Apr 1, 2019

# Celotehan

A Letter For Me

Dear Me,
Sebagai mahasiswa akhir, familierkah kamu dengan kata-kata ini:
“Semua akan selesai pada waktunya”
“Setiap orang punya jalan masing-masing, jangan bandingin diri kamu dengan orang lain”
“Ini bukan perlombaan, bukan tentang siapa duluan yang sampai garis finish”
“Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai”

Seberapa sering kamu dengar itu? Atau mungkin, seberapa sering kamu katakan itu pada diri sendiri?
pexels.com

Oke, ayo kita bicarakan ini. Pertama, aku senang karena kamu tidak terlalu menjadikan ini sebagai beban. Sedari awal kamu sudah membangun mindset untuk menikmati semua ini. Lebih tepatnya menikmati bulan-bulan terakhir di Jatinangor, sih. Namun, atas dasar itu kamu senang-senang saja jika harus lebih banyak menghabiskan waktu di kota ini ketimbang di rumah, padahal tidak ada kelas yang wajib kamu hadiri. Padahal, kamu harus bingung dulu tiap mau makan apa. Padahal, kamu harus menyesuaikan dengan budget yang ada. Bagaimanapun, kamu menyayangi tempatmu berada sekarang hingga cukup menyadari akan  sedihnya kamu nanti ketika studi telah selesai dan kamu tidak akan kembali mendiami ruangan berdinding pink pucat itu. Semua itu membantumu untuk menikmati segala proses ini—suka-dukanya.

 Kedua, ingat, waktu garap proposal penelitian? Aku suka dirimu saat itu. Kamu mencoba mengerjakan tanggung jawabmu secara teratur. Kamu ciptakan pola  tidur di awal waktu. Bangun di sepertiga malam, mengetik sampai pagi, lalu ke kampus sampai sore—mengetik lagi. Yah, biasanya di siang hari kamu sudah mulai tidak fokus. Hanya main ponsel di meja perpus. Tidak apa-apa, itu manusiawi. Jangan memaksa diri terlalu keras. Kamu mampu mempertahankan pola itu beberapa minggu saja sudah luar biasa. Apresiasi dirimu sendiri.
 Nah, sekarang tanggung jawabmu belum berakhir. Masih ada 2 bab terakhir yang harus kamu geluti. Aku mengenalmu sangat baik, kamu harus mengerjakan segala sesuatu berurutan. Itu sebabnya setiap hari kamu selalu menulis to-do-list. Kamu cukup perfeksionis—itu bagus—tetapi hal ini kerap menimbulkan perasaan ‘ada yang kurang’, yang akhirnya malah menyusahkan dirimu sendiri, sekaligus menjadikanmu lebih teliti. Kupikir, seimbangkan saja keduanya. Kamu hanya perlu ingat segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

 Tentu kamu sadar musuh terbesar adalah diri sendiri. Digayuti rasa malas, kantuk, itu serangan biasa. Bergelung di dalam selimut ketika udara sedang dingin-dinginnya dan baterai ponsel penuh adalah godaan dahsyat. Berapa jam bisa kamu habiskan dalam posisi seperti itu? Belum lagi buku-buku yang masuk dalam daftar bacamu. Singkirkan dulu Pride and Prejudice dan Percy Jackson and The Last Olympian-mu. Novel lebih sulit ditolak keberadaannya ketimbang buku macam Chicken Soup for the Soul-mu itu. Padahal kamu paling takut kehabisan waktu, tapi masih sulit menghalau dirimu sendiri dari semua gangguan itu.

 Oke, aku tidak bermaksud melarangmu bersenang-senang menghibur diri. Sebelum ini kamu bisa melakukan keduanya secara seimbang. Hanya saja, beberapa waktu ini kita sama-sama tahu waktumu didominasi yang mana. Bukankah itu berarti kamu mulai hilang kendali atas dirimu sendiri? Kupikir, jadikan kesenangan macam itu sebagai hadiah atas kerja kerasmu sebelumnya. Rasanya baru adil kalau kamu sudah berjam-jam mengerjakan skripsi, baru kemudian mengambil buku atau berselancar di youtube. Nah, kan seimbang.

 Terlalu banyak ‘hiburan’ akan melenakan, terlalu berkutat pada skripsi juga berpotensi menjadikanmu stres. Seperti yang kamu yakini, kunci dari segala sesuatunya akan berjalan baik adalah keseimbangan.

Aku tahu kamu punya target. Dan saat ini kamu bertanya-tanya apa target itu mampu kamu penuhi. Sejujurnya, ini bisa jadi sulit—tapi bukan mustahil. Ingat bulan Maret ini? Kamu punya sesuatu yang ingin kamu capai. Awal dan pertengahan bulan semua berjalan lancar, kamu begitu tenggelam dalam ritme dan kenikmatan sensasinya. Hingga menjelang akhir bulan, ritme itu berantakan, kamu kehilangan sensasi menyenangkan ketika melakukan itu semua. Sebagian dirimu berkeras mencapai target, dan pada akhirnya...kamu berhasil. Tepat tanggal 31 Maret lalu. Ingat kata Merry Riana di bukunya yang berjudul Mimpi Sejuta Dolar? Jika sesuatu terasa semakin berat dan sulit, itu artinya kamu sudah mendekati puncak. Kamu sudah mendekati sukses.

Dan...kita sudah hampir sampai di penghujung surat. Jadi, biar kutegaskan lagi: skripsi adalah tanggung jawabmu yang terakhir sebagai mahasiswa. Skripsi pasti selesai, pasti. Jangan cuma dipikirkan, tapi dikerjakan—begitu bunyi desktop background notebookmu, lho. Memang hanya kamu yang bisa mendisiplinkan dirimu sendiri, tapi kamu salah jika berpikir hanya kamu yang punya kendali atas dirimu. Jangan lupakan Allah, Dia yang berkuasa membolak-balikkan hatimu—bahkan mengendalikan seluruh isi dunia. Sekarang kamu bisa rajin, besok bisa jadi malas. Juga, jangan sampai kesibukan dunia melalaikan kamu dari mengingat Dia. Jangan pula menunda-nunda shalat! Memang kamu mau kalau sidangmu ditunda-tunda? Ingat—seimbang. Tutup google chrome sekarang dan mulai buka folder skripsi. Abaikan semua yang tidak penting, prioritaskan dirimu sendiri. Kamu bisa. Kamu selalu bisa dan berhasil. Bismillah, ya! Bye.
Sincerely,
You