Jul 23, 2018

# Karyaku

Story: Coulrophobia


14 Februari 2018 lalu Bakbuk.id mengadakan lomba cerpen & novel bertema cinta. Dari 1885 naskah cerpen yang masuk, terpilihlah 75 cerpen terbaik yang dibukukan ke dalam 3 buah antologi cerpen. Salah satunya berjudul #CintaItuApaan (Part 2), di mana karyaku termasuk di dalamnya. Alhamdulillah. Berikut kisahnya:


Cindy tidak yakin baju apa yang akan dikenakannya sore ini. Pasalnya, ia tidak tahu seperti apa tempat yang akan ia datangi. Rakas telah memberinya alamat lengkap dan menyuruhnya datang saja. Well, seperti apapun tempat tujuannya, dia tetap harus tampil cantik di hadapan Rakas, bukan?
Sembari bersiap-siap, Cindy membayangkan Rakas—cowok yang ia kenal lewat aplikasi Tinder. Cindy dan Rakas kuliah di kampus yang sama, hanya saja berbeda fakultas. Rakas mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik, dan Cindy mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. Sudah lebih dari satu bulan mereka saling mengenal, dan Cindy merasa semakin nyaman dengan Rakas.
Minggu pertama perkenalan mereka, keduanya hanya saling bertukar sapa via Tinder. Barulah memasuki minggu kedua Rakas meminta kontak line Cindy, bahkan dua-tiga kali sempat menjemputnya di kampus. Kesan pertama Cindy saat melihat Rakas, cowok itu tampak lebih tampan dari foto profilnya. Tubuhnya tinggi tegap, berkulit cokelat gelap dengan alis tebal dan garis-garis wajah yang kokoh. Namun, bukan hanya parasnya yang membuat Cindy terpikat, melainkan kepribadiannya. Setelah mengenal lebih dekat, ia tahu Rakas berpembawaan tenang, tapi cukup lucu. Ia tahu kapan harus diam mendengarkan, dan bercanda untuk menghidupkan suasana.
Cindy ingat, ketika pertama Rakas mengajukan hal yang menjadi alasan dia harus bersiap pergi sore ini.
“Aku mau menunjukkan tiga hal yang kusukai padamu, tapi kamu juga harus menunjukkan 3 hal atau kegiatan favoritmu padaku.”
“Hmm, menarik,” sahut Cindy. “Bagaimana teknisnya?”
“Simpel,” Rakas mengangkat bahu, “Janjian saja kalau ada waktu kosong, nanti aku jemput.”
“Kita melakukannya secara bergiliran?” tanya Cindy.
“Yup. Giliranku duluan. Lusa sore kamu ada waktu?”
Setelah Cindy menunjukkan dua hal kesukaannya di hari-hari kemarin, sore ini giliran Rakas lagi. Cindy penasaran hal menarik apa yang akan Rakas tunjukkan padanya kali ini. Dengan ojek online, Cindy pergi ke alamat yang dimaksud. Alangkah terkejutnya dia ketika tiba di sebuah rumah panti asuhan. Rumah itu berwarna hijau mint, dengan pagar hitam setinggi dada yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Rakas tidak mungkin menyuruhnya datang ke sini tanpa alasan; Cindy memberanikan diri melangkah masuk.
Seorang wanita berusia akhir tiga puluhan membukakan pintu dan bertanya, “Cari siapa, Mbak?”
“Eh..” Cindy menggigit bibir, tidak yakin bagaimana menjelaskannya. “Anu, Bu. Maaf mengganggu, apa mungkin..Ibu kenal kawan saya? Namanya Rakas.”
“Oalaah,” spontan Ibu itu tampak mengerti, seolah sudah ada yang mengisikinya kalau seseorang akan datang mencari Rakas. “Mbak ini temannya Mas Rakas? Mbak siapa ya namanya..” si Ibu berusaha mengingat-ingat, “Ah, Mbak Cindy, ya?”
“Iya, Bu.”
“Oalaah, Mas Rakas sudah ngasih tahu kalau ada temannya mau datang. Masuk, yuk. Sudah pada kumpul tuh di halaman belakang.”
Meskipun tidak mengerti apa yang terjadi, Cindy tetap mengikuti si Ibu ke halaman belakang. Sepertinya beliau pemilik panti ini. Ia berkata dengan nada mengajak bicara, “Mas Rakas sering ke sini. Tapi sebelumnya gak pernah bawa teman, selalu sendiri. Paling kalau ada kegiatan dari kampus baru kemari sama teman-temannya.”
“Biasanya Rakas ngapain aja kalau ke sini sendirian, Bu?”
“Macam-macam, tapi intinya mah satu—menghibur anak-anak panti sini. Bawain banyak makanan, buku-buku, atau cuma sekadar ngajak main mereka.” sahut Ibu Panti, terselip nada bangga dalam suaranya, seolah sedang membicarakan anak sendiri. Diam-diam Cindy tersenyum mendengar ini.
“Sekarang lagi ada anak yang ulang tahun. Tradisi di sini, setiap anak yang berulangtahun kami rayakan kecil-kecilan. Gak neko-neko, cuma makan besar, menunya dibikin beda dengan menu sehari-hari.”
“Waah, pantas ramai.” Cindy memerhatikan sekeliling begitu tiba di halaman belakang rumah panti. Halaman itu tidak seberapa luas, namun cukup teduh karena dinaungi pohon besar di sisi-sisinya. Ada untaian kertas krep warna-warni dan balon-balon bertebaran. Sehelai tikar bambu yang cukup lebar digelar di tengah halaman, di mana anak-anak berkumpul duduk di atasnya.
“Rakasnya mana, Bu?” tanya Cindy.
“Nanti dia juga muncul,” Ibu Panti tersenyum penuh rahasia dan mendorong pelan tubuh Cindy untuk bergabung dengan anak-anak. “Ibu ke dapur dulu sebentar ya.”
Kehadiran Cindy disambut oleh anak-anak panti yang antusias, rupanya mereka sangat senang bertemu dengan teman baru. Tidak butuh waktu lama Cindy sudah mengakrabkan diri dengan mereka, ikut duduk di tengah tikar dan bercanda bersama.
“Itu dia badutnya dataaaang!” seru seorang anak kecil kurus tiba-tiba.
Cindy yang tengah menyisir rambut seorang bocah perempuan gemuk sontak menjatuhkan sisirnya. Refleks ia mengikuti arah pandang anak-anak panti yang seketika berteriak-teriak riang. Dari arah ruang tengah, sosok badut muncul.
Badut itu tinggi tegap, memakai wig rambut kribo warna-warni, dengan wajah dipoles bedak putih tebal dan lengkungan alis yang menukik tajam. Hidungnya bulat besar seperti tomat, dan bibirnya yang berwarna merah cerah tersenyum sangat lebar. Ia memakai pakaian dua warna, merah dan hijau, serta sepatu yang terlalu besar. Di tangannya terdapat keranjang yang nampak berisi hadiah-hadiah dan properti sulap.
Sebelum Cindy bisa berpikir lebih jauh, tubuhnya telah bereaksi—reaksi spontan yang sudah sangat dikenalnya sebelas tahun ini. Badannya mulai gemetar, perlahan keringat mengucur di pelipisnya. Ia tidak sanggup memejamkan mata, malah sebaliknya, matanya membelalak lebar ketakutan; menatap lekat wajah badut yang berdiri tak jauh darinya.
Badut itu menatap Cindy balik, dengan senyuman yang Cindy anggap bengis.
Ia tak dapat mencerna apa yang terjadi, tahu-tahu badut tersebut menghampiri Cindy dalam langkah tegap dan gaya yang jenaka berbahaya. Perlahan semakin mendekat..semakin dekat..tenggorokan Cindy tercekat—ia harus kabur! Bagaimana dia dapat lari? Susah payah Cindy berdiri dengan gerakan limbung. Wajahnya semakin pucat dan keringatnya membanjir dingin. Dalam keadaan begini, badut itu kini telah berdiri persis di hadapannya.
Jangan mendekat! Tolong! Cindy membatin dalam hati. Tangannya semakin gemetar dan jantungnya bertalu-talu menyakitkan. Siapapun! Tolong aku!
Badut itu setengah membungkuk seolah memberi salam. Kemudian tangan kirinya merogoh sesuatu dari saku belakangnya, matanya bersinar riang licik ketika mengulurkan sebuah benda pada wanita di hadapannya. Mata Cindy berkunang-kunang, sebelum ia bisa melihat benda apa itu, kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang gemetaran. Detik berikutnya, Cindy pingsan.
***
Cindy terbaring di salah satu kamar milik anak panti. Meski sudah sadar, ia memilih untuk tetap memejamkan mata dan mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi. Rakas..mana Rakas? Ia membatin. Kenapa Rakas menyuruhku ke sini? Kenapa ia tega melakukannya? Cindy menangis dalam diam. Ingatan tentang badut itu begitu menyiksa batinnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Seluruh isi panti sepertinya tahu dia pingsan saat melihat badut itu.
“Kayaknya Mbak Cindy takut sama badut, Mas.” bisik suara yang Cindy kenal sebagai suara pemilik panti.
“Takut?” Rakas terdengar balik bertanya dengan nada skeptis. “Masa takut sama…”
“Bukan takut yang biasa, Mas.” sela Ibu Panti, “Mungkin kayak fobia. Anaknya teman Ibu ada lho, yang begitu.”
“Kalau benar begitu..berarti...Cindy sekarang sakit gara-gara aku.” lirih Rakas dengan nada merasa bersalah.
“Lho, kenapa jadi salah Mas Rakas?”
“Karena aku yang menjadi badut itu, Bu. Aku yang minta dia datang ke sini!”
“Itu kan memang pekerjaan Mas Rakas untuk menghibur anak-anak, bukan sa—“
Ibu Panti dan Rakas terkejut melihat Cindy seketika bangun dari tempat tidurnya. Sorot matanya menuduh Rakas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Air mata yang sedari tadi tertahan mengalir, perasaan Cindy benar-benar campur aduk. “Aku mau pulang sendiri.” isaknya sambil berlalu pergi.
***
Hubungan Cindy dan Rakas retak sejak hari itu.
Cindy enggan membalas chat Rakas apalagi mengangkat teleponnya. Rakas juga tidak mau bersikap kurang ajar dengan tiba-tiba menemui Cindy di kampus atau rumahnya tanpa seizin Cindy. Sebenarnya, keadaan ini membuat mereka berdua sama-sama frustasi.
Perasaan Cindy masih tidak menentu. Ia cukup terkejut badut yang ia temui tempo hari adalah Rakas, yang ternyata tengah bekerja untuk menghibur anak-anak panti asuhan. Mau marah tapi bagaimana? Kenapa juga ia harus marah? Rakas sama sekali tidak tahu tentang fobia badut yang ia miliki selama sebelas tahun ini. Ditambah lagi, Cindy merasa malu. Ia merasa fobianya ini sangat memalukan, meskipun trauma masa kecilnya sangat masuk akal untuk menjadi penyebab fobia tersebut. Tapi tetap saja, bagaimana bisa seseorang takut pada sosok jenaka seperti badut? Pingsan di hadapan anak-anak—dan Rakas—setelah dihampiri seorang badut?
Di sisi lain, Rakas merasa bersalah dan prihatin. Pikirnya, pasti ada trauma kuat yang membuat Cindy fobia akan badut. Dia telah melakukan sedikit penelusuran, bahkan mengontak temannya di Fakultas Psikologi untuk mengetahui lebih lanjut tentang fobia badut atau yang biasa disebut coulrophobia ini. Ia ingin segera menemui Cindy dan menyelesaikan urusan mereka. Kalaupun Cindy ingin Rakas menjauh, tidak apa-apa. Meski sejujurnya, hal itu berat untuk dilakukan Rakas.
Cindy dan Rakas, dari tempatnya masing-masing, sama-sama tengah memikirkan kedekatan mereka selama ini. Waktu yang telah mereka habiskan bersama, dan bagaimana kesan yang dirasakan keduanya. Mereka mengingat-ingat lagi program ‘tiga hal favorit’ yang dicanangkan Rakas.
Hal favorit pertama yang Rakas tunjukkan adalah ‘kegiatan memancing’. Ia mengajak Cindy ke sebuah tempat pemancingan di pinggiran kota. “Ayahku dan aku suka sekali memancing, kami biasa pergi bersama-sama sewaktu aku masih SD.” jelas Rakas tanpa ditanya. Hampir tiga jam mereka di sana dan pulang hanya dengan membawa dua ekor ikan kecil yang berhasil dipancing.
Kali berikutnya, Cindy menunjukkan dua hal kesukaannya dalam satu hari.Ia mengajak Rakas ke toko buku di tengah kota dan berkata, “Sebenarnya aku lebih suka pergi ke toko buku sendiri. Kalau sudah dikelilingi buku-buku, aku akan asyik sekali sampai lupa waktu. Temanku pernah nyaris harus menyeretku agar kami segera pulang..” Cindy berceloteh riang sementara Rakas memandangnya penuh senyum. Sepulang dari toko buku, Cindy mengajak Rakas makan di sebuah tempat bernama ‘Bakso Karso’. “Ini kedai bakso langgananku, nama penjualnya Mang Karso. Aku suka sekali makan di sini sampai-sampai Mang Karso sering memberiku minuman gratis. Asyik kan?”
Detik berikutnya, Rakas meraih ponselnya dan menelepon Cindy. Seakan tidak dapat menahan diri, di seberang sana Cindy segera mengangkat telepon. “Kita harus bertemu.” ucap Rakas langsung tanpa basa-basi.
***
“Kamu tahu gak, aku juga punya trauma.”
“Beneran?” Cindy terbelalak.
“Tapi gak separah kamu, untungnya belum menjadi fobia.”
“Memangnya apa yang kamu takuti?”
Cindy dan Rakas kini tengah duduk berhadapan di kedai bakso Mang Karso. Saat itu belum begitu ramai, hanya ada mereka dan dua orang lainnya.
Rakas terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Air.” Melihat tatapan bingung Cindy ia menambahkan, “Hanya air sungai atau empang, sejenisnya lah.”
“Apa yang membuat kamu takut? Bukannya kamu senang memancing?” tanya Cindy tidak mengerti.
Rakas menghela napas, “Kamu ingat waktu kubilang aku sering pergi memancing bareng Ayah? Ketika kelas 4 SD, aku ikut Ayah ke sungai untuk memancing. Saking tidak bisa diamnya, aku berlarian dan terpeleset jatuh ke sungai. Saat itu aku sangat ketakutan. Ayah sedang mengambil barang di mobil, dan aku tidak bisa berenang, Cin. Aku takut, aku sudah hampir tenggelam sewaktu Ayah datang untuk menyelamatkanku.
“Sejak itu, aku tidak pernah mau ikut Ayah memancing lagi. Dan aku sangat menyesal, Ayah meninggal dua tahun setelahnya. Aku menyesal tidak membuat lebih banyak kenangan bersamanya selama ia hidup.” Rakas mengarahkan pandangannya ke meja, menghindari tatapan mata Cindy yang menyorot prihatin.
“Dan itulah kenapa kamu senang pergi memancing sendirian, untuk melampiaskan penyesalanmu.” Cindy menyimpulkan dengan nada yakin. Rakas mengerucutkan bibir, “Tidak juga,” bantahnya lembut. “Aku hanya…rindu.”
Rakas mengangkat pandangannya, menatap mata Cindy lekat-lekat. “Aku mengatasi ketakutanku, Cin. Aku tidak mau trauma itu merenggut kenangan indahku bersama Ayah. Aku berusaha menjaga semua itu tetap utuh, dan aku berhasil.” tutur Rakas, ia terdengar seperti berusaha meyakinkan Cindy kalau Cindy juga bisa melakukannya, dan Cindy menyadari hal itu. Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah berusaha menyingkirkan kenangan buruk dari kepalanya.
“Kamu tahu rasanya, ketika tengah berjalan-jalan santai dengan kakak lelakimu, kemudian ada penjahat gila yang menyamar sebagai badut sedang berlari dari kejaran polisi? Sialnya, sore itu dia berlari ke arah kami. Kakakku, Mas Aga, yang begitu baik dan pemberani langsung berusaha menghentikan gerakan badut itu. Siapa yang tahu badut gila itu menyimpan pisau di balik kostum tebalnya, Rakas? Siapa yang bisa menebak sore itu kakakku ditusuk, terluka parah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit?”
Rakas tercengang, dipandanginya Cindy yang tengah menyeka sesuatu di ujung matanya. “Sejak itu..aku tidak bisa..melihat badut. Bagiku, dia akan selalu menjadi sosok pembunuh Mas Aga. Dia akan berusaha melenyapkan aku, seperti dia melenyapkan Mas Aga; begitu tiba-tiba.. sangat tiba-tiba.” suara Cindy pecah di kalimat terakhir. Cindy bukan gadis lemah, ia cukup kuat untuk menahan tangis. Air mata bukan hal yang sulit ia kendalikan.
“Maaf, Rakas.. Aku bersikap tidak masuk akal. Aku marah begitu siuman saat di panti, aku meninggalkanmu tanpa penjelasan, aku mengabaikan teleponmu. Maaf, Rakas.. itu karena aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu.” lirih Cindy, memandang Rakas dengan sedih.
Menit demi menit berlalu dalam diam. Hanya ada Rakas, Cindy, dan dua gelas es jeruk di antara mereka. Tiba-tiba, Rakas meraih tangan Cindy yang mengepal gelisah di atas meja. Cindy terlalu terkejut untuk bereaksi apapun selain memasang wajah datar.
“Aku masih punya satu hal favorit yang harus kutunjukkan padamu, akan kulakukan sekarang.” ujar Rakas.
“Aku, suka sama kamu. Aku suka kamu, Cindy.” ucap Rakas, dengan penekanan di setiap kata. “Inilah hal kesukaanku, menghabiskan waktu dengan kamu. Terlepas dari kejadian lalu, terlepas dari soal fobia yang aku dan kamu miliki, aku merasa nyaman. Aku sangat menyukai hari-hari saat kita menghabiskan waktu bersama. Aku tidak suka tidak melihat kamu atau tidak mendengar kabar darimu.”
Rakas masih menatap Cindy dengan keyakinan membara di matanya. Suaranya mantap saat berkata, “Aku ini Rakas—bukan badut. Aku juga tidak akan membuatmu melihatku sebagai badut lagi. Malah, aku akan berusaha membantu untuk menghilangkan fobiamu.”
Sudut-sudut bibir Cindy terangkat membentuk senyum. Inilah Rakas, lelaki yang ia kenal lewat aplikasi Tinder, yang berhasil merebut hatinya lewat kejujuran dan ketulusan di setiap kata dan perbuatannya. Rakas adalah Rakas, bukan badut. Ia memang terkadang menjadi badut demi untuk menghibur anak-anak panti yang sudah ia anggap sebagai adik-adiknya, tapi itu bukan masalah besar bagi Cindy. Toh, Rakas tidak mengajaknya ngedate dengan kostum tebal dan rambut kribo warna-warni.
“Aku juga masih punya satu hal favorit yang harus kutunjukkan. Kamu tahu apa itu?” tanya Cindy penuh rahasia. Rakas menggeleng menahan senyum.
“Ini,” Cindy menggerakkan tangannya yang berada dalam genggaman Rakas, mengaitkan jemarinya di antara sela-sela jemari Rakas. “Aku senang jadi pacar kamu.” aku Cindy agak malu pada dirinya sendiri.
“Tapi, aku kan belum minta kamu jadi pacarku.” Rakas tersenyum simpul menggoda Cindy yang seketika memerah wajahnya.
“Ihh! Terserah ah!” Cindy segera menarik tangannya, namun Rakas menggenggam lebih erat dengan kedua tangan sambil tertawa renyah. “Hahahaha, kebelet jadi pacar aku ya?”
Nggak!” Cindy salah tingkah, antara senang dan malu.
“Mau aku traktir bakso nggak nih?” goda Rakas lagi dengan cengiran lebar yang tak bisa ditahannya. “Merayakan hari jadi kita, hahahaha.” Senang sekali melihat gadis di hadapannya ini merengut kesal menggemaskan.
“Mau! Yang extra!” sahut Cindy riang, tak mampu menahan diri untuk tidak senang melihat laki-laki di hadapannya tampak sumringah.
Sore itu, gerimis yang membasahi bumi seolah ikut merayakan dengan sukacita hari jadi Rakas dan Cindy. Tanpa Cindy, barangkali hari-hari Rakas akan sangat membosankan. Dan bersama Rakas, Cindy merasa tidak takut apapun, karena Rakas dapat menjadi segalanya untuk dia. Mengingat Rakas bisa saja menjadi orang di balik topeng badut yang ia temui, rasa-rasanya…coulrophobia miliknya dapat berangsur menghilang.
Mungkinkah? Doain!


Cerita di atas dikutip dari buku Antologi Cerpen Cinta Itu Apaan (Part 2) Tahun 2018, Hlm. 7-15. Penerbit: Bakbuk.id

Temukan cerita menarik lainnya di buku ini ya!


No comments:

Post a Comment