Feb 2, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Senior High School Vibes

Dalam rangka menghabiskan kuota gratis yang bertenggat waktu malam ini, aku memutuskan untuk mengisi blog ini dengan memanfaatkan tulisan-tulisan lama karanganku sewaktu SMA. Salah satunya ini, dengan sedikit editan di sana-sini.


source: koreabanget.com


29 Januari 2015 7:16 PM

 Seorang senior pernah berkata padaku di hari-hari pertamaku sebagai pelajar SMA, bahwa masa SMA adalah saat-saat yang paling berkesan, yang kelak akan paling diingat ketika kita sudah dewasa. Ketika itu, aku tidak mengakuinya—belum—tetapi jika sekarang aku mengingat kembali semua yang terjadi, aku mengakuinya juga.
Di tahun pertama, hawa senioritas pada masa orientasi membuatku dicekam ketakutan. Kalau kuingat lagi, aku merasa sangat konyol, kikuk, dan menggelikanSetiap hari dalam satu minggu masa orientasi itu selalu saja ada kesalahan yang membuatku ditegur senior (wkwkwk culun abis). Mungkin mereka juga sudah muak—aku lagi, aku lagi. Teman-teman seperjuangan di kelompokku adalah saksinya. Masih di tahun pertama, aku menjadi bagian dari kelas yang persaingannya cukup ketat namun solidaritasnya kuat. Aku tergabung dalam ekstrakurikuler teater, yang bisa dikatakan bertolak belakang dengan kepribadianku. Jelas, teater butuh orang yang berani dan tidak kenal malu. Apalah aku yang malu-malu tai kucing. Niatnya ikut ekskul itu untuk merubah sifatku yang begitu, alhamdulillah ngefek dikit-dikit. Gilanya. Teman-temanku di ekskul teater adalah manusia-manusia paling gila yang pernah kutemui, dan aku merasa nyaman di dalamnya.
Di tahun kedua, aku diperkenalkan dengan ‘keluarga baru’ saat menjadi pengurus OSIS. Ide, kerja keras, dan semangat diupayakan demi terealisasikannya program kerja yang telah dibuat bersama. Pengalaman organisasi yang sangat berkesan. Orang-orangnya asyik dan mereka semua hebat. Lumayan untuk bekal organisasi di perkuliahan nanti.
Paling penting di antara semuanya adalah orang-orang yang sudah menetap di bawah atap yang sama denganku selama dua tahun—naungan Sosial 2. Tiga puluh dua individu berbeda karakter yang merangkai sebuah cerita. Satu cerita dengan tiga puluh dua sudut pandang yang bisa saja berbeda. Namun, seperti apapun itu, aku yakin tidak satupun dari kami menyesal menjadi bagian satu sama lainnya di kelas ini.
Setiap anak yang menulis karangan ini pasti memiliki kesan, pengalaman, dan ceritanya masing-masing. Suka dan duka yang dialami, kisah asmara yang pernah terjalin, dan konflik yang berbelit-belit. Tentu kita semua sepakat kalau masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Jika tidak diakui sekarang, mungkin nanti—ketika kita sadar betapa berbedanya dunia putih abu dengan dunia yang sesungguhnya.

3 years since I wrote this and we're all still keep in touch.
Even this weekend we gonna meet up, yuhu!

No comments:

Post a Comment