan LDKS di penghujung kelas X itu karena lagi terkapar di RS. Pada akhirnya tetap berhasil jadi anggota sih, tapi kalau dengar dari cerita teman-teman OSIS waktu lagi kumpul bareng, momen pas LDKS seru-seru—jadi ketinggalan, deh. Aku rada menghibur diri kalau masih bisa ikut ngerasain LDKS nanti ketika tiba waktunya regenerasi, meskipun bukan lagi sebagai peserta tapi penyelenggara. Sayangnya, lain ekspektasi, lain kenyataan.

XI
Pada penghujung tahun ajaran kedua, aku masuk RS lagi karena penyakit yang sama. Kali ini rasanya lebih lemes. Aku ingat suatu siang di rumah, setelah ngambil minum dari dapur, aku sempat bercermin dan membatin, “gila, ini gue yang emang putih banget apa emang lagi pucet?” wkwkwk sumpah waktu itu rasanya mukaku putiiiiiih banget sampe ke bibir. Kalau dalam novel-novel dibahasakannya, ‘..darah surut dari wajahku..’. Setelah berobat ke RS, ternyata memang gak hanya tifus, tapi juga kurang darah (well, ini menjelaskan kenapa bayanganku sangat pucat di cermin).
Berbeda dengan kali pertama yang hanya dirawat tiga hari, saat itu aku dirawat satu minggu. Aku juga harus menerima transfusi darah sebanyak satu setengah kantong. Dan lagi-lagi, aku gak bisa hadir LDKS.
Harus kukatakan bahwa aku beruntung bisa mendapat pengobatan maksimal dan keluarga yang selalu sigap menemani selama di rumah sakit. Belum lagi sesi-sesi kontrol pasca opname. Kasihan juga sih hehehe, sempat berpikir “ngeribetin banget deh gue” tapi.. jelas yang setiap orangtua inginkan hanya kesembuhan anaknya, jadi aku hanya perlu fokus ke situ tanpa mikir yang gak perlu.

XII
Entah kenapa mau ketawa nulis yang ini.
Mungkin karena aku merasa payah banget keliatan gak bisa jaga kesehatan sendiri. Tapi emang kali ini sakitnya bukan sekadar ‘kecapekan’. Bahkan bisa dibilang tifus hanya ‘kedok’ aja. Untuk yang satu ini aku masih ingat—jadi bisa kuceritakan detail.
Beberapa hari menjelang Ujian Nasional, aku sakit. Hasil cek darah menunjukkan positif tifus lagi. “Bisa rawat jalan kok tapi harus diminum teratur obatnya. Ini tifusnya lumayan tinggi pasti lemes banget,” kata dokter kliniknya menanggapi kekhawatiran Mama sekiranya aku tidak bisa melaksanakan UN.
Sejujurnya, UN hanyalah kekhawatiran nomor dua. Yang pertama adalah, aku takut gak bisa ikut perpisahan sekolah secara pelaksanaannya diadakan seminggu setelah UN HAHAHA.
Singkat cerita, aku tetap ikut ujian. Karena disuruh gak boleh kecapean, berangkat maupun pulang sekolah jadi minta nebeng teman. Berangkat sama A, pulang sama B. Ckckck, kalau diingat lagi jadi bersyukur punya teman pada baik. Walaupun aku benar-benar merasa fisikku sangat tidak fit—pilek plus batuk berdahak terus-terusan dan mudah kedinginan, aku masih bisa haha-hihi sana-sini saat di sekolah. Pernah baca juga kalau kitanya lagi senang atau bersemangat, sakitpun bisa terasa tidak terlalu membebani. Eh, ternyata belum aja. Aku ingat sepulang sekolah di hari kedua ujian, suhu tubuhku naik lagi. Rasanya udah mau pingsan.
**
Usai masa ujian—ajaibnya—sakitku hilang. Suhu tubuh normal, meskipun masih sedikit batuk pilek. Ini meyakinkan Mama kalau sakitku kemarin hanya karena tekanan ujian. Aku menjalani hariku normal dan ceria seperti biasa, sampai tiba hari perpisahan.
Hujan turun siang itu, menyisakan hawa dingin hingga sore harinya. Aku masih di sekolah menikmati beberapa penampilan di Panggung Seni, sekaligus menunggu sohibqu si A. Aku nebeng pulang sama dia lagi. Ribet kan naik angkot dengan gaun kebaya semata kaki?
Kami menyusuri lorong sambil ngobrol, dan aku batuk. A bilang batuknya seram. Aku cuma ketawa. Saat berjalan di lapangan, aku terbatuk-batuk lagi, saking kerasnya sampai aku berjongkok dan air mataku keluar. “Lin, sumpah serem banget,” kata si A. Waduh-nya, itu terjadi waktu mantan lagi lewat. Dia sampe nyamperin, mukanya kaget banget dan nanya, “Alin kenapa?”
“Gak tahu,” kataku, mau nangis. (Ini gue nangis karena batuk atau disamperin dia yak? Wkwkwk becanda).
Di halaman sekolah aku begitu lagi, dan di sana ada teman-teman kelas tetangga. Mereka nolong aku yang batuk sampai terbungkuk-bungkuk dan akhirnya beneran nangis. Sakit sekaligus kaget, seharian haha-hihi pulangnya begini. Waktu itu aku muntah, tapi bukan muntahin makan minum. Ga usah disebut kali ya. Temenku bilang mungkin aku masuk angin. Pokoknya, kejadian hari itu hanyalah awal dari serangkaian kejadian sejenis lainnya~
**
Aku sakit selama sebulan. Rekor. Untung lagi libur.
Bolak-balik ke klinik hingga RS, dikasih obat demam-batuk-pilek sampai obat penambah darah, gak mempan. Tiap malam demamku selalu turun dengan keringat yang membanjir, tetapi pagi hari suhu tubuhku naik lagi. Berat badanku turun empat kilo, susah-susah aku naikinnya eh menyusut begitu aja. Dalam kurun waktu sebulan empat kali muntah, diawali dengan batuk-batuk yang keras. Aku sampai ngemilin jeruk nipis buat ngilangin batuk, tapi gak pernah terasa lebih baik. Punggung sebelah kiriku, di bagiah tengah, lambat laun terasa sakit. Aku mulai gak bisa menarik napas panjang-panjang karena satu titik di punggungku itu semakin terasa nyeri tiap aku melakukannya. Bayangin aja kaya gitu selama sebulan.
Dr. Andi menyuruhku ke sub bagian radiologi untuk di-rontgen. Begitu masuk ke ruangan beliau lagi, sambil menerawang hasil foto rontgen ia berkata dengan dahi berkerut, “Bu, ini mah TBC.” Gambar paru-paruku tidak jelas karena diselubungi sesuatu yang berwarna putih. Bahkan di paru sebelah kiriku hanya kelihatan bagian atasnya aja. Sambil menunjuk bagian itu dokter menjelaskan, “Yang putih-putih ini cairannya, Tuh, udah separuh kerendam gini.”
Kata dokter, setiap orang punya virus TB di dalam tubuhnya, dan berkembang-tidaknya hal itu bergantung pada kondisi masing-masing individu. Kalau daya tahan tubuh kuat, si TB gak akan menjadi penyakit, pun sebaliknya. Setelah aku mengulik sendiri dari internet, Indonesia negara ketiga dengan pasien TB terbanyak di dunia, gak tahu kalau sekarang. Gejala-gejala yang kutemukan ternyata sama persis dengan yang kualami: berat badan menyusut, keringat berlebih, batuk lebih dari dua minggu. Gejalanya memang mirip tifus, tapi tifus gak menyebabkan batuk. Dokter juga bilang, rawat jalan bisa dilakukan tapi akan sulit. Aku harus konsisten minum obat setiap hari selama kurang lebih 6-8 bulan. I was like, ?????? Segitu aku belum tahu kalau aku akan sebenci itu dengan rasa obatnya yang ukurannya segede gaban.
Aku di-opname lagi. Kali ini selang infusnya udah kayak keran bercabang. Ada dua cairan yang harus dimasukin ke tubuhku. Aku masuk ruang paviliun dokter spesialisasi paru-paru. Pertama kali ia memeriksaku, stetoskopnya ditempel ke punggungku dan aku disuruh menarik napas. Berat. Katanya, ia bisa mendengar suara air di paru-paruku yang ternyata cukup banyak. Pantesan napasku terasa berrrrat, ada airnya.
Karena perlu tindakan medis, kalau gak salah orangtuaku harus menandatangani surat persetujuan tindakan gitu. Sejujurnya aku ngeri, imajinasiku tidak bisa membayangkan bagaimana cara mengeluarkan cairan dari paru-paru tanpa harus memasukkan sesuatu ke dalamnya. Namun, bisa kulihat orangtuaku lebih khawatir. Jadi aku berlagak biasa-biasa saja dan selow.
Hari H, tirai antara tempat tidur dan ruang tv kamar perawatanku diturunkan. Dokter menawari Papa untuk melihat (barangkali pikirnya mau mendampingi atau apalah), tapi aku dengar sendiri Papa bilang gak berani. W-o-W orang seperti papski aja gak berani, makin masang muka biasa ajalah saya dan ngechat salah satu teman kelasku untuk mengalihkan perhatian dari-entah-apa sang dokter dan perawatnya lakukan di belakangku. Yup, tindakannya dilakukan dalam keadaan sadar. Sempet bikin parno, apalagi mereka bawa gunting, suntikan, dan botol air mineral 1,5 liter. Aku duduk, hidungku dipasangi selang oksigen. Dokternya bilang, “Kalau nanti kerasa sesak ngomong, ya.”
Di titik punggungku yang sakit itu, aku disuntik dua kali untuk dibikin ‘baal’ katanya. Mati rasa deh. Terasa ketika isi suntikan itu menyebar cepat. Aku gak ngerasa sakit, hanya kayak ada selang kecil yang ‘nyangkut’ di punggungku. Lalu terdengar suara kucuran air seperti saat kamu menyalakan keran.
“Sini pak, liat aja gapapa,” kata Pak Dokternya lagi ke Papa.
Walaupun penasaran, aku gak mau menoleh ke belakang. Aku cuma bisa menilai dari percakapan mereka.
“Ohh iya itu airnya keluar,” ujar Papa.
“Untung masih bersih cairannya, kalau udah kekuninggan atau sampai berdarah, itu lebih parah,” jelas dokternya.
Setelah agak lama, aku mulai terbatuk karena sesak, dokter dan perawatpun menghentikan ‘pengaliran aer’. Yang kudengar dari ortu kemudian sih, cairannya sangat banyak hingga botol air mineral 1,5 liter itu hampir penuh. Setelah bla-bla-bla-bla, aku tertidur.
**
Pertama kalinya minum obat di rumah pascaopname, aku muntah. Setelah ke RS lagi dan cek darah (lagi) yang berkaitan dengan liver gitu, ternyata tubuhku gak kuat dengan dosis normal obat TB untuk orang dewasa. Aku diberi obat dengan dosis lebih rendah dan jumlah lebih banyak karena ‘pecahan’ dari dosis normal. Jangka waktu mengonsumsi obatnya juga diperpanjang jadi 8 bulan, normalnya 6 bulan.
Ada satu obat berwarna oren kemerahan seukuran ujung jari kelingking. Itu yang paling kubenci karena rasanya gak enak banget demi Allah. Mirip rasa obat penambah darah tapi ini lebih...iwwww pokoknya. Sayang, dialah pemeran utama untuk memerangi TB, jadi mau gak mau harus kuminum. Ini juga yang menjadikan Mama ‘agak keras’ menyuruhku minum obat, sebab aku suka berlama-lama melakukannya. Dibelilah banyak pisang untuk membantuku menelan si oren menyebalkan itu. Dokter bilang, gak boleh ada satu haripun terlewat. Pengobatan TB harus sampai tuntas.
Well, aku berobat sampai semester dua kuliah kalau gak salah. Hasil rontgen menunjukkan paru-paruku tampak normal lagi. Dan setelah itu, aku lebih jarang jatuh sakit. Berat badan juga kembali, bahkan lebih, hehehe.
Sayangnya, ada efek samping pribadi. Dari dulu aku bukan tipikal orang yang susah nelan obat entah itu kapsul/tablet (kan ada tuh orang-orang yang susah nelan, sampai harus digerus dulu atau dibuat puyer), tapi sejak diwajibkan minum obat selama delapan bulanan, rasa-rasanya tubuhku sulit mencerna obat berukuran besar lagi. Sekitar awal tahun ketiga kuliah, aku sakit dan Mama menyodorkan obat yang kami beli dari klinik. Tiba-tiba aku merasa perutku mengejang kaku—seolah mengantisipasi masuknya obat. Benar saja, selang beberapa menit setelah meminumnya, aku muntah. “Trauma itu,” gumam Mama. Esoknya, aku dicarikan obat sirup deh~

Kalau kuingat lagi, aku merasa takjub sekaligus bersyukur karena bisa melalui semua momen sakit itu dan sehat walafiat kembali. Memang gak enak, apalagi ‘sakit’ dikategorikan sebagai sesuatu yang negatif. Namun, bukan berarti gak ada sisi positif yang bisa dilihat, kan?