Jun 8, 2018

Moody

June 08, 2018 0 Comments

Di suatu siang berhawa panas, membuatku yang sudah mandi terasa seperti belum karena lengket dengan keringat.

Udah lama gak nulis blog; selama ini Twitter menjadi tempatku meracau segala sesuatu. Dan kali ini, aku mau menjabarkan beberapa minggu kemarin yang terasa berat, kacau, dan aneh. Siapa tahu ada yang senasib (?)
pexels.com

Pertama, soal tugas-tugas kuliah.
Buat sebagian orang, hal ini gak perlu dipusingkan. Syukurlah kalau kamu termasuk orang yang seperti ini. Tapi ini bukan tentang kamu, ini tentangku yang sadar bahwa aku mudah sekali tertekan ketika ditimpa banyak tugas—dengan deadline berdekatan setidaknya. Aku menyicilnya, mengerjakan sebaik mungkin entah itu tugas kelompok atau individu. Aku tidak ‘sendiri’, seringkali banyak yang bertanya kepadaku mengenai detail pengerjaan tugas itu. Ada yang sampai datang ke kostan juga. Aku selalu berusaha untuk menghadapi dengan sabar, menjelaskan sepengetahuanku meski terkadang aku lelah sendiri. Beberapa orang mungkin menangkap sikap enggan dan nada gusar dalam suaraku ketika menjelaskan langsung atau via telepon. Sorry, but I’m human too. Seperti kata salah seorang temanku, “Lo gak bisa jadi ibu peri buat semua orang.”
Ada beberapa momen di mana aku sudah benar-benar kesal terus dirongrong berbagai pertanyaan, atau justru dalam kelompok pertanyaanku diabaikan. Jangan salahkan aku bila aku bersikap ketus. Atau sengaja tidak membalas chat, mengabaikan telepon, dan mematikan data seluler. Ketiga hal ini biasanya kulakukan pada satu orang saja,  I can say that he’s my close friend, but sometimes he annoyed me. Dia tahu itu, begitu sadar nada bicaraku sudah tidak enak ketika menjelaskan, dia akan langsung berkata, “Iya, iya, gak usah marah-marah gitu dong, Lin..” rajuknya.
“Apaan dah orang biasa aja.”
“Enggak anjir, beda...” bla bla bla bla. Dan cara bicaranya mau tidak mau membuatku tersenyum juga meski enggan.
Nah, untuk problem yang satu ini, aku pernah baca postingan viral line sejenis—tentang orang yang segitu maunya direpotin orang lain; gak bisa menolak memberi bantuan. Entah karena faktor gabut, gak enakan, sangat tidak egois, dan lain-lain. Pokoknya isi postingan itu bilang, dalam Islam, seseorang yang membantu meringankan beban orang lain akan diringankan bebannya di akhirat (kalau gak salah ingat). Hmmm…
Bisi ada yang salah paham. Sebenarnya aku tidak keberatan membantu orang lain selama hal itu bisa kulakukan. Menanggapi pertanyaan bukan hal yang sulit, yang susah adalah ketika saat itu mood-ku dalam kondisi jelek. Bayangkan rasanya, ada orang yang memintamu membantu membuat UP-nya ketika kamu sedang sibuk-sibuknya mengedit tulisan dari 11 orang berbeda untuk dijadikan satu makalah runut dan rapi. Gila, marah rasanya waktu itu. Aku menolak dengan bahasa sesopan mungkin. Terkadang, makin formal dan sopan bahasaku itu berarti aku sudah di puncak kekesalan.
Aku sadar, bukan tugas-tugas menguras waktu dan pikiran yang membuatku tertekan. Tapi, keseharianku berjibaku dengan urusan duniawi itulah yang membuatku hampa, monoton, dan terbebani. Seharusnya aku bisa menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi. Aku melihatnya sebagai cara Tuhan menegur, mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya, karena ketenangan batin memang hanya didapat lewat sana. Dan masalahku ini memang batin, psikis—bukan fisik.
Well, untuk masalah ini aku pikir solusinya adalah belajar lebih sabar dan ikhlas dalam bekerja maupun membantu orang lain. Yang terpenting, aku harus belajar tentang MANAJEMEN STRES. Apa kabarnya aku di dunia kerja kalau mengatasi stres musiman saja tidak bisa? Apalagi beberapa pekerjaan menuntut kriteria ‘mampu bekerja di bawah tekanan.’ Dan jauh di atas semua itu, tentu aku harus menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi.

Kedua, masalah moody-an.
Ugh, aku benci ketika diperbudak oleh mood. Bawaannya males ngapa-ngapain, cuma tiduran dan scrolling timeline apapun sampai kuota tahu-tahu menipis. Baca males, nulis males, ngobrol sama orang juga enggan. Di satu sisi gak mau menghabiskan waktu sendirian—berbagai paradoksitas dalam diriku yang membuat tingkahku tak karuan. Puncaknya adalah ketika aku akhirnya menangis setelah temanku bilang tidak bisa menemukan sertifikat resmi TOEFL-ku. Padahal waktu itu aku beres sholat, seharusnya pikiran relatif tenang. Yang ada, aku malah menghela napas berkali-kali sambil bergumam, “haduh, kesal, kesal” dan akhirnya sesenggukan. Culun? I don’t care what you think about it..
Selama menangis, pikiranku berkecamuk. Soal tugas, rasa kesepian, hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana… aku menangis sambil chatting dengan beberapa orang yang kupilih untuk sharing masalah ini. Aku menangis selama satu jam penuh dan sadar betapa lebih tenangnya aku setelah itu. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menangis, dan kali itu rasanya melegakan. Aku menganggap tangisan itu adalah luapan emosi yang telah lama kutahan-tahan. Ya, aku tipe orang yang lebih banyak menahan diri—dan ini tidak baik.

Ketiga, banyak hal-hal remeh yang membuat kesal.
Salah satunya ini: jadi postingan terakhirku di blog tidak terindeks google, walaupun aku sudah fetch as google, statusnya terus redirected. Padahal artikel itu kuikutsertakan dalam lomba. Aku googling dan ngulik sendiri alasan kenapa bisa begitu, dan bagaimana membetulkannya. Praktiknya cukup sulit, aku kurang mengerti. Lantas aku bertanya ke grup line square yang isinya blogger-blogger. Mulai dari yang expert sampai yang ecek-ecek kayak aku. Ada seorang yang menyahut, “Coba cari di blog google.com …. Semuanya lengkap di situ.”
Syalan.
Kalau gue nemu di google juga gak akan gue nanya ke situ :( sebel gak si. Gedek banget. Lagipula, apa gunanya ada grup kalau gak bisa dipake buat bantu solving problem seputar yang bersangkutan?? Untung gue gak kenal sama ini orang, jadi gue masih bisa nahan diri buat gak ngegas dan lebih memilih menjawab, “Hmm yaudah makasih deh.”
“Sangat informatif.” timpalnya. Siapapun dia, dia telah membuat gue malas lagi muncul di sana.
Apa lagi ya?
Kabar terkini, keadaanku sekarang sudah lebih baik. Gak terikat emosi-emosi negatif. Aku sudah lebih ringan karena sudah menyelesaikan tiga dari enam tugas akhir yang ada. Sudah lebih ceria karena bertemu dengan kawan-kawan baik di momen bukber dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Aku ke toko buku, membeli buku best-seller soal self-healing dan notebook bersampul lucu. Banyak hal yang kulakukan demi mencoba membahagiakan diriku sendiri. Kasihan dia, selama ini aku terlalu memaksanya tenggelam dalam emosi negatif.
Satu yang kusayangkan adalah, betapa cepat waktu berjalan. Aku sama sekali tidak sadar Ramadhan tinggal satu mingguan lagi. Apa-apa saja yang telah kukerjakan?