Feb 21, 2019

Story: Lelaki Pujaan Kintan

February 21, 2019

Aku memandang rombongan anak berseragam putih-merah yang tengah menyeberang jalan dengan riang. Hatiku seolah menghangat, ingatanku melayang ke masa sekolahku sendiri—belasan tahun lalu. Momen ketika perasaan itu menumbuhkan ambisi, dan membentukku menjadi seperti sekarang ini..
Lampu lalu lintas berubah hijau; aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Sementara otakku bergerak lambat, memutar kenangan cinta pertama yang kental dalam ingatan.
***
Aku menatap sosoknya dari kejauhan, sembunyi-sembunyi di balik pagar kawat sekolah. Warna-warni cerahnya balon amat kontras dengan pakaiannya yang lusuh. Ia memberikan balon-balon itu pada teman-temanku yang lain. Wajahnya kelihatan letih, tapi senyumnya terus mengembang. Seorang teman menepuk pundakku keras sekali. Aduh. Aku meringis sementara ia tertawa mengejek, “Gak ikutan minta balon?!” cibirnya sambil lalu.

Saat lainnya. Dengan napas tersengal dan kaus lengket oleh keringat aku menghampiri kawasan kontruksi di tepi jalan besar itu. Aku tahu ia ada di sana. Kutitipkan nasi bungkus yang kubawa ke pos satpam. Kusisihkan uang jajanku untuk membelikannya makanan dari warteg terlezat. Pak Satpam memandangku heran bercampur takjub, “Kamu datang lagi.” sapanya tersenyum. “Jangan kesini terus, Nak. Lalu lintas sedang ramai di jam-jam ini. Kamu dan sepedamu bisa terserempet mobil.”

Aku hanya tersenyum sopan. Pak Satpam sudah bilang begitu lusinan kali. “Gapapa, Pak. Tolong kasih saja titipan saya, jangan beritahu kalau ini dari saya. Seperti biasa, bilang kalau ini—”

“Ya ya, Bapak akan bilang ini titipan dari Bos. Bapak hapal permintaan kamu.” Lagi, beliau tersenyum maklum.

Hari-hari lainnya. Kami bertemu di persimpangan sekolah. Ia membungkuk hingga matanya sejajar dengan mataku. Sorot matanya nampak kagum. “Kintan,” ucapnya dengan suara serak yang sudah kuhapal di luar kepala. “Namamu cantik. Kamu juga cantik. Tapi, cantik saja tidak cukup untuk hidup di dunia yang keras ini. Kamu harus tumbuh pintar, cerdas, membuat bangga ayah dan ibumu.. Hiduplah dengan baik, Kintan. Jadilah versi terbaik dirimu.” Ia mengusap kepalaku lembut, lalu kembali menggiring sepedanya dan keranjang berisi cilok dagangan. Ia tidak tahu kalau aku tahu, tempat tujuannya yang berikutnya adalah kawasan kontruksi.

Kau pasti tidak bisa membayangkan bagaimana beberapa patah kata darinya, mampu mendorong seorang bocah kelas 4 SD yang pendiam sepertiku menjadi bintang kelas hingga kelas 6 kini. Menjadi favorit para guru. Dikagumi kawan-kawan. Bersemangat untuk hidup di atas rata-rata.

“Nilaimu yang tertinggi lagi!” keluh Nissa berkacak pinggang, pura-pura marah di sebelahku setelah guru kelas kami mengumumkan hal itu. “Katamu semua berkat kekuatan cinta pertama. Seribu kali aku bertanya, kamu tetap gak mau bilang siapa dia! Aku kan penasaran siapa yang bikin sahabatku berubah begini.” ia memberengut, sementara aku hanya tersenyum getir. Ceritanya cukup pahit untuk dibagikan, aku belum siap memberitahu siapapun—kecuali satu, yang kutahu takkan pernah membocorkan rahasia, namun juga sangat mengerti lebih dari yang bisa kuungkapkan; Tuhan.

Memasuki masa paling krusial dalam umurku saat itu, minggu-minggu menjelang Ujian Nasional berlalu—siangnya aku mengerjakan banyak latihan soal dan bermain di sela-sela waktu. Kemudian mengulang pelajaran dan berdoa di malam hari. Aku harus lulus ujian dengan nilai terbaik. Begitu yang selalu kutanamkan dalam diriku; dan pada Tuhan, aku meminta-Nya untuk memberiku kekuatan mewujudkan impian itu. Keberhasilan ini tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan orang yang kucintai—ya, dia. Yang perlu dicamkan, kau boleh berusaha sendiri hingga titik darah penghabisan, tapi Tuhan yang memegang kendali segalanya. Itulah mengapa aku tak pernah absen berdoa.

Hingga akhirnya, impian itu terwujud.
Hari itu tiba. Aku nyaris berlari menemuinya, dengan secarik kertas kecil bertuliskan “LULUS” di genggaman tangan. Langkahku melambat ketika kudapati sosoknya telah berada di gerbang sekolah.
“Kamu lulus.” Itu bukan pertanyaan, dia sudah tahu.

“Katanya, nilai ujianmu yang paling tinggi dari seluruh murid SD di kecamatan ini.” Ia menerawang, nadanya terkesima. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

“Kemarilah..” Ia menekuk sebelah lututnya dan membentangkan tangan lebar-lebar, mengundangku dalam pelukannya. Saat itulah aku menghambur memeluknya—cinta pertamaku. Perasaanku campur aduk, senang dan terharu hingga air mataku membanjir di kemejanya yang kusut.
“Hebat, putriku memang hebat..” bisiknya.
***
Assalamualaikum, Ayah…” ucapku lirih, begitu sampai di tempat yang kutuju.
Kupandangi batu nisan milik Setyo Prawira Seruni—cinta pertamaku, mimpi dan harapanku, Ayahku. Ayah si penjual balon depan sekolah, seorang kuli bangunan di kawasan kontruksi tepi jalan besar, dan pedagang cilok keliling—Ia menjelma menjadi apa saja demi menghidupi putri yang ia cintai tanpa dampingan istri.

Aku ingat tubuh kecilku mengejang kaku dan lidahku kelu saat Ayah berkata selembut mungkin, “Ibumu menikah lagi. Saat itu keadaan lebih sulit dari sekarang. Kita memang berkekurangan, tapi tidak miskin. Ayah masih mampu menafkahi keluarga ini meski tidak seberapa. Tapi rupanya, ibumu tidak tahan dengan semua ini dan memutuskan untuk pergi… Ayah tidak mengizinkannya membawamu, Kintan. Ayah boleh kehilangan istri, tapi tidak darah daging Ayah sendiri..”

“Berjanjilah pada Ayah, seperti apapun keadaannya, kamu akan selalu menghormati ibumu.” pinta Ayah, seolah memahami tatapanku yang sarat akan sakit hati dan benci: Ibu meninggalkan kami.
Sejak kusadari betapa besar pengorbanan Ayah dan rasa cintanya terhadapku, aku bersumpah pada diriku akan memberinya kemewahan hidup. Aku akan tumbuh menjadi putri cantiknya yang cerdas, sukses, versi terbaik dari Kintan—seperti yang pernah ia katakan. Sayangnya, begitu cepat Tuhan memanggil Ayah. Tepat ketika aku hendak naik ke kelas 3 SMP. Membuatku sangat terluka…

Ponselku bergetar. Ada messenger dari Nissa. Ya, Nissa sahabatku sedari SD itu. Kau masih di makam? Aku sudah selesai packing, barang-barang kita sudah disatukan biar tinggal angkut. Aku menunggu di apartemen, kita masih harus belanja sesuatu agar besok di Canberra tinggal bersantai. Salam untuk cinta pertamamu!, tulis Nissa. Aku membalas, good girl! Tunggu aku pulang.

Aku menyiram batu nisan dengan air mawar, menabur bunga-bunga di atas tanahnya yang kering sambil bercerita, “Yah, seperti yang Ayah tahu, aku sudah lulus kuliah satu setengah tahun lalu. Aku sempat bekerja di sebuah perusahaan bergengsi, tapi memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Ayah tahu aku senang belajar kan? Suasana kantor yang begitu-begitu saja membuatku jenuh. Aku mendaftar beasiswa lagi, seperti waktu kuliah kemarin; dan berhasil mendapat tempat di Australian National University. Di Canberra, lho, Yah. Keren, kan?” suaraku parau oleh air mata yang mendadak keluar.

“Jangan khawatir, aku tidak sendirian. Nissa juga berkuliah di sana. Entah sudah berapa banyak tahun kulewati dengan hidup bersama dia, Ayah. Untunglah Nissa sahabat yang sangat, sangat baik. Dan, oh—apartemen kami akan disewakan selama kami tidak ada. Ayah sama sekali tidak perlu khawatir... putri semata wayangmu sedang mengukir cita-cita setinggi mungkin.”

Aku mengecup puncak nisan Ayah dan melangkah pergi. Esok aku dan Nissa akan ikut penerbangan pagi. Entah apa aku bisa pulang lebih cepat, yang pasti masa studiku dua tahun di sana. Selama aku tidak di sini, aku hanya dapat menitipkan Ayah pada Tuhan—penjaga kami yang paling kuat. Semoga Tuhan menjaga cinta pertamaku, dan.. bolehkah kini aku meminta dipertemukan dengan cinta terakhirku?

Siapa tahu? Mungkin aku akan menemukan jodohku di Canberra.

_________
Pertengahan Juni lalu, Inspira Pustaka Aksara menggelar lomba menulis cerpen bertema 'Cinta & Doa'. Cerpen di atas adalah naskah yang kuikutsertakan, dan menjadi bagian dari 55 peserta terbaik. Kurang lebih penampakan bukunya macam di bawah ini: