Jun 15, 2019

# Celotehan

Tentang Siapa


Malam ke-29 Ramadan.
Di tengah kesibukanku menyiapkan barang-barang untuk pergi mudik besok, kepalaku masih dibayangi sesosok akibat mimpiku di siang bolong. Iya, aku bermimpi bertemu dengan dia. Begitu terbangun, aku disergap rasa ingin tahu seperti apa kabar dia sekarang. Maklum, selama ini sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menelusuri media sosialnya. Sejak aku tahu, dia seringkali update bersama perempuan yang kupikir..kekasihnya. Hahaha tulisan macam apa ini.
Aku tidak akan menuliskan dengan detail seperti apa dia, kalau-kalau dia membaca ini dan sadar bahwa dialah yang sedang kubicarakan, dia akan GR. Erwh. Hal yang paling ingin kuhindari adalah membuat dia merasa istimewa. Oh ya, lagipula, sepertinya dia takkan membaca ini. Menurutku, aku hanya angin lewat di dalam hidupnya.  Apa guna juga baginya repot-repot mampir ke blogku?

(Andai bagiku dia juga sekadar angin lewat)

Aku ingin menumpahkan kerinduanku di sini, tapi itu berarti aku harus menceritakan kenangan yang pernah terjadi di antara kami. Hahaha ‘kenangan’, seolah kami memiliki suatu momen yang istimewa saja, padahal bukan sama sekali. Ketika kusebut ‘kenangan’, maksudku itu hanyalah ingatan tentang interaksi di antara kami—duduk berhadapan di sebuah tempat nongkrong, berbicara tentang apapun yang bisa dibicarakan. Kalau kuingat lagi, aku tidak tahu apa persisnya topik-topik obrolan kami. Terkadang kami sangat sedikit bicara, tapi barangkali itu karena suasana malam yang mengundang kantuk, atau hawa dinginnya cukup untuk membuat kami menikmati duduk dalam diam.

(Pertemuan-pertemuan kami yang sesederhana itu saja masih sanggup membuatku tak pernah lupa)

Aku senang ia tak pernah bertanya, mengapa aku masih mau menerima ajakannya untuk bermain atau sekadar menemaninya mengurus sesuatu hal. Kalaupun itu terjadi, barangkali aku akan menjawab dengan nada kasual, “Gak ada alasan khusus sih, kebetulan aja tiap lo ajak gue pasti lagi gabut.” Faktanya, walau sesibuk apapun pasti aku akan meluangkan waktu. Tak heran beberapa teman menilaiku bucin yang tidak pada tempatnya. Karena nyatanya, dia memang bukan siapa-siapa.
Satu hal yang kugarisbawahi ketika berurusan dengannya adalah...jangan biarkan dia tahu terlalu banyak tentangmu yang sesungguhnya. Aku berusaha untuk tidak terlalu bersikap jujur—mengutarakan semua hal yang ada di kepalaku. Meski kami sudah saling mengenal sejak berseragam putih-abu, ada titik-titik tertentu yang tidak bisa kubagikan dengan dia. Contoh: betapa senang—atau gugupnya—aku ketika sedang bersamanya. Atau, bagaimana aku bertanya-tanya kapan kiranya aku akan melihatnya lagi tiap dia mengantarku pulang. Juga, apakah dia masih bersama kekasihnya; apakah hubungan mereka lancar; apakah perempuan itu yang kulihat muncul di notifikasi layar ponselnya saat kami sedang makan.
Ya, aku tidak pernah bertanya soal pacarnya; dan ia juga tak pernah memulainya.
Bisa saja aku bertanya, “Pacar lo gimana? Bukannya lo punya pacar?” tetapi itu tidak pernah kulakukan. Karena sejujurnya, aku tidak benar-benar tahu apakah perempuan yang sering muncul di unggahan media sosialnya benar pacarnya atau bukan. Aku hanya berasumsi. Bisa kulihat pula dia tak pernah ingin membahas soal urusan pribadinya, jadi..kuabaikan yang satu itu kecuali dia yang memulai duluan.
Kami benar-benar hanya teman biasa.

(Masalahnya, kesanku terhadapnyalah yang tidak biasa)

Dalam benakku, kami terlibat suatu percakapan:
“Gue gak boleh suka sama lo lagi, kali.”
“Maksudnya?” tanyanya terkejut, respons yang sama setiap kali dia sadar aku bersikap blak-blakan.
“Bukan gak boleh sih, lebih tepatnya gue gak ngizinin diri gue sendiri buat suka sama lo lagi. Makanya yaa, gue bisa santai main berdua sama lo kayak gini.”
Dia akan terus mendesak minta dijelaskan, menatapku terpana seraya tertawa kecil—tawa mengejek.
“Karena kita pernah punya hubungan kan,”—memulai lambat-lambat—“walaupun bentar tapi ya udah kegambar gitu kayak gimana. Gue tahu sih setiap orang tuh berkembang, lo sama gue juga pasti bukan orang yang persis sama kayak waktu dulu. Pola pikir mungkin udah berubah banyak. Tapi gimanapun juga...andaikata nih ya, andaikata entah bagaimana kita terlibat hubungan jelas-gak-jelas gitu, pasti gue akan selalu jadi pihak yang paling..paling peduli (lagi) sama lo. Sama kayak waktu dulu. Dan sama kayak dulu juga, kepedulian lo ke gue gak akan pernah sebesar itu.”
Sulit dimengerti? Sengaja, hehe. Barangkali jika percakapan ini benar terjadi, dia hanya akan sedikit paham, dan terus meminta dijelaskan. Aku yakin 90,89% dia akan menatapku tidak percaya, karena seluruh kalimat panjang lebar dan berbelit-belit itu bermuara pada satu hal: confession—that i like him. Still.
Btw, nope, bukan berarti ada kemungkinan bagi kami menjadi lebih dari teman. Not at all, and i don’t expect it too. I’m very glad we are friends and i don’t want to ruin it.
Maksudku adalah, fakta bahwa aku selalu senang setiap kami berinteraksi (maya atau nyata) membuatku berusaha mencegah diriku untuk menyukainya lagi seperti dulu (yang mana ini sebenarnya cukup mudah terjadi...tapi aku bertahan, hahaha). Why? To be honest, i found it would be hard to move on for the second time if i really falling in love with him again. I thought i can’t let go and forget him easily. Sekali saja sudah sulit, bagaimana yang kedua kali? Aku tidak ingin menjadi masokis.  Terlebih lagi dia orangnya seperti itu, aku orangnya seperti ini. Kami tidak akan pernah berhasil. Sama seperti kali pertama.
Barangkali ini akan sulit dimengerti oleh orang asing. Akupun tidak berharap mereka memahaminya. Namun kalau di antaranya ada yang membaca ini sampai habis, yang bisa kukatakan adalah: terkadang banyak hal di dalam diri kita yang sulit dijelaskan. Kamu tidak mengerti kenapa kamu bisa menyukainya, kenapa kamu begitu membencinya, kenapa kamu marah dan sedih ketika melihat si A, kenapa kamu senang bersama B dan lain sebagainya. Tetapi yang bisa kamu lakukan pertama adalah jujur pada diri sendiri—berhentilah menyangkal emosimu sendiri. Setelah itu, pelan-pelan kamu bisa belajar memahami apa yang sedang terjadi.
Sampai saat ini, aku belum pernah berkomunikasi dengannya lagi. Terakhir bertemu sekitar bulan Januari, senangnya bukan main. Tetapi belum lama ini dia mengomentari instastory-ku. Satu kata dan tidak berfaedah, tetapi masih sanggup membuatku tersenyum sumringah.
Aku tidak yakin apakah aku benar-benar masih menyukai dia. Kupikir jawabannya....tidak. Asumsiku, sejak dulu aku selalu melihatnya sebagai sosok yang istimewa (meskipun cerita yang pernah terjalin di antara kami sangaaaaaaaaaat jauh dari indah). Hingga saat ini, kacamata itu belum berubah. Perasaan yang menggebu-gebu tentang dia timbul-tenggelam. Seringnya aku biasa saja, tapi kemudian entah bagaimana—sama seperti mimpi di siang ini—aku terlena lagi.
Yah, barangkali dalam hidup memang harus selalu ada satu orang yang teristimewa. Paling sulit kamu lupakan, terlepas dari di mana keberadaannya sekarang.

No comments:

Post a Comment