Mar 25, 2018

# Celotehan

Sibuk Sendiri


Rasanya mumet banget.

Aku tipe orang yang harus bicara atau menulis untuk menjabarkan pikiran, biasanya kalau mumet begini langsung chat temen buat sharing, tapi kali ini rasanya gak nemu temen yang pas buat bicara soal ini. Mungkin karena sebenarnya aku gak butuh tanggapan, melainkan hanya ruang untuk menumpahkan segalanya. Lalu—tada—ingat punya blog untuk menuangkan semuanya~~ gak perlu nyampah di close friends’s story atau caption second acc IG.

Jadi begini, aku sadar betul betapa sibuknya aku di semester ini. Selain berfokus menjaga absensi tiap matkul sebisa mungkin 90-100% untuk memulihkan IPK yang sempat kesandung, aku harus memikirkan mau dibawa kemana UP-ku setelah SK dosen pembimbing keluar. Kertas berisi calon nyawa skripsiku itu berlum tersentuh sama sekali. Bodo amat.
Sebenarnya semua itu kesibukan biasa, namanya juga mahasiswa. Kesibukan yang memenuhi kepalaku adalah suatu jenis kesibukan yang disebut sibuk sendiri. Nyahaha.
www.pexels.com
Awalnya aku sempat ragu mendaftar badan eksekutif fakultas, nilai semester sebelumnya membuatku berpikir tiga puluh kali sebelum memutuskan. Kemudian pada suatu siang aku melihat pengumuman oprec badan eksekutif univ, beberapa teman yang kukenal keterima di sana. Seketika aku merasa….cemburu. Dalam artian begini, keraguanku untuk aktif di organisasi lagi karena semester lalu aku sudah berkecimpung di banyak kepanitiaan dan mengisi posisi-posisi cukup sentral—aku pikir itu cukup, dan aku bertekad menjauhi hal-hal non-akademik yang sekiranya ‘mengganggu’ kuliahku. Tapi, lihat mereka yang tergabung dalam organisasi univ, mereka maju dan melakukannya saja—tak peduli status mahasiswa tingkat akhir atau bukan (tingkat akhir ya, bukan semester akhir). Lagipula, aku belum pernah berkontribusi di organisasi atau kepanitiaan tingkat fakultas, aku paling tidak bisa melewatkan kesempatan. Kepengurusan tahun ini adalah kesempatan terakhirku untuk bergabung. Sekarang, atau tidak sama sekali
Dilema di antara dua pilihan itu memang hal biasa ya, tapi buat seorang labil-plinplan-overthinking like meeehh yang kayak ginian aja perlu istikhoroh dulu. Nyahahaha. Well, aku gak akan sanggup menghalau bayang-bayang penyesalan kalau kemarin itu batal daftar, jadi lebih baik aku daftar dulu aja sebagai bentuk ikhtiar dan hasilnya biar Allah yang memutuskan. Toh, Dia yang paling tahu mana terbaik buat kita.
Dan, voila. Aku tergabung. Bersyukur. Btw, aku percaya semua orang yang pernah kita temui di hidup kita itu ada alasannya. Daun yang jatuh aja udah diatur Allah, kita sesama manusia saling kenal juga pasti udah diatur Allah.
Ini juga kesibukan biasa sih, namanya juga mahasiswa. Pegiat organisasi mah hal yang biasa.

Bentuk ‘sibuk sendiri’-ku adalah, sibuk dengan hobi.
Yup, nulis.
Kegiatan nulis ini rasanya addict gitu, kayak kerinduan terhadap sesuatu yang sangat dicintai tapi udah lama gak ketemu—menggebu-gebu. Kan ini sebenarnya hobi dari SD, tapi semasa penghujung SMA sampai pertengahan kuliah hilang-timbul gak ditekuni lagi. Kemudian baru pas liburan kemarin aku kembali jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis melalui blog ini.
Aku bergabung ke dalam writer community dua platform berbeda. Yang satu, total postingan artikelku yang berhasil dibagikan sudah mencapai 800. Yang satu lagi masih 0, proses moderasi oleh pihak editornya lama banget sumpahhhh bulukan gue nungguinnya. Tapi kabarnya bakal dipublish awal April. Makan sebulan. Ya sudahlah.
Aku sangat menyenangi kegiatan ini, aku menganggapnya sebagai bentuk pelatihan menulis. Kalau tulisanku dibagikan sebegitu banyak, berarti paling tidak apa yang kutulis cukup layak untuk dikonsumsi pembaca. Masih belum ada apa-apanya sih dibanding orang-orang di luar sana, 800 total share sungguh masih jauh dari ‘banyak’. Karena segitu aja aku masih ranking ke 2.670 dari keseluruhan author……… Tapi aku selalu mensugestikan diri dengan rasa syukur—bersyukur tulisanku sedikit-banyak bermanfaat bagi orang lain.
Cita-cita lahir batin: menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Kesibukan lainnya adalah…..belajar.
Belajar di luar topik terkait jurusan. Not about sociology, no no no.
Sekarang ini semangat belajarku sedang menggelora, sampai-sampai aku agak kewalahan mengondisikannya agar gak mengganggu prioritas pembelajaran—kuliah, jelas. Mulanya, aku mengambil semacam ‘kursus online’ tentang Pengenalan Ekonomi dan Keuangan Islam, Pengenalan Broadcasting for Television, dan Public Speaking. Tapi yang kelas broadcasting udah di-cancel, walaupun aku senang ngepoin ketiga topik pembelajaran itu, tapi aku gak mau membebani diri sendiri. Sistem kursus ini belajar selama kurang lebih sebulan, dan di tiap minggunya ada tes. Ada ujian akhirnya setelah satu bulan, dan kita bisa dapat sertifikat kalau tes dan ‘UAS’ itu lolos dengan tingkat keberhasilan minimal 50%. Tapi, untuk memiliki itu kita harus bayar 250.000 hahahaha :(
Selain itu, aku juga lagi senang belajar bahasa. Via apa? Online dan gratisan pastinya. Ha. Lumayan sih buat ngisi-ngisi waktu luang dengan hal berfaedah. Aku mengambil bahasa Jerman, Inggris, Turki, Korea, dan Perancis. Tadinya gak mau ngambil banyak-banyak, tapi ya udahlah ya kayak main game aja, lagipula yang satu ini gak memberatkan sama sekali. 100% menghibur. Gak ada unsur tes-tes kaya yang di atas. Dan lagi, kalau ngeliat forum diskusinya, orang-orang di belahan bumi mana-mana yang belajar di situ ngambil pelajaran bahasa lebih banyaaaaaaaak banget. Nyampe pusing gue baca display name mereka. Bendera-bendera bahasa yang dipelajari tuh muncul gitu di sana.

-Asli, sampai sini mumetku hilang, nulis itu bener-bener jadi obat banget deh-
Seperti biasa, kebanyakan apa yang kutulis di sini kuanggap sebagai cara berbicara ke diri sendiri. Setelah mengintrospeksi diri lewat tulisan ini, aku tahu aku tidak sedang ‘sok sibuk’ atau sok-sok yang lainnya. Aku tengah mencoba menjadikan sisa-sisa status mahasiswaku yang tidak terasa akan segera usai ini tahun depanaamiin!menjadi lebih produktif. Beberapa waktu belakangan ini aku baru sadar betapa belajar itu penting; menggeluti hobi juga penting, tapi tidak wajib. Banyak juga orang yang melakukan hobinya hanya sekadar untuk bersenang-senang dan memuaskan diri. Yaa, kayak aku ngeblog sekarang ini. Kecuali kalau aku mengelola ini blog sedemikian rupa, perbanyak konten yang ‘menjual’, dapat adsense, banyak pengunjung, atau artikel-artikel yang kukirim ke laman tertentu memberi bayaran—itu sih asyik, seindah-indahnya goals. Apa yang kita lakukan menyenangkan diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Sayangnya, hidup gak semulus itu. Apa yang kita mau gak selalu bisa didapat dengan gampangnya. Tapi kuncinya dua sih, usaha dan berdoa. Sisanya serahin ke Tuhan, karena Dia yang lebih tahu mana yang terbaik buat kita. Iya ngetik gini mah gampang, nyatanya enggak :( Tapi paling nggak dengan menanamkan hal ini kuat-kuat ke dalam hati, kita harusnya berasa lebih ringan jalani hidup. Harusnya..
Intinya sih, semangat belajar atau apapun yang niatnya baik maka itu bagus. Tapi harus dikondisikan agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ada baiknya semua diatur sedemikian rupa supaya berjalan baik, terfokus, dan gak berkewalahan. Ehm, berkewalahan adalah bahasaku sendiri, jangan ditanya apa artinya. Setelah segala kepentingan bisa dikondisikan dan ‘terjadwal’, maka langkah selanjutnya adalah disiplin. Bagaimana kita mampu me-manage waktu dan diri sendiri agar segala kesibukan itu tidak mengganggu satu sama lain. Sibuk gak cuma sibuk, tapi menjadi produktif.

Satu yang aku takutkan, sebegitu sibuknya dengan urusan dunia membuatku lupa pada akhirat. Atau paling enggak, sibukku itu nirfaedah. Bukan sok alim, bukan juga sok-sok lainnya, tapi..bukankah sudah seharusnya? Gak tahu sih dengan orang-orang lain di luar sana termasuk kamu, tapi aku suka berpikir begitu. Dalam satu hadits Rasulullah dikatakan, pada hari kiamat nanti kita akan ditanya tentang umur, untuk apa kita habiskan umur tersebut.
Gak mungkin kan jawabannya nonton maraton drama Korea, scrolling timeline medsos manapun, atau swipe instastory  sampai mentok?


No comments:

Post a Comment