(Self-)Love Story Through Toxic Relationship

pexels.com
Bingung juga kasih judulnya.

Sebelumnya, aku pernah menulis ini Desember 2018 lalu dengan judul lain dan dibagi menjadi dua bagian. Sudah banyak yang membaca juga... tapi, sudah lama aku putuskan untuk menghapusnya dan menulis ulang dalam bahasa yang lebih santun dan tidak sedetail sebelumnya hahaha. Berhubung memang aku mengirimkan narasi ini ke salah satu media online untuk mengisi tab inspirasi, jadilah seperti di bawah ini. Tujuanku hanya ingin berbagi pengalaman, dan sedapat mungkin menyebarkan positifnya. Seperti yang dikatakan Mark Manson dalam bukunya Seni untuk Bersikap Bodo Amat, pengalaman negatif justru dapat menjadikan dirimu seseorang yang positif.

Berbagi Pandang Tentang Menjadi Bucin dan Terjebak Hubungan Yang Posesif
Siapa yang pernah menonton film Posesif-nya Adipati Dolken dan Putri Marino? Well, aku asumsikan hampir semua sudah menontonnya. Lalu, siapa yang pernah mengalami hal serupa—terlibat dalam hubungan yang sebetulnya tidak sehat? Semoga tak pernah ada.

Nyatanya, barangkali memang akan selalu ada fase menjadi bucin (budak cinta) dalam hidup setiap orang. Saat di mana kita merasa sangat mencintai sesuatu—dalam hal ini seseorang—hingga rasanya tak ada yang tak bisa kita lakukan demi dia. Bolak-balik menjemputnya meski harus menempuh ribuan kilometer? Bisa! Merogoh kocek dalam-dalam demi memberinya kejutan super romantis? No problem!

Sebenarnya hal-hal di atas bukan sesuatu yang salah. Secara naluriah kita ingin memberikan yang terbaik bagi orang teristimewa. Namun, menurutku hal ini menjadi masalah ketika kita sampai mewajarkan hal yang jelas tidak benar hingga merugikan diri sendiri.

Tentu saja aku berpandangan begitu atas dasar pengalaman—yang berikut akan kubagi sedikit denganmu.

Tidak Sehat
Selama kurang lebih setahun menjalin hubungan, mataku tertutup oleh luapan perasaan terhadap pacarku. Kendati ia kasar, egois, dan posesif, bagiku dia tetaplah dia—dan aku adalah perempuan yang mampu bersabar menghadapinya. Sounds cringe, huh? Maklum, masih berseragam putih abu saat itu. Tahun pertama.

Di samping haha-hihi romantika remaja, kami juga mengalami banyak momen buruk. Lebih tepatnya, aku yang merasa buruk. Dibentak di depan umum? Pernah. Dicaci-maki? Cukup sering. Dicemburui secara berlebihan? Apalagi. Dibohongi? Dikhianati? Uhm, let me think...of course he did it several times. Aku tak bermaksud menjadikan dia dalam cerita ini sebagai ‘orang br**g**k’ sedangkan aku adalah korbannya. Namun kalau boleh kukatakan, sebagian besar pertengkaran yang terjadi di antara kami disebabkan olehnya. Seringkali aku harus mengambil sikap mengalah dan meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahanku demi menyudahi pertengkaran kami yang bisa berlangsung berhari-hari. Karena apa? Dia sangat egois. Walau ia sadar dalam pertengkaran itu dialah yang salah, ia takkan meminta maaf. Jikalau aku yang memang salah dan sudah meminta maaf, aku harus berupaya keras untuk menenangkan dirinya lagi. Kau tidak bisa memadamkan api dengan api, bukan? Sama halnya dengan kemarahan.

Bahkan hingga detik menulis ini, satu-satunya orang yang pernah berlaku sekasar itu padaku hanya dia.

Pernah suatu hari ia marah lagi hingga pagi esoknya. Aku lupa apa sebabnya, yang jelas hari itu aku datang ke sekolah dengan wajah kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Teman-teman dekatku sudah lama mendukungku untuk putus (btw, aku dan pacarku itu berbeda sekolah). Barangkali mereka melihat betapa terkekangnya aku dengan hubungan ini, atau bahasa mereka, “Kamu gak layak dapat cowok kayak begitu.”

Tentu saja aku sadar hubungan kami tidak sehat. Berkali-kali ia pernah melontarkan “ya udahlah putus aja!” tetapi begitu kuiyakan ia malah semakin marah. Sejak itu aku sadar bahwa ia hanya menggertak. Pikirnya aku dapat selalu mengalah. Aku merasa terkungkung emosi negatif terus-menerus. Sosok yang seharusnya menjadi penyemangat malah membuatku stres melulu. Aku sudah pernah mencoba mengakhiri hubungan ini, tetapi malah aku yang menangis karena tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa dia ke depannya—jelas aku sudah begitu terbiasa.

Sampai sini, kau boleh menyebutku bodoh karena mau-maunya diperlakukan seperti sampah oleh orang yang mengaku sebagai pacar. Sebut saja aku bucin, mempertahankan hubungan yang mengarahkanku pada kesengsaraan. Aku telah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi dia, hingga aku lupa bahwa aku memiliki kehidupan lain di luar permasalahan cinta-cintaan anak SMA.

Melepaskan Diri
Di penghujung tahun ajaran, sekolahku mengadakan kompetisi antarkelas berupa pagelaran seni budaya. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama meniti persiapan yang cukup panjang. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hariku disibukkan dengan latihan dan berkumpul bersama teman-teman sekelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Aku begitu menikmati kesibukan baru itu hingga mengesampingkan pacar. Aku tidak begitu peduli bila ia mau berkeliaran dengan perempuan lain (lagi).

“Gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Cowok gak hanya dia, dan yang lebih baik masih banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda buat hal yang sia-sia dan gak menyehatkan?” Begitulah akal sehatku berkata, tak lagi kalah oleh perasaan. Aku bertekad untuk mengakhiri hubungan toxic ini.

Prosesnya tak mudah. Ia menolak mentah-mentah ajakanku untuk putus. Aku mengutarakan lagi baik-baik alasanku ingin melepaskan diri. Tak suka dibohongi, diperlakukan kasar, atau dicaci-maki. Jika aku memang sosok yang sekurang ajar itu hingga layak mendapat perlakuan begitu, silakan saja ia hina sepuasnya—tetapi ‘kan tidak. I’ve tried my best for him and he knows it too. Keadaan kini berbalik. Jika dulu aku yang nyaris memohon penerimaan maafnya, kini ia yang nyaris mengemis memintaku kembali. Setiap hari.

Setelah hari-hari di mana ia terus mengobral maaf dan janji gak-akan-gitu-lagi terlewati, aku merasa lebih bahagia. Aku berdamai dengan diriku karena telah membiarkan diri sendiri terluka terlalu lama. Mulai belajar mencintai diri sendiri dengan menghindari hubungan toxic lain dan lebih banyak menyerap atau membagikan energi positif. Aku berteman dengan sebanyak mungkin orang dan aktif di organisasi/ekstrakurikuler sekolah.

Bagaimana Denganmu?
Seseorang pernah berkata, “Gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi. Gimanapun juga itu bagian dari masa lalu.” Satu-satunya penyesalanku adalah tidak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Seharusnya aku sadar ketika hubungan itu tak berpengaruh baik pada diri sendiri (membuat tertekan/ngebatin), lebih baik disudahi. Tak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan c-i-n-t-a.  Jangan-jangan, kita bukan tengah memperjuangkan, melainkan hanya berkutat dalam kebodohan kesia-siaan. Memang ada istilah ‘hasil takkan mengkhianati usaha’ tetapi dalam hidup sebetulnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Seperti aku—berusaha sabar menghadapi dia dengan harapan nantinya akan berubah, atau digayuti pikiran ‘seburuk apapun jalannya, yang penting kami saling menyukai.’ Betapa sempit pemikiranku saat itu. Tetap saja Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengaturnya—Tuhan lebih tahu kalau tak seharusnya kita menjadi budak cinta terhadap manusia lainnya.

Aku tak menggeneralisir segala bentuk hubungan sepasang kekasih yang ada di dunia ini. Siapalah aku? Hanya seseorang yang berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya. Setiap orang memiliki cerita masing-masing dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Pesanku: untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Ingat, kamu bertanggung jawab atas kebahagiaan dirimu sendiri.



You Might Also Like

0 komentar