Mar 8, 2018

Pendekatan Lebih Jauh dengan Rasulullah

March 08, 2018


“Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; (di antaranya) yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya..”

(H.R. Al-Bukhari nomor 16, 21, dan Muslim nomor 43)

Judul               : Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW
Penulis           : Imam At-Tirmidzi
Penerbit        : Ummul Qura
Cetakan         : IV (2017)
Jumlah Hlm : 208

Membaca buku ini mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk ‘pendekatan’ terhadap manusia yang seluruh umat Islam cintai yakni, Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak ingin mengenal, dan bertemu Rasulullah? Duduk dekat dengan beliau di akhirat kelak? Kalau kau termasuk yang tidak, mungkin ada baiknya membaca buku ini. Kau akan tahu betapa mulia dan indah sosok Rasulullah hingga patut menjadi teladan bagi seluruh manusia.

Buku Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW menghimpun hadits-hadits tentang keseharian dan pribadi Rasulullah. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara berjalan, cara duduk, bahkan cara bersandar hingga lauk-pauk yang biasa Rasulullah makan. Total terdapat 57 bab dengan 417 hadits yang dicantumkan dalam buku ini.

Dari segi fisik, aku suka buku ini karena hardcovernya. Seluruh halamannya juga terkesan clean dengan latar belakang warna putih, nyaman dibaca, kontras dengan gambar-gambar full color yang terdapat di dalamnya (iya, buku ini full color dan dilengkapi gambar, jadi tidak membosankan).

dok. pribadi
Penulisan buku ini tidak bertele-tele, langsung pada hadits yang berkaitan dengan bab bahasannya. Misalnya Bab 5: Uban Rasulullah (8 Hadits), maka langsung dicantumkan di bawahnya 8 hadits berkaitan dengan uban Rasulullah. Tulisan pada buku dibedakan menjadi 2 warna; warna hitam untuk perawi dan warna biru untuk isi hadits.



Hadits yang dhaif, hasan, shahih dan muttafaq alaih—seluruhnya terdapat di buku ini. Keterangannya ada di footnote setiap nomor. Hanya saja, tidak ada penjelasan sebelumnya tentang hukum jenis-jenis hadits tersebut. Seperti kalau dhaif itu lemah, hasan berarti baik, dan semacamnya. Paling tidak, kupikir seharusnya di awal diberikan penjelasan umum tentang hakikat hadits dan arti setiap jenisnya. Dengan begitu, pembaca sepertiku yang belum tahu apa-apa tentang nilai jenis-jenis hadits tidak perlu repot-repot browsing atau bertanya ke teman untuk mengetahui mana hadits yang bisa dijadikan acuan dan mana yang dipertanyakan keshahihannya.

Selain itu, kupikir sebaiknya di akhir setiap bab diberi kesimpulan terkait judul babnya. Misalnya, Bab 1: Fisik Rasulullah (15 Hadits). Seluruh hadits tersebut terdiri dari hadits shahih, muttafaq alaih, ada pula yang dhaif. Barangkali di akhir bab dapat diberi simpulan “Berdasarkan hadits-hadits di atas, bahwasanya fisik Rasulullah begini dan begitu…” Namun, mungkin saja penulis mengasumsikan para pembaca dapat menyimpulkan sendiri dari apa yang telah dibacanya tanpa perlu dicantumkan kesimpulan.

Secara keseluruhan, buku ini bagus dan recommended untuk kita yang kepo lebih lanjut soal pribadi Rasulullah. Tentu saja ketika membayangkan sosok Nabi Muhammad SAW, setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda-beda. Buku ini membantu kita untuk mengetahui sedikit-banyak garis besar yang dapat dijadikan acuan dalam mengenal sosok Rasulullah lebih jauh. Terlepas dari seperti apa wujud Rasulullah, segala hal dalam dirinya adalah suri tauladan bagi umat manusia. Semoga dengan mengenal diri Rasulullah lebih jauh, kita dapat lebih mencintai dan sering merindukannya, karena Rasulullah bersabda,
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga saya yang lebih ia cintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.”
(H.R. Al-Bukhari nomor 16)

Allah menguatkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab Ayat 6 bahwasanya,
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”


Mar 2, 2018

Catatan dari Alan

March 02, 2018

2.

Itu dia yang di sana. Menarik perhatianku. Cukup manis. Aku suka.
www.pexels.com
Desember.
Kawanku bersikap kurang ajar. Membajak ponselku dan bertanya, berkenankah kau jadi pacarku. Begitu kau mengatakan ya, dia langsung menuliskan namamu di statusku. Akh! Sungguh, aku memang menyukaimu! Tapi, ini terlalu cepat. Aku tak bisa menarik kata-kata itu, kau akan sakit hati bila tahu itu bukan dariku.

Maret.
Aku dan kau yang berpacaran, lantas mengapa mereka yang repot-repot mengurus kita? Maksudku, teman-teman berkomentar ketika aku meghampirimu. Pun ketika aku bersikap cuek padamu. Aku tahu tak seharusnya mendengarkan perkataan orang lain, tapi itu membuatku tidak nyaman. Enggan bersamamu di depan orang banyak. Aku tahu kau sudah berusaha memahamiku, tapi aku tak dapat menjanjikan apa-apa.

Mei.
Ah, rasanya sepi sekali. Tapi bukan kau yang ingin kuhubungi. Percakapan kita terasa tak ada maknanya, hanya basa-basi belaka. Walau kau selalu memerhatikanku, maaf aku tidak bisa menghidupkan suasana seperti yang biasa kulakukan dengan teman-temanku. Aku bertanya-tanya mengapa bisa begitu. Apa karena itu kau?

Juli.
Hubungan apa ini namanya? Semua tahu kita bersama. Tapi rasanya hambar. Aku tak kuasa menyakitimu, kau terlalu baik. Namun, aku juga tak bisa menyenangkanmu, meski aku berusaha untuk itu. Aku mulai jengah, hobimu spam chat membuatku risih, padahal kau berbuat begitu karena aku yang selalu bersikap tidak peduli. Miris, kau bagaikan mengemis perhatianku. Maafkan aku, sungguh! Kenapa tak kau enyahkan saja aku? Mengapa kau begitu sabar padaku? Benci saja padaku! Kau lebih baik tanpaku..

Oktober.
Cepat atau lambat aku harus mengakhirinya. Ah iya, sebentar lagi kau berulang tahun. Biarlah kubuat senang dulu dirimu. Sebagai balasan kebaikanmu 4 bulan lalu, memberiku kejutan dan hadiah buatan tangan, yang jelas tiada duanya.
Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bahagia dengan kejutan itu.. aku makin tak kuasa untuk mengakhiri hubungan ini lebih dulu.

Kita sama-sama tersiksa.
Aku, yang ingin lepas darimu.
Kau, yang menghabiskan seluruh energimu untuk memahamiku, sabar terhadapku, tidak menuntut apapun kecuali hanya secuil perhatian dariku.

Aku memang pengecut.
Pengecut yang tak berani terus terang ketika kau bertanya,
“Jadi maumu apa?”

Pengecut yang lalu dengan tega mengatakan,
“Aku sudah bosan. Aku tidak nyaman dengan ini. Lebih baik cukupkan sampai di sini.”

Pengecut yang menolak menemuimu ketika kau berkata,
“Kita boleh putus. Tapi katakan itu di depan wajahku. Setidaknya sekali, biarkan kita menyelesaikan masalah bukan via aplikasi.”

Si brengsek yang langsung menghapus namamu di statusku keesokan paginya, padahal kau belum selesai bicara tentang hubungan kita.
Aku bisa lihat, kau bukannya tidak ingin putus denganku. Kau hanya ingin, sekali saja dalam sembilan bulan yang sia-sia ini , aku memperlakukanmu dengan baik: mengakhiri semuanya sebagaimana layaknya.

Barangkali kau ingin aku menawarkan pipiku untuk kau tampar, meski kau takkan tega melakukannya. Atau mungkin kau hendak menarik kerahku, marah dan menangis; membuat rasa bersalahku menjadi-jadi.

Sudahlah. Aku ini si brengsek yang harus kau lupakan, aku tak pernah memberimu cinta, hanya melatih terus kesabaranmu dan memberi luka. Maka berbahagialah selepas ini.
Kuharap kau cepat memiliki pengganti.

Seperti aku sekarang ini.