Jun 29, 2019

Antologi Dunia Jurnalisme

June 29, 2019

Identitas Buku
Judul: Jurnalis, Jurnalisme, dan Saya
Penulis: Keluarga Alumni Jurnalistik UNPAD
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Kedua)
Jumlah Hlm: 297
Harga: -


“Manusia itu memiliki nilai-nilai yang universal, yaitu kebenaran. Orang boleh tidak punya agama dan tidak punya ideologi, tapi tetap dalam batinnya dia ingin agar kebenaran dan keadilan ditegakkan. Kita sebagai wartawan harus bisa melihat intisari itu. Lihat dan analisis. Ketika keadilan dan kebenaran tidak tegak, di situ kita harus bergerak.”


Pesan di atas mengutip dari salah satu kisah dalam buku ini ketika Mr. Tatsuya Mizumot, seorang atasan di media Jepang bernama Jiji Press tempat Rieska Wulandari bekerja, memberinya wejangan untuk memahami arti menjadi jurnalis yang sebenar-benarnya.
Yup, kali ini aku mau berbagi tentang salah satu buku yang secara tidak sengaja kutemukan di Perpustakaan Pusat Unpad. Barangkali kamu juga akan sulit menemukannya di toko buku manapun, sebab dalam bukunya tertulis ‘dicetak untuk kalangan terbatas’. Namanya juga buku pinjaman, aku pun hanya memiliki sedikit waktu untuk menamatkan buku ini. Well, tidak terlalu sulit karena isinya memang menarik—bahkan bagiku yang bukan anak jurnalistik.
Sebelum itu, beberapa dari kita mungkin mempertanyakan—termasuk aku—apakah wartawan, jurnalis, dan reporter itu tiga hal yang berbeda. Melansir careernews.id, berdasarkan keterangan peneliti media dan beberapa reporter itu sendiri bahwasanya tidak ada perbedaan khusus di antara ketiganya. Semua bermuara pada satu makna: sebuah profesi pencari berita. Hanya saja penggunaan istilah-istilah tersebut tergantung kebijakan masing-masing media.

Penulis
Lebih jauh tentang lika-liku yang harus ditempuh seorang jurnalis di lapangan dikisahkan dalam buku ini—sebuah antologi 25 esai yang ditulis oleh para alumni Jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Padjadjaran generasi tahun 1984-2006. Para penulis ini berasal dari beragam kalangan profesi; mulai dari jurnalis, dosen, redaktur majalah, komisioner di lembaga negara, atau pekerja NGO. Membaca perjalanan panjang mereka selepas kuliah sebagai jurnalis media lokal hingga internasional, berseliweran mewawancarai orang-orang penting di dalam dan di luar negeri, menyeberangi pulau untuk menginvestigasi pembalakan liar ataupun perburuan paus, sempat membuatku membatin: wadaooow hal 'wow' apa aja yang pernah kulakukan di muka bumi ini.
Sinopsis
Kisah-kisah dalam buku ini terbagi menjadi enam bagian. Dalam bab (1) Jurnalisme dan Kepentingan Publik, banyak memuat perbandingan kebijakan dan kebebasan pers antara Indonesia dan negara lain pada masanya yang dirasakan jurnalis ketika ikut serta dalam suatu konferensi luar negeri atau bekerja di media lokal maupun asing seperti The Washington Post, BBC, Mainichi Shimbun, dll.
Dalam bab (2) Integritas Wartawan juga masih diwarnai perbandingan kesan bekerja di media lokal dan asing. Meliput peristiwa tsunami Aceh 2004, hingga menderita malaria dan demam 40 derajat setelah menelusuri kasus penebangan illegal pohon Merbau berumur ratusan tahun di Papua, hanya sebagian dari rentetan pengalaman menarik lain dalam bab ini.
Para alumni yang tergabung sebagai redaksi majalah atau media online dan mengecap segala dinamikanya (seperti penyusutan pemasangan iklan dalam bentuk advertorial hingga adu kreativitas para copywriter dalam beriklan) tertuang di bab (3) Manajemen Media. Perjalanan Irfan Junardi dalam menghidupkan kembali situs berita tertua di Indonesia pada masanya yakni Republika Online, menjadi salah satu kisah favoritku dalam buku ini.
Lanjooot. Hanya ada dua kisah wartawan dalam bab (4) Meliput Konflik, satu yang berlatarkan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina; lainnya berupa sebuah konflik di Mindanau, Filipina. Keduanya berupa perjalanan luar biasa yang hanya bisa kubayangkan sebagai bagian dari skenario film.
Cerita dalam bab (5) Pernak-Pernik di Lapangan dan bab (6) Wartawan, Humas, dan LSM lebih bervariasi lagi. Mulai dari sudut pandang seorang wartawan film hingga praktisi humas, proses dalam meliput haji, usaha kecil, hingga praktik jasa pembuatan skripsi. Yang terakhir disebut sungguh uwow.

Komentar
Bicara soal kekurangan, terkadang banyak istilah dalam dunia jurnalistik yang tidak mencantumkan keterangan. Awam sepertiku jadi kurang paham. Mungkin karena buku ini juga memang tidak dimaksudkan menyasar pada pembaca umum, sih. Selebihnya, aku cukup menikmati ragam kisah dalam buku ini dan gaya penulisannya yang enak dibaca. Kupikir, jungkir balik persaingan para wartawan mencari bahan berita cuma bisa dilihat di drama Korea Pinocchio saja. Ternyata.. memang begitulah yang terjadi di balik layar berita. Barangkali itu yang menjadi keunggulan buku ini—mampu menyajikan cerita yang tidak banyak diketahui khalayak. Beberapa dari kita pasti hanya membaca artikel atau menonton siaran berita tanpa tahu—atau tertarik—proses di balik penyusunannya, kan? Nah, buku ini dapat memberikan gambaran yang kamu inginkan seputar praktik jurnalisme di lapangan—bahkan, kisah mereka yang berlatar pendidikan jurnalistik namun tidak terjun ke ranah profesi tersebut.
Sebagai penutup, berikut kutipan dari salah satu pengisi buku yang menurutku relatable dengan keadaan masa kini:
“Di tengah jagat komunikasi hari ini, yang ditandai dengan kian tingginya gelombang pasang informasi dari sana-sini, orang gampang lupa. Milan Kundera kiranya benar ketika dia, dalam The Book of Laughter and Forgetting (1985), kurang lebih mengatakan bahwa kini orang kian tak tuntas memikirkan satu perkara sebab tiap saat benaknya digedor-gedor oleh rupa-rupa perkara yang tiada hentinya silang susup menyesakkan media berita. Situasinya sungguh paradoksal: justru ketika informasi kian melimpah, orang seakan kian tak sanggup memahami apapun.” – Hawe Setiawan.

Ps: foto akan selalu seadanya alias ga estetik wkwk

Tentang Baca Tulis: Dulu Hingga Sekarang

June 29, 2019
19/06/2019.
Sewaktu SD, ketika harus menulis biodata di kertas binder teman, pada bagian hobi aku akan menuliskan banyak hal. Mulai dari makan, tidur, mendengarkan musik, dan dua hal yang tak pernah luput adalah: membaca dan menulis. Tanpa '-tung', ya. Barangkali karena sejak kecil Mama selalu rutin membelikan kami majalah Bobo, aku jadi senang membaca.

Dulu
Sekali waktu aku terkesan dengan isi dari rubrik cerpen di majalah itu. Aku langsung mengambil pena dan kertas binder (dulu aku menyebutnya file) dan menulis cerpen versiku sendiri. Sejak aku tahu seseorang juga bisa menulis kisahnya sendiri, aku semakin tertarik membaca buku. Pernah aku memboyong pulang buku-buku milik Mbah tentang kisah para nabi, tumpukan komik Shinchan koleksi Om, hingga saat menginjak bangku SMP mulai menyisihkan uang jajan sendiri untuk membeli majalah Gaul, Teen, atau Gadis (ciyaa ceritanya udah remaja).
Kegiatan favorit baruku (menulis) kutuangkan ke dalam buku harian sejak SD. Dulu, benar-benar setiap sepulang sekolah aku menuliskan kejadian hari itu di dalam diary. Sedetail-detailnya dan se..yah, katakanlah senorak-noraknya. Sampai kalau kubaca lagi saat ini bikin ngakak. Ternyata dari dulu sudah emosional—kalau senang, senang banget; kalau sedih, sedih banget. Iya, aku masih menyimpan semua buku harian dari SD hingga SMP, tetapi belum lama ini ketika sedang berbenah kuputuskan untuk menyingkirkan semuanya. Otakku masih menyimpan kenangannya dengan jelas tanpa buku-buku itu. Namun, aku tidak mau sembarang dibuang—maunya dibakar!! Aib semua itu isinya.
Aku mulai benar-benar aktif bermain Facebook dan Twitter saat SMP, mengetahui ada cara lain untuk menuangkan apa yang kupikirkan dengan sebanyak mungkin orang.
Well, hobi menulis itu berlanjut sampai sekarang.

Masih Dulu
 Sewaktu SMA dan tiba masanya kita memilih jurusan kuliah, aku sempat menginginkan Sastra Indonesia. Aku tahu kegiatan menulis hanyalah secuil dari luasnya bidang Sastra Indonesia, tetapi kupikir akan menyenangkan jika aku menghabiskan empat tahun kemudian di tempat yang memang kuinginkan. Namun, karena satu dan lain hal, aku tidak benar-benar yakin.
Suatu hari salah satu teman kelasku bertanya, “Kamu jadi ambil apa? Kalau kamu ambil sosio, aku ambil sasin. Kalau kamu ambil sasin, pilihan pertama aku sosio.
Aku cuma nyengir dan berkata dengan nada meminta maaf, “Nanti aku pikirin lagi, ya?”
Waktu itu peluang murid sekolah kami masuk ke Unpad memang terbilang besar, tentu saja kami harus menyesuaikan pilihan dan nilai satu sama lain agar kesempatan yang kami miliki lebih besar—dengan harapan semua masuk ke jurusan yang dipilih. Singkat cerita, di jurusan Sastra Indonesia-lah dia berada, dan aku di Sosiologi.
Bicara sedikit tentang temanku itu, setahuku dia memang anak yang pintar merangkai kata. Bahkan pernah menjuarai lomba menulis puisi di kompetisi luar sekolah waktu kami kelas XI. Aku juga pernah menonton pertunjukan teaternya dulu di Aula PSBJ FIB Unpad sewaktu kuliah. Kerrrren.
Aku pernah membayangkan, bagaimana jadinya kalau posisi kami dibalik? Aku menghargai sikapnya yang membiarkan aku mengambil keputusan. Seolah tak masalah baginya entah itu di sasin atau sosio—dia hanya akan tinggal menjalankannya sebaik mungkin. Bagaimana seandainya aku memilih yang satunya? Apa yang akan aku lakukan sekarang ini, dan seperti apa teman-teman yang akan kupunya? Bukan berarti aku menyesal. Aku berpandangan semua yang terjadi di hidup kita adalah yang terbaik, dan pasti akan terjadi seperti apapun jalannya.

Sekarang
Aku sedang rajin-rajinnya lagi membaca buku sampai (makin) jarang ngecek hp. Biasanya, aku hanya tertarik pada cerita fiksi dan self-improvement, tetapi beberapa bulan terakhir ini tidak juga. Aku punya banyak sekali buku hingga setiap kali berbenah, rasanya aku harus memutuskan buku mana lagi yang akan kupilih untuk disumbangkan saja. Boleh menunjukkan beberapa di antaranya?

Itu foto agak lama, sih. Diambil waktu lagi beres-beres rak. Beberapa di antaranya ada yang sudah disumbangkan. Beberapa lainnya lagi ketinggalan untuk masuk di foto. Terlebih beberapa minggu ini aku punya buku-buku baru. Oh iya, ada beberapa buku milik kakakku dalam foto itu—komik-komik Islam. Hanya saja aku yang mengambil tanggung jawab untuk mengelola semua koleksi buku di rumah. Tidak tahan rasanya melihat buku berserakan.
Sebenarnya, aku mau saja berbagi pinjam kepada mereka yang memang tertarik dengan buku-bukuku. Asal, buku itu dijamin dapat kembali dengan keadaan persis sama seperti saat meminjamnya hahaha. Ada pengalaman kurang menyenangkan ketika aku meminjamkan salah satu bukuku yang paling tebal dan lumayan mehong ke seorang teman. Aku belum lama membelinya, dan ia mengembalikan dalam keadaan.....huhuhuhuhuhuhu. Sedih. Kayak abis dipakai ngepel lantai saking...ah begitulah. That’s why aku sedikit bawel kalau meminjamkan lagi ke orang lain.
Nah, sehubungan dengan semua buku-buku yang pernah kubaca...rencananya sih konten berkala yang mau kutuliskan di blog ini selain ceritaku yang absurd adalah review buku. Dalam rangka menghindari kemungkinan hal-hal yang pernah dibaca hanya mengendap di pikiran sendiri saja kemudian terlupakan, sekaligus ruang menyalurkan hobi menulisku juga. Barangkali beberapa buku yang kuulas dapat menjadi rekomendasi bagi para pembaca. Isi tulisannya pada umumnya sama dengan review-review lainnya (sinopsis, kekurangan, kelebihan) dengan sedikit modifikasi SSAS—Suka Suka Aku Saja. Hiyahiyahiya.

(Self-)Love Story Through Toxic Relationship

June 29, 2019
pexels.com
Bingung juga kasih judulnya.

Sebelumnya, aku pernah menulis ini Desember 2018 lalu dengan judul lain dan dibagi menjadi dua bagian. Sudah banyak yang membaca juga... tapi, sudah lama aku putuskan untuk menghapusnya dan menulis ulang dalam bahasa yang lebih santun dan tidak sedetail sebelumnya hahaha. Berhubung memang aku mengirimkan narasi ini ke salah satu media online untuk mengisi tab inspirasi, jadilah seperti di bawah ini. Tujuanku hanya ingin berbagi pengalaman, dan sedapat mungkin menyebarkan positifnya. Seperti yang dikatakan Mark Manson dalam bukunya Seni untuk Bersikap Bodo Amat, pengalaman negatif justru dapat menjadikan dirimu seseorang yang positif.

Berbagi Pandang Tentang Menjadi Bucin dan Terjebak Hubungan Yang Posesif
Siapa yang pernah menonton film Posesif-nya Adipati Dolken dan Putri Marino? Well, aku asumsikan hampir semua sudah menontonnya. Lalu, siapa yang pernah mengalami hal serupa—terlibat dalam hubungan yang sebetulnya tidak sehat? Semoga tak pernah ada.

Nyatanya, barangkali memang akan selalu ada fase menjadi bucin (budak cinta) dalam hidup setiap orang. Saat di mana kita merasa sangat mencintai sesuatu—dalam hal ini seseorang—hingga rasanya tak ada yang tak bisa kita lakukan demi dia. Bolak-balik menjemputnya meski harus menempuh ribuan kilometer? Bisa! Merogoh kocek dalam-dalam demi memberinya kejutan super romantis? No problem!

Sebenarnya hal-hal di atas bukan sesuatu yang salah. Secara naluriah kita ingin memberikan yang terbaik bagi orang teristimewa. Namun, menurutku hal ini menjadi masalah ketika kita sampai mewajarkan hal yang jelas tidak benar hingga merugikan diri sendiri.

Tentu saja aku berpandangan begitu atas dasar pengalaman—yang berikut akan kubagi sedikit denganmu.

Tidak Sehat
Selama kurang lebih setahun menjalin hubungan, mataku tertutup oleh luapan perasaan terhadap pacarku. Kendati ia kasar, egois, dan posesif, bagiku dia tetaplah dia—dan aku adalah perempuan yang mampu bersabar menghadapinya. Sounds cringe, huh? Maklum, masih berseragam putih abu saat itu. Tahun pertama.

Di samping haha-hihi romantika remaja, kami juga mengalami banyak momen buruk. Lebih tepatnya, aku yang merasa buruk. Dibentak di depan umum? Pernah. Dicaci-maki? Cukup sering. Dicemburui secara berlebihan? Apalagi. Dibohongi? Dikhianati? Uhm, let me think...of course he did it several times. Aku tak bermaksud menjadikan dia dalam cerita ini sebagai ‘orang br**g**k’ sedangkan aku adalah korbannya. Namun kalau boleh kukatakan, sebagian besar pertengkaran yang terjadi di antara kami disebabkan olehnya. Seringkali aku harus mengambil sikap mengalah dan meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahanku demi menyudahi pertengkaran kami yang bisa berlangsung berhari-hari. Karena apa? Dia sangat egois. Walau ia sadar dalam pertengkaran itu dialah yang salah, ia takkan meminta maaf. Jikalau aku yang memang salah dan sudah meminta maaf, aku harus berupaya keras untuk menenangkan dirinya lagi. Kau tidak bisa memadamkan api dengan api, bukan? Sama halnya dengan kemarahan.

Bahkan hingga detik menulis ini, satu-satunya orang yang pernah berlaku sekasar itu padaku hanya dia.

Pernah suatu hari ia marah lagi hingga pagi esoknya. Aku lupa apa sebabnya, yang jelas hari itu aku datang ke sekolah dengan wajah kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Teman-teman dekatku sudah lama mendukungku untuk putus (btw, aku dan pacarku itu berbeda sekolah). Barangkali mereka melihat betapa terkekangnya aku dengan hubungan ini, atau bahasa mereka, “Kamu gak layak dapat cowok kayak begitu.”

Tentu saja aku sadar hubungan kami tidak sehat. Berkali-kali ia pernah melontarkan “ya udahlah putus aja!” tetapi begitu kuiyakan ia malah semakin marah. Sejak itu aku sadar bahwa ia hanya menggertak. Pikirnya aku dapat selalu mengalah. Aku merasa terkungkung emosi negatif terus-menerus. Sosok yang seharusnya menjadi penyemangat malah membuatku stres melulu. Aku sudah pernah mencoba mengakhiri hubungan ini, tetapi malah aku yang menangis karena tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa dia ke depannya—jelas aku sudah begitu terbiasa.

Sampai sini, kau boleh menyebutku bodoh karena mau-maunya diperlakukan seperti sampah oleh orang yang mengaku sebagai pacar. Sebut saja aku bucin, mempertahankan hubungan yang mengarahkanku pada kesengsaraan. Aku telah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi dia, hingga aku lupa bahwa aku memiliki kehidupan lain di luar permasalahan cinta-cintaan anak SMA.

Melepaskan Diri
Di penghujung tahun ajaran, sekolahku mengadakan kompetisi antarkelas berupa pagelaran seni budaya. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama meniti persiapan yang cukup panjang. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hariku disibukkan dengan latihan dan berkumpul bersama teman-teman sekelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Aku begitu menikmati kesibukan baru itu hingga mengesampingkan pacar. Aku tidak begitu peduli bila ia mau berkeliaran dengan perempuan lain (lagi).

“Gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Cowok gak hanya dia, dan yang lebih baik masih banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda buat hal yang sia-sia dan gak menyehatkan?” Begitulah akal sehatku berkata, tak lagi kalah oleh perasaan. Aku bertekad untuk mengakhiri hubungan toxic ini.

Prosesnya tak mudah. Ia menolak mentah-mentah ajakanku untuk putus. Aku mengutarakan lagi baik-baik alasanku ingin melepaskan diri. Tak suka dibohongi, diperlakukan kasar, atau dicaci-maki. Jika aku memang sosok yang sekurang ajar itu hingga layak mendapat perlakuan begitu, silakan saja ia hina sepuasnya—tetapi ‘kan tidak. I’ve tried my best for him and he knows it too. Keadaan kini berbalik. Jika dulu aku yang nyaris memohon penerimaan maafnya, kini ia yang nyaris mengemis memintaku kembali. Setiap hari.

Setelah hari-hari di mana ia terus mengobral maaf dan janji gak-akan-gitu-lagi terlewati, aku merasa lebih bahagia. Aku berdamai dengan diriku karena telah membiarkan diri sendiri terluka terlalu lama. Mulai belajar mencintai diri sendiri dengan menghindari hubungan toxic lain dan lebih banyak menyerap atau membagikan energi positif. Aku berteman dengan sebanyak mungkin orang dan aktif di organisasi/ekstrakurikuler sekolah.

Bagaimana Denganmu?
Seseorang pernah berkata, “Gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi. Gimanapun juga itu bagian dari masa lalu.” Satu-satunya penyesalanku adalah tidak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Seharusnya aku sadar ketika hubungan itu tak berpengaruh baik pada diri sendiri (membuat tertekan/ngebatin), lebih baik disudahi. Tak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan c-i-n-t-a.  Jangan-jangan, kita bukan tengah memperjuangkan, melainkan hanya berkutat dalam kebodohan kesia-siaan. Memang ada istilah ‘hasil takkan mengkhianati usaha’ tetapi dalam hidup sebetulnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Seperti aku—berusaha sabar menghadapi dia dengan harapan nantinya akan berubah, atau digayuti pikiran ‘seburuk apapun jalannya, yang penting kami saling menyukai.’ Betapa sempit pemikiranku saat itu. Tetap saja Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengaturnya—Tuhan lebih tahu kalau tak seharusnya kita menjadi budak cinta terhadap manusia lainnya.

Aku tak menggeneralisir segala bentuk hubungan sepasang kekasih yang ada di dunia ini. Siapalah aku? Hanya seseorang yang berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya. Setiap orang memiliki cerita masing-masing dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Pesanku: untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Ingat, kamu bertanggung jawab atas kebahagiaan dirimu sendiri.