Sep 16, 2019

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

September 16, 2019
seharusnya pake cover bukunya tapi ah sudahlah yang ada aja dulu hahaha


Identitas Buku:
Judul : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis : Mark Manson
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun Terbit : 2018 (Cetakan Ketiga)
Jumlah Hlm : 246
Harga : 65.000


“..dan jika saya sekarang menghabiskan sebagian besar hidup saya, yang singkat, di dunia, dengan menghindari apa pun yang menyakitkan dan tidak membuat nyaman, pada dasarnya saya sedang menghindari kehidupan.” – Mark Manson

Rasanya buku ini sudah sangat terkenal. Karena aku latah, maka jadilah aku salah satu di antara sekian yang memutuskan membeli buku karya Mark Manson ini. Menurutku pribadi, yang menjadikan buku ini banyak menarik perhatian orang adalah kalimat yang tertera di halaman sampulnya—sebuah seni untuk bersikap bodo amat, cukup tampil beda dibandingkan ragam buku self-improvement lainnya yang mencatut embel-embel berpikir positif atau semacam upgrade yourself with blablabla method. Here we goow.

Penulis
Bermodal nekat keluar dari pekerjaannya untuk memulai suatu bisnis online di umur 24 tahun, Mark manson kini telah menjadi blogger kenamaan. Dalam kurun waktu lima tahun berikutnya setelah Mark berumur 25 tahun, ia sudah melanglang buana ke lebih dari 50 negara. Namun, hanya karena fakta ‘keberhasilannya’ saat ini, bukan berarti dapat disimpulkan masa lalunya dipenuhi perjuangan penuh ambisi untuk menjadi seperti sekarang. Mark mengakui bahwa hidupnya dulu like a shit. Seperti dikeluarkan dari sekolah pada usia 13 tahun karena narkoba, dan perkara perceraian orangtua. Pengalaman traumatis di masa muda Mark memunculkan kebutuhan akan penerimaan dan peneguhan bahwa dirinya cukup berharga dan dicintai, yang akhirnya mengantarkan Mark pada tahun-tahun kelam di mana ia menjadi seorang yang—disebutnya—brengsek. Namun, di situlah titik yang membuat Mark dapat mengenal seni hidup, yang akan dibagikannya dalam bentuk argumen dan cerita ke dalam buku ini.

Sinopsis
Secara singkat, 9 bab dalam buku ini bermuara pada cara sederhana yang ditawarkan Mark untuk menjalani hidup yang lebih ringan, yakni meminimalisir hal-hal yang akan kita pedulikan. Dengan kata lain, bersikap cuek atau bodo amat terhadap hal-hal tertentu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Untuk itu, penting menetapkan nilai-nilai apa yang akan dianut oleh kita, karena nilai-nilai tersebutlah yang menjadi tolok ukur mana hal yang sebenarnya layak untuk kita ‘urusi’, dan mana yang seharusnya dibiarkan saja. Menurutku, itulah poin pertama buku ini. Poin keduanya ialah reminder untuk menghargai perasaan negatif yang hinggap dalam hidup kita, tidak serta-merta malah menepisnya demi mewujudkan gagasan ‘hidup bahagia adalah ketika kamu tidak pernah terlibat masalah’. Kedua poin tersebut merupakan garis besar isi buku ini.
Disadari atau tidak, situasi dunia saat ini memaksa kita untuk menjadi lebih dalam bidang apapun, seperti lebih banyak uang, lebih cantik, dan lebih lebih lebih lainnya. Hal-hal semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang salah juga. Namun, Mark bermaksud menegaskan ada kalanya kita harus berhenti sejenak dan menerima keadaan yang sebenarnya. Penerimaan—itulah yang seharusnya dilakukan oleh seseorang lebih dulu. Terlebih, mengingat saat ini standar kebahagiaan hidup rasanya diukur dari orang-orang sekitar kita. Media sosial telah menjadi ruang bertumbuh suburnya segala keinginan ‘lebih’ itu dan mendistraksi pemikiran kita terhadap cara hidup yang ideal.

Komentar
Cara Mark menyampaikan pemikiran dalam buku ini cenderung sarkas, tetapi straight to the point. Kalau dalam bahasa Mark, “tidak ada omong kosong motivasional”. Judul setiap babnya memang cenderung tidak biasa, sebagaimana Bab 1 yang dibuka dengan judul “Jangan Berusaha”, Bab 2 “Kebahagiaan Itu Masalah”, dan Bab 3 “Anda Tidak Istimewa”. Aku pribadi memiliki banyak buku self-help, dan biasanya si penulis membuai pembaca dengan kata-kata manis semacam “Setiap individu itu istimewa”, atau “Ambil setiap kesempatan dan yakinlah Anda bisa”. Di sisi lain, ada bahasan Mark yang menekankan pentingnya berkata ‘tidak’. Kelihatan perbedaannya, ya? Walaupun tujuan semua genre self-help cenderung sama saja—membantu hidupmu menjadi lebih baik—tapi pendekatan yang tidak umum tentu akan memengaruhi cara pandang kita dalam mencerna informasinya dan merealisasikan semua itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Aku tidak akan berkomentar panjang-panjang untuk buku yang satu ini. Jujur, aku sempat berhenti di pertengahan karena...entahlah, pada titik tertentu di pertengahan kesulitan menangkap maksudnya dan agak bosan juga. Setelah berusaha diteruskan, daya tarik buku ini kembali lagi hingga aku berhasil menamatkan buku. Aku juga menyadari banyak pemikiran Mark yang kurang lebih sama dengan ajaran filsafat Stoa; dan ia memang sempat menyebut soal Stoa di halaman tertentu.

Sebagai penutup, ini ada penggalan kutipan dari Mark.
“Derita adalah bagian dari proses. Penting untuk merasakan-nya. Jika Anda banyak mengejar kesenangan di atas rasa sakit, jika Anda membiarkan diri terlena dalam kepongahan dan pemikiran positif yang delusional, jika Anda terus memanjakan diri dalam berbagai hal atau kegiatan, Anda tidak akan pernah menemukan motivasi yang menjadi syarat untuk benar-benar berubah.” – Mark Manson.


Aug 15, 2019

That Day

August 15, 2019

11 Agustus.

Beberapa orang tidak suka dihadiahi bunga asli, karena menurut mereka, benda itu tak bisa disimpan lama-lama. tiga hari berikutnya mungkin malah akan berakhir di tempat sampah. Tetapi aku suka-suka saja. Tidak masalah bila bunga tidak memiliki nilai guna jangka panjang. Sama seperti beberapa hari lalu, tanggal 8 Agustus 2019 saat aku menerima banyak sekali bunga dari teman-teman kuliah maupun sekolah. Aku menyimpannya di dalam sebuah tabung plastik yang berisi air dan menaruhnya di meja tamu di rumah. Melihat itu masih membuatku tersenyum hingga hari ini.
Aku ingin berbagi cerita tentang hari itu, ketika sekian ratus mahasiswa mengenakan baret dan toga berwarna merah. Yang wanita, datang dengan sepatu berhak tinggi dan polesan makeup di wajah. Yang pria, tampak gagah dengan balutan jas dibalik toganya dan sepatu mengkilap. Jelas kaum Adam tidak perlu ‘seribet’ wanita ketika menghadiri acara penting seperti wisuda.
Aku beruntung karena mendapat penata rias dengan harga—menurutku—terjangkau dan hasil yang memuaskan. Dia telah membantuku tidak tampak buluk dan gembel di hari itu. Dan, lagi-lagi, aku merasa beruntung karena kebagian sesi IV di hari Kamis siang. Selain agenda upacara wisuda setengah jam lebih cepat dibanding sesi pagi, kami keluar aula di sore hari—ketika matahari tidak lagi terik dan membuat gerah, sehingga sesi foto berlangsung tanpa bulir-bulir keringat menghiasi wajahku.
Teman-teman menghampiriku dengan senyum sumringah sambil memberikan bunga. “Selamat ya,” ucap mereka. Beberapa di antaranya memelukku penuh semangat, cipika-cipiki ria dan menyerahkan kantong plastik atau kertas berisi hadiah. Jelas, aku juga berfoto bersama dengan keluargaku—yang jelas menjadi motivasi terbesar sepanjang hidupku.
Senang rasanya, melihat teman-teman SMA dan teman-teman kuliahku di satu tempat. Ya, sesenang itu. Momen itu mengingatkan diriku betapa baiknya Allah karena telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik—yang selanjutnya dapat dengan bangga kusebut teman.
Momen wisuda juga menjadi ajang penghargaan untuk diriku sendiri karena telah terus berusaha, dan kembali melangkah ketika aku berhenti sebab lelah. Memang hanya diriku sendiri dan Allah yang tahu persis, bagaimana jatuh-bangun prosesnya. Mama bilang ia terharu ketika namaku disebut saat mengambil ijazah, beserta embel-embel ‘Dengan Pujian’ yang kudapatkan. Papa, meski tidak banyak berkomentar, aku tahu juga bangga.
Bersyukur juga karena..masih mampu mengecap bangku perguruan tinggi—ketika masih banyak orang di luar sana yang belum mampu melakukannya.
Aku harap tulisan ini tidak menimbulkan kesan negatif bagi yang membacanya. Aku cuma mau bilang (oke, ini klasik) kalau sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Semua mahasiswa di tingkat akhir pasti tahu up and down garap skripsi itu seperti apa. Mulai dari cari topik sampai kesulitan di lapangan. Berapa kali kita mengeluh capek, kesal, tidak sabar, sampai akhirnya tersenyum sumringah setelah keluar ruang sidang. Tidak ada yang mudah. Tetapi, di penghujung jalan, jelas hasil takkan mengkhianati usaha kita. 
Semoga kita semua—siapa pun kamu yang tengah membaca ini—selalu dilimpahi kenikmatan oleh Tuhan. Kalaupun hal-hal kurang baik menimpa kita, semoga hal itu dapat membawa kita ke arah yang lebih baik. Aamiin.

Jul 26, 2019

July

July 26, 2019
Selamat malam jagat raya blogku.


Terakhir aku posting sesuatu tanggal 7 Juli, dan sekarang udah tanggal 26. Gak terasa 
waktu cepet banget berlalu, padahal sehari-harinya di rumah aku cuma beres-beres, malas-malasan, baca atau nulis. Iya, karena sekarang udah gak ngekos lagi dan lebih banyak ngabisin waktu di rumah, ceritanya mau bikin diri jadi lebih produktif hingga menjelang hari wisuda. Hiyahiyahiya. Aku bikin semacam...to do list. Setiap harinya harus melakukan hal-hal berfaedah yang gak akan kusebutkan spesifik di sini.
Terus, pasca sidang skripsi Mei lalu, aku punya hobi baru. Refresh email. HAHAHAHA. Soalnya aku cukup sering berseliweran di situs-situs penyedia informasi loker. Yah namanya juga alumni...Sampai akhirnya, aku dapat panggilan.
Ini juga salah satu hal yang mau aku ceritakan sedikit di sini.

Menuju Magang
Aku mendaftar internship di sebuah perusahaan startup yang kantornya terletak di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Setelah dapat pemberitahuan lolos tahap administrasi, aku dikirimi beberapa soal sebagai tahapan tes tertulis. Omong-omong, posisi yang aku lamar ini admin media sosial. Karena aku punya pengalaman terkait ini, aku cukup pede untuk mengklaim diriku memang cukup menguasai bidang ini. Gak awam-awam banget lah.
Aku ngerjain setiap soal dengan seniat mungkin. Nongkrong di Cozyfield bermodalkan beli sepiring kentang goreng supaya bisa duduk berlama-lama di sana dan ngetik dengan tenang, riset kecil-kecilan dan berkutat dengan editing e-flyer di Canva selama beberapa jam. Aku mengirim lembar jawabannya cuma setengah jam sebelum deadline. Deg-degan.
Kurang dari satu jam, aku dapat chat yang menyatakan aku diundang untuk menghadiri interview. Senang? Iya. Singkat cerita, aku ke Jakarta.
Rasanya....wow aja, deh. Diartikan norak juga boleh, tapi lebih ke excited sih karena ini pengalaman pertama. Jangan hujat aku, guys.
Aku tiba di kawasan yang membuat kepalaku harus selalu menengadah untuk melihat puncak gedung-gedung pencakar langit yang berdiri gagah di sana. Masuk ke salah satu tower, bertemu dengan tim startup, mendapati kesan pertama yang cukup menyenangkan. Sempat ada ‘drama’ dulu selepas keluar gedung, karena satu dan lain hal aku gak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Padahal aku sangat menginginkan posisi ini, karena perusahaannya juga bergerak di bidang literasi dan merangkap penerbitan—dimana salah satu impianku adalah bekerja di bidang tersebut. Ketika kesempatan ini ditawarkan tepat di depan mataku, jelas aku merasa harganya ‘terlalu mahal’ untuk dilepas. Di sisi lain aku gak bisa ‘jalan’ tanpa restu orang-orang terdekat. Ini cukup membuatku luntang-lantung minum capuccino sendirian di salah satu kedai di pinggir jalan setelah keluar gedung dan nangis sepanjang perjalanan pulang naik grabbike. Galau. Tapi akhirnya, aku tetap magang di sini sih. Hahaha.

Selama Magang
Rasanya terlalu dini untuk berbagi, mengingat aku juga baru tiga hari di tempat ini. Secara keseluruhan, aku suka di sini. Kantornya menawarkan view gedung-gedung cantik yang menjulang tinggi dan, di bawah sana, lalu lintas Sudirman yang tertata rapi. Di atas meja-meja kantor, selalu ada buku. Bahkan di hari pertamaku bekerja, sedang dilakukan siaran langsung proses wawancara antara media A dengan narasumber yang ahli di bidang kepenulisan. Bener-bener ilmu gratis.
Orang-orang di kantorku kurang lebih seumuran denganku. Walaupun belum terhitung lama, tapi aku sudah cukup bisa mengenali karakter beberapa di antara mereka. Intinya, semua baik—dan menyenangkan.
Aku tahu aku patut bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini—dan aku memang mensyukurinya. Lingkungan yang bersahabat, bisa bekerja di tempat yang supernyaman, lekat dengan hal-hal yang kusuka—buku-buku, dan menulis cerita. Tentu gak sesempurna itu, tapi aku mencoba untuk melihat keseluruhannya dalam kacamata yang positif. Seperti, ketika aku harus lama menunggu busway, dan berdiri di sepanjang perjalanannya. Pulang dan pergi. Aku memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku atau menonton sesuatu dari hp pakai earphone. Kadang-kadang  juga berseliweran di media sosial dan balesin pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Aku menghibur diri dengan hiruk-pikuk kota Jakarta, mobil dan motor yang selalu memadati jalanan, atau segerombol orang yang berdesakan menanti transportasi umum. Juga gedung-gedung tinggi yang selalu membuatku terpikir soal efek rumah kaca. Hehe.
Di sisi lain, tentu aku gak luput dari emosi yang kurang menyenangkan. Seperti...lelah, kangen teman-teman kuliah (kalau gak magang, pastinya aku bakal curi waktu untuk ke Bandung/Jatinangor dan main ke kosan temen), kangen rumah, dan sejenisnya. Walaupun sebenernya hari ini baru genap seminggu magang—bahkan gak bener-bener seminggu juga sih. Pokoknya, ketika dilanda emosi yang kurang menyenangkan, aku memilih untuk membiarkannya itu mengalir aja. Galau-galau dulu sejenak, lalu tetap berusaha positive thinking.
Oke, karena aku rasa udah mulai ngaco nulisnya, mending diakhiri aja. Aku cuma mau nuangin sesuatu ke blog ini. Sebenernya, aku lagi ikutan kompetisi nulis novel sebulan, tapi...kehilangan semagat untuk nerusinnya lagi karena ter-distract dengan hal-hal lain yang lebih menyita perhatianku. Ya sudahlah.
Untuk saat ini, aku gak tahu apa yang kuharapkan sih. Atau, seperti apa rencana ke depannya. Aku hanya mencoba fokus untuk mengerjakan sebaik-baiknya kegiatanku sekarang. Selagi menanti hari wisuda... Sebelum benar-benar resmi keluar dari Unpad, dan masuk ke dunia yang sesungguhnya. A-n-j-a-y.
Semoga aku, kamu, kita semua, selalu sehat dan semangat ngejalanin keseharian kita.

Jul 7, 2019

Menyelami Filosofi Teras Untuk Hidup Yang Lebih Damai

July 07, 2019


Identitas Buku:
Judul: Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Buku Kompas
Tahun Terbit: 2019 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm: 320
Harga: 98.000



“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.” – Marcus Aurelius (Meditations)

[Siapa itu Marcus Aurelius?] Well, beliau merupakan seorang kaisar yang dikenal sebagai salah satu dari The Five Good Emperors dan menjadi salah seorang filsuf Stoisisme. Kalau bagimu beberapa terasa asing, sama deh. Aku pribadi belum pernah membaca buku self-improvement yang berlandaskan filsafat teori seperti ini. Biasanya hanya dari segi psikologi, kesehatan, atau ilmu komunikasi. Terpikir membeli pun tidak, aku meminjamnya dari seorang teman setelah iseng membaca beberapa halaman pertamanya dan mendapati bahwa buku ini menarik! Dugaanku, memampang kata ‘filosofi/filsafat’ di judulnya mengindikasikan bacaan ini akan cukup berat dicerna (anggapan ini lahir berdasarkan selera dan keterbiasaan membaca buku dengan topik tertentu, ya) Eh taunya, filsafat kuno kok kelihatannya sangat lekat sekali dengan keseharian di zaman sekarang?

Penulis
Ini adalah buku kelima Henry Manampiring setelah sebelumnya melahirkan beberapa karya, dua di antaranya The Alpha Girl’s Guide dan The Alpha Girl’s Playbook. Henry sempat didiagnosis menderita Major Depressive Disorder oleh psikiater setelah dikecamuk berbagai pikiran buruk, cemas, dan kemurungan selama beberapa waktu lamanya hingga terasa mulai mengganggu kesehariannya dan orang-orang sekitar. Di tengah masa pengobatan, ia menemukan buku How To Be A Stoic karya Massimo Pigliucci yang mengarahkannya pada ‘metode terapi tanpa obat’ yakni, filsafat Stoa (Stoisisme). Hasil pembelajarannya mengenal lebih dalam dan pengalamannya merealisasikan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari dituangkan ke dalam buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa KIni).

Sinopsis
Nama sesungguhnya adalah stoisisme, berasal dari kata ‘stoa’ dalam bahasa Yunani yang memiliki arti ‘teras berpilar’tempat Zeno si pendiri pertama filosofi ini mengajar. Para pengikutnya disebut dengan kaum Stoa. Henry menggunakan istilah ‘filosofi teras’ dalam penulisan buku ini karena rupanya penyebutan kata stoisisme dirasa sulit bagi beberapa orang.
Seperti yang diceritakan oleh Henry, filosofi berusia 2.300 tahun yang dikenal sebagai aliran yang mengajarkan jalan hidup ini tidak menjanjikan cara untuk menghilangkan kesulitan hidup, melainkan cara mengembangkan sikap mental kita yang lebih kuat untuk melaluinya.
Terbagi menjadi 12 bab dengan subbab pembahasan yang cukup banyak, pada dasarnya poin utama filosofi teras adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali melalui keselarasan hidup bersama alam (in accordance with nature). Sebagai manusia yang jelas berbeda dari binatang, kita diharuskan menggunakan akal sehat dan nalar sebaik-baiknya. Di sini, rasionalitas ditekankan sebagai keistimewaan manusia itu sendiri. Aku akan membagi sedikit yang menurutku paling menarik di antara semua bahasannya.
Pembaca akan dikenalkan dengan dikotomi kendali. Sederhananya, prinsip fundamental ini menekankan pada fakta bahwasanya ada hal-hal di dunia ini yang dapat kita kendalikan (pikiran/tindakan kita sendiri), dan ada pula yang tidak (pikiran/tindakan orang lain, peristiwa alam, popularitas, kekayaan, kesehatan). Maka jangan terobsesi untuk menjadikan segala sesuatunya berjalan seperti yang kita mau. Akan tetapi, prinsip ini sempat menuai protes sebab faktanya manusia masih memiliki andil terhadap hal-hal tertentu. Misalnya saja, nilai akhir yang akan diberikan dosen sungguh di luar kendali kita, namun kita dapat memengaruhi hasil akhirnya dengan berupaya mengerjakan tugas yang diberikan sebaik mungkin. Di situlah letak ‘kendali’ kita yang disebut oleh William Irvine sebagai ‘internal goal’, dan nilai yang diberikan dosen sebagai ‘outcome’, yang selanjutnya dikenal dengan trikotomi kendali.
Salah satu poin menarik lainnya adalah tentang interpretasi dan persepsi individu terhadap sesuatu hal. Epictetus (salah satu filsuf Stoa lainnya) menyatakan,  “It’s not things that trouble us, but our judgement about things.” Semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita sendiri. Jadi, jangan lagi salah mengartikan bahwa ‘logika’ dan ‘emosi’ adalah dua hal yang bertentangan ya! Ketika ada peristiwa buruk terjadi, kita langsung membuat penilaian bahwa kita didzalimi orang lain, lantas merasa paling bernasib buruk sedunia, sehingga emosi negatif lainnya mengikuti: bete seharian dan bermuka masam.
Perihal interpretasi ini semakin menarik ketika aku menemukan subab ‘Melawan Lebay’. Yup, disadari atau tidak terkadang manusia suka mendramatisir hal-hal yang berkaitan dengan perasaannya. Menurut filosofi ini—yang juga sejalan dengan pendapat pribadiku—wajar dan manusiawi ketika kamu merasa marah atau sedih saat mengalami peristiwa tertentu seperti kecopetan, dikhianati teman, gagal ujian, bahkan putus cinta.  Akan tetapi, perlu diingat bahwasanya hal-hal ini bukan sesuatu yang baru, kamu bukan orang pertama di muka bumi ini yang mengalaminya. Setiap orang, setiap harinya, dari zaman sebelum masehi hingga saat ini barangkali tengah mengalami hal yang sama. Mungkin kasarnya, jangan terlalu merasa ‘istimewa’ karena sesuatu (baik/buruk) sedang menimpamu. Lagipula sepuluh-duapuluh tahun mendatang semua akan terlupakan. Menurutku, pernyataan ini memperingatkan individu untuk tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaannya, yang mana itu juga bagian dari emosi negatif.
See? Kita tidak diajarkan untuk menghilangkan emosi negatif, melainkan mengendalikannya, sebab mustahil bagi seorang manusia hidup tanpa dilanda emosi negatif.


Komentar
Menurut akooh, gaya penulisan Henry di buku ini benar-benar menjauhkan anggapan memahami filsafat itu sulit. Bahasa yang digunakan mudah dicerna, disampaikan dengan ringan pula tanpa kesan menggurui.  Pembahasannya komprehensif dan relatable dengan kehidupan individu sehari-hari. Ditambah lagi beberapa fenomena dengan topik tertentu yang dicontohkan disertai penjelasan tambahan dari pakar bidangnya. Seperti pembahasan parenting yang tidak hanya dilihat dari sudut pandang Stoa, tetapi juga dari segi psikologi anak dan pendidikan.
Buku ini juga ada sedikit ilustrasinya, jadi tidak begitu membosankan. Walaupun—bagiku—huruf yang terbilang kecil-kecil sehingga setiap lembarnya terlihat ‘lebih padat’ tulisan menjadi faktor yang membuatku tidak tertarik membaca pada awalnya. Overall, buku ini bagus untuk aku, kamu, kita yang overthinking. Bukan berarti aku menelan mentah-mentah semua isi buku ini. Ada beberapa pemikiran yang aku tidak setuju, juga beberapa yang meski sudah kubayangkan berkali-kali tetap rasanya sulit untuk diaplikasikan karena agak bertentangan dengan nilai-nilai yang kupegang selama ini. Well, lain pembaca, lain pendapat ya kan.

Pada aspek ‘hal-hal di luar kendali’ ada subbab yang mengkhususkan tentang opini orang lain yang—lagi-lagi—sangat relatable dengan kondisi masa kini. Berikut penggalannya sebagai penutup:


“Epictetus menyebutkan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali kita itu ‘bagaikan budak..dan milik orang lain’. Interpretasi saya adalah bahwa pendapat-pendapat orang lain tersebut bisa memperbudak kita. Kita terus-menerus ingin menyenangkan orang lain, memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan approval orang lain, meraih sebanyak-banyaknya likes dan views. Dari pilihan baju sampai calon suami/istri, semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan melainkan tanpa sadar untuk menuruti orang lain. Apa bedanya kita dengan budak?” – Henry Manampiring.

Sick is Sucks(?)

July 07, 2019
25/06/2019.
Aku lagi mikir-mikir apa kiranya pengalaman lain yang bisa dibagi di sini, dan kali aja bermanfaat buat orang lain. Eh, ketemu.
Kalau ada yang cukup sering terjadi padaku seumur-umur selain punya cerita romansa yang aneh-aneh, jawabannya: sakit. Bukan sakit hati lho, tapi sakit beneran. Dulu setidaknya.
Sewaktu SMA, setiap akhir tahun ajaran aku memiliki semacam ‘tradisi’ menginap di rumah sakit hahaha. Tentu gak disengaja, gak tahu juga kenapa timingnya selalu pas akhir semesteran. Asumsiku, sebagai pemilik tubuhku sendiri, sepanjang tahun itu aku terlalu memforsir diri sibuk berkegiatan ini-itu, sehingga akhirnya...tepar.

X
Gejalanya gitu-gitu aja. Demam, lalu berobat ke klinik. Berhari-hari belum turun, baru dirujuk ke RS untuk berobat ke poli penyakit dalam.
Setelah diperiksa salah satu dokter spesialis (Dr. Andi namanya, dia yang selalu nanganin aku setiap berobat ke RS) aku harus cek darah dan nunggu hasilnya sekitar sejam-dua jam. Hasilnya, aku positif tifus. Dokter menyarankan aku dirawat inap supaya pemulihannya lebih maksimal.
Dan hal ini terjadi dua tahun berturut-turut. Penghujung kelas X dan kelas XI.
Aku harap aku bisa sekalian nulis lebih detail gejala dan tahap pengobatannya. Atau minimal makanan dan minuman yang harus dikonsumsi maupun dihindari selama pemulihan tifus, tapi udah gak ingat hahaha. Biasanya kalau dirawat inap gitu dikasih brosur terkait penyakit yang diderita. Isinya penjelasan umum tentang penyakit tersebut, pantangannya, bahkan doa kesembuhan juga.
Sebelnya, selama kelas X berkontribusi sebagai calon anggota OSIS, aku gak bisa ikutan LDKS di penghujung kelas X itu karena lagi terkapar di RS. Pada akhirnya tetap berhasil jadi anggota sih, tapi kalau dengar dari cerita teman-teman OSIS waktu lagi kumpul bareng, momen pas LDKS seru-seru—jadi ketinggalan, deh. Aku rada menghibur diri kalau masih bisa ikut ngerasain LDKS nanti ketika tiba waktunya regenerasi, meskipun bukan lagi sebagai peserta tapi penyelenggara. Sayangnya, lain ekspektasi, lain kenyataan.

XI
Pada penghujung tahun ajaran kedua, aku masuk RS lagi karena penyakit yang sama. Kali ini rasanya lebih lemes. Aku ingat suatu siang di rumah, setelah ngambil minum dari dapur, aku sempat bercermin dan membatin, “gila, ini gue yang emang putih banget apa emang lagi pucet?” wkwkwk sumpah waktu itu rasanya mukaku putiiiiiih banget sampe ke bibir. Kalau dalam novel-novel dibahasakannya, ‘..darah surut dari wajahku..’. Setelah berobat ke RS, ternyata memang gak hanya tifus, tapi juga kurang darah (well, ini menjelaskan kenapa bayanganku sangat pucat di cermin).
Berbeda dengan kali pertama yang hanya dirawat tiga hari, saat itu aku dirawat satu minggu. Aku juga harus menerima transfusi darah sebanyak satu setengah kantong. Dan lagi-lagi, aku gak bisa hadir LDKS.
Harus kukatakan bahwa aku beruntung bisa mendapat pengobatan maksimal dan keluarga yang selalu sigap menemani selama di rumah sakit. Belum lagi sesi-sesi kontrol pasca opname. Kasihan juga sih hehehe, sempat berpikir “ngeribetin banget deh gue” tapi.. jelas yang setiap orangtua inginkan hanya kesembuhan anaknya, jadi aku hanya perlu fokus ke situ tanpa mikir yang gak perlu.

XII
Entah kenapa mau ketawa nulis yang ini.
Mungkin karena aku merasa payah banget keliatan gak bisa jaga kesehatan sendiri. Tapi emang kali ini sakitnya bukan sekadar ‘kecapekan’. Bahkan bisa dibilang tifus hanya ‘kedok’ aja. Untuk yang satu ini aku masih ingat—jadi bisa kuceritakan detail.
Beberapa hari menjelang Ujian Nasional, aku sakit. Hasil cek darah menunjukkan positif tifus lagi. “Bisa rawat jalan kok tapi harus diminum teratur obatnya. Ini tifusnya lumayan tinggi pasti lemes banget,” kata dokter kliniknya menanggapi kekhawatiran Mama sekiranya aku tidak bisa melaksanakan UN.
Sejujurnya, UN hanyalah kekhawatiran nomor dua. Yang pertama adalah, aku takut gak bisa ikut perpisahan sekolah secara pelaksanaannya diadakan seminggu setelah UN HAHAHA.
Singkat cerita, aku tetap ikut ujian. Karena disuruh gak boleh kecapean, berangkat maupun pulang sekolah jadi minta nebeng teman. Berangkat sama A, pulang sama B. Ckckck, kalau diingat lagi jadi bersyukur punya teman pada baik. Walaupun aku benar-benar merasa fisikku sangat tidak fit—pilek plus batuk berdahak terus-terusan dan mudah kedinginan, aku masih bisa haha-hihi sana-sini saat di sekolah. Pernah baca juga kalau kitanya lagi senang atau bersemangat, sakitpun bisa terasa tidak terlalu membebani. Eh, ternyata belum aja. Aku ingat sepulang sekolah di hari kedua ujian, suhu tubuhku naik lagi. Rasanya udah mau pingsan.
**
Usai masa ujian—ajaibnya—sakitku hilang. Suhu tubuh normal, meskipun masih sedikit batuk pilek. Ini meyakinkan Mama kalau sakitku kemarin hanya karena tekanan ujian. Aku menjalani hariku normal dan ceria seperti biasa, sampai tiba hari perpisahan.
Hujan turun siang itu, menyisakan hawa dingin hingga sore harinya. Aku masih di sekolah menikmati beberapa penampilan di Panggung Seni, sekaligus menunggu sohibqu si A. Aku nebeng pulang sama dia lagi. Ribet kan naik angkot dengan gaun kebaya semata kaki?
Kami menyusuri lorong sambil ngobrol, dan aku batuk. A bilang batuknya seram. Aku cuma ketawa. Saat berjalan di lapangan, aku terbatuk-batuk lagi, saking kerasnya sampai aku berjongkok dan air mataku keluar. “Lin, sumpah serem banget,” kata si A. Waduh-nya, itu terjadi waktu mantan lagi lewat. Dia sampe nyamperin, mukanya kaget banget dan nanya, “Alin kenapa?”
“Gak tahu,” kataku, mau nangis. (Ini gue nangis karena batuk atau disamperin dia yak? Wkwkwk becanda).
Di halaman sekolah aku begitu lagi, dan di sana ada teman-teman kelas tetangga. Mereka nolong aku yang batuk sampai terbungkuk-bungkuk dan akhirnya beneran nangis. Sakit sekaligus kaget, seharian haha-hihi pulangnya begini. Waktu itu aku muntah, tapi bukan muntahin makan minum. Ga usah disebut kali ya. Temenku bilang mungkin aku masuk angin. Pokoknya, kejadian hari itu hanyalah awal dari serangkaian kejadian sejenis lainnya~
**
Aku sakit selama sebulan. Rekor. Untung lagi libur.
Bolak-balik ke klinik hingga RS, dikasih obat demam-batuk-pilek sampai obat penambah darah, gak mempan. Tiap malam demamku selalu turun dengan keringat yang membanjir, tetapi pagi hari suhu tubuhku naik lagi. Berat badanku turun empat kilo, susah-susah aku naikinnya eh menyusut begitu aja. Dalam kurun waktu sebulan empat kali muntah, diawali dengan batuk-batuk yang keras. Aku sampai ngemilin jeruk nipis buat ngilangin batuk, tapi gak pernah terasa lebih baik. Punggung sebelah kiriku, di bagiah tengah, lambat laun terasa sakit. Aku mulai gak bisa menarik napas panjang-panjang karena satu titik di punggungku itu semakin terasa nyeri tiap aku melakukannya. Bayangin aja kaya gitu selama sebulan.
Dr. Andi menyuruhku ke sub bagian radiologi untuk di-rontgen. Begitu masuk ke ruangan beliau lagi, sambil menerawang hasil foto rontgen ia berkata dengan dahi berkerut, “Bu, ini mah TBC.” Gambar paru-paruku tidak jelas karena diselubungi sesuatu yang berwarna putih. Bahkan di paru sebelah kiriku hanya kelihatan bagian atasnya aja. Sambil menunjuk bagian itu dokter menjelaskan, “Yang putih-putih ini cairannya, Tuh, udah separuh kerendam gini.”
Kata dokter, setiap orang punya virus TB di dalam tubuhnya, dan berkembang-tidaknya hal itu bergantung pada kondisi masing-masing individu. Kalau daya tahan tubuh kuat, si TB gak akan menjadi penyakit, pun sebaliknya. Setelah aku mengulik sendiri dari internet, Indonesia negara ketiga dengan pasien TB terbanyak di dunia, gak tahu kalau sekarang. Gejala-gejala yang kutemukan ternyata sama persis dengan yang kualami: berat badan menyusut, keringat berlebih, batuk lebih dari dua minggu. Gejalanya memang mirip tifus, tapi tifus gak menyebabkan batuk. Dokter juga bilang, rawat jalan bisa dilakukan tapi akan sulit. Aku harus konsisten minum obat setiap hari selama kurang lebih 6-8 bulan. I was like, ?????? Segitu aku belum tahu kalau aku akan sebenci itu dengan rasa obatnya yang ukurannya segede gaban.
Aku di-opname lagi. Kali ini selang infusnya udah kayak keran bercabang. Ada dua cairan yang harus dimasukin ke tubuhku. Aku masuk ruang paviliun dokter spesialisasi paru-paru. Pertama kali ia memeriksaku, stetoskopnya ditempel ke punggungku dan aku disuruh menarik napas. Berat. Katanya, ia bisa mendengar suara air di paru-paruku yang ternyata cukup banyak. Pantesan napasku terasa berrrrat, ada airnya.
Karena perlu tindakan medis, kalau gak salah orangtuaku harus menandatangani surat persetujuan tindakan gitu. Sejujurnya aku ngeri, imajinasiku tidak bisa membayangkan bagaimana cara mengeluarkan cairan dari paru-paru tanpa harus memasukkan sesuatu ke dalamnya. Namun, bisa kulihat orangtuaku lebih khawatir. Jadi aku berlagak biasa-biasa saja dan selow.
Hari H, tirai antara tempat tidur dan ruang tv kamar perawatanku diturunkan. Dokter menawari Papa untuk melihat (barangkali pikirnya mau mendampingi atau apalah), tapi aku dengar sendiri Papa bilang gak berani. W-o-W orang seperti papski aja gak berani, makin masang muka biasa ajalah saya dan ngechat salah satu teman kelasku untuk mengalihkan perhatian dari-entah-apa sang dokter dan perawatnya lakukan di belakangku. Yup, tindakannya dilakukan dalam keadaan sadar. Sempet bikin parno, apalagi mereka bawa gunting, suntikan, dan botol air mineral 1,5 liter. Aku duduk, hidungku dipasangi selang oksigen. Dokternya bilang, “Kalau nanti kerasa sesak ngomong, ya.”
Di titik punggungku yang sakit itu, aku disuntik dua kali untuk dibikin ‘baal’ katanya. Mati rasa deh. Terasa ketika isi suntikan itu menyebar cepat. Aku gak ngerasa sakit, hanya kayak ada selang kecil yang ‘nyangkut’ di punggungku. Lalu terdengar suara kucuran air seperti saat kamu menyalakan keran.
“Sini pak, liat aja gapapa,” kata Pak Dokternya lagi ke Papa.
Walaupun penasaran, aku gak mau menoleh ke belakang. Aku cuma bisa menilai dari percakapan mereka.
“Ohh iya itu airnya keluar,” ujar Papa.
“Untung masih bersih cairannya, kalau udah kekuninggan atau sampai berdarah, itu lebih parah,” jelas dokternya.
Setelah agak lama, aku mulai terbatuk karena sesak, dokter dan perawatpun menghentikan ‘pengaliran aer’. Yang kudengar dari ortu kemudian sih, cairannya sangat banyak hingga botol air mineral 1,5 liter itu hampir penuh. Setelah bla-bla-bla-bla, aku tertidur.
**
Pertama kalinya minum obat di rumah pascaopname, aku muntah. Setelah ke RS lagi dan cek darah (lagi) yang berkaitan dengan liver gitu, ternyata tubuhku gak kuat dengan dosis normal obat TB untuk orang dewasa. Aku diberi obat dengan dosis lebih rendah dan jumlah lebih banyak karena ‘pecahan’ dari dosis normal. Jangka waktu mengonsumsi obatnya juga diperpanjang jadi 8 bulan, normalnya 6 bulan.
Ada satu obat berwarna oren kemerahan seukuran ujung jari kelingking. Itu yang paling kubenci karena rasanya gak enak banget demi Allah. Mirip rasa obat penambah darah tapi ini lebih...iwwww pokoknya. Sayang, dialah pemeran utama untuk memerangi TB, jadi mau gak mau harus kuminum. Ini juga yang menjadikan Mama ‘agak keras’ menyuruhku minum obat, sebab aku suka berlama-lama melakukannya. Dibelilah banyak pisang untuk membantuku menelan si oren menyebalkan itu. Dokter bilang, gak boleh ada satu haripun terlewat. Pengobatan TB harus sampai tuntas.
Well, aku berobat sampai semester dua kuliah kalau gak salah. Hasil rontgen menunjukkan paru-paruku tampak normal lagi. Dan setelah itu, aku lebih jarang jatuh sakit. Berat badan juga kembali, bahkan lebih, hehehe.
Sayangnya, ada efek samping pribadi. Dari dulu aku bukan tipikal orang yang susah nelan obat entah itu kapsul/tablet (kan ada tuh orang-orang yang susah nelan, sampai harus digerus dulu atau dibuat puyer), tapi sejak diwajibkan minum obat selama delapan bulanan, rasa-rasanya tubuhku sulit mencerna obat berukuran besar lagi. Sekitar awal tahun ketiga kuliah, aku sakit dan Mama menyodorkan obat yang kami beli dari klinik. Tiba-tiba aku merasa perutku mengejang kaku—seolah mengantisipasi masuknya obat. Benar saja, selang beberapa menit setelah meminumnya, aku muntah. “Trauma itu,” gumam Mama. Esoknya, aku dicarikan obat sirup deh~

Kalau kuingat lagi, aku merasa takjub sekaligus bersyukur karena bisa melalui semua momen sakit itu dan sehat walafiat kembali. Memang gak enak, apalagi ‘sakit’ dikategorikan sebagai sesuatu yang negatif. Namun, bukan berarti gak ada sisi positif yang bisa dilihat, kan?

Jun 29, 2019

Antologi Dunia Jurnalisme

June 29, 2019

Identitas Buku
Judul: Jurnalis, Jurnalisme, dan Saya
Penulis: Keluarga Alumni Jurnalistik UNPAD
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Kedua)
Jumlah Hlm: 297
Harga: -


“Manusia itu memiliki nilai-nilai yang universal, yaitu kebenaran. Orang boleh tidak punya agama dan tidak punya ideologi, tapi tetap dalam batinnya dia ingin agar kebenaran dan keadilan ditegakkan. Kita sebagai wartawan harus bisa melihat intisari itu. Lihat dan analisis. Ketika keadilan dan kebenaran tidak tegak, di situ kita harus bergerak.”


Pesan di atas mengutip dari salah satu kisah dalam buku ini ketika Mr. Tatsuya Mizumot, seorang atasan di media Jepang bernama Jiji Press tempat Rieska Wulandari bekerja, memberinya wejangan untuk memahami arti menjadi jurnalis yang sebenar-benarnya.
Yup, kali ini aku mau berbagi tentang salah satu buku yang secara tidak sengaja kutemukan di Perpustakaan Pusat Unpad. Barangkali kamu juga akan sulit menemukannya di toko buku manapun, sebab dalam bukunya tertulis ‘dicetak untuk kalangan terbatas’. Namanya juga buku pinjaman, aku pun hanya memiliki sedikit waktu untuk menamatkan buku ini. Well, tidak terlalu sulit karena isinya memang menarik—bahkan bagiku yang bukan anak jurnalistik.
Sebelum itu, beberapa dari kita mungkin mempertanyakan—termasuk aku—apakah wartawan, jurnalis, dan reporter itu tiga hal yang berbeda. Melansir careernews.id, berdasarkan keterangan peneliti media dan beberapa reporter itu sendiri bahwasanya tidak ada perbedaan khusus di antara ketiganya. Semua bermuara pada satu makna: sebuah profesi pencari berita. Hanya saja penggunaan istilah-istilah tersebut tergantung kebijakan masing-masing media.

Penulis
Lebih jauh tentang lika-liku yang harus ditempuh seorang jurnalis di lapangan dikisahkan dalam buku ini—sebuah antologi 25 esai yang ditulis oleh para alumni Jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Padjadjaran generasi tahun 1984-2006. Para penulis ini berasal dari beragam kalangan profesi; mulai dari jurnalis, dosen, redaktur majalah, komisioner di lembaga negara, atau pekerja NGO. Membaca perjalanan panjang mereka selepas kuliah sebagai jurnalis media lokal hingga internasional, berseliweran mewawancarai orang-orang penting di dalam dan di luar negeri, menyeberangi pulau untuk menginvestigasi pembalakan liar ataupun perburuan paus, sempat membuatku membatin: wadaooow hal 'wow' apa aja yang pernah kulakukan di muka bumi ini.
Sinopsis
Kisah-kisah dalam buku ini terbagi menjadi enam bagian. Dalam bab (1) Jurnalisme dan Kepentingan Publik, banyak memuat perbandingan kebijakan dan kebebasan pers antara Indonesia dan negara lain pada masanya yang dirasakan jurnalis ketika ikut serta dalam suatu konferensi luar negeri atau bekerja di media lokal maupun asing seperti The Washington Post, BBC, Mainichi Shimbun, dll.
Dalam bab (2) Integritas Wartawan juga masih diwarnai perbandingan kesan bekerja di media lokal dan asing. Meliput peristiwa tsunami Aceh 2004, hingga menderita malaria dan demam 40 derajat setelah menelusuri kasus penebangan illegal pohon Merbau berumur ratusan tahun di Papua, hanya sebagian dari rentetan pengalaman menarik lain dalam bab ini.
Para alumni yang tergabung sebagai redaksi majalah atau media online dan mengecap segala dinamikanya (seperti penyusutan pemasangan iklan dalam bentuk advertorial hingga adu kreativitas para copywriter dalam beriklan) tertuang di bab (3) Manajemen Media. Perjalanan Irfan Junardi dalam menghidupkan kembali situs berita tertua di Indonesia pada masanya yakni Republika Online, menjadi salah satu kisah favoritku dalam buku ini.
Lanjooot. Hanya ada dua kisah wartawan dalam bab (4) Meliput Konflik, satu yang berlatarkan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina; lainnya berupa sebuah konflik di Mindanau, Filipina. Keduanya berupa perjalanan luar biasa yang hanya bisa kubayangkan sebagai bagian dari skenario film.
Cerita dalam bab (5) Pernak-Pernik di Lapangan dan bab (6) Wartawan, Humas, dan LSM lebih bervariasi lagi. Mulai dari sudut pandang seorang wartawan film hingga praktisi humas, proses dalam meliput haji, usaha kecil, hingga praktik jasa pembuatan skripsi. Yang terakhir disebut sungguh uwow.

Komentar
Bicara soal kekurangan, terkadang banyak istilah dalam dunia jurnalistik yang tidak mencantumkan keterangan. Awam sepertiku jadi kurang paham. Mungkin karena buku ini juga memang tidak dimaksudkan menyasar pada pembaca umum, sih. Selebihnya, aku cukup menikmati ragam kisah dalam buku ini dan gaya penulisannya yang enak dibaca. Kupikir, jungkir balik persaingan para wartawan mencari bahan berita cuma bisa dilihat di drama Korea Pinocchio saja. Ternyata.. memang begitulah yang terjadi di balik layar berita. Barangkali itu yang menjadi keunggulan buku ini—mampu menyajikan cerita yang tidak banyak diketahui khalayak. Beberapa dari kita pasti hanya membaca artikel atau menonton siaran berita tanpa tahu—atau tertarik—proses di balik penyusunannya, kan? Nah, buku ini dapat memberikan gambaran yang kamu inginkan seputar praktik jurnalisme di lapangan—bahkan, kisah mereka yang berlatar pendidikan jurnalistik namun tidak terjun ke ranah profesi tersebut.
Sebagai penutup, berikut kutipan dari salah satu pengisi buku yang menurutku relatable dengan keadaan masa kini:
“Di tengah jagat komunikasi hari ini, yang ditandai dengan kian tingginya gelombang pasang informasi dari sana-sini, orang gampang lupa. Milan Kundera kiranya benar ketika dia, dalam The Book of Laughter and Forgetting (1985), kurang lebih mengatakan bahwa kini orang kian tak tuntas memikirkan satu perkara sebab tiap saat benaknya digedor-gedor oleh rupa-rupa perkara yang tiada hentinya silang susup menyesakkan media berita. Situasinya sungguh paradoksal: justru ketika informasi kian melimpah, orang seakan kian tak sanggup memahami apapun.” – Hawe Setiawan.

Ps: foto akan selalu seadanya alias ga estetik wkwk

Tentang Baca Tulis: Dulu Hingga Sekarang

June 29, 2019
19/06/2019.
Sewaktu SD, ketika harus menulis biodata di kertas binder teman, pada bagian hobi aku akan menuliskan banyak hal. Mulai dari makan, tidur, mendengarkan musik, dan dua hal yang tak pernah luput adalah: membaca dan menulis. Tanpa '-tung', ya. Barangkali karena sejak kecil Mama selalu rutin membelikan kami majalah Bobo, aku jadi senang membaca.

Dulu
Sekali waktu aku terkesan dengan isi dari rubrik cerpen di majalah itu. Aku langsung mengambil pena dan kertas binder (dulu aku menyebutnya file) dan menulis cerpen versiku sendiri. Sejak aku tahu seseorang juga bisa menulis kisahnya sendiri, aku semakin tertarik membaca buku. Pernah aku memboyong pulang buku-buku milik Mbah tentang kisah para nabi, tumpukan komik Shinchan koleksi Om, hingga saat menginjak bangku SMP mulai menyisihkan uang jajan sendiri untuk membeli majalah Gaul, Teen, atau Gadis (ciyaa ceritanya udah remaja).
Kegiatan favorit baruku (menulis) kutuangkan ke dalam buku harian sejak SD. Dulu, benar-benar setiap sepulang sekolah aku menuliskan kejadian hari itu di dalam diary. Sedetail-detailnya dan se..yah, katakanlah senorak-noraknya. Sampai kalau kubaca lagi saat ini bikin ngakak. Ternyata dari dulu sudah emosional—kalau senang, senang banget; kalau sedih, sedih banget. Iya, aku masih menyimpan semua buku harian dari SD hingga SMP, tetapi belum lama ini ketika sedang berbenah kuputuskan untuk menyingkirkan semuanya. Otakku masih menyimpan kenangannya dengan jelas tanpa buku-buku itu. Namun, aku tidak mau sembarang dibuang—maunya dibakar!! Aib semua itu isinya.
Aku mulai benar-benar aktif bermain Facebook dan Twitter saat SMP, mengetahui ada cara lain untuk menuangkan apa yang kupikirkan dengan sebanyak mungkin orang.
Well, hobi menulis itu berlanjut sampai sekarang.

Masih Dulu
 Sewaktu SMA dan tiba masanya kita memilih jurusan kuliah, aku sempat menginginkan Sastra Indonesia. Aku tahu kegiatan menulis hanyalah secuil dari luasnya bidang Sastra Indonesia, tetapi kupikir akan menyenangkan jika aku menghabiskan empat tahun kemudian di tempat yang memang kuinginkan. Namun, karena satu dan lain hal, aku tidak benar-benar yakin.
Suatu hari salah satu teman kelasku bertanya, “Kamu jadi ambil apa? Kalau kamu ambil sosio, aku ambil sasin. Kalau kamu ambil sasin, pilihan pertama aku sosio.
Aku cuma nyengir dan berkata dengan nada meminta maaf, “Nanti aku pikirin lagi, ya?”
Waktu itu peluang murid sekolah kami masuk ke Unpad memang terbilang besar, tentu saja kami harus menyesuaikan pilihan dan nilai satu sama lain agar kesempatan yang kami miliki lebih besar—dengan harapan semua masuk ke jurusan yang dipilih. Singkat cerita, di jurusan Sastra Indonesia-lah dia berada, dan aku di Sosiologi.
Bicara sedikit tentang temanku itu, setahuku dia memang anak yang pintar merangkai kata. Bahkan pernah menjuarai lomba menulis puisi di kompetisi luar sekolah waktu kami kelas XI. Aku juga pernah menonton pertunjukan teaternya dulu di Aula PSBJ FIB Unpad sewaktu kuliah. Kerrrren.
Aku pernah membayangkan, bagaimana jadinya kalau posisi kami dibalik? Aku menghargai sikapnya yang membiarkan aku mengambil keputusan. Seolah tak masalah baginya entah itu di sasin atau sosio—dia hanya akan tinggal menjalankannya sebaik mungkin. Bagaimana seandainya aku memilih yang satunya? Apa yang akan aku lakukan sekarang ini, dan seperti apa teman-teman yang akan kupunya? Bukan berarti aku menyesal. Aku berpandangan semua yang terjadi di hidup kita adalah yang terbaik, dan pasti akan terjadi seperti apapun jalannya.

Sekarang
Aku sedang rajin-rajinnya lagi membaca buku sampai (makin) jarang ngecek hp. Biasanya, aku hanya tertarik pada cerita fiksi dan self-improvement, tetapi beberapa bulan terakhir ini tidak juga. Aku punya banyak sekali buku hingga setiap kali berbenah, rasanya aku harus memutuskan buku mana lagi yang akan kupilih untuk disumbangkan saja. Boleh menunjukkan beberapa di antaranya?

Itu foto agak lama, sih. Diambil waktu lagi beres-beres rak. Beberapa di antaranya ada yang sudah disumbangkan. Beberapa lainnya lagi ketinggalan untuk masuk di foto. Terlebih beberapa minggu ini aku punya buku-buku baru. Oh iya, ada beberapa buku milik kakakku dalam foto itu—komik-komik Islam. Hanya saja aku yang mengambil tanggung jawab untuk mengelola semua koleksi buku di rumah. Tidak tahan rasanya melihat buku berserakan.
Sebenarnya, aku mau saja berbagi pinjam kepada mereka yang memang tertarik dengan buku-bukuku. Asal, buku itu dijamin dapat kembali dengan keadaan persis sama seperti saat meminjamnya hahaha. Ada pengalaman kurang menyenangkan ketika aku meminjamkan salah satu bukuku yang paling tebal dan lumayan mehong ke seorang teman. Aku belum lama membelinya, dan ia mengembalikan dalam keadaan.....huhuhuhuhuhuhu. Sedih. Kayak abis dipakai ngepel lantai saking...ah begitulah. That’s why aku sedikit bawel kalau meminjamkan lagi ke orang lain.
Nah, sehubungan dengan semua buku-buku yang pernah kubaca...rencananya sih konten berkala yang mau kutuliskan di blog ini selain ceritaku yang absurd adalah review buku. Dalam rangka menghindari kemungkinan hal-hal yang pernah dibaca hanya mengendap di pikiran sendiri saja kemudian terlupakan, sekaligus ruang menyalurkan hobi menulisku juga. Barangkali beberapa buku yang kuulas dapat menjadi rekomendasi bagi para pembaca. Isi tulisannya pada umumnya sama dengan review-review lainnya (sinopsis, kekurangan, kelebihan) dengan sedikit modifikasi SSAS—Suka Suka Aku Saja. Hiyahiyahiya.

(Self-)Love Story Through Toxic Relationship

June 29, 2019
pexels.com
Bingung juga kasih judulnya.

Sebelumnya, aku pernah menulis ini Desember 2018 lalu dengan judul lain dan dibagi menjadi dua bagian. Sudah banyak yang membaca juga... tapi, sudah lama aku putuskan untuk menghapusnya dan menulis ulang dalam bahasa yang lebih santun dan tidak sedetail sebelumnya hahaha. Berhubung memang aku mengirimkan narasi ini ke salah satu media online untuk mengisi tab inspirasi, jadilah seperti di bawah ini. Tujuanku hanya ingin berbagi pengalaman, dan sedapat mungkin menyebarkan positifnya. Seperti yang dikatakan Mark Manson dalam bukunya Seni untuk Bersikap Bodo Amat, pengalaman negatif justru dapat menjadikan dirimu seseorang yang positif.

Berbagi Pandang Tentang Menjadi Bucin dan Terjebak Hubungan Yang Posesif
Siapa yang pernah menonton film Posesif-nya Adipati Dolken dan Putri Marino? Well, aku asumsikan hampir semua sudah menontonnya. Lalu, siapa yang pernah mengalami hal serupa—terlibat dalam hubungan yang sebetulnya tidak sehat? Semoga tak pernah ada.

Nyatanya, barangkali memang akan selalu ada fase menjadi bucin (budak cinta) dalam hidup setiap orang. Saat di mana kita merasa sangat mencintai sesuatu—dalam hal ini seseorang—hingga rasanya tak ada yang tak bisa kita lakukan demi dia. Bolak-balik menjemputnya meski harus menempuh ribuan kilometer? Bisa! Merogoh kocek dalam-dalam demi memberinya kejutan super romantis? No problem!

Sebenarnya hal-hal di atas bukan sesuatu yang salah. Secara naluriah kita ingin memberikan yang terbaik bagi orang teristimewa. Namun, menurutku hal ini menjadi masalah ketika kita sampai mewajarkan hal yang jelas tidak benar hingga merugikan diri sendiri.

Tentu saja aku berpandangan begitu atas dasar pengalaman—yang berikut akan kubagi sedikit denganmu.

Tidak Sehat
Selama kurang lebih setahun menjalin hubungan, mataku tertutup oleh luapan perasaan terhadap pacarku. Kendati ia kasar, egois, dan posesif, bagiku dia tetaplah dia—dan aku adalah perempuan yang mampu bersabar menghadapinya. Sounds cringe, huh? Maklum, masih berseragam putih abu saat itu. Tahun pertama.

Di samping haha-hihi romantika remaja, kami juga mengalami banyak momen buruk. Lebih tepatnya, aku yang merasa buruk. Dibentak di depan umum? Pernah. Dicaci-maki? Cukup sering. Dicemburui secara berlebihan? Apalagi. Dibohongi? Dikhianati? Uhm, let me think...of course he did it several times. Aku tak bermaksud menjadikan dia dalam cerita ini sebagai ‘orang br**g**k’ sedangkan aku adalah korbannya. Namun kalau boleh kukatakan, sebagian besar pertengkaran yang terjadi di antara kami disebabkan olehnya. Seringkali aku harus mengambil sikap mengalah dan meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahanku demi menyudahi pertengkaran kami yang bisa berlangsung berhari-hari. Karena apa? Dia sangat egois. Walau ia sadar dalam pertengkaran itu dialah yang salah, ia takkan meminta maaf. Jikalau aku yang memang salah dan sudah meminta maaf, aku harus berupaya keras untuk menenangkan dirinya lagi. Kau tidak bisa memadamkan api dengan api, bukan? Sama halnya dengan kemarahan.

Bahkan hingga detik menulis ini, satu-satunya orang yang pernah berlaku sekasar itu padaku hanya dia.

Pernah suatu hari ia marah lagi hingga pagi esoknya. Aku lupa apa sebabnya, yang jelas hari itu aku datang ke sekolah dengan wajah kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Teman-teman dekatku sudah lama mendukungku untuk putus (btw, aku dan pacarku itu berbeda sekolah). Barangkali mereka melihat betapa terkekangnya aku dengan hubungan ini, atau bahasa mereka, “Kamu gak layak dapat cowok kayak begitu.”

Tentu saja aku sadar hubungan kami tidak sehat. Berkali-kali ia pernah melontarkan “ya udahlah putus aja!” tetapi begitu kuiyakan ia malah semakin marah. Sejak itu aku sadar bahwa ia hanya menggertak. Pikirnya aku dapat selalu mengalah. Aku merasa terkungkung emosi negatif terus-menerus. Sosok yang seharusnya menjadi penyemangat malah membuatku stres melulu. Aku sudah pernah mencoba mengakhiri hubungan ini, tetapi malah aku yang menangis karena tidak bisa membayangkan hari-hari tanpa dia ke depannya—jelas aku sudah begitu terbiasa.

Sampai sini, kau boleh menyebutku bodoh karena mau-maunya diperlakukan seperti sampah oleh orang yang mengaku sebagai pacar. Sebut saja aku bucin, mempertahankan hubungan yang mengarahkanku pada kesengsaraan. Aku telah terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi dia, hingga aku lupa bahwa aku memiliki kehidupan lain di luar permasalahan cinta-cintaan anak SMA.

Melepaskan Diri
Di penghujung tahun ajaran, sekolahku mengadakan kompetisi antarkelas berupa pagelaran seni budaya. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama meniti persiapan yang cukup panjang. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hariku disibukkan dengan latihan dan berkumpul bersama teman-teman sekelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Aku begitu menikmati kesibukan baru itu hingga mengesampingkan pacar. Aku tidak begitu peduli bila ia mau berkeliaran dengan perempuan lain (lagi).

“Gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Cowok gak hanya dia, dan yang lebih baik masih banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda buat hal yang sia-sia dan gak menyehatkan?” Begitulah akal sehatku berkata, tak lagi kalah oleh perasaan. Aku bertekad untuk mengakhiri hubungan toxic ini.

Prosesnya tak mudah. Ia menolak mentah-mentah ajakanku untuk putus. Aku mengutarakan lagi baik-baik alasanku ingin melepaskan diri. Tak suka dibohongi, diperlakukan kasar, atau dicaci-maki. Jika aku memang sosok yang sekurang ajar itu hingga layak mendapat perlakuan begitu, silakan saja ia hina sepuasnya—tetapi ‘kan tidak. I’ve tried my best for him and he knows it too. Keadaan kini berbalik. Jika dulu aku yang nyaris memohon penerimaan maafnya, kini ia yang nyaris mengemis memintaku kembali. Setiap hari.

Setelah hari-hari di mana ia terus mengobral maaf dan janji gak-akan-gitu-lagi terlewati, aku merasa lebih bahagia. Aku berdamai dengan diriku karena telah membiarkan diri sendiri terluka terlalu lama. Mulai belajar mencintai diri sendiri dengan menghindari hubungan toxic lain dan lebih banyak menyerap atau membagikan energi positif. Aku berteman dengan sebanyak mungkin orang dan aktif di organisasi/ekstrakurikuler sekolah.

Bagaimana Denganmu?
Seseorang pernah berkata, “Gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi. Gimanapun juga itu bagian dari masa lalu.” Satu-satunya penyesalanku adalah tidak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Seharusnya aku sadar ketika hubungan itu tak berpengaruh baik pada diri sendiri (membuat tertekan/ngebatin), lebih baik disudahi. Tak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan c-i-n-t-a.  Jangan-jangan, kita bukan tengah memperjuangkan, melainkan hanya berkutat dalam kebodohan kesia-siaan. Memang ada istilah ‘hasil takkan mengkhianati usaha’ tetapi dalam hidup sebetulnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Seperti aku—berusaha sabar menghadapi dia dengan harapan nantinya akan berubah, atau digayuti pikiran ‘seburuk apapun jalannya, yang penting kami saling menyukai.’ Betapa sempit pemikiranku saat itu. Tetap saja Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengaturnya—Tuhan lebih tahu kalau tak seharusnya kita menjadi budak cinta terhadap manusia lainnya.

Aku tak menggeneralisir segala bentuk hubungan sepasang kekasih yang ada di dunia ini. Siapalah aku? Hanya seseorang yang berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya. Setiap orang memiliki cerita masing-masing dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Pesanku: untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Ingat, kamu bertanggung jawab atas kebahagiaan dirimu sendiri.