Mar 14, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Bucin yang Posesif (1)

Beberapa waktu lalu, aku menonton film Posesif-nya Adipati dan Putri Marino. Lalu, ada yang bikin kepikiran setelah nonton itu. Bukan cuma gantengnya Adipati, tapi juga kisah ‘posesif’ versiku sendiri.

-Btw, sebenarnya, ketika nulis aku lebih suka nyebut aku-kamu daripada gue-lo, tapi aku gak bisa ber-aku-kamu tanpa gaya bahasa yang baku. Sedangkan cerita ini lebih ngalir pakai gue-lo dan gak baku—skip-

Kayaknya, memang akan ada fase ‘bucin’ (budak cinta) di hidup setiap orang ya? Saat di mana kita merasa cinta banget sama sesuatu atau seseorang hingga mau bersusah-susah unfaedah demi dia. Umumnya nggak salah sih, tapi menurutku hal ini menjadi nggak benar kalau kita sampai mewajarkan hal yang salah dan membuat rugi diri sendiri.
www.pexels.com

Edisi flashback. Switch to gue-elo.
Gue pernah punya pacar, sebut aja namanya Galon (bukan Alan ko, hehe). Gue terlalu terpaku pada kenyataan kalau dia adalah orang yang gue sukai. Bagaimanapun buruk tingkahnya, dia tetaplah dia. Dan gue adalah orang yang mampu bersabar untuk dia. Begitulah dulu gue memandang kami. Saking sukanya, gue menutup mata dari sifat asli yang Galon miliki; egois, kasar, dan posesif. Maafkan, waktu itu gue masihlah seorang anak SMA labil yang baru memiliki perasaan sesuka itu pada lawan jenis. Kayaknya belum ada istilah bucin waktu itu, but yesh now we call it bucin.
Kami pernah bertengkar di lapang terbuka, ditonton oleh beberapa orang sekitar. Dia hampir menyeret gue pergi dari hadapannya dan membentak-bentak nyuruh gue pulang. Asalnya karena gue ngebalas sms dari seorang cowok. Sebelumnya gue memang mengiyakan permintaan dia untuk gak akan ngebalas sms orang itu, tapi gue balas juga akhirnya. Saat itu kami belum jadian (belum pacar aja udah semarah itu..) dan gue pikir gak ada salahnya kontekan dengan siapapun selama isinya nggak ‘aneh-aneh’. Singkatnya, ketika itu gue minta maaf, walaupun gue tetap berpikir dia nggak punya hak membentak gue di depan orang seperti itu.
Setelah gue pergi, dia update status yang isinya menyuruh gue untuk mati aja. Hm, alhamdulillah masih hidup dan sehat walafiat sampai sekarang. Btw, waktu itu zamannya main facebook, update status udah kayak nulis diary, no privacy.
Singkat cerita, akhirnya kami jadian (iya, bodoh). Kalau kalian baca artikel sebelumnya yang blokir mantan, di situ gue bilang kalau ingatan gue tajam berkaitan dengan memori yang menyangkut emosi. Ya, gue masih ingat juga beberapa kejadian dalam masa pacaran ini. Sejujurnya, ini adalah luka lama yang sangat dalam—lol. Tapi B aja sih, udah berlalu juga.

Terkadang dia membuat gue was-was; meskipun kami berbeda sekolah, somehow dia tahu aja apa yang gue lakukan. Seperti kejadian waktu itu, salah satu teman cowok yang kabarnya naksir gue ngajak foto bareng. Gue menolak halus, agak takut sama Galon yang cemburuan. Tapi karena keadaan, akhirnya gue mengiyakan ajakan itu. Toh fotonya juga gak dekatan, ada jarak lumayan di tengah-tengahnya. Dan di sinilah…
Malamnya, gue dan Galon smsan. Karena hari itu gue menjadi panitia event di sekolah, gue pulang petang dan kecapekan. Ketika perbincangan berjalan santai, tiba-tiba doi nanya, “Ada yang mau diceritain gak?”
Di sini gue merasakan firasat buruk—hawa-hawa mau berantem. Gue memilih menjawab, “Gak ada kayaknya. Kenapa?”
Kalian harus tahu, saat itu gue lagi capek banget, gue males berantem yang ujung-ujungnya cuma bikin gue tertekan. Lagipula, sekalipun gue jujur bilang ke dia kalau tadi diajak foto bareng, dia bakal tetap marah.
“Yakin gak ada?” Fix ini dia tahu.
“Iya, kenapa?” Gue siap-siap.
“Oh jadi foto bareng sama **** bukan apa-apa ya. DASAR TAI LO BANGSAAAAAT!”
Reaksi gue ketika membaca sms itu adalah: menghela napas panjang.
Gak perlu tahu lanjutnya gimana. Yang pasti, begitulah dia kalau marah. Semua yang di kebun binatang keluar. Dia bakal terus marah walaupun gue udah minta maaf—nyaris ngemis—baik-baik.

Di sini gue gak bermaksud menjelekkan dia dan serta-merta menjadikan diri gue ‘korban’ sedangkan dia selalu melulu jadi ‘orang brengsek’. Namun faktanya, pertengkaran kami memang seringkali terjadi karena dialah sumber masalahnya. Entah main dengan cewek lain tanpa sepengetahuan gue atau ketahuan bohong. Siapa sih yang suka dibohongin?

Pernah tuh, ada cewek yang ngirim message di facebook gue, “Emangnya ini beneran pacarnya Galon?” Gue balas, “Iya, ini siapa?” Belum direspon.
Malamnya, gue cerita ke Galon tentang ini. Dia bilang, dia gak kenal sama cewek itu. Anehnya, besoknya gue gak nemu pesan cewek itu di facebook gue. Bahkan gue gak bisa menemukan akun dia di kolom search. Simpulannya cuma satu; Galon buka fb gue dan ngeblokir atau-entah-apa akun si cewek itu. Iya, waktu itu kami saling tahu password akun masing-masing. Ha. Sebelumnya Galon bilang dia gak kenal dengan cewek itu, logikanya aja, kalau gak ada apa-apa bahkan gak kenal, ngapain dia harus bertindak begitu?
Banyak lagi cerita sejenis kayak di atas, tapi gak perlu di bahas. Yang pasti, hal ini gak terjadi sekali-dua kali.

Pernah, pertengkaran semalaman gue dengan Galon berlanjut sampai pagi. Gue datang ke sekolah dengan muka kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Moodbreaker banget emang si Galon. Kayaknya istilah ‘pertengkaran’ kurang tepat deh. Karena jika begitu, dua pihak sama-sama marah, sedangkan ini dia yang marah-marah dan gue cuma bisa ngalah. Mungkin terlihat betapa bodohnya, betapa mau-maunya diperlakukan kayak sampah oleh orang yang katanya ‘pacar’ kita. Tapi saat itu, gue masih abege labil yang bucin—buta cinta. Demi mengakhiri pertengkaran kami, gue harus siap mengalah walaupun sebenarnya gak salah. Karena apa? Galon itu egois banget—walaupun dia tahu dia salah, susah buat dia minta maaf.
Pagi itu dia sms begini, “YA UDAHLAH PUTUS AJA!”
Gue, zaman itu, sebisa mungkin gak mau putus. Jawabannya tiga; gue bodoh, ababil, dan bucin. Selagi bisa diselesaikan baik-baik, gue pikir gak perlu sampai putus. Sebuah kenaifan. Tapi pagi itu, gue udah capek. Gue merasa terbebani dengan pacar gue sendiri. Gue lelah dengan semua drama alay ini. Teman-teman kelas gue juga sangat mendukung untuk putus, apalagi chairmate gue. Alhasil, gue ketik sms dengan nada menyerah yang pasrah, “Ya udah kalau emang maunya begitu………”
Dan tahu balasannya apa?
“OH GITU JADI UDAH GAK SAYANG LAGI SAMA GUA!!!”
Uhm, what the hell. Agak geli kalau diingat.
Gue bertukar pandang heran dengan chairmate. Loh? Kan dia yang minta putus, terus gue iyain. Lalu kenapa sekarang dia malah tambah marah?
Dari situlah gue tahu. Sebenarnya dalam hubungan ini yang lemah itu dia. Dia yang gak bisa putus dengan gue. Dia berpikir kalau gue akan selalu mengalah dan mau bersabar buat dia. Semua ancaman putusnya selama ini hanya gertakan, dia pikir gue akan selalu menolak mentah-mentah untuk putus. Dia gak sadar akan kemungkinan, kalau gue bisa mencapai titik muak.

Suatu hari dia pernah marah (lagi) karena cemburu. Dia membentak gue di toko buku. Matanya merah saking marahnya, “Ngapain di sini?!” tanyanya dengan nada menghardik yang kasar. Gue ingat ada kakek-kakek di dekat situ yang langsung mencuri-curi pandang ke arah kami. Sakit sih kalau diingat, seumur-umur gak ada yang pernah berani berlaku sekasar itu ke gue kecuali dia.
Setelahnya, kami makan di J.CO. Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba dia berubah baik lagi (masa gara-gara makan manis-manis?). Gue mengunyah donat gue dalam diam sementara dia tersenyum dan bertanya, “Kenapa? Kok diem aja?” dan sesekali bergumam, “Enak yang ini..”
Gue syok. Asli.
Mata gue langsung berair dan detik itu juga gue mau nangis saking marahnya. Ini orang abis ngebentak-bentak gue, dengan senyum malah nanya ‘kenapa’ tanpa minta maaf sama sekali!
Gila emang.
Saat itu hati gue rada terketuk. Gue bagai bertanya pada diri sendiri, “Lo sebenarnya lagi ngapain, Lin? Pacaran sama orang kayak gini, buta ya?”
Sayangnya, ‘hidayah’ itu gak berlangsung lama. Galon marah lagi abis makan donat, dia mengantar gue pulang dan kami berpisah dalam diam yang sangat tidak nyaman. Dengan kebodohan khas gue waktu itu, gue malah sms minta maaf ke dia.
MINTA MAAF.
Harusnya dia yang minta maaf! Kalau diingat lagi, jadi kesal. Itu adalah masa-masa kebodohan gue.
To be continued…..

Sampai sini dulu ceritanya. Next diterusin gimana cerita putusnya dan teror seperti apa yang kudapat karena mengakhiri hubungan secara sepihak.

Have a nice day kamu yang sudah baca ini! Maafkan gaya penulisanku yang campur-campur (kembali lagi menjadi ‘aku’).

No comments:

Post a Comment