Aug 12, 2018

Tentang Magang

August 12, 2018 0 Comments

Hey ho~

Kali ini aku mau sedikit menceritakan pengalamanku ketika magang di sebuah kantor. Gak lama-lama, cukup sebulan lebih aja. Cerita setiap orang mungkin berbeda, dan inilah yang kurasakan.
pexels.com

Bisa dibilang, hambatan terbesarku selama magang adalah diri sendiri.  Awalnya sulit meyakinkan diri bahwa everything’s ok, I can do this, bla bla bla. Harap dimaklum, ini semua baru bagiku dan aku punya kecenderungan mudah panik. Begitu good mindset udah terbentuk, tantangan berikutnya adalah gimana cara menjaga mood tetap baik. Agar aku gak tiba-tiba ngambek berhenti magang karena gak betah, atau harus bangun pagi di tengah liburan dalam keadaan kesal harus ‘kerja’. Uww, beginilah kalau niat gak niat.
Overall, tempat ini punya lingkungan kerja yang baik. Sumpah. Orang-orang pada welcome, tugasku juga gak begitu berat. Walaupun jam pulang pukul 5, seringkali sebelum zuhur kerjaanku beres. Must item: headset! Buat streaming drama dan lagu di Joox. Kebayang gak betapa betenya waktu hp rusak, kerjaan gue cuman ngegambar di Paint komputer dan ngambilin sedotan di kantin buat dibikin jadi bunga-bunga. NGAPAIN. Sesekali tidur juga sih di mushola.
Okedeh, ini beberapa hal menarik yang aku alami:
Day 2: Masalah Kerudung
Aku nyimak waktu seorang atasan bertanya pada karyawan muda yang udah mau habis masa kerjanya, “Kamu berjilbab udah paten, ya?”
“Iyalah, Pak.”
“Padahal kesempatan kerja kamu bakal lebih banyak kalau kamu gak berjilbab.”
Sederhana, tapi ngena. Kata-kata itu memang bukan ditujukan padaku, tapi entah kenapa sebagai perempuan aku merasa terganggu. Well, barangkali itu memang benar adanya. Yang perlu dicamkan, setiap orang punya pilihannya masing-masing. Seorang ibu-ibu menyambar, kupikir terganggu juga.
“Ya biarin lah, Pak. Justru ini ujian buat dia. Agak susah cari kerja tapi tetap berkerudung, atau gampang dapet kerja tapi auratnya kemana-mana. Masalahnya, satu langkah aja dia keluar rumah rambut keliatan, itu bapaknya bisa selangkah lebih dekat ke neraka.”
             Hmmmm no comment.
Day 4: Dinyinyirin
Pertama kalinya dikomen gak enak sama ibu-ibu. Sebut aja Bu Jengkol. Dengar-dengar emang orangnya disebelin juga sih. Singkatnya, salah satu tugasku itu merekap pengeluaran para driver. Aku agak kurang teliti, yang harusnya 41.000 malah ketulis 41.500. Nah, hal ini tuh urusanku dengan (sebut saja) Bu Nangka. Beliau baik, dengan nada lembut memintaku hitung ulang. Lah ini kenapa si Bu Jengkol tiba-tiba berdiri di sebelahku dan bilang, “Makanya diitung dulu neng jangan main ditanda-tanganin aja.”
            Reaksiku? Refleks masang muka tanpa dosa datar dan bilang, “Diitung ko.”
           Kalo emang gak ngitung sama sekali, barulah itu salah dan sila aja dimarahin. Tapi ini kan beneran itung ulang. Sayangnya keliru masukin nol sama lima. Kurang teliti.
         Aku balik ke ruanganku dalam keadaan bete. Gak dimasukin ke hati, tapi kok terngiang-ngiang (pada dasarnya gak suka aja sih sama segala bentuk per-nge-gas-an). Suasana di situ gak enak pula, para karyawan di ruangan departemenku lagi hectic sehingga rasanya semua pada sensi. Atmosfernya terasa gak nyaman, akupun kabur ke mushola dan berlama-lama di sana. Sekalian memperbaiki mood.
        Begitu balik, hal menyenangkan terjadi. PM-ku sedang marah karena sesuatu hal ke Bu Jengkol. Si ibu dipanggil ke ruangan kami dan agak digalakkin sama PM. Walaupun aku sedang berkutat dengan komputerku, diam-diam aku menyimak dan tersenyum kecil. KALIAN HARUS TAHU betapa puasnya ngeliat dia nunduk aja dengan suara mencicit ke PM gue, “Iya, Pak.. Jangan marah-marah atuh, Pak..” padahal sebelumnya dia nyinyirin gue dengan muka judes dan ngegas. HAHAHA. Kesan gue atas kejadian ini adalah, Allah bae banget seolah mau menghibur gue setelah tadi ‘ngadu’ di mushola. HAHAHAHA masih ketawa kalo inget kejadian ini.
Remeh-Temeh
Aku yang paling muda di sini. Satu-satunya mahasiswa magang. Mejaku kadang penuh makanan karena yang lain berbaik hati selalu menawarkan makanan/camilan padaku. Sehari-harinya aku cuma berpenampilan biasa, Dandan juga kagak: pelembab, sunscreen, bedak, lipstick. Walaupun tengah hari ini semua udah hilang, aku gak pernah touch up. Teuing dah kalau kayak gembel,
Wajah Yang Beragam
Aku udah dengar soal dunia kerja yang katanya begini dan begitu. Lain kesannya ketika merasakan dengan mata kepala sendiri. Aku menyaksikan sejelas itu bagaimana A dan B ngomongin C, tapi ketika ada C mereka berlaku baik. Atau bagaimana si B menggerutu kesal diam-diam pada A, dan C yang gemar cari muka. Ada bapak-bapak yang menurutku ramah dan menyenangkan, tapi ternyata dia gak disukai orang karena katanya ‘comel’ dan beda-beda omongannya.
            Bukan berarti perkuliahan gak ada hal macam ini, tapi rasanya di sini semua terasa..jelas? Mungkin akunya aja yang terlalu naif.
        Kesekian kali aku diberitahu bahwa bangku kuliah dan kerja itu berbeda. Di kuliah, aku mungkin dapat memiliki sahabat-sahabat yang terus bersamaku sampai menikah dan punya anak, tapi di sini semua itu semu. Yang ada hanya kompetisi, semua bersaing menjaga posisi atau mengincar yang lebih tinggi lewat bekerja sebaik-baiknya; cari muka menjalin relasi seluas-luasnya. Percaya atau tidak, koneksi adalah faktor pendukung. Seorang karyawan yang lebih tua menegaskan padaku, “Intinya kalau kita mampu, orang bakal mau mempekerjakan kita.”
         Itu aja sih yang mau diceritakan di sini. Cepat atau lambat, aku sudah harus menghadapi skripsi. Itu berarti sisa kurang dari setahun berkelana di Jatinangor. Aku belum mau memikirkan detail soal terjun ke dunia kerja, nanti aja kalau udah saatnya. Sekarang, mari kembali menikmati indahnya jadi mahasiswa.