Mar 2, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Catatan dari Alan

2.

Itu dia yang di sana. Menarik perhatianku. Cukup manis. Aku suka.
www.pexels.com
Desember.
Kawanku bersikap kurang ajar. Membajak ponselku dan bertanya, berkenankah kau jadi pacarku. Begitu kau mengatakan ya, dia langsung menuliskan namamu di statusku. Akh! Sungguh, aku memang menyukaimu! Tapi, ini terlalu cepat. Aku tak bisa menarik kata-kata itu, kau akan sakit hati bila tahu itu bukan dariku.

Maret.
Aku dan kau yang berpacaran, lantas mengapa mereka repot-repot mengurus kita? Maksudku, teman-teman berkomentar ketika aku meghampirimu. Pun ketika aku bersikap cuek padamu. Aku tahu tak seharusnya mendengarkan perkataan orang lain, tapi itu membuatku tidak nyaman. Enggan bersamamu di depan orang banyak. Aku tahu kau sudah berusaha memahamiku, tapi aku tak dapat menjanjikan apa-apa.

Mei.
Ah, rasanya sepi sekali. Tapi bukan kau yang ingin kuhubungi. Percakapan kita terasa tak ada maknanya, hanya basa-basi belaka. Walau kau selalu memerhatikanku, maaf aku tidak bisa menghidupkan suasana seperti yang biasa kulakukan dengan teman-temanku. Aku bertanya-tanya mengapa bisa begitu. Apa karena itu kau?

Juli.
Hubungan apa ini namanya? Semua tahu kita bersama. Tapi rasanya hambar. Aku tak kuasa menyakitimu, kau terlalu baik. Namun, aku juga tak bisa menyenangkanmu, meski aku berusaha untuk itu. Aku mulai jengah, hobimu spam chat membuatku risih, padahal kau berbuat begitu karena aku yang selalu bersikap tidak peduli. Miris, kau bagaikan mengemis perhatianku. Maafkan aku, sungguh! Kenapa tak kau enyahkan saja aku? Mengapa kau begitu sabar padaku? Bencilah aku! Kau lebih baik tanpaku..

Oktober.
Cepat atau lambat aku harus mengakhirinya. Ah iya, sebentar lagi kau berulang tahun. Biarlah kubuat senang dulu dirimu. Sebagai balasan kebaikanmu 4 bulan lalu, memberiku kejutan dan hadiah buatan tangan, yang jelas tiada duanya.
Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bahagia dengan kejutan itu.. aku makin tak kuasa untuk mengakhiri hubungan ini lebih dulu.

Kita sama-sama tersiksa.
Aku, yang ingin lepas darimu.
Kau, yang menghabiskan seluruh energimu untuk memahamiku, sabar terhadapku, tidak menuntut apapun kecuali hanya secuil perhatian dariku.

Aku memang pengecut.
Pengecut yang tak berani terus terang ketika kau bertanya,
“Jadi maumu apa?”

Pengecut yang lalu dengan tega mengatakan,
“Aku sudah bosan. Aku tidak nyaman dengan ini. Lebih baik cukupkan sampai di sini.”

Pengecut yang menolak menemuimu ketika kau berkata,
“Kita boleh putus. Tapi katakan itu di depan wajahku. Setidaknya sekali, biarkan kita menyelesaikan masalah bukan via aplikasi.”

Si brengsek yang langsung menghapus namamu di statusku keesokan paginya, padahal kau belum selesai bicara tentang hubungan kita.
Aku bisa lihat, kau bukannya tidak ingin putus denganku. Kau hanya ingin, sekali saja dalam sembilan bulan yang sia-sia ini , aku memperlakukanmu dengan baik: mengakhiri semuanya sebagaimana layaknya.

Barangkali kau ingin aku menawarkan pipiku untuk kau tampar, meski kau takkan tega melakukannya. Atau mungkin kau hendak menarik kerahku, marah dan menangis; membuat rasa bersalahku menjadi-jadi.

Sudahlah. Aku ini si brengsek yang harus kau lupakan, aku tak pernah memberimu cinta, hanya melatih terus kesabaranmu dan memberi luka. Maka berbahagialah selepas ini.
Kuharap kau cepat memiliki pengganti.

Seperti aku sekarang ini.

No comments:

Post a Comment