Mar 1, 2019

# Celotehan

Jatinewyork

Februari 2019.

Ketika menulis ini, hari masih siang. Waktu baru menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit. Aku menyalakan lampu kamar. Kemana perginya matahari? Sinarnya yang terik tengah hari tadi kini sudah tergantikan oleh gemuruh petir dan hujan deras yang perlahan berubah menjadi gerimis.

Aku mulai menyalakan laptop setelah menyingkirkan buku bacaanku di meja belajar. Sudah terlalu lama aku tidak menulis lagi. Padahal benakku terus merangkai kata, menuangkannya ke memo hp untuk kemudian terlupakan begitu saja. Seseorang bertanya padaku, “Kok jarang nulis lagi di blog?”. Pertanyaan itu membuatku berpikir cukup lama. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kupikir, karena aku mau membenahi seluruh postingan blog ini namun terlalu malas dan bingung memulai dari mana. Yang pasti, aku akan mulai menulis lagi. Untuk apa perpanjang masa penggunaan domain blog kalau blog-nya dibiarkan berdebu.

Di luar, hujan kembali menderas.                           
Belakangan, aku cukup banyak memikirkan kawasan tempatku menempuh studi tiga tahun lebih ini, yaitu Jatinangor. Mungkin karena tahun ini aku akan sudah angkat kaki dari kampus, rasanya tubuh dan pikiranku ‘diprogram’ untuk lebih memaknai hal-hal sekitar. Aku tidak melihat alasan dapat kembali lagi ke sini nantinya, bahkan untuk sekadar bernostalgia. Jadi, aku harus menikmati setiap detailnya selagi bisa.

Setiap paginya, terdengar kicauan burung menyapa hari yang baru. Juga bunyi sapu lidi bergesekan dengan halaman—srek-srek-srek, pemilik kosanku sedang menyapu. Aku menyukai sensasi dingin yang menjalari kulitku di kala subuh tak berselimut, atau kesegaran udara pagi yang dengan lembut menyambangi hidung. Terkadang, percikan air dingin membuat mandi menjadi urung. Sejak merasakan air di sini, air di rumahku tidak lagi terasa dingin. Di sisi lain, mulutku dua kali lipat lebih sering mengeluh gerah saat sedang bermain di luar rumah, saking terbiasanya dengan hawa dingin di sini.

Kamarku tidak begitu besar, tapi cukup nyaman. Tempat di mana aku menggantungkan mimpi-mimpi dan rencanaku, foto orang-orang tercinta dan untaian kata-kata penyemangat, pada dindingnya yang berwarna pink pucat. Ini tempat terbaik bagiku untuk me-time. Mengisinya dengan menonton Drama Korea, variety show, atau sekadar membaca buku. Juga bergelung di atas kasur, bermain handphone hingga jatuh tertidur. Hah~ waktu luang adalah sebuah kemewahan.

Ketika menghabiskan waktu di luar, kepulan asap mengiringi truk-truk besar yang berlalu-lalang. Aku menyukai langit biru dengan gumpalan awan yang berarak di atasnya, seolah menaungi kota dan segala hiruk-pikuk masyarakatnya. Yaa, di mana-mana langit dan awan sama saja, sih. Tapi di sini lebih sering yang dapat terlihat, mungkin karena aku banyak berjalan juga.

Di luar sana, hujan sudah berhenti, tapi masih terdengar gemuruh petir sesekali.
Lalu, dunia perkuliahan. Sama saja sih pada umumnya. Mencurahkan tenaga serta pikiran dalam berorganisasi dan tugas-tugas kuliah. Kakiku terbiasa melangkah cepat, sebab seringnya aku—nyaris—terlambat. Aku mengenal banyak orang dengan beragam karakter, beberapa di antaranya kemudian menjadi sahabatku. Akan sangat panjang bila bercerita tentang semuanya. Yang pasti, aku senang mengenal mereka, bahkan siapapun yang pernah memberi luka.

Bicara soal makanan.. ah, bingung memulainya. Dari ujung ke ujung, bertebaran banyak sekali gerobak jajanan, warung kaki lima, hingga semi-kafe. Belakangan ini aku banyak menghabiskan waktu di Checo, real kafe yang cozy dengan beragam menu yang enak parah, menurutku. Tapi aku tak bisa sering-sering ke sana kalau tidak mau uang bulanan cepat habis 😊. Bagaimanapun, aku lebih suka sate taichan-nya Dapur Bu Lin, roti bakar Tom & Jerry, Wiscar, Chocolate Changer, Papaaus, De’Chick, Warung Suroboyo, dan Chani. Oh ya, seblak kari’am juga tuh. Enak. Sandy Delivery! Atau Kantin Mega! Aaaah tidak ada habisnya kalau membicarakan topik ini.

Oke, hujan sudah benar-benar berhenti sekarang. Tetapi hawa semakin dingin.
Jika cukup beruntung, aku akan mendapat tempat duduk di dekat jendela ketika berada dalam bus yang membawaku pulang dan pergi. Memandang langit yang masih pagi, pepohonan yang seolah berlari, atau sinar matahari yang kian terik. Aku suka bagaimana pikiranku melayang ke segala memori, mengandaikan yang tidak pernah terjadi atau mengenang beberapa kenangan yang pahit. Tak lupa juga aku membaca doa dalam hati. Terkadang, sekelebat hal-hal manis sempat membuatku tersenyum sedikit. Aku pengingat yang baik, dan aku menyimpan segala kenangannya dengan apik.

Termasuk semua tentang Jatinangor ini.
Apa yang kutuliskan di atas memang terkesan abstrak, sebab aku tidak menggambarkan Jatinangor secara spesifik. Jadi barangkali, ketika sedang ingin, aku akan menuliskannya lagi nanti. Siapa tahu bisa jadi informasi bagi mereka kelak yang akan hidup di sini sebagai mahasiswa.
Udah ah.