Mar 20, 2019

Story: Tentangku, Si Pengamen Jalanan

March 20, 2019 0 Comments



Siang itu, teriknya matahari membakar tengkuk. Bulan Ramadhan atau bukan. Jakarta tidak pernah tak macet. Lalu lintas padat merayap, diwarnai oleh kepulan asap berterbangan di udara. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi kami; para pengamen jalanan, dan mereka; para pengemis keliling.
Namaku Abdullah, biasa dipanggil Adul. Seorang anak berumur dua belas tahun yang menghabiskan separuh usianya mengamen di pinggir jalan dengan ukulele buatan tangan. Kalau kau melihat bocah bertopi merah kusam dengan tas pinggang hitam yang sudah pocel berseliweran di sekitar jalan M.H. Thamrin, mungkin saja itu aku. Kau boleh menyapaku, terlebih memberikan uang usai kubernyanyi.
Lampu rambu lalu lintas sedang merah, dengan cekatan aku menghampiri mobil yang satu ke mobil lainnya di jalan raya. Kaca-kaca jendela mereka kebanyakan menutup, mungkin bagi mereka mulutku hanya bercuap-cuap tanpa suara, padahal aku benar-benar bernyanyi. Sedikit sekali dari mereka mau membuka jendela untuk sekadar memberikan kepingan lima ratus perak. Pasti enak—duduk nyaman dalam kesejukan AC mobil, tidak perlu susah payah bertarung dengan teriknya matahari apalagi berkutat dengan kerasnya jalanan di Jakarta.
Aku menyingkir ke trotoar ketika lampu berubah hijau, duduk dan mengusap wajahku yang penuh debu dengan tangan yang kotor. Sudah sejak pagi aku mengamen dan uang yang kudapatkan baru sembilan ribu rupiah. Padahal aku harus membeli makanan dan minuman untuk Ibu dan adik-adikku di rumah kardus. Tenggorokanku kering dan perutku ikut bernyanyi, sepotong roti yang kumakan saat sahur tadi sudah lama berubah menjadi energi yang tidak seberapa.
Biasanya, bulan puasa begini ‘orang-orang jalanan’ akan mendapat keuntungan lebih banyak. Terutama para pengemis jalanan, bukan tidak mungkin penghasilan mereka perharinya mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Aku kenal beberapa di antaranya, yakni Mak Acik, Mak Umay, Pak Nanang, dan Pak Solih. Mak Acik sedang duduk beralaskan koran di bawah tiang listrik seberang jalan sekarang, dengan bayi yang tertidur pulas di gendongannya. Aku meringis dalam hati. Tentu saja bayi itu tidak tertidur, mereka dibius. Hal ini dilakukan agar si ibu dapat mengemis dengan tenang tanpa gangguan rewel si bayi. Yang seperti ini sudah pernah dijaring oleh orang-orang dari Dinas Sosial. Jangan tanya aku tahu darimana, aku sudah menghabiskan separuh usiaku hidup di jalanan.
Kalau Mak Umay dan Pak Nanang, mereka adalah pasangan suami istri yang tinggal di dekat rumahku. Mereka memiliki seorang bayi bernama Narita yang disewakan untuk keperluan mengemis oleh pengemis lain. Tujuannya tidak lain untuk mengundang lebih banyak simpati. Aku pernah melihat sendiri, seorang ibu-ibu datang ke rumah Mak Umay dan memberi seratus ribu rupiah untuk menyewa Narita. Narita diberi susu yang sudah dicampur obat bius, wajah bulatnya yang mungil dilumuri serpihan arang agar terlihat kusam dan tidak terawat. Ia juga dikenakan pakaian-pakaian yang lusuh agar terlihat lebih memprihatinkan. Biasanya para pengemis yang menggunakan sewa anak begini bisa mendapat keuntungan lebih dari dua ratus ribu rupiah per harinya.
Aku berjalan perlahan, kebetulan melihat Mak Umay kini tengah bernyanyi di depan warung dengan kotak musik keliling yang melantunkan lagu dangdut. Pak Nanang berdiri di belakangnya dengan tangan tersampir di kedua bahu Mak Umay. Ia mengenakan kacamata hitam untuk menciptakan trik seolah buta, padahal aku tahu kedua matanya masih berfungsi sangat baik. Aku mengalihkan pandangan dari mereka. Walaupun tidak semua orang jalanan seperti itu, hal seperti ini tetap sudah biasa di kehidupan jalanan. Aku jadi teringat perkataan ibuku, “Allah tuh nggak suka dengan orang yang meminta-minta! Walaupun kita orang kecil, paling nggak kita harus jadi orang yang besar di mata Tuhan. Selama kita mampu, jangan ngemis. Ngamen juga harus jujur, nggak boleh nipu orang dengan berpura-pura begini dan begitu. Ingat ya, Nak.”
Aku sangat mencintai Ibu dan adik-adikku, juga ayahku yang telah almarhum. Sebagai anak sulung laki-laki, akulah tulang punggung keluarga. Meski keadaan kami seperti ini, kami jarang sekali mengeluh. Ibu selalu mengingatkan kami untuk bersyukur, katanya dengan begitu Allah akan melipatgandakan rezeki kami. Rezeki tidak hanya berupa uang, semangat juangku untuk terus bekerja juga kuanggap sebagai rezeki dari Allah. Fisik yang kuat dan gerak yang lincah membuatku tahan berlama-lama di jalanan. Aku bersyukur meski tidak selalu bisa makan enak setiap hari, paling tidak aku tetap sehat. Itu cukup sebagai modal menghidupi keluargaku.
 “Adul!” sapa seseorang. Aku menoleh ke samping dan melihat Bang Ical tengah berjalan ke arahku. Bang Ical adalah pengamen yang ‘punya’ kawasan sini. Rambutnya keriting dan bertampang sangar, tapi sebenarnya dia sangat baik. “Eh, Bang.” Aku mengangguk lemah.
“Udah dapat banyak?” tanyanya dengan nada ramah.
Alhamdulillah, Bang.” sahutku mencoba terdengar bersemangat.
Bang Ical sepertinya mengerti keadaanku yang sebenarnya. “Harus semangat, dong. Empat jam lagi buka puasa. Nanti datang aja ke dekat Plaza Indonesia, kabarnya bakal ada bagi-bagi takjil gratis.”
“Wah, makasih infonya, Bang!” aku tersenyum sumringah. Bayangan akan membawa pulang sedikit makanan membuatku senang. Aku tidak perlu melihat adik-adikku menangis kelaparan. Bang Ical menepuk pundakku dan berlalu. Dengan semangat baru, aku memutuskan untuk mengamen lagi di kawasan lain dekat jembatan penyeberangan orang (JPO).
Aku menghampiri warteg pinggiran yang menampilkan kaki-kaki ‘tanpa kepala’, belum lagi aku mulai bernyanyi, si pemilik warung sudah memberikan kepingan lima ratus perak. “Jangan di sini, biar gak berisik”, ujarnya padaku. Aku tidak merasa sakit hati, hal seperti ini sudah biasa di bulan ramadhan. Para pemilik warung yang buka di siang bolong begini memang sangat mengutamakan kenyamanan pelanggan yang tengah makan diam-diam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkah keluar, diikuti seorang bapak-bapak yang juga hendak keluar setelah membungkus makanan.
Bapak berkemeja putih garis-garis itu berhenti sebentar untuk membetulkan sepatunya yang hitam mengilap, kemudian berjalan menaiki motor hitamnya yang terparkir. Aku memandangi kepergian bapak itu sembari menyeka keringat yang mengucur. Mataku menangkap sesuatu di tempat bapak tersebut berhenti sebelumnya—ada semacam bungkusan yang dibalut kresek hitam.
Kupikir mulanya itu sampah, setelah kudekati ternyata plastik itu berisi uang! Uang yang sangat banyak! Beberapa ikat uang lima puluh ribuan menumpuk di dalamnya. Aku kalang kabut, tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Ini pasti uang milik bapak berkemeja putih tadi. Aku melongokkan kepala tinggi-tinggi, bapak itu sudah pergi cukup jauh. Buru-buru aku mencari ojek di sekitar sana dan mencoba menyusul bapak tadi dengan satu-satunya penghasilanku hari ini.
Alhamdulillah, motor hitam milik bapak berkemeja putih itu terkejar di lampu merah. Aku meminta bapak tersebut menepi dan kamipun berbelok di persimpangan.
“Bapak, ini uang milik Bapak. Saya melihatnya di depan warteg tadi.” ujarku sedikit membungkuk dan menyodorkan barang milik bapak itu.
Bapak itu terkejut bukan main. “Astagfirullahaladzim!” Ia meraih uang tersebut dan menatapku nyaris menangis. “Ya Allah, Ya Allah! Ini uang untuk biaya pengobatan anak saya di rumah sakit. Syukurlah, masih ada orang yang jujur seperti kamu.. Kalau sampai hilang saya tidak tahu harus mendapatkan uang kemana lagi. Terima kasih banyak ya, Nak!”
“Sama-sama, Pak. Kalau boleh tahu, anak Bapak sedang sakit?”
“Iya, sedang dirawat karena penyakit ginjal. Sekarang sedang ditemani oleh istri saya di rumah sakit.Saya mampir dulu ke warteg untuk beli makan buat istri saya.”
“Lho, istri Bapak tidak berpuasa?” pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku segera menutup mulut karena takut dibilang lancang. Tetapi bapak itu hanya terkekeh, “Biasalah wanita, ada masanya mereka berhalangan.” Sejurus kemudian bapak tersebut balik bertanya, “Oh ya, kamu lagi puasa?” Aku tersenyum sopan dan mengangguk.
Bapak itu diam sejenak seolah sedang menilaiku. Yang kutangkap, sorot matanya memancar kekaguman. “Hebat kamu ini, sudah sopan, jujur pula. Habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau mengamen lagi, Pak. Masih banyak waktu sebelum maghrib. Saya perlu membawa makanan untuk Ibu dan adik-adik saya.” Jawabku diiringi cengiran lebar. Hatiku merasa lega karena dapat membantu bapak ini. Kalau tadi aku tidak melihat setumpuk uang itu, keluarganya pasti akan sangat sedih kehilangan biaya pengobatan anaknya.
“Ini, belikan keluarga kamu makanan yang enak-enak.” ujar bapak itu sembari menyodorkan beberapa lembaran merah. Mataku melotot nyaris keluar dari rongganya. Aku mengangkat sepuluh jariku ke depan, “Maaf, Pak saya bukan pengemis. Saya juga tidak bermaksud minta apa-apa. Saya tidak bisa menerima uang ini, saya tidak berhak—“
“Ambil saja,” desak si Bapak dengan senyum di wajahnya. “Ini ungkapan terimakasih dari saya. Anggap saja Allah sedang ngasih kamu rezeki melalui saya. Rezeki jangan ditolak, Nak..”
“T-tapi, Pak—“
“Wah saya harus buru-buru nih ke rumah sakit, tapi saya gak akan pergi sampai kamu nerima uang ini.” Bapak di hadapanku menggertak halus, bibirnya masih tersenyum. Akhirnya dengan kedua tangan gemetar aku menerima uang tersebut. Jumlah uang terbanyak yang pernah kupegang seumur-umur.
“Nah gitu dong. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Nak. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu..”
“Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan Bapak..” tuturku pelan, masih takjub dengan apa yang ada di tanganku. Kemudian bapak tersebut berlalu dari pandanganku. Aku buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan apa yang kucari. Dengan langkah lebar-lebar aku menuju tempat tersebut. Aku melepaskan sepasang sandal butut yang kugunakan dan mulai mengambil air wudhu. Aku ingat apa yang pernah Ayah katakan, susah ataupun senang harus ‘lapor’ ke Allah dulu. Walaupun Dia Maha Tahu, Allah lebih senang kita ngadu ke Dia. Dan sekarang aku bertamu ke rumah Allah, aku mau ngadu—ada rezeki tak terduga datang!
Bagi orang kecil sepertiku, bahagia itu sederhana.
Dalam shalat sunahku, tak henti-hentinya hati ini bersyukur. Aku membawa lebih dari cukup uang untuk makan kami beberapa hari ke depan. Malam ini dan sahur besok, kami sekeluarga dapat makan yang enak. Sepulang ini aku akan membeli es pisang ijo kesukaan Ibu, beberapa gorengan dan nasi bungkus untuk aku dan adik-adikku. Oh iya, tak lupa aku harus menyedekahkan uang ini ke orang lain yang juga membutuhkan. Supaya mereka juga ikut senang!
Hari ini, aku pulang dengan langkah ringan dan senyum yang terus mengembang.
Allah benar-benar Mahabaik. Baru saja beberapa jam lalu aku khawatir karena di kantong hanya ada sembilan ribu rupiah, kini Allah memberiku berkali-kali lipatnya. Ternyata kalau kita sungguh-sungguh berusaha dan berlapang dada, maka Allah akan memberi jalan. Seperti apa kata firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)
---

Pada Februari-April 2018 lalu, Pen Fighters mengadakan lomba menulis cerpen Road to Ramadhan dengan tema Berderma di Bulan Penuh Berkah. 3 juara dan 17 kontributor terpilih cerpennya akan dibukukan. Cerita yang baru saja kau baca adalah salah satu cerpen terpilih itu. Berikut penampakan bukunya hehehe.



Mar 1, 2019

Jatinewyork

March 01, 2019 0 Comments

Februari 2019.

Ketika menulis ini, hari masih siang. Waktu baru menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit. Aku menyalakan lampu kamar. Kemana perginya matahari? Sinarnya yang terik tengah hari tadi kini sudah tergantikan oleh gemuruh petir dan hujan deras yang perlahan berubah menjadi gerimis.
Aku mulai menyalakan laptop setelah menyingkirkan buku bacaanku di meja belajar. Sudah terlalu lama aku tidak menulis lagi. Padahal benakku terus merangkai kata, menuangkannya ke memo hp untuk kemudian terlupakan begitu saja. Seseorang bertanya padaku, “Kok jarang nulis lagi di blog?”. Pertanyaan itu membuatku berpikir cukup lama. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kupikir, karena aku mau membenahi seluruh postingan blog ini namun terlalu malas dan bingung memulai dari mana. Yang pasti, aku akan mulai menulis lagi. Untuk apa perpanjang masa penggunaan domain blog kalau blog-nya dibiarkan berdebu.

Di luar, hujan kembali menderas.                           
Belakangan, aku cukup banyak memikirkan kawasan tempatku menempuh studi tiga tahun lebih ini, yaitu Jatinangor. Mungkin karena tahun ini aku akan sudah angkat kaki dari kampus, rasanya tubuh dan pikiranku ‘diprogram’ untuk lebih memaknai hal-hal sekitar. Aku tidak melihat alasan dapat kembali lagi ke sini nantinya, bahkan untuk sekadar bernostalgia. Jadi, aku harus menikmati setiap detailnya selagi bisa.
Setiap paginya, terdengar kicauan burung menyapa hari yang baru. Juga bunyi sapu lidi bergesekan dengan halaman—srek-srek-srek. Aku menyukai sensasi dingin yang menjalari kulitku di kala subuh tak berselimut, atau kesegaran udara pagi yang dengan lembut menyambangi hidung. Terkadang, percikan air dingin membuat mandi menjadi urung. Sejak merasakan air di sini, air di rumahku tidak lagi terasa dingin. Di sisi lain, mulutku dua kali lipat lebih sering mengeluh gerah saat kepanasan di kota tempat tinggal, saking terbiasanya dengan hawa dingin di sini.
Kamarku tidak begitu besar, tapi cukup nyaman. Tempat di mana aku menggantungkan mimpi-mimpi dan rencanaku, foto orang-orang tercinta dan untaian kata-kata penyemangat, pada dindingnya yang berwarna pink pucat. Ini tempat terbaik bagiku untuk me-time. Mengisinya dengan menonton Drama Korea, variety show, atau sekadar membaca buku. Juga bergelung di atas kasur, bermain handphone hingga jatuh tertidur. Hah~ waktu luang adalah sebuah kemewahan.
Ketika menghabiskan waktu di luar, kepulan asap mengiringi truk-truk besar yang berlalu-lalang. Aku menyukai langit biru dengan gumpalan awan yang berarak di atasnya, seolah menaungi kota dan segala hiruk-pikuk masyarakatnya. Yaa, di mana-mana langit dan awan sama saja, sih. Tapi di sini lebih sering yang dapat terlihat, mungkin karena aku banyak berjalan juga.

Di luar sana, hujan sudah berhenti, tapi masih terdengar gemuruh petir sesekali.
Lalu, dunia perkuliahan. Sama saja sih pada umumnya. Mencurahkan tenaga serta pikiran dalam berorganisasi dan tugas-tugas kuliah. Kakiku terbiasa melangkah cepat, sebab seringnya aku—nyaris—terlambat. Aku mengenal banyak orang dengan beragam karakter, beberapa di antaranya kemudian menjadi sahabatku. Akan sangat panjang bila bercerita tentang semuanya. Yang pasti, aku senang mengenal mereka, bahkan siapapun yang pernah memberi luka.
Bicara soal makanan.. ah, bingung memulainya. Dari ujung ke ujung, bertebaran banyak sekali gerobak jajanan, warung kaki lima, hingga semi-kafe. Belakangan ini aku banyak menghabiskan waktu di Checo, real kafe yang cozy dengan beragam menu yang enak parah, menurutku. Tapi aku tak bisa sering-sering ke sana kalau tidak mau uang bulanan cepat habis 😊. Bagaimanapun, aku lebih suka sate taichan-nya Dapur Bu Lin, roti bakar Tom & Jerry, Wiscar, Chocolate Changer, Papaaus, De’Chick, Warung Suroboyo, dan Chani. Oh ya, seblak kari’am juga tuh. Enak. Sandy Delivery! Atau Kantin Mega! Aaaah tidak ada habisnya kalau membicarakan topik ini.

Oke, hujan sudah benar-benar berhenti sekarang. Hawa semakin dingin.
Jika cukup beruntung, aku akan mendapat tempat duduk di dekat jendela ketika berada dalam bus yang membawaku pulang dan pergi. Memandang langit yang masih pagi, pepohonan yang seolah berlari, atau sinar matahari yang kian terik. Aku suka bagaimana pikiranku melayang ke segala memori, mengandaikan yang tidak pernah terjadi atau mengenang beberapa kenangan yang pahit. Tak lupa juga aku membaca doa dalam hati. Terkadang, sekelebat hal-hal manis sempat membuatku tersenyum sedikit. Aku pengingat yang baik, dan aku menyimpan segala kenangannya dengan apik.
Termasuk semua tentang Jatinangor ini.
Apa yang kutuliskan di atas memang terkesan abstrak, sebab aku tidak menggambarkan Jatinangor secara spesifik. Jadi barangkali, ketika sedang ingin, aku akan menuliskannya lagi nanti. Siapa tahu bisa jadi informasi bagi mereka kelak yang akan hidup di sini sebagai mahasiswa.
Udah ah.

Feb 21, 2019

Story: Lelaki Pujaan Kintan

February 21, 2019 0 Comments
Aku memandang rombongan anak berseragam putih-merah yang tengah menyeberang jalan dengan riang. Hatiku seolah menghangat, ingatanku melayang ke masa sekolahku sendiri—belasan tahun lalu. Momen ketika perasaan itu menumbuhkan ambisi, dan membentukku menjadi seperti sekarang ini..
Lampu lalu lintas berubah hijau; aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Sementara otakku bergerak lambat, memutar kenangan cinta pertama yang kental dalam ingatan.
***
Aku menatap sosoknya dari kejauhan, sembunyi-sembunyi di balik pagar kawat sekolah. Warna-warni cerahnya balon amat kontras dengan pakaiannya yang lusuh. Ia memberikan balon-balon itu pada teman-temanku yang lain. Wajahnya kelihatan letih, tapi senyumnya terus mengembang. Seorang teman menepuk pundakku keras sekali. Aduh. Aku meringis sementara ia tertawa mengejek, “Gak ikutan minta balon?!” cibirnya sambil lalu.
Saat lainnya. Dengan napas tersengal dan kaus lengket oleh keringat aku menghampiri kawasan kontruksi di tepi jalan besar itu. Aku tahu ia ada di sana. Kutitipkan nasi bungkus yang kubawa ke pos satpam. Kusisihkan uang jajanku untuk membelikannya makanan dari warteg terlezat. Pak Satpam memandangku heran bercampur takjub, “Kamu datang lagi.” sapanya tersenyum. “Jangan kesini terus, Nak. Lalu lintas sedang ramai di jam-jam ini. Kamu dan sepedamu bisa terserempet mobil.”
Aku hanya tersenyum sopan. Pak Satpam sudah bilang begitu lusinan kali. “Gapapa, Pak. Tolong kasih saja titipan saya, jangan beritahu kalau ini dari saya. Seperti biasa, bilang kalau ini—”
“Ya ya, Bapak akan bilang ini titipan dari Bos. Bapak hapal permintaan kamu.” Lagi, beliau tersenyum maklum.
Hari-hari lainnya. Kami bertemu di persimpangan sekolah. Ia membungkuk hingga matanya sejajar dengan mataku. Sorot matanya nampak kagum. “Kintan,” ucapnya dengan suara serak yang sudah kuhapal di luar kepala. “Namamu cantik. Kamu juga cantik. Tapi, cantik saja tidak cukup untuk hidup di dunia yang keras ini. Kamu harus tumbuh pintar, cerdas, membuat bangga ayah dan ibumu.. Hiduplah dengan baik, Kintan. Jadilah versi terbaik dirimu.” Ia mengusap kepalaku lembut, lalu kembali menggiring sepedanya dan keranjang berisi cilok dagangan. Ia tidak tahu kalau aku tahu, tempat tujuannya yang berikutnya adalah kawasan kontruksi.
Kau pasti tidak bisa membayangkan bagaimana beberapa patah kata darinya, mampu mendorong seorang bocah kelas 4 SD yang pendiam sepertiku menjadi bintang kelas hingga kelas 6 kini. Menjadi favorit para guru. Dikagumi kawan-kawan. Bersemangat untuk hidup di atas rata-rata.
“Nilaimu yang tertinggi lagi!” keluh Nissa berkacak pinggang, pura-pura marah di sebelahku setelah guru kelas kami mengumumkan hal itu. “Katamu semua berkat kekuatan cinta pertama. Seribu kali aku bertanya, kamu tetap gak mau bilang siapa dia! Aku kan penasaran siapa yang bikin sahabatku berubah begini.” ia memberengut, sementara aku hanya tersenyum getir. Ceritanya cukup pahit untuk dibagikan, aku belum siap memberitahu siapapun—kecuali satu, yang kutahu takkan pernah membocorkan rahasia, namun juga sangat mengerti lebih dari yang bisa kuungkapkan; Tuhan.
Memasuki masa paling krusial dalam umurku saat itu, minggu-minggu menjelang Ujian Nasional berlalu—siangnya aku mengerjakan banyak latihan soal dan bermain di sela-sela waktu. Kemudian mengulang pelajaran dan berdoa di malam hari. Aku harus lulus ujian dengan nilai terbaik. Begitu yang selalu kutanamkan dalam diriku; dan pada Tuhan, aku meminta-Nya untuk memberiku kekuatan mewujudkan impian itu. Keberhasilan ini tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan orang yang kucintai—ya, dia. Yang perlu dicamkan, kau boleh berusaha sendiri hingga titik darah penghabisan, tapi Tuhan yang memegang kendali segalanya. Itulah mengapa aku tak pernah absen berdoa.
Hingga akhirnya, impian itu terwujud.
Hari itu tiba. Aku nyaris berlari menemuinya, dengan secarik kertas kecil bertuliskan “LULUS” di genggaman tangan. Langkahku melambat ketika kudapati sosoknya telah berada di gerbang sekolah.
“Kamu lulus.” Itu bukan pertanyaan, dia sudah tahu.
“Katanya, nilai ujianmu yang paling tinggi dari seluruh murid SD di kecamatan ini.” Ia menerawang, nadanya terkesima. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kemarilah..” Ia menekuk sebelah lututnya dan membentangkan tangan lebar-lebar, mengundangku dalam pelukannya. Saat itulah aku menghambur memeluknya—cinta pertamaku. Perasaanku campur aduk, senang dan terharu hingga air mataku membanjir di kemejanya yang kusut.
“Hebat, putriku memang hebat..” bisiknya.
***
Assalamualaikum, Ayah…” ucapku lirih, begitu sampai di tempat yang kutuju.
Kupandangi batu nisan milik Setyo Prawira Seruni—cinta pertamaku, mimpi dan harapanku, Ayahku. Ayah si penjual balon depan sekolah, seorang kuli bangunan di kawasan kontruksi tepi jalan besar, dan pedagang cilok keliling—Ia menjelma menjadi apa saja demi menghidupi putri yang ia cintai tanpa dampingan istri.
Aku ingat tubuh kecilku mengejang kaku dan lidahku kelu saat Ayah berkata selembut mungkin, “Ibumu menikah lagi. Saat itu keadaan lebih sulit dari sekarang. Kita memang berkekurangan, tapi tidak miskin. Ayah masih mampu menafkahi keluarga ini meski tidak seberapa. Tapi rupanya, ibumu tidak tahan dengan semua ini dan memutuskan untuk pergi… Ayah tidak mengizinkannya membawamu, Kintan. Ayah boleh kehilangan istri, tapi tidak darah daging Ayah sendiri..”
“Berjanjilah pada Ayah, seperti apapun keadaannya, kamu akan selalu menghormati ibumu.” pinta Ayah, seolah memahami tatapanku yang sarat akan sakit hati dan benci: Ibu meninggalkan kami.
Sejak kusadari betapa besar pengorbanan Ayah dan rasa cintanya terhadapku, aku bersumpah pada diriku akan memberinya kemewahan hidup. Aku akan tumbuh menjadi putri cantiknya yang cerdas, sukses, versi terbaik dari Kintan—seperti yang pernah ia katakan. Sayangnya, begitu cepat Tuhan memanggil Ayah. Tepat ketika aku hendak naik ke kelas 3 SMP. Membuatku sangat terluka…
Ponselku bergetar. Ada messenger dari Nissa. Ya, Nissa sahabatku sedari SD itu. Kau masih di makam? Aku sudah selesai packing, barang-barang kita sudah disatukan biar tinggal angkut. Aku menunggu di apartemen, kita masih harus belanja sesuatu agar besok di Canberra tinggal bersantai. Salam untuk cinta pertamamu!, tulis Nissa. Aku membalas, good girl! Tunggu aku pulang.
Aku menyiram batu nisan dengan air mawar, menabur bunga-bunga di atas tanahnya yang kering sambil bercerita, “Yah, seperti yang Ayah tahu, aku sudah lulus kuliah satu setengah tahun lalu. Aku sempat bekerja di sebuah perusahaan bergengsi, tapi memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Ayah tahu aku senang belajar kan? Suasana kantor yang begitu-begitu saja membuatku jenuh. Aku mendaftar beasiswa lagi, seperti waktu kuliah kemarin; dan berhasil mendapat tempat di Australian National University. Di Canberra, lho, Yah. Keren, kan?” suaraku parau oleh air mata yang mendadak keluar.
“Jangan khawatir, aku tidak sendirian. Nissa juga berkuliah di sana. Entah sudah berapa banyak tahun kulewati dengan hidup bersama dia, Ayah. Untunglah Nissa sahabat yang sangat, sangat baik. Dan, oh—apartemen kami akan disewakan selama kami tidak ada. Ayah sama sekali tidak perlu khawatir... putri semata wayangmu sedang mengukir cita-cita setinggi mungkin.”
Aku mengecup puncak nisan Ayah dan melangkah pergi. Esok aku dan Nissa akan ikut penerbangan pagi. Entah apa aku bisa pulang lebih cepat, yang pasti masa studiku dua tahun di sana. Selama aku tidak di sini, aku hanya dapat menitipkan Ayah pada Tuhan—penjaga kami yang paling kuat. Semoga Tuhan menjaga cinta pertamaku, dan.. bolehkah kini aku meminta dipertemukan dengan cinta terakhirku?

Siapa tahu? Mungkin aku akan menemukan jodohku di Canberra.


Pertengahan Juni lalu, Inspira Pustaka Aksara menggelar lomba menulis cerpen bertema 'Cinta & Doa'. Cerpen di atas adalah naskah yang kuikutsertakan, dan menjadi bagian dari 55 peserta terbaik. Kurang lebih penampakan bukunya macam di bawah ini: