Feb 20, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Cerita dari Rani

Bercerita tentangmu bukan berarti rindu. Camkan itu.

1.

Ah, itu kau rupanya.
Kudengar, kepada teman-teman kau menyebutku manis. Tahukah kau, akupun menganggapmu begitu.

Di bulan kedua kedekatan kita, di tengah bahasan chatting yang kurang penting, kau mengganti topik,
“Boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Silakan,”
“Malu mengatakannya”
“Ada apa?”
“Kamu mau tidak, jadi pacarku?”
Aneh. Denganku, biasanya kau tidak menggunakan ‘aku-kamu’, melainkan namaku dan namamu. Bukankah seharusnya, “Rani mau tidak, jadi pacar Alan?”
Hmm, mungkin kau gugup, sehingga bertingkah berbeda. Sudah lama kita saling suka, tentu saja jawabanku, “Ya.”
Oh lihat, menit berikutnya, namaku sudah tercantum di statusmu. Ah, apakah kau sesenang itu?
www.pexels.com

Di bulan ketiga jadian kita.
Sikapmu aneh, masih banyak diam ketika bertemu. Ah iya, mungkin kau malu dengan teman-teman kita yang hobi ikut campur. Kau tidak suka disuruh menghampiriku, memperlakukanku begini dan begitu. Kau terganggu dan aku mengerti. Meski itu berarti aku harus terima hanya bicara denganmu via aplikasi. Tapi, bisakah kau beri aku sedikit perhatian? Aku merasa agak kesepian.

Di bulan kelima.
Aku mulai menangis. Aku lelah tak kau anggap ada, meski hampir setiap hari kita menghadap dinding yang sama. Bila jauh, aku merana tak kau beri kabar. Pun sekali kau hubungi terdengar seperti basa-basi. Oh, ralat—terbaca. Karena selama ini kita berhubungan lewat chatting. Aku sudah memaklumimu sejauh ini. Kumulai habis sabar; begitu hambar, rasanya seperti aku tidak punya pacar.

Di bulan ketujuh.
Banyak waktu kulewati dengan perasaan galau. Haruskah aku menyerah? Kau tampak tidak menginginkanku. Sejauh ini kita hanya makan bersama sekali, menonton film dua kali, dengan aku yang selalu memulai pertama kali. Selalu aku! Inilah aku yang kerap mengabaikan naluriku sebagai perempuan. Mengendurkan egoku, menyembunyikan kekhawatiranku, demi kenyamananmu..
Jangan nilai aku agresif, aku begini demi mengimbangi dirimu yang pasif.

Di bulan kedelapan.
Kau memberiku kejutan ulang tahun! Menyenangkan sekali. Aku berharap setelah ini hubungan kita berangsur membaik. Kau akan memperlakukanku sebagaimana mestinya. Tidak muluk-muluk, cukup ladeni aku bicara. Balas ketika kutanya kabar, ajak aku pergi meski hanya makan di kaki lima. Ya, aku menyayangimu dengan cara sederhana, maka cukup anggap aku ada agar aku bahagia!

Di bulan kesembilan.
Ah, begini rupanya. Keadaan tak kunjung membaik. Duluan kuangkat topik mau dibawa kemana hubungan ini. Kuberanikan diri menghampirimu dan bertanya, “Jadi maumu apa?”
Kau tampak kesulitan bicara. Tanganmu mengepal ketika berucap, “Nanti malam kuhubungi.”

Kau sebut dirimu lelaki, tapi sangat tidak bernyali.
Jelas sudah akhir kisah ini.
Aku, si keras kepala yang bertahan sia-sia dan tak mau lebih dulu mengakhiri, selesai dengan ditinggalkan secara menyedihkan. Bukan tanpa alasan, melainkan terlalu banyak alasan.
Seluruhnya bermuara pada satu inti: kau tidak menginginkan aku lagi.


Atau, memang tidak pernah ingin.
Paris, Oktober 2016.

No comments:

Post a Comment