Mar 18, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Bucin yang Posesif (2)


Halo, dengan aku lagi di sini..

Masih bercerita tentang zaman-zamannya bucin.


Aku percaya, seburuk-buruknya orang memiliki sisi baik. Atau dibalik, selalu ada kebaikan dalam diri setiap orang. Aku juga melihat hal baik di balik perangai Galon yan buruk. Tapi nyatanya, yang paling berkesan padaku bukan kebaikan-kebaikan Galon, tapi perbuatan buruk yang dia lakukan.

Switch to gue-lo.
Mungkin kala itu, gue terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi Galon, sampai lupa kalau gue punya kehidupan lain di luar cinta-cintaan. Di penghujung tahun ajaran pertama, sekolah gue mengadakan pagelaran. Event ini menjadi kompetisi antarkelas. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hari gue disibukkan dengan latihan dan ngumpul bareng teman-teman kelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Gue begitu menikmati kesibukan baru ini hingga mengesampingkan Galon.
Galon adalah tipe cowok yang bisa jadi ganjen ke cewek-cewek lain kalau pacarnya gak posesifin dia. Aduh, gimana ya ngebahasainnya. Istilahnya kalau kita gak ngekang dia, dia bakal ngeloyor kesana-kemari. Makanya dulu gue bersikap posesif ke dia, karena dia duluan yang begitu ke gue sehingga gue merasa berhak posesif balik ke dia. Ibaratnya, lo aja ngekang gue, masa gue biarin lo bebas?

Kesibukan gue membuat gue yakin si Galon ini mencari ‘penghiburan’ ke yang lain. Tapi saat itu, gue gak peduli. Bodo amat juga kalau dia mau selingkuh (lagi). Saat itu hidayah gue muncul; gue berpikir, gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Gue masih SMA, cowok gak cuma dia, dan yang lebih baik banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda gue buat hal yang sia-sia? Dan gue bertekad bulat mengakhiri hubungan ini.
Gue sadar ini gak bakal mudah; Galon gak akan segampang itu mau putus dengan gue. Bisa dibayangkan pertengkaran macam apa yang harus gue hadapi. Tapi ketika itu, gue gak takut—begitu bersemangat menjadi jomblo! Sama sekali gak ada faktor orang ketiga, atau cowok lain yang menarik perhatian gue. Murni gue ingin melepaskan diri dari ikatan ini dan mulai mencintai diri sendiri dengan benar.
www.pexels.com

Sepertinya Allah merestui niat gue karena tiba-tiba aja gue dapat kabar dari teman SMP kalau Galon nembak cewek lain! Teman gue ini cukup akrab dengan gue jadi gak mungkin juga dia bohong. Apalagi dia bilang dia punya bukti screenshootnya (waktu itu udah pake BBM dan lagi hits aplikasi screenmuncher/grabscreen wkwk). Gue gak peduli benar atau nggak, yang pasti ini bisa jadi alasan untuk lepas dari Galon.
Lupa persisnya, waktu itu masih jam sekolah dan belum ada guru. Tanpa ba bi bu lagi gue bbm Galon dan mulai menyelidik bla bla bla yang ujungnya minta putus. Reaksinya jelas—dia menolak mentah-mentah. Galon ngotot kalau dia gak selingkuh atau apalah itu, saking seringnya bohong udah gak bisa bedain lagi mana yang jujur dan bohong.
Gue menjabarkan lebih detail alasan ingin putus. Gue gak suka dibohongi. Gue gak suka diperlakukan kasar; disebut anj*ng, t*i, go*lok, atau b*ng*at. Gue manusia, terlebih seorang perempuan yang berhak diperlakukan baik-baik. Kalau gue memang sosok yang begajulan dan kurang ajar, bolehlah dia hina gue sebegitunya. Tapi selama itu kan gue berusaha menjadi orang yang baik buat dia. Ngasih dukungan, mau bersabar, terus memaafkan, gue bahkan gak pernah menuntut diperlakukan istimewa—hanya sewajarnya.

Dia keukeuh gak mau putus.
Dia bilang bakal nungguin gue di luar sekolah atau datang ke rumah. Dia ‘meneror’ gue selama seminggu. Teror di sini bukan hal jahat yang berbahaya, hanya mengganggu. Dia bahkan menelepon ketika jam pelajaran sekolah, gue pernah nendang meja kelas saking dongkolnya. Dia mengirim sms, chat bbm, voicenote, belum lagi update status di twitter dan facebook tentang gue. How annoying it was, really.
Mungkin kalian berpikir tinggal diblok atau diabaikan aja, tapi sayangnya gak semudah itu. Gue takut dia malah makin menjadi-jadi.

Puncak kemarahan gue adalah pada suatu siang di rumah. Gue pergi ke kamar waktu dapat telepon dari dia, gue angkat tapi gak ngomong apa-apa. Diem aja sampai dia muak sendiri.
Lupa persisnya, tapi ketika itu gue ngelempar boneka gue ke lemari kamar saking kesalnya dan mengumpat, “anj*r ngeselin banget sih lo!” Maaf, waktu itu gue merasa jadi pribadi yang agak kasar, tapi cuma saat berinteraksi sama dia doang. Teori gue sih karena dia sering ngasarin gue, dan refleks gue mengembalikan apa yang gue terima. Bisa jadi juga karena terpengaruh oleh dia. Dan tahu gak apa katanya setelah gue bilang begitu?

“Lin..kamu kan perempuan, gak boleh ngomong kasar kaya gitu..” ucapnya memelas.

Gue bahkan gak bisa menggambarkan betapa tambah marahnya gue saat itu.
Gue bukan tipe orang yang bisa marah blak-blakan, alhasil badan gue panas dingin nahan emosi yang meluap-luap. Gue sangat marah sama dia sampai gak sanggup lagi buat nangis. Gue berkata dengan nada sangat rendah dan lambat-lambat, “Heh, lo tau kan gue perempuan? Tau? Kalau lo tau, terus kenapa selama ini lo memperlakukan gue kasar, nyebut gue anj*ng dan sebangsanya. Lo gak berhak sok ngingetin gue kayak gitu sedangkan diri lo itu brengsek.” Sebelum gue selesain omongan itu dia udah menyela dan minta maaf, terus memohon buat balikan dan mengobral janji gak akan kayak gitu lagi.
Karena gue lelah dengan teror ini, gue bilang aja ‘terserah!’ dan dia langsung mengartikan itu sebagai tanda balikan. Dia memang berubah menjadi sok baik, rajin ngehubungin gue walau gue gak pernah balas lebih dari dua kata dan gak pernah nanya balik. Siapa suruh maksa balikan orang yang udah gak mau lagi. Biarin aja sampai dia muak sendiri.
Gak lama gue dikabarin kalau dia ‘berulah’ lagi. Gak peduli ini beneran atau nggak, gue jadikan ini alasan putus lagi. Prosesnya lama lagi, tapi akhirnya fix kali ini gue bebas..

Welcome freedom.
Gue menjelma menjadi jomblo yang berbahagia. Hahahaha.
Bebas berteman dengan siapapun, dan banyak menghabiskan waktu untuk teman-teman tercintah dan aktif di organisasi sekolah. Yang paling penting, gue belajar mencintai diri sendiri dengan benar--menjauhi hal-hal negatif serta menyerap dan menyebarkan energi positif.

Ada yang pernah bilang ke gue, kalau kita gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi, bagaimanapun juga itu bagian dari masa lalu. Satu-satunya penyesalan gue adalah kenapa gak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Kalau udah merasa bahwa hubungan itu merugikan dan gak membawa pengaruh baik ke diri sendiri, lebih baik disudahi. Gak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan cinta. Halah, maaf-maaf nih ya, ada baiknya dipikir lagi; jangan-jangan kita bukan tengah ‘memperjuangkan’ melainkan hanya bertahan dalam kebodohan.
Tapi, yang gue katakan itu hanya berlaku di hubungan macam cerita ini; gak sehat, bikin tertekan, ngebatin, ngabisin masa muda. Gue gak menggeneralisir berbagai bentuk hubungan pacaran yang ada di bumi. Siapa gue, cuma berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya.
Setiap orang punya ceritanya masing-masing, dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Ada istilah ‘hasil tidak akan mengkhianati usaha’, tapi, dalam hidup ini sebenarnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Misalnya kayak gue yang mengatasnamakan perasan berusaha sabar menghadapi kasarnya dia dengan harapan nantinya berubah dan bla bla bla, padahal sebenarnya yang gue lakukan sia-sia aja. Sekuat apapun berusaha, tetap aja yang ngatur itu Allah, Dia lebih tahu kalau gak seharusnya kita jadi bucin.

Untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang mau memperjuangkan kamu?

No comments:

Post a Comment