Mar 25, 2018

Sibuk Sendiri

March 25, 2018 0 Comments

Rasanya mumet banget.

Aku tipe orang yang harus bicara atau menulis untuk menjabarkan pikiran, biasanya kalau mumet begini langsung chat temen buat sharing, tapi kali ini rasanya gak nemu temen yang pas buat bicara soal ini. Mungkin karena sebenarnya aku gak butuh tanggapan, melainkan hanya ruang untuk menumpahkan segalanya. Lalu—tada—ingat punya blog untuk menuangkan semuanya~~ gak perlu nyampah di close friends’s story atau caption second acc IG.

Jadi begini, aku sadar betul betapa sibuknya aku di semester ini. Selain berfokus menjaga absensi tiap matkul sebisa mungkin 90-100% untuk memulihkan IPK yang sempat kesandung, aku harus memikirkan mau dibawa kemana UP-ku setelah SK dosen pembimbing keluar. Kertas berisi calon nyawa skripsiku itu berlum tersentuh sama sekali. Bodo amat.
Sebenarnya semua itu kesibukan biasa, namanya juga mahasiswa. Kesibukan yang memenuhi kepalaku adalah suatu jenis kesibukan yang disebut sibuk sendiri. Nyahaha.
www.pexels.com
Awalnya aku sempat ragu mendaftar badan eksekutif fakultas, nilai semester sebelumnya membuatku berpikir tiga puluh kali sebelum memutuskan. Kemudian pada suatu siang aku melihat pengumuman oprec badan eksekutif univ, beberapa teman yang kukenal keterima di sana. Seketika aku merasa….cemburu. Dalam artian begini, keraguanku untuk aktif di organisasi lagi karena semester lalu aku sudah berkecimpung di banyak kepanitiaan dan mengisi posisi-posisi cukup sentral—aku pikir itu cukup, dan aku bertekad menjauhi hal-hal non-akademik yang sekiranya ‘mengganggu’ kuliahku. Tapi, lihat mereka yang tergabung dalam organisasi univ, mereka maju dan melakukannya saja—tak peduli status mahasiswa tingkat akhir atau bukan (tingkat akhir ya, bukan semester akhir). Lagipula, aku belum pernah berkontribusi di organisasi atau kepanitiaan tingkat fakultas, aku paling tidak bisa melewatkan kesempatan. Kepengurusan tahun ini adalah kesempatan terakhirku untuk bergabung. Sekarang, atau tidak sama sekali
Dilema di antara dua pilihan itu memang hal biasa ya, tapi buat seorang labil-plinplan-overthinking like meeehh yang kayak ginian aja perlu istikhoroh dulu. Nyahahaha. Well, aku gak akan sanggup menghalau bayang-bayang penyesalan kalau kemarin itu batal daftar, jadi lebih baik aku daftar dulu aja sebagai bentuk ikhtiar dan hasilnya biar Allah yang memutuskan. Toh, Dia yang paling tahu mana terbaik buat kita.
Dan, voila. Aku tergabung. Bersyukur. Btw, aku percaya semua orang yang pernah kita temui di hidup kita itu ada alasannya. Daun yang jatuh aja udah diatur Allah, kita sesama manusia saling kenal juga pasti udah diatur Allah.
Ini juga kesibukan biasa sih, namanya juga mahasiswa. Pegiat organisasi mah hal yang biasa.

Bentuk ‘sibuk sendiri’-ku adalah, sibuk dengan hobi.
Yup, nulis.
Kegiatan nulis ini rasanya addict gitu, kayak kerinduan terhadap sesuatu yang sangat dicintai tapi udah lama gak ketemu—menggebu-gebu. Kan ini sebenarnya hobi dari SD, tapi semasa penghujung SMA sampai pertengahan kuliah hilang-timbul gak ditekuni lagi. Kemudian baru pas liburan kemarin aku kembali jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis melalui blog ini.
Aku bergabung ke dalam writer community dua platform berbeda. Yang satu, total postingan artikelku yang berhasil dibagikan sudah mencapai 800. Yang satu lagi masih 0, proses moderasi oleh pihak editornya lama banget sumpahhhh bulukan gue nungguinnya. Tapi kabarnya bakal dipublish awal April. Makan sebulan. Ya sudahlah.
Aku sangat menyenangi kegiatan ini, aku menganggapnya sebagai bentuk pelatihan menulis. Kalau tulisanku dibagikan sebegitu banyak, berarti paling tidak apa yang kutulis cukup layak untuk dikonsumsi pembaca. Masih belum ada apa-apanya sih dibanding orang-orang di luar sana, 800 total share sungguh masih jauh dari ‘banyak’. Karena segitu aja aku masih ranking ke 2.670 dari keseluruhan author……… Tapi aku selalu mensugestikan diri dengan rasa syukur—bersyukur tulisanku sedikit-banyak bermanfaat bagi orang lain.
Cita-cita lahir batin: menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Kesibukan lainnya adalah…..belajar.
Belajar di luar topik terkait jurusan. Not about sociology, no no no.
Sekarang ini semangat belajarku sedang menggelora, sampai-sampai aku agak kewalahan mengondisikannya agar gak mengganggu prioritas pembelajaran—kuliah, jelas. Mulanya, aku mengambil semacam ‘kursus online’ tentang Pengenalan Ekonomi dan Keuangan Islam, Pengenalan Broadcasting for Television, dan Public Speaking. Tapi yang kelas broadcasting udah di-cancel, walaupun aku senang ngepoin ketiga topik pembelajaran itu, tapi aku gak mau membebani diri sendiri. Sistem kursus ini belajar selama kurang lebih sebulan, dan di tiap minggunya ada tes. Ada ujian akhirnya setelah satu bulan, dan kita bisa dapat sertifikat kalau tes dan ‘UAS’ itu lolos dengan tingkat keberhasilan minimal 50%. Tapi, untuk memiliki itu kita harus bayar 250.000 hahahaha :(
Selain itu, aku juga lagi senang belajar bahasa. Via apa? Online dan gratisan pastinya. Ha. Lumayan sih buat ngisi-ngisi waktu luang dengan hal berfaedah. Aku mengambil bahasa Jerman, Inggris, Turki, Korea, dan Perancis. Tadinya gak mau ngambil banyak-banyak, tapi ya udahlah ya kayak main game aja, lagipula yang satu ini gak memberatkan sama sekali. 100% menghibur. Gak ada unsur tes-tes kaya yang di atas. Dan lagi, kalau ngeliat forum diskusinya, orang-orang di belahan bumi mana-mana yang belajar di situ ngambil pelajaran bahasa lebih banyaaaaaaaak banget. Nyampe pusing gue baca display name mereka. Bendera-bendera bahasa yang dipelajari tuh muncul gitu di sana.

-Asli, sampai sini mumetku hilang, nulis itu bener-bener jadi obat banget deh-
Seperti biasa, kebanyakan apa yang kutulis di sini kuanggap sebagai cara berbicara ke diri sendiri. Setelah mengintrospeksi diri lewat tulisan ini, aku tahu aku tidak sedang ‘sok sibuk’ atau sok-sok yang lainnya. Aku tengah mencoba menjadikan sisa-sisa status mahasiswaku yang tidak terasa akan segera usai ini tahun depanaamiin!menjadi lebih produktif. Beberapa waktu belakangan ini aku baru sadar betapa belajar itu penting; menggeluti hobi juga penting, tapi tidak wajib. Banyak juga orang yang melakukan hobinya hanya sekadar untuk bersenang-senang dan memuaskan diri. Yaa, kayak aku ngeblog sekarang ini. Kecuali kalau aku mengelola ini blog sedemikian rupa, perbanyak konten yang ‘menjual’, dapat adsense, banyak pengunjung, atau artikel-artikel yang kukirim ke laman tertentu memberi bayaran—itu sih asyik, seindah-indahnya goals. Apa yang kita lakukan menyenangkan diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Sayangnya, hidup gak semulus itu. Apa yang kita mau gak selalu bisa didapat dengan gampangnya. Tapi kuncinya dua sih, usaha dan berdoa. Sisanya serahin ke Tuhan, karena Dia yang lebih tahu mana yang terbaik buat kita. Iya ngetik gini mah gampang, nyatanya enggak :( Tapi paling nggak dengan menanamkan hal ini kuat-kuat ke dalam hati, kita harusnya berasa lebih ringan jalani hidup. Harusnya..
Intinya sih, semangat belajar atau apapun yang niatnya baik maka itu bagus. Tapi harus dikondisikan agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ada baiknya semua diatur sedemikian rupa supaya berjalan baik, terfokus, dan gak berkewalahan. Ehm, berkewalahan adalah bahasaku sendiri, jangan ditanya apa artinya. Setelah segala kepentingan bisa dikondisikan dan ‘terjadwal’, maka langkah selanjutnya adalah disiplin. Bagaimana kita mampu me-manage waktu dan diri sendiri agar segala kesibukan itu tidak mengganggu satu sama lain. Sibuk gak cuma sibuk, tapi menjadi produktif.

Satu yang aku takutkan, sebegitu sibuknya dengan urusan dunia membuatku lupa pada akhirat. Atau paling enggak, sibukku itu nirfaedah. Bukan sok alim, bukan juga sok-sok lainnya, tapi..bukankah sudah seharusnya? Gak tahu sih dengan orang-orang lain di luar sana termasuk kamu, tapi aku suka berpikir begitu. Dalam satu hadits Rasulullah dikatakan, pada hari kiamat nanti kita akan ditanya tentang umur, untuk apa kita habiskan umur tersebut.
Gak mungkin kan jawabannya nonton maraton drama Korea, scrolling timeline medsos manapun, atau swipe instastory  sampai mentok?


Mar 18, 2018

Bucin yang Posesif (2)

March 18, 2018 0 Comments

Halo, dengan aku lagi di sini..

Masih bercerita tentang zaman-zamannya bucin.


Aku percaya, seburuk-buruknya orang memiliki sisi baik. Atau dibalik, selalu ada kebaikan dalam diri setiap orang. Aku juga melihat hal baik di balik perangai Galon yan buruk. Tapi nyatanya, yang paling berkesan padaku bukan kebaikan-kebaikan Galon, tapi perbuatan buruk yang dia lakukan.

Switch to gue-lo.
Mungkin kala itu, gue terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi Galon, sampai lupa kalau gue punya kehidupan lain di luar cinta-cintaan. Di penghujung tahun ajaran pertama, sekolah gue mengadakan pagelaran. Event ini menjadi kompetisi antarkelas. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hari gue disibukkan dengan latihan dan ngumpul bareng teman-teman kelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Gue begitu menikmati kesibukan baru ini hingga mengesampingkan Galon.
Galon adalah tipe cowok yang bisa jadi ganjen ke cewek-cewek lain kalau pacarnya gak posesifin dia. Aduh, gimana ya ngebahasainnya. Istilahnya kalau kita gak ngekang dia, dia bakal ngeloyor kesana-kemari. Makanya dulu gue bersikap posesif ke dia, karena dia duluan yang begitu ke gue sehingga gue merasa berhak posesif balik ke dia. Ibaratnya, lo aja ngekang gue, masa gue biarin lo bebas?

Kesibukan gue membuat gue yakin si Galon ini mencari ‘penghiburan’ ke yang lain. Tapi saat itu, gue gak peduli. Bodo amat juga kalau dia mau selingkuh (lagi). Saat itu hidayah gue muncul; gue berpikir, gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Gue masih SMA, cowok gak cuma dia, dan yang lebih baik banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda gue buat hal yang sia-sia? Dan gue bertekad bulat mengakhiri hubungan ini.
Gue sadar ini gak bakal mudah; Galon gak akan segampang itu mau putus dengan gue. Bisa dibayangkan pertengkaran macam apa yang harus gue hadapi. Tapi ketika itu, gue gak takut—begitu bersemangat menjadi jomblo! Sama sekali gak ada faktor orang ketiga, atau cowok lain yang menarik perhatian gue. Murni gue ingin melepaskan diri dari ikatan ini dan mulai mencintai diri sendiri dengan benar.
www.pexels.com

Sepertinya Allah merestui niat gue karena tiba-tiba aja gue dapat kabar dari teman SMP kalau Galon nembak cewek lain! Teman gue ini cukup akrab dengan gue jadi gak mungkin juga dia bohong. Apalagi dia bilang dia punya bukti screenshootnya (waktu itu udah pake BBM dan lagi hits aplikasi screenmuncher/grabscreen wkwk). Gue gak peduli benar atau nggak, yang pasti ini bisa jadi alasan untuk lepas dari Galon.
Lupa persisnya, waktu itu masih jam sekolah dan belum ada guru. Tanpa ba bi bu lagi gue bbm Galon dan mulai menyelidik bla bla bla yang ujungnya minta putus. Reaksinya jelas—dia menolak mentah-mentah. Galon ngotot kalau dia gak selingkuh atau apalah itu, saking seringnya bohong udah gak bisa bedain lagi mana yang jujur dan bohong.
Gue menjabarkan lebih detail alasan ingin putus. Gue gak suka dibohongi. Gue gak suka diperlakukan kasar; disebut anj*ng, t*i, go*lok, atau b*ng*at. Gue manusia, terlebih seorang perempuan yang berhak diperlakukan baik-baik. Kalau gue memang sosok yang begajulan dan kurang ajar, bolehlah dia hina gue sebegitunya. Tapi selama itu kan gue berusaha menjadi orang yang baik buat dia. Ngasih dukungan, mau bersabar, terus memaafkan, gue bahkan gak pernah menuntut diperlakukan istimewa—hanya sewajarnya.

Dia keukeuh gak mau putus.
Dia bilang bakal nungguin gue di luar sekolah atau datang ke rumah. Dia ‘meneror’ gue selama seminggu. Teror di sini bukan hal jahat yang berbahaya, hanya mengganggu. Dia bahkan menelepon ketika jam pelajaran sekolah, gue pernah nendang meja kelas saking dongkolnya. Dia mengirim sms, chat bbm, voicenote, belum lagi update status di twitter dan facebook tentang gue. How annoying it was, really.
Mungkin kalian berpikir tinggal diblok atau diabaikan aja, tapi sayangnya gak semudah itu. Gue takut dia malah makin menjadi-jadi.

Puncak kemarahan gue adalah pada suatu siang di rumah. Gue pergi ke kamar waktu dapat telepon dari dia, gue angkat tapi gak ngomong apa-apa. Diem aja sampai dia muak sendiri.
Lupa persisnya, tapi ketika itu gue ngelempar boneka gue ke lemari kamar saking kesalnya dan mengumpat, “anj*r ngeselin banget sih lo!” Maaf, waktu itu gue merasa jadi pribadi yang agak kasar, tapi cuma saat berinteraksi sama dia doang. Teori gue sih karena dia sering ngasarin gue, dan refleks gue mengembalikan apa yang gue terima. Bisa jadi juga karena terpengaruh oleh dia. Dan tahu gak apa katanya setelah gue bilang begitu?

“Lin..kamu kan perempuan, gak boleh ngomong kasar kaya gitu..” ucapnya memelas.

Gue bahkan gak bisa menggambarkan betapa tambah marahnya gue saat itu.
Gue bukan tipe orang yang bisa marah blak-blakan, alhasil badan gue panas dingin nahan emosi yang meluap-luap. Gue sangat marah sama dia sampai gak sanggup lagi buat nangis. Gue berkata dengan nada sangat rendah dan lambat-lambat, “Heh, lo tau kan gue perempuan? Tau? Kalau lo tau, terus kenapa selama ini lo memperlakukan gue kasar, nyebut gue anj*ng dan sebangsanya. Lo gak berhak sok ngingetin gue kayak gitu sedangkan diri lo itu brengsek.” Sebelum gue selesain omongan itu dia udah menyela dan minta maaf, terus memohon buat balikan dan mengobral janji gak akan kayak gitu lagi.
Karena gue lelah dengan teror ini, gue bilang aja ‘terserah!’ dan dia langsung mengartikan itu sebagai tanda balikan. Dia memang berubah menjadi sok baik, rajin ngehubungin gue walau gue gak pernah balas lebih dari dua kata dan gak pernah nanya balik. Siapa suruh maksa balikan orang yang udah gak mau lagi. Biarin aja sampai dia muak sendiri.
Gak lama gue dikabarin kalau dia ‘berulah’ lagi. Gak peduli ini beneran atau nggak, gue jadikan ini alasan putus lagi. Prosesnya lama lagi, tapi akhirnya fix kali ini gue bebas..

Welcome freedom.
Gue menjelma menjadi jomblo yang berbahagia. Hahahaha.
Bebas berteman dengan siapapun, dan banyak menghabiskan waktu untuk teman-teman tercintah dan aktif di organisasi sekolah. Yang paling penting, gue belajar mencintai diri sendiri dengan benar--menjauhi hal-hal negatif serta menyerap dan menyebarkan energi positif.

Ada yang pernah bilang ke gue, kalau kita gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi, bagaimanapun juga itu bagian dari masa lalu. Satu-satunya penyesalan gue adalah kenapa gak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Kalau udah merasa bahwa hubungan itu merugikan dan gak membawa pengaruh baik ke diri sendiri, lebih baik disudahi. Gak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan cinta. Halah, maaf-maaf nih ya, ada baiknya dipikir lagi; jangan-jangan kita bukan tengah ‘memperjuangkan’ melainkan hanya bertahan dalam kebodohan.
Tapi, yang gue katakan itu hanya berlaku di hubungan macam cerita ini; gak sehat, bikin tertekan, ngebatin, ngabisin masa muda. Gue gak menggeneralisir berbagai bentuk hubungan pacaran yang ada di bumi. Siapa gue, cuma berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya.
Setiap orang punya ceritanya masing-masing, dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Ada istilah ‘hasil tidak akan mengkhianati usaha’, tapi, dalam hidup ini sebenarnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Misalnya kayak gue yang mengatasnamakan perasan berusaha sabar menghadapi kasarnya dia dengan harapan nantinya berubah dan bla bla bla, padahal sebenarnya yang gue lakukan sia-sia aja. Sekuat apapun berusaha, tetap aja yang ngatur itu Allah, Dia lebih tahu kalau gak seharusnya kita jadi bucin.

Untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang mau memperjuangkan kamu?

Mar 14, 2018

Bucin yang Posesif (1)

March 14, 2018 0 Comments

Beberapa waktu lalu, aku menonton film Posesif-nya Adipati dan Putri Marino. Lalu, ada yang bikin kepikiran setelah nonton itu. Bukan cuma gantengnya Adipati, tapi juga kisah ‘posesif’ versiku sendiri.

-Btw, sebenarnya, ketika nulis aku lebih suka nyebut aku-kamu daripada gue-lo, tapi aku gak bisa ber-aku-kamu tanpa gaya bahasa yang baku. Sedangkan cerita ini lebih ngalir pakai gue-lo dan gak baku—skip-

Kayaknya, memang akan ada fase ‘bucin’ (budak cinta) di hidup setiap orang ya? Saat di mana kita merasa cinta banget sama sesuatu atau seseorang hingga mau bersusah-susah unfaedah demi dia. Umumnya nggak salah sih, tapi menurutku hal ini menjadi nggak benar kalau kita sampai mewajarkan hal yang salah dan membuat rugi diri sendiri.
www.pexels.com

Edisi flashback. Switch to gue-elo.
Gue pernah punya pacar, sebut aja namanya Galon (bukan Alan ko, hehe). Gue terlalu terpaku pada kenyataan kalau dia adalah orang yang gue sukai. Bagaimanapun buruk tingkahnya, dia tetaplah dia. Dan gue adalah orang yang mampu bersabar untuk dia. Begitulah dulu gue memandang kami. Saking sukanya, gue menutup mata dari sifat asli yang Galon miliki; egois, kasar, dan posesif. Maafkan, waktu itu gue masihlah seorang anak SMA labil yang baru memiliki perasaan sesuka itu pada lawan jenis. Kayaknya belum ada istilah bucin waktu itu, but yesh now we call it bucin.
Kami pernah bertengkar di lapang terbuka, ditonton oleh beberapa orang sekitar. Dia hampir menyeret gue pergi dari hadapannya dan membentak-bentak nyuruh gue pulang. Asalnya karena gue ngebalas sms dari seorang cowok. Sebelumnya gue memang mengiyakan permintaan dia untuk gak akan ngebalas sms orang itu, tapi gue balas juga akhirnya. Saat itu kami belum jadian (belum pacar aja udah semarah itu..) dan gue pikir gak ada salahnya kontekan dengan siapapun selama isinya nggak ‘aneh-aneh’. Singkatnya, ketika itu gue minta maaf, walaupun gue tetap berpikir dia nggak punya hak membentak gue di depan orang seperti itu.
Setelah gue pergi, dia update status yang isinya menyuruh gue untuk mati aja. Hm, alhamdulillah masih hidup dan sehat walafiat sampai sekarang. Btw, waktu itu zamannya main facebook, update status udah kayak nulis diary, no privacy.
Singkat cerita, akhirnya kami jadian (iya, bodoh). Kalau kalian baca artikel sebelumnya yang blokir mantan, di situ gue bilang kalau ingatan gue tajam berkaitan dengan memori yang menyangkut emosi. Ya, gue masih ingat juga beberapa kejadian dalam masa pacaran ini. Sejujurnya, ini adalah luka lama yang sangat dalam—lol. Tapi B aja sih, udah berlalu juga.

Terkadang dia membuat gue was-was; meskipun kami berbeda sekolah, somehow dia tahu aja apa yang gue lakukan. Seperti kejadian waktu itu, salah satu teman cowok yang kabarnya naksir gue ngajak foto bareng. Gue menolak halus, agak takut sama Galon yang cemburuan. Tapi karena keadaan, akhirnya gue mengiyakan ajakan itu. Toh fotonya juga gak dekatan, ada jarak lumayan di tengah-tengahnya. Dan di sinilah…
Malamnya, gue dan Galon smsan. Karena hari itu gue menjadi panitia event di sekolah, gue pulang petang dan kecapekan. Ketika perbincangan berjalan santai, tiba-tiba doi nanya, “Ada yang mau diceritain gak?”
Di sini gue merasakan firasat buruk—hawa-hawa mau berantem. Gue memilih menjawab, “Gak ada kayaknya. Kenapa?”
Kalian harus tahu, saat itu gue lagi capek banget, gue males berantem yang ujung-ujungnya cuma bikin gue tertekan. Lagipula, sekalipun gue jujur bilang ke dia kalau tadi diajak foto bareng, dia bakal tetap marah.
“Yakin gak ada?” Fix ini dia tahu.
“Iya, kenapa?” Gue siap-siap.
“Oh jadi foto bareng sama **** bukan apa-apa ya. DASAR TAI LO BANGSAAAAAT!”
Reaksi gue ketika membaca sms itu adalah: menghela napas panjang.
Gak perlu tahu lanjutnya gimana. Yang pasti, begitulah dia kalau marah. Semua yang di kebun binatang keluar. Dia bakal terus marah walaupun gue udah minta maaf—nyaris ngemis—baik-baik.

Di sini gue gak bermaksud menjelekkan dia dan serta-merta menjadikan diri gue ‘korban’ sedangkan dia selalu melulu jadi ‘orang brengsek’. Namun faktanya, pertengkaran kami memang seringkali terjadi karena dialah sumber masalahnya. Entah main dengan cewek lain tanpa sepengetahuan gue atau ketahuan bohong. Siapa sih yang suka dibohongin?

Pernah tuh, ada cewek yang ngirim message di facebook gue, “Emangnya ini beneran pacarnya Galon?” Gue balas, “Iya, ini siapa?” Belum direspon.
Malamnya, gue cerita ke Galon tentang ini. Dia bilang, dia gak kenal sama cewek itu. Anehnya, besoknya gue gak nemu pesan cewek itu di facebook gue. Bahkan gue gak bisa menemukan akun dia di kolom search. Simpulannya cuma satu; Galon buka fb gue dan ngeblokir atau-entah-apa akun si cewek itu. Iya, waktu itu kami saling tahu password akun masing-masing. Ha. Sebelumnya Galon bilang dia gak kenal dengan cewek itu, logikanya aja, kalau gak ada apa-apa bahkan gak kenal, ngapain dia harus bertindak begitu?
Banyak lagi cerita sejenis kayak di atas, tapi gak perlu di bahas. Yang pasti, hal ini gak terjadi sekali-dua kali.

Pernah, pertengkaran semalaman gue dengan Galon berlanjut sampai pagi. Gue datang ke sekolah dengan muka kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Moodbreaker banget emang si Galon. Kayaknya istilah ‘pertengkaran’ kurang tepat deh. Karena jika begitu, dua pihak sama-sama marah, sedangkan ini dia yang marah-marah dan gue cuma bisa ngalah. Mungkin terlihat betapa bodohnya, betapa mau-maunya diperlakukan kayak sampah oleh orang yang katanya ‘pacar’ kita. Tapi saat itu, gue masih abege labil yang bucin—buta cinta. Demi mengakhiri pertengkaran kami, gue harus siap mengalah walaupun sebenarnya gak salah. Karena apa? Galon itu egois banget—walaupun dia tahu dia salah, susah buat dia minta maaf.
Pagi itu dia sms begini, “YA UDAHLAH PUTUS AJA!”
Gue, zaman itu, sebisa mungkin gak mau putus. Jawabannya tiga; gue bodoh, ababil, dan bucin. Selagi bisa diselesaikan baik-baik, gue pikir gak perlu sampai putus. Sebuah kenaifan. Tapi pagi itu, gue udah capek. Gue merasa terbebani dengan pacar gue sendiri. Gue lelah dengan semua drama alay ini. Teman-teman kelas gue juga sangat mendukung untuk putus, apalagi chairmate gue. Alhasil, gue ketik sms dengan nada menyerah yang pasrah, “Ya udah kalau emang maunya begitu………”
Dan tahu balasannya apa?
“OH GITU JADI UDAH GAK SAYANG LAGI SAMA GUA!!!”
Uhm, what the hell. Agak geli kalau diingat.
Gue bertukar pandang heran dengan chairmate. Loh? Kan dia yang minta putus, terus gue iyain. Lalu kenapa sekarang dia malah tambah marah?
Dari situlah gue tahu. Sebenarnya dalam hubungan ini yang lemah itu dia. Dia yang gak bisa putus dengan gue. Dia berpikir kalau gue akan selalu mengalah dan mau bersabar buat dia. Semua ancaman putusnya selama ini hanya gertakan, dia pikir gue akan selalu menolak mentah-mentah untuk putus. Dia gak sadar akan kemungkinan, kalau gue bisa mencapai titik muak.

Suatu hari dia pernah marah (lagi) karena cemburu. Dia membentak gue di toko buku. Matanya merah saking marahnya, “Ngapain di sini?!” tanyanya dengan nada menghardik yang kasar. Gue ingat ada kakek-kakek di dekat situ yang langsung mencuri-curi pandang ke arah kami. Sakit sih kalau diingat, seumur-umur gak ada yang pernah berani berlaku sekasar itu ke gue kecuali dia.
Setelahnya, kami makan di J.CO. Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba dia berubah baik lagi (masa gara-gara makan manis-manis?). Gue mengunyah donat gue dalam diam sementara dia tersenyum dan bertanya, “Kenapa? Kok diem aja?” dan sesekali bergumam, “Enak yang ini..”
Gue syok. Asli.
Mata gue langsung berair dan detik itu juga gue mau nangis saking marahnya. Ini orang abis ngebentak-bentak gue, dengan senyum malah nanya ‘kenapa’ tanpa minta maaf sama sekali!
Gila emang.
Saat itu hati gue rada terketuk. Gue bagai bertanya pada diri sendiri, “Lo sebenarnya lagi ngapain, Lin? Pacaran sama orang kayak gini, buta ya?”
Sayangnya, ‘hidayah’ itu gak berlangsung lama. Galon marah lagi abis makan donat, dia mengantar gue pulang dan kami berpisah dalam diam yang sangat tidak nyaman. Dengan kebodohan khas gue waktu itu, gue malah sms minta maaf ke dia.
MINTA MAAF.
Harusnya dia yang minta maaf! Kalau diingat lagi, jadi kesal. Itu adalah masa-masa kebodohan gue.
To be continued…..

Sampai sini dulu ceritanya. Next diterusin gimana cerita putusnya dan teror seperti apa yang kudapat karena mengakhiri hubungan secara sepihak.

Have a nice day kamu yang sudah baca ini! Maafkan gaya penulisanku yang campur-campur (kembali lagi menjadi ‘aku’).

Mar 8, 2018

Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad by Imam At-Tirmidzi

March 08, 2018 0 Comments

“Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; (di antaranya) yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya..”

(H.R. Al-Bukhari nomor 16, 21, dan Muslim nomor 43)

Judul               : Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW
Penulis           : Imam At-Tirmidzi
Penerbit        : Ummul Qura
Cetakan         : IV (2017)
Jumlah Hlm : 208

Membaca buku ini mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk ‘pendekatan’ terhadap manusia yang seluruh umat Islam cintai yakni, Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak ingin mengenal, dan bertemu Rasulullah? Duduk dekat dengan beliau di akhirat kelak? Kalau kau termasuk yang tidak, mungkin ada baiknya membaca buku ini. Kau akan tahu betapa mulia dan indah sosok Rasulullah hingga patut menjadi teladan bagi seluruh manusia.

Buku Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW menghimpun hadits-hadits tentang keseharian dan pribadi Rasulullah. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara berjalan, cara duduk, bahkan cara bersandar hingga lauk-pauk yang biasa Rasulullah makan. Total terdapat 57 bab dengan 417 hadits yang dicantumkan dalam buku ini.

Dari segi fisik, aku suka buku ini karena hardcovernya. Seluruh halamannya juga terkesan clean dengan latar belakang warna putih, nyaman dibaca, kontras dengan gambar-gambar full color yang terdapat di dalamnya (iya, buku ini full color dan dilengkapi gambar, jadi tidak membosankan).

dok. pribadi
Penulisan buku ini tidak bertele-tele, langsung pada hadits yang berkaitan dengan bab bahasannya. Misalnya Bab 5: Uban Rasulullah (8 Hadits), maka langsung dicantumkan di bawahnya 8 hadits berkaitan dengan uban Rasulullah. Tulisan pada buku dibedakan menjadi 2 warna; warna hitam untuk perawi dan warna biru untuk isi hadits.


Hadits yang dhaif, hasan, shahih dan muttafaq alaih—seluruhnya terdapat di buku ini. Keterangannya ada di footnote setiap nomor. Hanya saja, tidak ada penjelasan sebelumnya tentang hukum jenis-jenis hadits tersebut. Seperti kalau dhaif itu lemah, hasan berarti baik, dan semacamnya. Paling tidak, kupikir seharusnya di awal diberikan penjelasan umum tentang hakikat hadits dan arti setiap jenisnya. Dengan begitu, pembaca sepertiku yang belum tahu apa-apa tentang nilai jenis-jenis hadits tidak perlu repot-repot browsing atau bertanya ke teman untuk mengetahui mana hadits yang bisa dijadikan acuan dan mana yang dipertanyakan keshahihannya.

Selain itu, kupikir sebaiknya di akhir setiap bab diberi kesimpulan terkait judul babnya. Misalnya, Bab 1: Fisik Rasulullah (15 Hadits). Seluruh hadits tersebut terdiri dari hadits shahih, muttafaq alaih, ada pula yang dhaif. Barangkali di akhir bab dapat diberi simpulan “Berdasarkan hadits-hadits di atas, bahwasanya fisik Rasulullah begini dan begitu…” Namun, mungkin saja penulis mengasumsikan para pembaca dapat menyimpulkan sendiri dari apa yang telah dibacanya tanpa perlu dicantumkan kesimpulan.

Secara keseluruhan, buku ini bagus dan recommended untuk kita yang kepo lebih lanjut soal pribadi Rasulullah. Tentu saja ketika membayangkan sosok Nabi Muhammad SAW, setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda-beda. Buku ini membantu kita untuk mengetahui sedikit-banyak garis besar yang dapat dijadikan acuan dalam mengenal sosok Rasulullah lebih jauh. Terlepas dari seperti apa wujud Rasulullah, segala hal dalam dirinya adalah suri tauladan bagi umat manusia. Semoga dengan mengenal diri Rasulullah lebih jauh, kita dapat lebih mencintai dan sering merindukannya, karena Rasulullah bersabda,
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga saya yang lebih ia cintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.”
(H.R. Al-Bukhari nomor 16)
Allah menguatkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab Ayat 6 bahwasanya,
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”


Mar 5, 2018

Blokir Mantan: Sebuah Persepsi Pribadi

March 05, 2018 0 Comments

Sebenernya tulisan ini udah lama dibuat, gue tulis di memo hp waktu lagi kepikiran hal ini. Terus, karena sekarang gue punya blog bolehlah ya gue posting di sini.


Kenapa ya, orang senang banget ikut campur urusan orang lainnya?

Oh, mungkin maksudnya cuma mau ‘berkomentar’ tanpa maksud ikut campur.
Tapi, bukannya lebih baik diam aja daripada komentar gak berfaedah? Kalau dimintain pendapatnya sih, silakan.
Setiap orang kan punya mulut, mereka bebas mau ngomong apa aja bahkan tanpa diminta—itu terserah setiap individu.
Tapi lagi nih, giliran apa yang diucapkannya bikin orang lain tersinggung, marah, atau sakit hati; boro-boro minta maaf. Zaman sekarang kebanyakan bakal bilang, “Yaelah bercanda kali, gitu aja baper lo.”
Nah lho, ngeselin juga. Banyak nih yang begini gue alamin sendiri. Semua pasti punya teman model pikasebeleun begini.
Terus, apa hubungannya sama judul tulisan lo?
www.pexels.com
Jadi begini pembukaannya.

Gue pribadi bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan amarah. Kebanyakan gue pendam sendiri. Sikap favorit gue adalah ‘diam dan menjauh’ sampai amarah gue reda. Kalau gak kayak gitu, gue pasti nangis saking kesalnya. Kalau bahasanya Bella di novel Twilight halaman sekian sih, “Untuk beberapa alasan, emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Kalau marah, aku biasanya menangis. Kebiasaan memalukan.” Gue bahkan yakin, seumur hidup gue, gak ada satupun teman yang pernah ngeliat gue marah-marah pake nada tinggi, ngebentak orang langsung di mukanya. Kebanyakan gue ngedumel atau mengumpat di sela-sela curhat via chat.  Tapi setelah itu amarah gue mereda. Kalaupun marahin orang, nada suara gue rendah dan tertahan. Gue pun berlalu dan segera menenangkan diri. Kata beberapa teman gue sih, kalau gue lagi kesal kentara dari ekspresi muka.

Pernah tuh, gue berdebat dikit sama teman via chat. Teman dekat. Gue gedek banget dia ngegas padahal gue udah berusaha bersikap baik di tengah-tengah badmoodnya gue karena capek. Yaudah gue read doang chatnya, langsung buka YouTube cari-cari penghiburan sampai kesal gue hilang. Terus dia chat lagi, minta maaf. Namanya teman dekat, tanpa gue bilang dia tahu gue kesal. Dan sebagai teman dekat dia, gue juga tahu cara ngomongnya dia memang rada nyolot. Mungkin kita lagi sama-sama capek jadi sensitif.

Tapi bukan itu sih yang mau gue ceritain. Hahahaha.
Gue ceritakan dulu masalahnya, deh.

Jadi, gue ngeblokir kontak salah satu mantan gue. Selain itu, gue unfollow instagramnya beberapa waktu pascaudahan-secara-tidak-baik, katakanlah begitu. Gue suka bersikap ogah-ogahan tiap teman-teman ngeledekin soal gue dan si mantan (btw, kisah cinta gagal gue ini sudah menjadi konsumsi publik alias anak-anak kelas). Sampai pada suatu waktu, anak-anak pada tahu nih gue blokir kontaknya dia. Beberapa celetukan mampir ke kuping gue, macam:
“Lah, ngapain blokir segala kayak bocah aja lu.”
“Gak boleh gitu heh, biasa aja dooong~”
“Kalau udah gak ada perasaan mah biasa aja kali, gak usah segitunya.”
“Berarti masih ada tuh, hahaha..”

Maharese kawan dengan segala bxaxcxoxdnya.
Menariknya, cowok nih yang banyak komentar begini. Beberapa teman yang gue kenal memang mulutnya kayak admin lambe.
Tiap gue berada dalam situasi macam itu, tanggapan gue tergantung konten omongannya. Kalau bercandanya cuma ungkit-ungkit kejadian masa lalu sih, gue biasa aja. Gue sering kok ikut tertawa bersama dan nimpalin balik, Intinya gue nyantai. Tapi kalau udah merepet pada nyinyir cara gue menyikapi suatu masalah (keputusan gue), sorry, coy, itu bikin gue kesal.

“Lah, ngapain blokir segala kayak bocah aja lu.”
Sekarang gue tanya, kalau gue blokir mantan yang gue sebelin, memangnya bikin IPK lo jeblok? Atau menghambat uang bulanan lo? Mmm, atau bikin lo jomblo selamanya gitu? I mean, selama yang gue lakukan bikin gue nyaman dan tidak mengganggu hidup lo, lantas kenapa? Toh di dunia nyata gue bae bae aja.

-btw gue ngetik ini dengan selow, jadi nada bacanya jangan dibikin nyolot wkwk-


“Kalau udah gak ada perasaan mah biasa aja kali, gak usah segitunya.”
Hehehe, sok tau ye pipel.
Oke, gue akui memang umumnya begitu. Kalau lo udah gak ada rasa sama orang, harusnya keberadaan dia nyata atau maya gak mengganggu lo. Tapi, setiap orang punya kisahnya masing-masing dan gak mudah menggeneralisasi hal personal kayak gini. Gue gak bisa menceritakan detail persisnya apa yang terjadi selama masa pacaran itu sampai gue menjadi segini ilfeel dan lost respectnya. Tapi, gue memang begini orangnya.
Hmm gini deh, gue tipe orang yang mengembalikan apa yang gue terima. It means, lo baik sama gue—gue akan lebih baik lagi sama lo. Kalau lo sebaliknya, yaa gue gak akan balas dendam sih, tapi gue bener-bener bakal lost respect at all. Gak peduli segimana dekatnya dulu, lo bakal terlihat asing buat gue. Kayak gak kenal, juga gak mau kenal. Macam batu aja di pinggir jalan. Diem-diem diinjek. Nyahaha. Pada dasarnya gue ini pemaaf, jadi logikanya aja sih—kalau gue sampai segitunya sama seseorang, berarti kesalahannya udah gak bisa gue tolerir lagi.

Sederhananya, gue gak akan bersikap berlebihan, kalau lo nya gak keterlaluan. Kan, gue cuma balikin yang gue terima.


Lagian nih ya, gue tekankan sekali lagi. Setiap individu punya kepribadian dan pengalaman hidup masing-masing yang memengaruhi cara mereka memandang/menyikapi suatu masalah. Memang ada gambaran umum, tapi manusia itu dinamis dan unik. Lo begitu—gue begini—dia begindang. Gue sih, ngeblokir demi kepuasan pribadi. Bukan karena gak bisa ngelupain atau masih galauin dia, tapi menghindari diri gue dari membenci dan mengutuk dia atas kelakuannya sebelum-sebelum ini. Kasihan hati gue udah patah jadi kotor. *lho??*

Masalahnya, ingatan gue cukup tajam berkaitan dengan memori yang dibumbui emosi-emosi, jadi gak pernah lupa. Bayangkan kalau gue punya kenangan buruk, sikap yang bisa gue ambil adalah menghindari hal-hal yang bisa membuat gue ingat itu. Untung gue juga rada pandai menipu mensugesti diri sendiri, jadi abis itu bisa sok baik-baik aja dan seiring berjalannya waktu juga jadi biasa aja. Cmiww.

Lagipula, sebagai orang yang cinta damai dan gak bisa juga terang-terangan marah langsung ke orang yang bersangkutan (ntar gue nangis saking dongkolnya), gue cuma bisa menyembunyikan kontaknya (walaupun di dunia nyata masih selalu ketemu, gak bisa disingkirkan). Langkah ini terhitung mudah, cepat, ringan, dan yang pasti bikin nyaman. Percayalah, orang yang pendiam itu marahnya lebih mengerikan daripada si pemarah. Kata guru SMP gue sih itu, tapi menurut gue benar juga adanya. Lain cerita kalau yang marah-marah itu gue. Mungkin gue bakal terisak-isak duluan, mendadak mulut gue lebih pedas dari komentar netizen di media sosial, dan keburu pingsan bahkan sebelum gue bisa berubah jadi kyuubi (re: mengekspresikan kemarahan gue).

Intinya sih itu. Gapapa ya gue menulis begini. Ingat, selama hal tersebut bikin kita nyaman dan gak ngerugiin hidup orang lain gue rasa gak ada masalah. Dan, gak ada yang salah dengan curhat kan? Hehe. Kalau kalian termasuk orang yang membaca ini sampai habis, maaf nih menyita beberapa menit berhargamu. Ada hikmah di balik setiap kejadian, dan ada faedah di balik setiap tulisan. Gue cuma bisa ngajak kita semua sama-sama menjaga hati, jaga lisan, jangan ngurusin mantan. Jangan menghakimi keputusan orang lain tanpa tahu alasan di baliknya. Apalagi berlindung di balik pembelaan ‘cuma becanda’ dan ‘gak usah baper.’

Hmm, kalau lo termasuk orang yang dikit-dikit bilang ‘yaelah baper banget lo gitu aja kesinggung’ mungkin ada baiknya lo berkaca dulu. Jangan-jangan, bukan dia yang baper tapi lo yang udah kehilangan rasa empati.

*Boleh baca Cerita dari Rani dan Catatan dari Alan biar rada ngerti*

Mar 2, 2018

Catatan dari Alan

March 02, 2018 0 Comments

2.

Itu dia yang di sana. Menarik perhatianku. Cukup manis. Aku suka.
www.pexels.com
Desember.
Kawanku bersikap kurang ajar. Membajak ponselku dan bertanya, berkenankah kau jadi pacarku. Begitu kau mengatakan ya, dia langsung menuliskan namamu di statusku. Akh! Sungguh, aku memang menyukaimu! Tapi, ini terlalu cepat. Aku tak bisa menarik kata-kata itu, kau akan sakit hati bila tahu itu bukan dariku.

Maret.
Aku dan kau yang berpacaran, lantas mengapa mereka repot-repot mengurus kita? Maksudku, teman-teman berkomentar ketika aku meghampirimu. Pun ketika aku bersikap cuek padamu. Aku tahu tak seharusnya mendengarkan perkataan orang lain, tapi itu membuatku tidak nyaman. Enggan bersamamu di depan orang banyak. Aku tahu kau sudah berusaha memahamiku, tapi aku tak dapat menjanjikan apa-apa.

Mei.
Ah, rasanya sepi sekali. Tapi bukan kau yang ingin kuhubungi. Percakapan kita terasa tak ada maknanya, hanya basa-basi belaka. Walau kau selalu memerhatikanku, maaf aku tidak bisa menghidupkan suasana seperti yang biasa kulakukan dengan teman-temanku. Aku bertanya-tanya mengapa bisa begitu. Apa karena itu kau?

Juli.
Hubungan apa ini namanya? Semua tahu kita bersama. Tapi rasanya hambar. Aku tak kuasa menyakitimu, kau terlalu baik. Namun, aku juga tak bisa menyenangkanmu, meski aku berusaha untuk itu. Aku mulai jengah, hobimu spam chat membuatku risih, padahal kau berbuat begitu karena aku yang selalu bersikap tidak peduli. Miris, kau bagaikan mengemis perhatianku. Maafkan aku, sungguh! Kenapa tak kau enyahkan saja aku? Mengapa kau begitu sabar padaku? Bencilah aku! Kau lebih baik tanpaku..

Oktober.
Cepat atau lambat aku harus mengakhirinya. Ah iya, sebentar lagi kau berulang tahun. Biarlah kubuat senang dulu dirimu. Sebagai balasan kebaikanmu 4 bulan lalu, memberiku kejutan dan hadiah buatan tangan, yang jelas tiada duanya.
Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bahagia dengan kejutan itu.. aku makin tak kuasa untuk mengakhiri hubungan ini lebih dulu.

Kita sama-sama tersiksa.
Aku, yang ingin lepas darimu.
Kau, yang menghabiskan seluruh energimu untuk memahamiku, sabar terhadapku, tidak menuntut apapun kecuali hanya secuil perhatian dariku.

Aku memang pengecut.
Pengecut yang tak berani terus terang ketika kau bertanya,
“Jadi maumu apa?”

Pengecut yang lalu dengan tega mengatakan,
“Aku sudah bosan. Aku tidak nyaman dengan ini. Lebih baik cukupkan sampai di sini.”

Pengecut yang menolak menemuimu ketika kau berkata,
“Kita boleh putus. Tapi katakan itu di depan wajahku. Setidaknya sekali, biarkan kita menyelesaikan masalah bukan via aplikasi.”

Si brengsek yang langsung menghapus namamu di statusku keesokan paginya, padahal kau belum selesai bicara tentang hubungan kita.
Aku bisa lihat, kau bukannya tidak ingin putus denganku. Kau hanya ingin, sekali saja dalam sembilan bulan yang sia-sia ini , aku memperlakukanmu dengan baik: mengakhiri semuanya sebagaimana layaknya.

Barangkali kau ingin aku menawarkan pipiku untuk kau tampar, meski kau takkan tega melakukannya. Atau mungkin kau hendak menarik kerahku, marah dan menangis; membuat rasa bersalahku menjadi-jadi.

Sudahlah. Aku ini si brengsek yang harus kau lupakan, aku tak pernah memberimu cinta, hanya melatih terus kesabaranmu dan memberi luka. Maka berbahagialah selepas ini.
Kuharap kau cepat memiliki pengganti.

Seperti aku sekarang ini.