Feb 9, 2018

# Celotehan

Better Than Reading Sociology Theories

www.pexels.com
Sejak awal, aku pikir gak akan sulit mengisi blog ini. Setidaknya di waktu sekarang-sekarang ini. Aku sedang dalam mode supergabut karena banyak menghabiskan waktu libur di rumah. Artinya, aku punya banyak waktu luang untuk nulis, kegiatan yang sangat aku sukai. Lagipula, aku juga gak bingung-bingung amat mau nulis apa. Ada folder khusus di notebook yang isinya draft tulisan-tulisan yang dulu dengan penuh semangat dimulai, namun ujungnya terbengkalai. Bisa aku revisi. Namun sekarang aku sedang memikirkan alasan kenapa tiba-tiba ngeblog.
Jujur, sebelum ini aku udah jarang baca buku, bentuk kegiatan lain yang sangat aku sukai juga. Ketika lagi senggang di kosan aku lebih memilih tidur, main hp, dan nonton drama Korea atau Running Man. Aku pernah mikir, ‘hidup ngekos telah merenggut hobi membacaku…’. Thatmerenggut’. Kadang-kadang aku gak habis pikir dengan caraku berpikir. Nyalahin keadaan atas segala kemageran.
Kembali lagi pada alasan ngeblog. Lama berdiam di rumah sebenarnya bukan masalah. Aku punya banyak buku yang bisa aku baca (ulang). Kalau bosan baca dan pengen mikir, aku bakal ngisi buku-buku pelajaran SMA yang masih disimpan. Jangan tanya kenapa—aku gamau ngabisin waktu libur dengan teori-teorinya Durkheim dan Karl Marx atau milah-milih judul usulan penelitian. Belum masuk kuliah lagi udah mabok duluan. Jadi, mungkin itu alasan pertama. Killing time by do your hobbies are the best choice. It’s better than reading sociology theories.
Namun, beberapa hari yang lalu aku memutuskan beli buku tes CPNS, hanya supaya bisa mengerjakan sesuatu yang ‘baru’ di rumah—bukan karena benar-benarr beres kuliah mau lanjut kesitu. Baru ngerjain separuh Bab I: Tes Intelegensi Umum. Belum lanjut lagi. Males mikir.
Okay, kembali ke topik.
Walaupun aku sempet berhenti membaca, aku gak pernah berhenti nulis. Apa aja aku tulis. Kadang binder isinya gak cuma catatan kuliah, tapi juga curhat (dan gamungkin hanya aku yang begini). Karena kebiasaan corat-coret-apapun ini, aku selalu punya buku kecil sebagai ‘tempat sampah’-ku. Tapi rasanya selalu cepat habis. Second account sosial mediaku juga menjadi semacam ‘instablog’ sebelum ini. Dan gak cuma itu, di main account-ku juga dibikin close friends list-nya. Hal ini membuatku bertanya-tanya, teman-teman muak gak ya ngeliat aku muncul di mana-mana. Wkwk. But itu gak jadi masalah juga sih. Aku nulis karena aku butuh itu untuk menjabarkan pikiran—like I’m doing now—dan mereka gak perlu membacanya. We can just ignore it when we not interested it. So, daripada semua tulisan itu tercecer dimana-mana, lebih baik aku tuangkan saja semuanya ke dalam blog. Itu alasan kedua.
Btw, garis besar isi personal blog ini ada 3—Celotehan, Coretan Kisah, dan Tentang Buku. Celotehan isinya ya kayak begini; pendapatku tentang satu dan lain hal. Khusus kategori ini bahasanya agak nyantai, 'semi-baku' kalau kuistilahkan sendiri. Coretan kisah, kurang lebih berisi karangan yang kubuat. Bukan berarti hal yang kutulis itu tidak benar-benar terjadi juga, baik yang berbentuk penggalan cerita atau puisi. Masih mikir-mikir mau dituangkan kesini atau enggak, mendadak pelit. Tentang Buku..well, aku punya banyak buku. Sebagian besar di antaranya bernuansa agama. Sejak SD aku menyenangi buku-buku model begitu, bukan berarti sok religius juga.. kali lain kuceritakan di celotehan. Intinya, pada kategori ini, isinya kurang lebih review tentang buku-buku yang pernah kubaca. Tidak selalu buku baru, karena ada juga buku-buku keluaran lama yang menurutku pantas untuk dibagikan.
Jadi, sejauh ini alasanku ngeblog adalah karena gabut dan bermaksud menjadikan tulisan-tulisanku terkumpul jadi satu. Alasan ketiga, because I’m loving it.
I just did because I loved it.
Started from pen and paper, sure it can makes life as sweet as candy. To me, at least.
Ngetik berjam-jam, nulis apapun di atas kertas; selama itu bukan tugas, aku akan sangat antusias. Yah, ketika kita sudah mencintai sesuatu (atau mungkin seseorang) rasanya gak perlu ada alasan kenapa kita mau repot-repot mengurusnya.

No comments:

Post a Comment