Jun 29, 2019

# Coretan Pena

Tentang Baca Tulis: Dulu Hingga Sekarang

19/06/2019.
Sewaktu SD, ketika harus menulis biodata di kertas binder teman, pada bagian hobi aku akan menuliskan banyak hal. Mulai dari makan, tidur, mendengarkan musik, dan dua hal yang tak pernah luput adalah: membaca dan menulis. Tanpa '-tung', ya. Barangkali karena sejak kecil Mama selalu rutin membelikan kami majalah Bobo, aku jadi senang membaca.

Dulu
Sekali waktu aku terkesan dengan isi dari rubrik cerpen di majalah itu. Aku langsung mengambil pena dan kertas binder (dulu aku menyebutnya file) dan menulis cerpen versiku sendiri. Sejak aku tahu seseorang juga bisa menulis kisahnya sendiri, aku semakin tertarik membaca buku. Pernah aku memboyong pulang buku-buku milik Mbah tentang kisah para nabi, tumpukan komik Shinchan koleksi Om, hingga saat menginjak bangku SMP mulai menyisihkan uang jajan sendiri untuk membeli majalah Gaul, Teen, atau Gadis (ciyaa ceritanya udah remaja).
Kegiatan favorit baruku (menulis) kutuangkan ke dalam buku harian sejak SD. Dulu, benar-benar setiap sepulang sekolah aku menuliskan kejadian hari itu di dalam diary. Sedetail-detailnya dan se..yah, katakanlah senorak-noraknya. Sampai kalau kubaca lagi saat ini bikin ngakak. Ternyata dari dulu sudah emosional—kalau senang, senang banget; kalau sedih, sedih banget. Iya, aku masih menyimpan semua buku harian dari SD hingga SMP, tetapi belum lama ini ketika sedang berbenah kuputuskan untuk menyingkirkan semuanya. Otakku masih menyimpan kenangannya dengan jelas tanpa buku-buku itu. Namun, aku tidak mau sembarang dibuang—maunya dibakar!! Aib semua itu isinya.
Aku mulai benar-benar aktif bermain Facebook dan Twitter saat SMP, mengetahui ada cara lain untuk menuangkan apa yang kupikirkan dengan sebanyak mungkin orang.
Well, hobi menulis itu berlanjut sampai sekarang.

Masih Dulu
 Sewaktu SMA dan tiba masanya kita memilih jurusan kuliah, aku sempat menginginkan Sastra Indonesia. Aku tahu kegiatan menulis hanyalah secuil dari luasnya bidang Sastra Indonesia, tetapi kupikir akan menyenangkan jika aku menghabiskan empat tahun kemudian di tempat yang memang kuinginkan. Namun, karena satu dan lain hal, aku tidak benar-benar yakin.
Suatu hari salah satu teman kelasku bertanya, “Kamu jadi ambil apa? Kalau kamu ambil sosio, aku ambil sasin. Kalau kamu ambil sasin, pilihan pertama aku sosio.
Aku cuma nyengir dan berkata dengan nada meminta maaf, “Nanti aku pikirin lagi, ya?”
Waktu itu peluang murid sekolah kami masuk ke Unpad memang terbilang besar, tentu saja kami harus menyesuaikan pilihan dan nilai satu sama lain agar kesempatan yang kami miliki lebih besar—dengan harapan semua masuk ke jurusan yang dipilih. Singkat cerita, di jurusan Sastra Indonesia-lah dia berada, dan aku di Sosiologi.
Bicara sedikit tentang temanku itu, setahuku dia memang anak yang pintar merangkai kata. Bahkan pernah menjuarai lomba menulis puisi di kompetisi luar sekolah waktu kami kelas XI. Aku juga pernah menonton pertunjukan teaternya dulu di Aula PSBJ FIB Unpad sewaktu kuliah. Kerrrren.
Aku pernah membayangkan, bagaimana jadinya kalau posisi kami dibalik? Aku menghargai sikapnya yang membiarkan aku mengambil keputusan. Seolah tak masalah baginya entah itu di sasin atau sosio—dia hanya akan tinggal menjalankannya sebaik mungkin. Bagaimana seandainya aku memilih yang satunya? Apa yang akan aku lakukan sekarang ini, dan seperti apa teman-teman yang akan kupunya? Bukan berarti aku menyesal. Aku berpandangan semua yang terjadi di hidup kita adalah yang terbaik, dan pasti akan terjadi seperti apapun jalannya.

Sekarang
Aku sedang rajin-rajinnya lagi membaca buku sampai (makin) jarang ngecek hp. Biasanya, aku hanya tertarik pada cerita fiksi dan self-improvement, tetapi beberapa bulan terakhir ini tidak juga. Aku punya banyak sekali buku hingga setiap kali berbenah, rasanya aku harus memutuskan buku mana lagi yang akan kupilih untuk disumbangkan saja. Boleh menunjukkan beberapa di antaranya?

Itu foto agak lama, sih. Diambil waktu lagi beres-beres rak. Beberapa di antaranya ada yang sudah disumbangkan. Beberapa lainnya lagi ketinggalan untuk masuk di foto. Terlebih beberapa minggu ini aku punya buku-buku baru. Oh iya, ada beberapa buku milik kakakku dalam foto itu—komik-komik Islam. Hanya saja aku yang mengambil tanggung jawab untuk mengelola semua koleksi buku di rumah. Tidak tahan rasanya melihat buku berserakan.
Sebenarnya, aku mau saja berbagi pinjam kepada mereka yang memang tertarik dengan buku-bukuku. Asal, buku itu dijamin dapat kembali dengan keadaan persis sama seperti saat meminjamnya hahaha. Ada pengalaman kurang menyenangkan ketika aku meminjamkan salah satu bukuku yang paling tebal dan lumayan mehong ke seorang teman. Aku belum lama membelinya, dan ia mengembalikan dalam keadaan.....huhuhuhuhuhuhu. Sedih. Kayak abis dipakai ngepel lantai saking...ah begitulah. That’s why aku sedikit bawel kalau meminjamkan lagi ke orang lain.
Nah, sehubungan dengan semua buku-buku yang pernah kubaca...rencananya sih konten berkala yang mau kutuliskan di blog ini selain ceritaku yang absurd adalah review buku. Dalam rangka menghindari kemungkinan hal-hal yang pernah dibaca hanya mengendap di pikiran sendiri saja kemudian terlupakan, sekaligus ruang menyalurkan hobi menulisku juga. Barangkali beberapa buku yang kuulas dapat menjadi rekomendasi bagi para pembaca. Isi tulisannya pada umumnya sama dengan review-review lainnya (sinopsis, kekurangan, kelebihan) dengan sedikit modifikasi SSAS—Suka Suka Aku Saja. Hiyahiyahiya.