Mar 20, 2019

# Karyaku

Story: Tentangku, Si Pengamen Jalanan



Siang itu, teriknya matahari membakar tengkuk. Bulan Ramadhan atau bukan. Jakarta tidak pernah tak macet. Lalu lintas padat merayap, diwarnai oleh kepulan asap berterbangan di udara. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi kami; para pengamen jalanan, dan mereka; para pengemis keliling.
Namaku Abdullah, biasa dipanggil Adul. Seorang anak berumur dua belas tahun yang menghabiskan separuh usianya mengamen di pinggir jalan dengan ukulele buatan tangan. Kalau kau melihat bocah bertopi merah kusam dengan tas pinggang hitam yang sudah pocel berseliweran di sekitar jalan M.H. Thamrin, mungkin saja itu aku. Kau boleh menyapaku, terlebih memberikan uang usai kubernyanyi.
Lampu rambu lalu lintas sedang merah, dengan cekatan aku menghampiri mobil yang satu ke mobil lainnya di jalan raya. Kaca-kaca jendela mereka kebanyakan menutup, mungkin bagi mereka mulutku hanya bercuap-cuap tanpa suara, padahal aku benar-benar bernyanyi. Sedikit sekali dari mereka mau membuka jendela untuk sekadar memberikan kepingan lima ratus perak. Pasti enak—duduk nyaman dalam kesejukan AC mobil, tidak perlu susah payah bertarung dengan teriknya matahari apalagi berkutat dengan kerasnya jalanan di Jakarta.
Aku menyingkir ke trotoar ketika lampu berubah hijau, duduk dan mengusap wajahku yang penuh debu dengan tangan yang kotor. Sudah sejak pagi aku mengamen dan uang yang kudapatkan baru sembilan ribu rupiah. Padahal aku harus membeli makanan dan minuman untuk Ibu dan adik-adikku di rumah kardus. Tenggorokanku kering dan perutku ikut bernyanyi, sepotong roti yang kumakan saat sahur tadi sudah lama berubah menjadi energi yang tidak seberapa.
Biasanya, bulan puasa begini ‘orang-orang jalanan’ akan mendapat keuntungan lebih banyak. Terutama para pengemis jalanan, bukan tidak mungkin penghasilan mereka perharinya mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Aku kenal beberapa di antaranya, yakni Mak Acik, Mak Umay, Pak Nanang, dan Pak Solih. Mak Acik sedang duduk beralaskan koran di bawah tiang listrik seberang jalan sekarang, dengan bayi yang tertidur pulas di gendongannya. Aku meringis dalam hati. Tentu saja bayi itu tidak tertidur, mereka dibius. Hal ini dilakukan agar si ibu dapat mengemis dengan tenang tanpa gangguan rewel si bayi. Yang seperti ini sudah pernah dijaring oleh orang-orang dari Dinas Sosial. Jangan tanya aku tahu darimana, aku sudah menghabiskan separuh usiaku hidup di jalanan.
Kalau Mak Umay dan Pak Nanang, mereka adalah pasangan suami istri yang tinggal di dekat rumahku. Mereka memiliki seorang bayi bernama Narita yang disewakan untuk keperluan mengemis oleh pengemis lain. Tujuannya tidak lain untuk mengundang lebih banyak simpati. Aku pernah melihat sendiri, seorang ibu-ibu datang ke rumah Mak Umay dan memberi seratus ribu rupiah untuk menyewa Narita. Narita diberi susu yang sudah dicampur obat bius, wajah bulatnya yang mungil dilumuri serpihan arang agar terlihat kusam dan tidak terawat. Ia juga dikenakan pakaian-pakaian yang lusuh agar terlihat lebih memprihatinkan. Biasanya para pengemis yang menggunakan sewa anak begini bisa mendapat keuntungan lebih dari dua ratus ribu rupiah per harinya.
Aku berjalan perlahan, kebetulan melihat Mak Umay kini tengah bernyanyi di depan warung dengan kotak musik keliling yang melantunkan lagu dangdut. Pak Nanang berdiri di belakangnya dengan tangan tersampir di kedua bahu Mak Umay. Ia mengenakan kacamata hitam untuk menciptakan trik seolah buta, padahal aku tahu kedua matanya masih berfungsi sangat baik. Aku mengalihkan pandangan dari mereka. Walaupun tidak semua orang jalanan seperti itu, hal seperti ini tetap sudah biasa di kehidupan jalanan. Aku jadi teringat perkataan ibuku, “Allah tuh nggak suka dengan orang yang meminta-minta! Walaupun kita orang kecil, paling nggak kita harus jadi orang yang besar di mata Tuhan. Selama kita mampu, jangan ngemis. Ngamen juga harus jujur, nggak boleh nipu orang dengan berpura-pura begini dan begitu. Ingat ya, Nak.”
Aku sangat mencintai Ibu dan adik-adikku, juga ayahku yang telah almarhum. Sebagai anak sulung laki-laki, akulah tulang punggung keluarga. Meski keadaan kami seperti ini, kami jarang sekali mengeluh. Ibu selalu mengingatkan kami untuk bersyukur, katanya dengan begitu Allah akan melipatgandakan rezeki kami. Rezeki tidak hanya berupa uang, semangat juangku untuk terus bekerja juga kuanggap sebagai rezeki dari Allah. Fisik yang kuat dan gerak yang lincah membuatku tahan berlama-lama di jalanan. Aku bersyukur meski tidak selalu bisa makan enak setiap hari, paling tidak aku tetap sehat. Itu cukup sebagai modal menghidupi keluargaku.
 “Adul!” sapa seseorang. Aku menoleh ke samping dan melihat Bang Ical tengah berjalan ke arahku. Bang Ical adalah pengamen yang ‘punya’ kawasan sini. Rambutnya keriting dan bertampang sangar, tapi sebenarnya dia sangat baik. “Eh, Bang.” Aku mengangguk lemah.
“Udah dapat banyak?” tanyanya dengan nada ramah.
Alhamdulillah, Bang.” sahutku mencoba terdengar bersemangat.
Bang Ical sepertinya mengerti keadaanku yang sebenarnya. “Harus semangat, dong. Empat jam lagi buka puasa. Nanti datang aja ke dekat Plaza Indonesia, kabarnya bakal ada bagi-bagi takjil gratis.”
“Wah, makasih infonya, Bang!” aku tersenyum sumringah. Bayangan akan membawa pulang sedikit makanan membuatku senang. Aku tidak perlu melihat adik-adikku menangis kelaparan. Bang Ical menepuk pundakku dan berlalu. Dengan semangat baru, aku memutuskan untuk mengamen lagi di kawasan lain dekat jembatan penyeberangan orang (JPO).
Aku menghampiri warteg pinggiran yang menampilkan kaki-kaki ‘tanpa kepala’, belum lagi aku mulai bernyanyi, si pemilik warung sudah memberikan kepingan lima ratus perak. “Jangan di sini, biar gak berisik”, ujarnya padaku. Aku tidak merasa sakit hati, hal seperti ini sudah biasa di bulan ramadhan. Para pemilik warung yang buka di siang bolong begini memang sangat mengutamakan kenyamanan pelanggan yang tengah makan diam-diam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkah keluar, diikuti seorang bapak-bapak yang juga hendak keluar setelah membungkus makanan.
Bapak berkemeja putih garis-garis itu berhenti sebentar untuk membetulkan sepatunya yang hitam mengilap, kemudian berjalan menaiki motor hitamnya yang terparkir. Aku memandangi kepergian bapak itu sembari menyeka keringat yang mengucur. Mataku menangkap sesuatu di tempat bapak tersebut berhenti sebelumnya—ada semacam bungkusan yang dibalut kresek hitam.
Kupikir mulanya itu sampah, setelah kudekati ternyata plastik itu berisi uang! Uang yang sangat banyak! Beberapa ikat uang lima puluh ribuan menumpuk di dalamnya. Aku kalang kabut, tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Ini pasti uang milik bapak berkemeja putih tadi. Aku melongokkan kepala tinggi-tinggi, bapak itu sudah pergi cukup jauh. Buru-buru aku mencari ojek di sekitar sana dan mencoba menyusul bapak tadi dengan satu-satunya penghasilanku hari ini.
Alhamdulillah, motor hitam milik bapak berkemeja putih itu terkejar di lampu merah. Aku meminta bapak tersebut menepi dan kamipun berbelok di persimpangan.
“Bapak, ini uang milik Bapak. Saya melihatnya di depan warteg tadi.” ujarku sedikit membungkuk dan menyodorkan barang milik bapak itu.
Bapak itu terkejut bukan main. “Astagfirullahaladzim!” Ia meraih uang tersebut dan menatapku nyaris menangis. “Ya Allah, Ya Allah! Ini uang untuk biaya pengobatan anak saya di rumah sakit. Syukurlah, masih ada orang yang jujur seperti kamu.. Kalau sampai hilang saya tidak tahu harus mendapatkan uang kemana lagi. Terima kasih banyak ya, Nak!”
“Sama-sama, Pak. Kalau boleh tahu, anak Bapak sedang sakit?”
“Iya, sedang dirawat karena penyakit ginjal. Sekarang sedang ditemani oleh istri saya di rumah sakit.Saya mampir dulu ke warteg untuk beli makan buat istri saya.”
“Lho, istri Bapak tidak berpuasa?” pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku segera menutup mulut karena takut dibilang lancang. Tetapi bapak itu hanya terkekeh, “Biasalah wanita, ada masanya mereka berhalangan.” Sejurus kemudian bapak tersebut balik bertanya, “Oh ya, kamu lagi puasa?” Aku tersenyum sopan dan mengangguk.
Bapak itu diam sejenak seolah sedang menilaiku. Yang kutangkap, sorot matanya memancar kekaguman. “Hebat kamu ini, sudah sopan, jujur pula. Habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau mengamen lagi, Pak. Masih banyak waktu sebelum maghrib. Saya perlu membawa makanan untuk Ibu dan adik-adik saya.” Jawabku diiringi cengiran lebar. Hatiku merasa lega karena dapat membantu bapak ini. Kalau tadi aku tidak melihat setumpuk uang itu, keluarganya pasti akan sangat sedih kehilangan biaya pengobatan anaknya.
“Ini, belikan keluarga kamu makanan yang enak-enak.” ujar bapak itu sembari menyodorkan beberapa lembaran merah. Mataku melotot nyaris keluar dari rongganya. Aku mengangkat sepuluh jariku ke depan, “Maaf, Pak saya bukan pengemis. Saya juga tidak bermaksud minta apa-apa. Saya tidak bisa menerima uang ini, saya tidak berhak—“
“Ambil saja,” desak si Bapak dengan senyum di wajahnya. “Ini ungkapan terimakasih dari saya. Anggap saja Allah sedang ngasih kamu rezeki melalui saya. Rezeki jangan ditolak, Nak..”
“T-tapi, Pak—“
“Wah saya harus buru-buru nih ke rumah sakit, tapi saya gak akan pergi sampai kamu nerima uang ini.” Bapak di hadapanku menggertak halus, bibirnya masih tersenyum. Akhirnya dengan kedua tangan gemetar aku menerima uang tersebut. Jumlah uang terbanyak yang pernah kupegang seumur-umur.
“Nah gitu dong. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Nak. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu..”
“Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan Bapak..” tuturku pelan, masih takjub dengan apa yang ada di tanganku. Kemudian bapak tersebut berlalu dari pandanganku. Aku buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan apa yang kucari. Dengan langkah lebar-lebar aku menuju tempat tersebut. Aku melepaskan sepasang sandal butut yang kugunakan dan mulai mengambil air wudhu. Aku ingat apa yang pernah Ayah katakan, susah ataupun senang harus ‘lapor’ ke Allah dulu. Walaupun Dia Maha Tahu, Allah lebih senang kita ngadu ke Dia. Dan sekarang aku bertamu ke rumah Allah, aku mau ngadu—ada rezeki tak terduga datang!
Bagi orang kecil sepertiku, bahagia itu sederhana.
Dalam shalat sunahku, tak henti-hentinya hati ini bersyukur. Aku membawa lebih dari cukup uang untuk makan kami beberapa hari ke depan. Malam ini dan sahur besok, kami sekeluarga dapat makan yang enak. Sepulang ini aku akan membeli es pisang ijo kesukaan Ibu, beberapa gorengan dan nasi bungkus untuk aku dan adik-adikku. Oh iya, tak lupa aku harus menyedekahkan uang ini ke orang lain yang juga membutuhkan. Supaya mereka juga ikut senang!
Hari ini, aku pulang dengan langkah ringan dan senyum yang terus mengembang.
Allah benar-benar Mahabaik. Baru saja beberapa jam lalu aku khawatir karena di kantong hanya ada sembilan ribu rupiah, kini Allah memberiku berkali-kali lipatnya. Ternyata kalau kita sungguh-sungguh berusaha dan berlapang dada, maka Allah akan memberi jalan. Seperti apa kata firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)

____
Pada Februari-April 2018 lalu, Pen Fighters mengadakan lomba menulis cerpen Road to Ramadhan dengan tema Berderma di Bulan Penuh Berkah. 3 juara dan 17 kontributor terpilih cerpennya akan dibukukan. Cerita yang baru saja kau baca adalah salah satu cerpen terpilih itu. Berikut penampakan bukunya hehehe.