Mar 18, 2018

Bucin yang Posesif (2)

March 18, 2018 0 Comments

Halo, dengan aku lagi di sini..

Masih bercerita tentang zaman-zamannya bucin.


Aku percaya, seburuk-buruknya orang memiliki sisi baik. Atau dibalik, selalu ada kebaikan dalam diri setiap orang. Aku juga melihat hal baik di balik perangai Galon yan buruk. Tapi nyatanya, yang paling berkesan padaku bukan kebaikan-kebaikan Galon, tapi perbuatan buruk yang dia lakukan.

Switch to gue-lo.
Mungkin kala itu, gue terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk menghadapi Galon, sampai lupa kalau gue punya kehidupan lain di luar cinta-cintaan. Di penghujung tahun ajaran pertama, sekolah gue mengadakan pagelaran. Event ini menjadi kompetisi antarkelas. Demi menampilkan yang terbaik, kami semua harus bekerja sama. Karena berperan cukup besar dalam pagelaran itu, hari-hari gue disibukkan dengan latihan dan ngumpul bareng teman-teman kelas—berangkat sekolah pagi, pulang malam hari. Gue begitu menikmati kesibukan baru ini hingga mengesampingkan Galon.
Galon adalah tipe cowok yang bisa jadi ganjen ke cewek-cewek lain kalau pacarnya gak posesifin dia. Aduh, gimana ya ngebahasainnya. Istilahnya kalau kita gak ngekang dia, dia bakal ngeloyor kesana-kemari. Makanya dulu gue bersikap posesif ke dia, karena dia duluan yang begitu ke gue sehingga gue merasa berhak posesif balik ke dia. Ibaratnya, lo aja ngekang gue, masa gue biarin lo bebas?

Kesibukan gue membuat gue yakin si Galon ini mencari kesempatan ke yang lain. Tapi saat itu, gue gak peduli. Bodo amat juga kalau dia mau selingkuh (lagi). Saat itu hidayah gue muncul; gue berpikir, gue masih terlalu muda untuk terikat dengan satu orang. Gue masih SMA, cowok gak cuma dia, dan yang lebih baik banyak. Buat apa juga menghabiskan masa muda gue buat hal yang sia-sia? Dan gue bertekad bulat mengakhiri hubungan ini.
Gue sadar ini gak bakal mudah; Galon gak akan segampang itu mau putus dengan gue. Bisa dibayangkan pertengkaran macam apa yang harus gue hadapi. Tapi ketika itu, gue gak takut—begitu bersemangat menjadi jomblo! Sama sekali gak ada faktor orang ketiga, atau cowok lain yang menarik perhatian gue. Murni gue ingin melepaskan diri dari ikatan ini dan mulai mencintai diri sendiri dengan benar.
www.pexels.com

Sepertinya Allah merestui niat gue karena tiba-tiba aja gue dapat kabar dari teman SMP kalau Galon nembak cewek lain! Teman gue ini cukup akrab dengan gue jadi gak mungkin juga dia bohong. Apalagi dia bilang dia punya bukti screenshootnya (waktu itu udah pake BBM dan lagi hits aplikasi screenmuncher/grabscreen wkwk). Gue gak peduli benar atau nggak, yang pasti ini bisa jadi alasan untuk lepas dari Galon.
Lupa persisnya, waktu itu masih jam sekolah dan belum ada guru. Tanpa ba bi bu lagi gue bbm Galon dan mulai menyelidik bla bla bla yang ujungnya minta putus. Reaksinya jelas—dia menolak mentah-mentah. Galon ngotot kalau dia gak selingkuh atau apalah itu, saking seringnya bohong udah gak bisa bedain lagi mana yang jujur dan bohong.
Gue menjabarkan lebih detail alasan ingin putus. Gue gak suka dibohongi. Gue gak suka diperlakukan kasar; disebut anj*ng, t*i, go*lok, atau b*ng*at. Gue manusia, terlebih seorang perempuan yang berhak diperlakukan baik-baik. Kalau gue memang sosok yang begajulan dan kurang ajar, bolehlah dia hina gue sebegitunya. Tapi selama itu kan gue berusaha menjadi orang yang baik buat dia. Ngasih dukungan, mau bersabar, terus memaafkan, gue bahkan gak pernah menuntut diperlakukan istimewa—hanya sewajarnya.

Dia keukeuh gak mau putus.
Dia bilang bakal nungguin gue di luar sekolah atau datang ke rumah. Dia ‘meneror’ gue selama seminggu. Teror di sini bukan hal jahat yang berbahaya, hanya mengganggu. Dia bahkan menelepon ketika jam pelajaran sekolah, gue pernah nendang meja kelas saking dongkolnya. Dia mengirim sms, chat bbm, voicenote, belum lagi update status di twitter dan facebook tentang gue. How annoying it was, really.
Mungkin kalian berpikir tinggal diblok atau diabaikan aja, tapi sayangnya gak semudah itu. Gue takut dia malah makin menjadi-jadi.

Puncak kemarahan gue adalah pada suatu siang di rumah. Gue pergi ke kamar waktu dapat telepon dari dia, gue angkat tapi gak ngomong apa-apa. Diem aja sampai dia muak sendiri.
Lupa persisnya, tapi ketika itu gue ngelempar boneka gue ke lemari kamar saking kesalnya dan mengumpat, “anj*r ngeselin banget sih lo!” Maaf, waktu itu gue merasa jadi pribadi yang agak kasar, tapi cuma saat berinteraksi sama dia doang. Teori gue sih karena dia sering ngasarin gue, dan refleks gue mengembalikan apa yang gue terima. Bisa jadi juga karena terpengaruh oleh dia. Dan tahu gak apa katanya setelah gue bilang begitu?

“Lin..kamu kan perempuan, gak boleh ngomong kasar kaya gitu..” ucapnya memelas.

Gue bahkan gak bisa menggambarkan betapa tambah marahnya gue saat itu.
Gue bukan tipe orang yang bisa marah blak-blakan, alhasil badan gue panas dingin nahan emosi yang meluap-luap. Gue sangat marah sama dia sampai gak sanggup lagi buat nangis. Gue berkata dengan nada sangat rendah dan lambat-lambat, “Heh, lo tau kan gue perempuan? Tau? Kalau lo tau, terus kenapa selama ini lo memperlakukan gue kasar, nyebut gue anj*ng dan sebangsanya. Lo gak berhak sok ngingetin gue kayak gitu sedangkan diri lo itu brengsek.” Sebelum gue selesain omongan itu dia udah menyela dan minta maaf, terus memohon buat balikan dan mengobral janji gak akan kayak gitu lagi.
Karena gue lelah dengan teror ini, gue bilang aja ‘terserah!’ dan dia langsung mengartikan itu sebagai tanda balikan. Dia memang berubah menjadi sok baik, rajin ngehubungin gue walau gue gak pernah balas lebih dari dua kata dan gak pernah nanya balik. Siapa suruh maksa balikan orang yang udah gak mau lagi. Biarin aja sampai dia muak sendiri.
Gak lama gue dikabarin kalau dia ‘berulah’ lagi. Gak peduli ini beneran atau nggak, gue jadikan ini alasan putus lagi. Prosesnya lama lagi, tapi akhirnya fix kali ini gue bebas..

Welcome freedom.
Gue menjelma menjadi jomblo yang berbahagia. Hahahaha.
Bebas berteman dengan siapapun, dan banyak menghabiskan waktu untuk teman-teman tercintah dan aktif di organisasi sekolah. Yang paling penting, gue belajar mencintai diri sendiri dengan benar--menjauhi hal-hal negatif serta menyerap dan menyebarkan energi positif.

Ada yang pernah bilang ke gue, kalau kita gak perlu menyesali apapun yang udah terjadi, bagaimanapun juga itu bagian dari masa lalu. Satu-satunya penyesalan gue adalah kenapa gak mengakhiri hubungan itu lebih cepat. Kalau udah merasa bahwa hubungan itu merugikan dan gak membawa pengaruh baik ke diri sendiri, lebih baik disudahi. Gak perlulah berlama-lama menyiksa diri, apalagi mengatasnamakan cinta. Halah, maaf-maaf nih ya, ada baiknya dipikir lagi; jangan-jangan kita bukan tengah ‘memperjuangkan’ melainkan hanya bertahan dalam kebodohan.
Tapi, yang gue katakan itu hanya berlaku di hubungan macam cerita ini; gak sehat, bikin tertekan, ngebatin, ngabisin masa muda. Gue gak menggeneralisir berbagai bentuk hubungan pacaran yang ada di bumi. Siapa gue, cuma berbagi pengalaman dan berusaha memetik hikmah di baliknya.
Setiap orang punya ceritanya masing-masing, dan cara mereka menyikapi masalahnya sendiri. Ada istilah ‘hasil tidak akan mengkhianati usaha’, tapi, dalam hidup ini sebenarnya ada beberapa usaha yang tidak membuahkan hasil (mengutip pelajaran dari film You Are the Apple of My Eye). Misalnya kayak gue yang mengatasnamakan perasan berusaha sabar menghadapi kasarnya dia dengan harapan nantinya berubah dan bla bla bla, padahal sebenarnya yang gue lakukan sia-sia aja. Sekuat apapun berusaha, tetap aja yang ngatur itu Allah, Dia lebih tahu kalau gak seharusnya kita jadi bucin.

Untuk mereka yang pernah terlalu sibuk mencintai orang lain hingga lupa rasanya mencintai diri sendiri, aku harap kamu sadar bahwa kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang mau memperjuangkan kamu?

Mar 14, 2018

Bucin yang Posesif (1)

March 14, 2018 0 Comments

Beberapa waktu lalu, aku menonton film Posesif-nya Adipati dan Putri Marino. Lalu, ada yang bikin kepikiran setelah nonton itu. Bukan cuma gantengnya Adipati, tapi juga kisah ‘posesif’ versiku sendiri.

-Btw, sebenarnya, ketika nulis aku lebih suka nyebut aku-kamu daripada gue-lo, tapi aku gak bisa ber-aku-kamu tanpa gaya bahasa yang baku. Sedangkan cerita ini lebih ngalir pakai gue-lo dan gak baku—skip-

Kayaknya, memang akan ada fase ‘bucin’ (budak cinta) di hidup setiap orang ya? Saat di mana kita merasa cinta banget sama sesuatu atau seseorang hingga mau bersusah-susah unfaedah demi dia. Umumnya nggak salah sih, tapi menurutku hal ini menjadi nggak benar kalau kita sampai mewajarkan hal yang salah dan membuat rugi diri sendiri.
www.pexels.com

Edisi flashback. Switch to gue-elo.
Gue pernah punya pacar, sebut aja namanya Galon (bukan Alan ko, hehe). Gue terlalu terpaku pada kenyataan kalau dia adalah orang yang gue sukai. Bagaimanapun buruk tingkahnya, dia tetaplah dia. Dan gue adalah orang yang mampu bersabar untuk dia. Begitulah dulu gue memandang kami. Saking sukanya, gue menutup mata dari sifat asli yang Galon miliki; egois, kasar, dan posesif. Maafkan, waktu itu gue masihlah seorang anak SMA labil yang baru memiliki perasaan sesuka itu pada lawan jenis. Kayaknya belum ada istilah bucin waktu itu, but yesh now we call it bucin.
Kami pernah bertengkar di lapang terbuka, ditonton oleh beberapa orang sekitar. Dia hampir menyeret gue pergi dari hadapannya dan membentak-bentak nyuruh gue pulang. Asalnya karena gue ngebalas sms dari seorang cowok. Sebelumnya gue memang mengiyakan permintaan dia untuk gak akan ngebalas sms orang itu, tapi gue balas juga akhirnya. Saat itu kami belum jadian (belum pacar aja udah semarah itu..) dan gue pikir gak ada salahnya kontekan dengan siapapun selama isinya nggak ‘aneh-aneh’. Singkatnya, ketika itu gue minta maaf, walaupun gue tetap berpikir dia nggak punya hak membentak gue di depan orang seperti itu.
Setelah gue pergi, dia update status yang isinya menyuruh gue untuk mati aja. Hm, alhamdulillah masih hidup dan sehat walafiat sampai sekarang. Btw, waktu itu zamannya main facebook, update status udah kayak nulis diary, no privacy.
Singkat cerita, akhirnya kami jadian (iya, bodoh). Kalau kalian baca artikel sebelumnya yang blokir mantan, di situ gue bilang kalau ingatan gue tajam berkaitan dengan memori yang menyangkut emosi. Ya, gue masih ingat juga beberapa kejadian dalam masa pacaran ini. Sejujurnya, ini adalah luka lama yang sangat dalam—lol. Tapi B aja sih, udah berlalu juga.

Terkadang dia membuat gue was-was; meskipun kami berbeda sekolah, somehow dia tahu aja apa yang gue lakukan. Seperti kejadian waktu itu, salah satu teman cowok yang kabarnya naksir gue ngajak foto bareng. Gue menolak halus, agak takut sama Galon yang cemburuan. Tapi karena keadaan, akhirnya gue mengiyakan ajakan itu. Toh fotonya juga gak dekatan, ada jarak lumayan di tengah-tengahnya. Dan di sinilah…
Malamnya, gue dan Galon smsan. Karena hari itu gue menjadi panitia event di sekolah, gue pulang petang dan kecapekan. Ketika perbincangan berjalan santai, tiba-tiba doi nanya, “Ada yang mau diceritain gak?”
Di sini gue merasakan firasat buruk—hawa-hawa mau berantem. Gue memilih menjawab, “Gak ada kayaknya. Kenapa?”
Kalian harus tahu, saat itu gue lagi capek banget, gue males berantem yang ujung-ujungnya cuma bikin gue tertekan. Lagipula, sekalipun gue jujur bilang ke dia kalau tadi diajak foto bareng, dia bakal tetap marah.
“Yakin gak ada?” Fix ini dia tahu.
“Iya, kenapa?” Gue siap-siap.
“Oh jadi foto bareng sama **** bukan apa-apa ya. DASAR T*I LO B**GSAAAAAT!”
Reaksi gue ketika membaca sms itu adalah: menghela napas panjang.
Gak perlu tahu lanjutnya gimana. Yang pasti, begitulah dia kalau marah. Semua yang di kebun binatang keluar. Dia bakal terus marah walaupun gue udah minta maaf—nyaris ngemis—baik-baik.

Di sini gue gak bermaksud menjelekkan dia dan serta-merta menjadikan diri gue ‘korban’ sedangkan dia selalu melulu jadi ‘orang brengsek’. Namun faktanya, pertengkaran kami memang seringkali terjadi karena dialah sumber masalahnya. Entah main dengan cewek lain tanpa sepengetahuan gue atau ketahuan bohong. Siapa sih yang suka dibohongin?

Pernah tuh, ada cewek yang ngirim message di facebook gue, “Emangnya ini beneran pacarnya Galon?” Gue balas, “Iya, ini siapa?” Belum direspon.
Malamnya, gue cerita ke Galon tentang ini. Dia bilang, dia gak kenal sama cewek itu. Anehnya, besoknya gue gak nemu pesan cewek itu di facebook gue. Bahkan gue gak bisa menemukan akun dia di kolom search. Simpulannya cuma satu; Galon buka fb gue dan ngeblokir atau-entah-apa akun si cewek itu. Iya, waktu itu kami saling tahu password akun masing-masing. Ha. Sebelumnya Galon bilang dia gak kenal dengan cewek itu, logikanya aja, kalau gak ada apa-apa bahkan gak kenal, ngapain dia harus bertindak begitu?
Banyak lagi cerita sejenis kayak di atas, tapi gak perlu di bahas. Yang pasti, hal ini gak terjadi sekali-dua kali.

Pernah, pertengkaran semalaman gue dengan Galon berlanjut sampai pagi. Gue datang ke sekolah dengan muka kusut, mata bengkak kurang tidur, dan lesu. Moodbreaker banget emang si Galon. Kayaknya istilah ‘pertengkaran’ kurang tepat deh. Karena jika begitu, dua pihak sama-sama marah, sedangkan ini dia yang marah-marah dan gue cuma bisa ngalah. Mungkin terlihat betapa bodohnya, betapa mau-maunya diperlakukan kayak sampah oleh orang yang katanya ‘pacar’ kita. Tapi saat itu, gue masih abege labil berpandangan sempit. Demi mengakhiri pertengkaran kami, gue harus siap mengalah walaupun sebenarnya gak salah. Karena apa? Galon itu egois banget—walaupun dia tahu dia salah, susah buat dia minta maaf.
Pagi itu dia sms begini, “YA UDAHLAH PUTUS AJA!”
Gue, zaman itu, sebisa mungkin gak mau putus. Jawabannya tiga; gue bodoh, ababil, dan bucin. Selagi bisa diselesaikan baik-baik, gue pikir gak perlu sampai putus. Sebuah kenaifan. Tapi pagi itu, gue udah capek. Gue merasa terbebani dengan keberadaan dia. Gue lelah dengan semua drama alay ini. Teman-teman kelas gue juga sangat mendukung untuk putus, apalagi chairmate gue. Alhasil, gue ketik sms dengan nada menyerah yang pasrah, “Ya udah kalau emang maunya begitu………”
Dan tahu balasannya apa?
“OH GITU JADI UDAH GAK SAYANG LAGI SAMA GUA!!!”
Uhm, what the hell. Agak geli kalau diingat.
Gue bertukar pandang heran dengan chairmate. Loh? Kan dia yang minta putus, terus gue iyain. Lalu kenapa sekarang dia malah tambah marah?
Dari situlah gue tahu. Sebenarnya dalam hubungan ini yang lemah itu dia. Dia yang gak bisa putus dengan gue. Dia berpikir kalau gue akan selalu mengalah dan mau bersabar buat dia. Semua ancaman putusnya selama ini hanya gertakan, dia pikir gue akan selalu menolak mentah-mentah untuk putus. Dia gak sadar akan kemungkinan, kalau gue bisa mencapai titik muak.

Suatu hari dia pernah marah (lagi) karena cemburu. Dia membentak gue di toko buku. Matanya merah saking marahnya, “Ngapain di sini?!” tanyanya dengan nada menghardik yang kasar. Gue ingat ada kakek-kakek di dekat situ yang langsung mencuri-curi pandang ke arah kami. Sakit sih kalau diingat, seumur-umur gak ada yang pernah berani berlaku sekasar itu ke gue kecuali dia.
Setelahnya, kami makan di J.CO. Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba dia berubah baik lagi (masa gara-gara makan manis-manis?). Gue mengunyah donat gue dalam diam sementara dia tersenyum dan bertanya, “Kenapa? Kok diem aja?” dan sesekali bergumam, “Enak yang ini..”
Gue syok. Asli.
Mata gue langsung berair dan detik itu juga gue mau nangis saking marahnya. Ini orang abis ngebentak-bentak gue, dengan senyum malah nanya ‘kenapa’ tanpa minta maaf sama sekali!
Gila emang.
Saat itu hati gue rada terketuk. Gue bagai bertanya pada diri sendiri, “Lo sebenarnya lagi ngapain, Lin? Pacaran sama orang kayak gini, buta ya?”
Sayangnya, ‘hidayah’ itu gak berlangsung lama. Galon marah lagi abis makan donat, dia mengantar gue pulang dan kami berpisah dalam diam yang sangat tidak nyaman. Dengan kebodohan khas gue waktu itu, gue malah sms minta maaf ke dia.
MINTA MAAF.
Harusnya dia yang minta maaf! Kalau diingat lagi, jadi kesal. Itu adalah masa-masa kebodohan gue.
To be continued…..

Sampai sini dulu ceritanya. Next diterusin gimana cerita putusnya dan teror seperti apa yang kudapat karena mengakhiri hubungan secara sepihak.

Have a nice day kamu yang sudah baca ini! Maafkan gaya penulisanku yang campur-campur (kembali lagi menjadi ‘aku’).

Mar 8, 2018

Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad by Imam At-Tirmidzi

March 08, 2018 0 Comments

“Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; (di antaranya) yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya..”

(H.R. Al-Bukhari nomor 16, 21, dan Muslim nomor 43)

Judul               : Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW
Penulis           : Imam At-Tirmidzi
Penerbit        : Ummul Qura
Cetakan         : IV (2017)
Jumlah Hlm : 208

Membaca buku ini mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk ‘pendekatan’ terhadap manusia yang seluruh umat Islam cintai yakni, Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak ingin mengenal, dan bertemu Rasulullah? Duduk dekat dengan beliau di akhirat kelak? Kalau kau termasuk yang tidak, mungkin ada baiknya membaca buku ini. Kau akan tahu betapa mulia dan indah sosok Rasulullah hingga patut menjadi teladan bagi seluruh manusia.

Buku Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW menghimpun hadits-hadits tentang keseharian dan pribadi Rasulullah. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara berjalan, cara duduk, bahkan cara bersandar hingga lauk-pauk yang biasa Rasulullah makan. Total terdapat 57 bab dengan 417 hadits yang dicantumkan dalam buku ini.

Dari segi fisik, aku suka buku ini karena hardcovernya. Seluruh halamannya juga terkesan clean dengan latar belakang warna putih, nyaman dibaca, kontras dengan gambar-gambar full color yang terdapat di dalamnya (iya, buku ini full color dan dilengkapi gambar, jadi tidak membosankan).

dok. pribadi
Penulisan buku ini tidak bertele-tele, langsung pada hadits yang berkaitan dengan bab bahasannya. Misalnya Bab 5: Uban Rasulullah (8 Hadits), maka langsung dicantumkan di bawahnya 8 hadits berkaitan dengan uban Rasulullah. Tulisan pada buku dibedakan menjadi 2 warna; warna hitam untuk perawi dan warna biru untuk isi hadits.


Hadits yang dhaif, hasan, shahih dan muttafaq alaih—seluruhnya terdapat di buku ini. Keterangannya ada di footnote setiap nomor. Hanya saja, tidak ada penjelasan sebelumnya tentang hukum jenis-jenis hadits tersebut. Seperti kalau dhaif itu lemah, hasan berarti baik, dan semacamnya. Paling tidak, kupikir seharusnya di awal diberikan penjelasan umum tentang hakikat hadits dan arti setiap jenisnya. Dengan begitu, pembaca sepertiku yang belum tahu apa-apa tentang nilai jenis-jenis hadits tidak perlu repot-repot browsing atau bertanya ke teman untuk mengetahui mana hadits yang bisa dijadikan acuan dan mana yang dipertanyakan keshahihannya.

Selain itu, kupikir sebaiknya di akhir setiap bab diberi kesimpulan terkait judul babnya. Misalnya, Bab 1: Fisik Rasulullah (15 Hadits). Seluruh hadits tersebut terdiri dari hadits shahih, muttafaq alaih, ada pula yang dhaif. Barangkali di akhir bab dapat diberi simpulan “Berdasarkan hadits-hadits di atas, bahwasanya fisik Rasulullah begini dan begitu…” Namun, mungkin saja penulis mengasumsikan para pembaca dapat menyimpulkan sendiri dari apa yang telah dibacanya tanpa perlu dicantumkan kesimpulan.

Secara keseluruhan, buku ini bagus dan recommended untuk kita yang kepo lebih lanjut soal pribadi Rasulullah. Tentu saja ketika membayangkan sosok Nabi Muhammad SAW, setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda-beda. Buku ini membantu kita untuk mengetahui sedikit-banyak garis besar yang dapat dijadikan acuan dalam mengenal sosok Rasulullah lebih jauh. Terlepas dari seperti apa wujud Rasulullah, segala hal dalam dirinya adalah suri tauladan bagi umat manusia. Semoga dengan mengenal diri Rasulullah lebih jauh, kita dapat lebih mencintai dan sering merindukannya, karena Rasulullah bersabda,
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga saya yang lebih ia cintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.”
(H.R. Al-Bukhari nomor 16)
Allah menguatkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab Ayat 6 bahwasanya,
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”


Mar 2, 2018

Catatan dari Alan

March 02, 2018 0 Comments

2.

Itu dia yang di sana. Menarik perhatianku. Cukup manis. Aku suka.
www.pexels.com
Desember.
Kawanku bersikap kurang ajar. Membajak ponselku dan bertanya, berkenankah kau jadi pacarku. Begitu kau mengatakan ya, dia langsung menuliskan namamu di statusku. Akh! Sungguh, aku memang menyukaimu! Tapi, ini terlalu cepat. Aku tak bisa menarik kata-kata itu, kau akan sakit hati bila tahu itu bukan dariku.

Maret.
Aku dan kau yang berpacaran, lantas mengapa mereka repot-repot mengurus kita? Maksudku, teman-teman berkomentar ketika aku meghampirimu. Pun ketika aku bersikap cuek padamu. Aku tahu tak seharusnya mendengarkan perkataan orang lain, tapi itu membuatku tidak nyaman. Enggan bersamamu di depan orang banyak. Aku tahu kau sudah berusaha memahamiku, tapi aku tak dapat menjanjikan apa-apa.

Mei.
Ah, rasanya sepi sekali. Tapi bukan kau yang ingin kuhubungi. Percakapan kita terasa tak ada maknanya, hanya basa-basi belaka. Walau kau selalu memerhatikanku, maaf aku tidak bisa menghidupkan suasana seperti yang biasa kulakukan dengan teman-temanku. Aku bertanya-tanya mengapa bisa begitu. Apa karena itu kau?

Juli.
Hubungan apa ini namanya? Semua tahu kita bersama. Tapi rasanya hambar. Aku tak kuasa menyakitimu, kau terlalu baik. Namun, aku juga tak bisa menyenangkanmu, meski aku berusaha untuk itu. Aku mulai jengah, hobimu spam chat membuatku risih, padahal kau berbuat begitu karena aku yang selalu bersikap tidak peduli. Miris, kau bagaikan mengemis perhatianku. Maafkan aku, sungguh! Kenapa tak kau enyahkan saja aku? Mengapa kau begitu sabar padaku? Bencilah aku! Kau lebih baik tanpaku..

Oktober.
Cepat atau lambat aku harus mengakhirinya. Ah iya, sebentar lagi kau berulang tahun. Biarlah kubuat senang dulu dirimu. Sebagai balasan kebaikanmu 4 bulan lalu, memberiku kejutan dan hadiah buatan tangan, yang jelas tiada duanya.
Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bahagia dengan kejutan itu.. aku makin tak kuasa untuk mengakhiri hubungan ini lebih dulu.

Kita sama-sama tersiksa.
Aku, yang ingin lepas darimu.
Kau, yang menghabiskan seluruh energimu untuk memahamiku, sabar terhadapku, tidak menuntut apapun kecuali hanya secuil perhatian dariku.

Aku memang pengecut.
Pengecut yang tak berani terus terang ketika kau bertanya,
“Jadi maumu apa?”

Pengecut yang lalu dengan tega mengatakan,
“Aku sudah bosan. Aku tidak nyaman dengan ini. Lebih baik cukupkan sampai di sini.”

Pengecut yang menolak menemuimu ketika kau berkata,
“Kita boleh putus. Tapi katakan itu di depan wajahku. Setidaknya sekali, biarkan kita menyelesaikan masalah bukan via aplikasi.”

Si brengsek yang langsung menghapus namamu di statusku keesokan paginya, padahal kau belum selesai bicara tentang hubungan kita.
Aku bisa lihat, kau bukannya tidak ingin putus denganku. Kau hanya ingin, sekali saja dalam sembilan bulan yang sia-sia ini , aku memperlakukanmu dengan baik: mengakhiri semuanya sebagaimana layaknya.

Barangkali kau ingin aku menawarkan pipiku untuk kau tampar, meski kau takkan tega melakukannya. Atau mungkin kau hendak menarik kerahku, marah dan menangis; membuat rasa bersalahku menjadi-jadi.

Sudahlah. Aku ini si brengsek yang harus kau lupakan, aku tak pernah memberimu cinta, hanya melatih terus kesabaranmu dan memberi luka. Maka berbahagialah selepas ini.
Kuharap kau cepat memiliki pengganti.

Seperti aku sekarang ini.