May 8, 2018

# Coretan Pena

Kisah Klasik


Seperti apa masa putih-merahmu? Menyenangkan? Sama.

Tapi bagiku, SD adalah masa-masa yang paling berperan besar dalam membentuk kepribadianku seperti sekarang ini. Tidak hanya soal bermain karet, andar-undur, atau polisi-polisian. Ini adalah masa pembuktian di mana aku mulai percaya apabila hidup kita selalu melibatkan Tuhan, maka segala urusan akan lancar.
Kamu mau tahu ceritanya?

Sama sekali tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku selalu mendapat ranking tiga besar sejak kelas 1. Pernah sekali aku tidak dapat ranking, dan entah mengapa ini terasa bagai cambuk yang membuatku merasa harus ‘merebut’ kembali posisiku. Di semester berikutnya aku langsung mendapat ranking 3. Ya, seambisius itu. Hhhh. Pada masa itu aku suka sekali belajar, aku benar-benar tidak suka mendapat nilai rendah. Namun, jangan pikir aku seorang kutu buku kurang gaul. Aku memiliki banyak teman, dan rumahku seringkali dijadikan ‘basecamp’ karena letaknya strategis.
www.pexels.com

Cerita dimulai di kelas 6.
Aku harus pindah rumah ke Bekasi. Rasanya? Sedih, aku sangat mencintai teman-temanku dan tidak mau berpisah dengan mereka. Apalagi tinggal setahun lagi aku lulus. Sebagai anak yang baru berumur sebelasan(?), aku tidak bisa menentang kehendak orang tua. Alhasil, waktu itu aku rajin sekali shalat dan berdoa, memohon entah bagaimana caranya aku tidak pindah sekolah. Rasanya mustahil. Tapi ajaibnya, Papa tiba-tiba berkabar kalau sekolah di daerah sana sudah penuh dan tidak bisa menerima siswa pindahan! Senang? Banget. Singkat cerita, aku tetap pindah rumah ke Bekasi namun tetap bersekolah di Jakarta. Dengan polosnya aku berpikir, Allah luar biasa sekali bisa memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Bullying
Boleh kubilang, kelasku penuh dengan anak-anak yang ‘bandel’. Kultur persaingannya juga sangat ketat. Teman-temanku yang terkenal pintar sekelas denganku. Aku melihat kelas lain begitu adem-ayem, tidak seperti kelasku yang gerah akan emosi dan bullying. Ya, aku juga kena bully.
Ada seorang anak bertubuh gempal yang terkenal bandelnya sejagat raya sekolah. Ini anak rese parah mengganggu hampir semua murid termasuk aku. Dia tidak membully-ku secara fisik, tapi batin. Dengan cara apa? MENCONTEK! Aku paling tidak suka dicontek, dan orang ini bahkan memaksaku mengisi lembar jawaban ulangan hariannya. Kalaupun duduknya jauh dariku, begitu guru mengumumkan adanya try out atau tes apapun, dia akan pindah duduk di dekatku. Aku takut dan tidak bisa apa-apa hingga hanya bisa menangis diam-diam.
Agak sulit dijelaskan, yang pasti bukan hanya aku yang diganggu. Dia sering membuat teman-teman lainnya baik cewek atau cowok menangis, sering ngamuk di kelas, bahkan membuat wali kelasku rasanya darah tinggi setiap hari. Ibu Meytuti guruku yang baik, terima kasih telah mengizinkan aku duduk paling depan dekat mejamu demi menghindari tukang bully itu. Ya walaupun gak mempan sih. Guru sekalipun tidak bisa menghalangi anak itu mengganggu orang lain. Lucunya, dia sempat naksir padaku dan memberikan sekotak cokelat yang tentu saja tidak kumakan.
Aku ingat ada suatu waktu di mana aku benar-benar merasa takut ke sekolah karena dia. Lalu apa? Aku gencarkan lagi shalat dan berdoa agar dijauhkan dari setan macam dia HAHAHA. Ajaibnya lagi, doaku sepertinya terkabul karena hampir seminggu aku tidak pernah diganggu lagi oleh Si Gempal. Kemudian ibadahku mengendur—namanya juga anak SD—dan entah bagaimana Si Gempal ini menggangguku lagi. Percaya atau tidak, hal ini menjadi landasan berpikirku hingga sekarang; kalau kita mendekati Allah, Dia akan memberikan apapun yang kita mau. Aku masih kelas 6 SD saat itu, tapi aku semakin yakin dan tahu ke mana aku harus meminta pertolongan.

Masa-masa sulit tapi menyenangkan.
Aku hanya bisa bilang betapa bersyukurnya aku berada pada lingkaran pertemanan yang tepat. Inilah bagian paling menyenangkan—bermain dengan teman-teman, ngumpul-ngumpul di rumah mbahku dan jajan kesana-kemari. Teman-teman perempuanku asyik dan luar biasa baik. Yang laki-laki juga sih, hanya saja banyak juga dari mereka yang kasar dan senang memaki. You know la dulu itu jamannya ngeledek nama orang tua.
Jangan lupa bahwa aku harus bepergian setiap hari Jakarta-Bekasi untuk sekolah. Bekasi-nya di ujung, daerah Bantar Gebang. Ini bagian yang cukup sulit, terlebih ketika itu kami belum punya mobil. Bayangkan sendiri, tiap hari naik motor berempat (aku, kakak, adik, Papa) berangkat nyubuh dan pulang malam hari. Kenapa malam? Setelah mengantar kami ke rumah mbah di Jakarta (dekat sekolahku), Papa harus kembali ke Bekasi untuk bekerja dan baru menjemput kami ke Jakarta seberesnya. Agak sedih kalau diingat, kami pernah jatuh di jalan raya karena Papa terlalu ngantuk untuk mengendarai motor saat malam. Kami juga pernah tersasar di jalan. Tapi bagian paling menyedihkan bukan itu..
Suatu hari, aku tidak bisa sekolah karena Papa sakit. Jelas Papa tidak bisa mengendarai motor dan menempuh perjalanan panjang. Tubuhnya meriang. Beliau duduk bersandar pada dinding dan melipat lengannya di atas lutut ketika berkata, “Kalian harus belajar yang benar, Papa udah capek-capek ngantar...”
Di balik raut wajahku yang datar, mendadak muncul ambisi yang menggelora. Bukan beban, melainkan harapan yang mesti diwujudkan; aku akan membalas jerih payah mereka. Lihat saja.

Belajar, belajar, dan berdoa
Aku pernah baca, kalau doa seorang musafir akan diijabah oleh Allah. Waktu itu, aku tidak tahu apakah aku termasuk seorang musafir karena melakukan perjalanan Jakarta-Bekasi setiap hari. Haha. Yang pasti selain tidur atau dengar radio pakai headset di hape esia express music, ketika di motor aku selalu berkata dalam hati, “Aku pengen lulus dengan nilai tinggi, bikin Papa sama Mama bangga.” “Aku sayang banget sama teman-temanku, semoga aku masuk SMP yang sama kayak mereka dan terus sekolah di Jakarta.”
Aku ingat bagaimana rajinnya diriku pada masa itu, setiap hari belajar dan terus belajar. Anehnya, aku sangat menikmati proses itu. Guruku selalu mencekoki para muridnya dengan latihan soal-soal—membuatku terlatih. Meski persaingan di kelas sangat ketat, aku tidak patah semangat. Begitu ambisiusnya aku hingga ketika kudapati hasil try out-ku di bawah 80, aku akan membalasnya di latihan berikutnya, tak tanggung-tanggung menargetkan nilai 90. Dan aku selalu berhasil. Si Gempal? Masih mengganggu, tapi aku lebih berfokus pada quality time dengan sahabat-sahabatku dan pelajaran sehingga tidak ambil pusing.
Lupa sejak kapan, tapi aku memang suka membaca buku-buku bertema agama meski itu hanya sekadar ‘tata cara shalat lengkap’ atau ‘doa & dzikir harian’. Kala itu aku mencoba mengamalkan yang dikatakan isi buku. Katanya, kalau kita shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir, kita minta apa saja akan dikabulkan. Katanya, kalau baca doa ini-itu Allah akan memberi kelancaran, menjauhkan dari gangguan, dan sebagainya. Yoweslah aku baca saja. Belajar dari pengalaman sederhana sebelumnya, kalau kita rajin shalat dan berdoa, yang dimau akan didapat.

Hasil yang manis
Meskipun selama UN berlangsung Si Gempal masih mencontek (dia mendapat tempat duduk di depanku!), paling tidak dia kuberikan jawaban yang salah.
-Enak aja gue belajar siang malem berbulan-bulan, eh orang lain maen nyalin aja!-
Oya, ketika hari perpisahan, aku dipanggil maju ke depan oleh kepala sekolah karena mendapat nilai try out tertinggi. Lupa TO provinsi apa bukan. Pokoknya, di hari pengumuman Ujian Nasional, aku kembali mendapat hadiah yang sangaaaaat tidak terduga. Tidak hanya lulus, aku juga mendapat nem tertinggi di sekolah dengan nilai rata-rata 9! Dulu aku bukan orang yang cengeng, sehingga mendapati berita seperti ini lebih membuatku syok ketimbang menangis terharu. Keluargaku? Jelas bangga. Dan aku bahagia dapat menjadi alasan kebanggaan mereka.
Walaupun di kelas aku hanya menempati ranking 3, tapi bagiku aku sudah memenangkan persaingan yang sebenarnya. Nem-ku lebih dari cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jakarta. Tentu saja keinginan ini pupus karena aku kembali harus pindah rumah—dan sekolah. Ke mana? Karawanx City. Di mana cerita-cerita berikutnya membentukku menjadi Alina yang sekarang…

Ini menjadi pengalamanku yang sangat berharga. Bagaimana kolaborasi usaha, doa, dan percaya pada Yang Kuasa mampu mewujudkan harapan paling tidak mungkin sekalipun. Kupikir, inilah yang menjadi alasan kuat mengapa aku seringkali membawa agama dalam celoteh tulisanku. Karena agama (dalam hal ini Islam) telah menjadi landasan pola pikirku sejak lama. Dan isi blog ini adalah buah dari pikiranku. Ya, sampai saat ini aku memang belum mampu menjadi muslimah yang sebenarnya. Aku juga tidak menganggap diriku sudah baik. Tapi menurutku, semua itu berangkat dari keyakinan hati dan pola pikir. Seiring berjalannya waktu, semua akan ikut baik.

Ya udah, gitu aja ceritanya.
Oh, seseorang pernah bilang padaku ketika aku berulang tahun, “Jangan bosan jadi orang baik ya.”
He don’t know how much it cheer me up to keep going to be better.
Kamu juga. Siapapun kamu, tetap semangat untuk menjadi yang lebih baik ya.

No comments:

Post a Comment