Feb 16, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Berubah: Taat atau Tersesat (2)

Tersesat.

Pada suatu siang di salah satu tempat makan, aku mendapat pesan dari seorang kawan.
“Aku benar-benar gak tau lagi ini kenapa. Gimana ya? Aku udah gak ngerasain lagi feel-nya shalat. Rasanya udah jauh banget dari agama. Aku bahkan sempat terpikir soal murtad, tapi tentu aja aku gak akan kaya gitu. Tapi gimana cara menyikapi perasaan ini?! ”
Syok. Ini masalah serius. Aku tahu itu ketika sadar jantungku berdegup kencang. Butuh beberapa saat bagiku sebelum mampu membalas. Aku mengingat lagi akar permasalahannya, darimana semua ini bermula. Aku seperti mendengar suaranya lagi ketika mengingat saat kami bercakap-cakap..
*
“Laki-laki itu baik. Dia cukup pintar. Sayangnya, kami berbeda agama. Tapi, biar begitu, semua berjalan menyenangkan! Aku bahkan mengenal akrab kawan-kawan di komunitas agamanya.”
“Kok bisa?” tanyaku sesantai mungkin.
“Aku sering ikut ketika mereka sedang berkumpul,” ia melahap sepotong bakso dan terus bicara di sela-sela kunyahan, “Aku melihat cara mereka beribadah.. Kadang-kadang, aku ikut dia ke tempat ibadahnya. Aku bahkan bisa menunjukkan padamu gerakannya sekarang kalau saja kita tidak sedang makan di mall.” Ia nyengir padaku. Aku menjaga ekspresiku dan tersenyum lemah. Sekarang bakso milikku terasa seperti dibumbui kekhawatiran. Aku yakin pernah mendengar suatu hadist yang kurang-lebih menyatakan, ‘barang siapa mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam bagiannya..’.
*
“Jadi..,” ia terdengar ragu di ujung telepon, namun ada nada tidak sabar untuk segera memberitahuku sesuatu. “aku bermain ke beberapa tempat, dan mencoba sesuatu.”
Aku merasa yang membuatnya ragu adalah kemungkinan reaksiku ketika mendengar ceritanya, jadi aku berusaha memperdengarkan nada ingin tahu yang tenang, “Oh ya? Apa itu?”
“Aku beberapa kali pergi ke kelab malam.”
“Oh ya? Di mana? Memang ada di sekitar sana?” aku berbasa-basi.
“Ada banyak, di sini mah.” Ia tertawa geli sementara aku menghela napas dalam-dalam di sini. Kubiarkan saja dia bercerita dulu, kusimpan reaksiku di akhir.
“Aku mencoba minuman itu. Yang ini, yang itu; sepertinya aku pernah mencoba..hampir semua jenisnya? Entahlah,” dia terkekeh. “Rasanya memang enak. Tapi ada yang kukhawatirkan.”
“Apa?” tanyaku datar.
“Yah, aku cukup paham hukum minum-minum dalam agama kita. Katanya, shalat kita gak akan diterima selama empat puluh hari, kan ya? Tapi, sekarang-sekarang ini aku memang jarang shalat, sih. Lagipula kalau memang gak diterima, gak usah shalat dulu, bukan?” ia terdengar malu-malu, tapi aku bisa membayangkan cengiran lemahnya di sana.
“Sama siapa ke sana?” tanyaku jengkel, sudah kesal.
“Pacar. Dia yang awalnya mengajakku.”
*
Kembali ke saat ini.
Kalau saja jarak kami tidak terpisah beberapa kota, aku pasti mendatanginya begitu membaca pesan itu. Saat itu, amarahku terhadap sosok lelaki yang belum pernah kutemui itu menyala-nyala. Mungkin, dia tidak sepenuhnya salah. Sifat temanku yang cenderung penasaran akan segala sesuatu bisa saja mendorongnya mencoba ‘hal-hal baru’. Tetapi seharusnya, sebagai orang yang mengaku pacar, dia paham akan itu dan mengarahkan temanku ke hal-hal yang baik. Bukan malah menjerumuskannya. Untuk alasan apa? Sedikit bersenang-senang? Hanya secuil kenakalan remaja? Persetan.
Putusin, dia.” Kecamku di kolom chat. “Dulu kamu gak kayak gini. Aku gak mau tahu jenis pergaulan macam apa yang ada di kota sana. Yang pasti, pacar kamu gak membawa pengaruh baik. Masa bodoh cinta-cintaan, putusin dia cepat atau lambat!” Aku tidak tahu apakah dia bisa merasakan kesenduanku saat menambahkan, “Kalau kamu sampai kayak gini, aku merasa gagal sebagai teman kamu…”
**
Tentu saja mereka putus.
Butuh waktu beberapa bulan sejak peristiwa itu. Tentu tidak mudah mengakhirinya, yang kudengar si lelaki sempat menolak mentah-mentah tidak mau berpisah. Dan mungkin temanku butuh waktu juga untuk mengenyahkan perasaannya. Namun akhirnya semua itu berlalu. Aku merasa cukup lega.
Lama waktu berselang hingga temanku mendapatkan kekasih baru, sementara aku masih sendiri-sendiri saja—jangan tanya kenapa, dan jangan peduli mengapa; akan menjadi kisah konyol kalau diceritakan.
Berbulan-bulan kami tenggelam ke dalam kesibukan masing-masing tanpa sempat bertukar kabar. Sesekali kami saling menyapa di instastory, tapi hanya sekadar itu. Aku menekan rasa penasaranku tentang bagaimana pacarnya yang sekarang; masih banyak hal-hal yang perlu kupikirkan. Satu dari sekian hal yang membuat waktu dan pikiranku terkuras adalah tugas. Namun, tak urung aku sempat bertanya-tanya mengapa kini dia jarang bercerita. Biasanya dia akan ujuk-ujuk memulai pembicaraan tentang pacarnya. Aku berpikir, mungkin tidak ada masalah sehingga tak ada yang perlu diceritakan.
Sampai pada suatu ketika, aku mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Sesuatu mengganjal hatiku dan satu-satunya orang yang terpikir olehku untuk membahas ini adalah teman itu. Malamnya, aku mengirim chat cukup panjang, isinya adalah curhatku tentang seorang laki-laki yang membuat perasaanku tidak enak hari itu.
“Gimana kalau nanti kita telfonan? Ada yang mau kuceritakan juga.” jawabnya di kolom chat.
Beberapa jam kemudian, kami sudah bercakap-cakap di telepon. Tidak hanya menanggapi ceritaku, ia juga menceritakan kisahnya yang sekarang. Ternyata dia sudah putus lagi dengan pacar yang kemarin, saat ini dia sedang mencoba bangkit. Aku menyimak dengan penuh perhatian, seperti biasa menjaga nada suaraku tetap tenang bahkan ketika mendengar hal-hal yang cukup mengejutkan. Aku terus memperdengarkan nada kasual selama mengulik-ulik ceritanya. Bagaimana bisa? Kenapa begitu? Mengapa dia selalu menjadikan laki-laki brengsek sebagai pacarnya? Yang sekarang bahkan lebih buruk dari yang dulu! Aku terus merutuk dalam hati. Pengertian dan penyesalan bercampur-aduk dalam diriku.
“Maka dari itu,” ucapnya di ujung telepon. “Kamu jangan mau sama laki-laki gak benar. Gak perlu ditanggapi cowok yang menghubungi kamu itu. Apa-apaan coba dia? Pokoknya jangan, ya—jangan pernah coba-coba. Ingat, jangan sampai seperti aku sekarang ini.” Ia mengingatkan, nyaris seperti mengancam.
Jangan sampai seperti aku sekarang ini.
Kata-kata itu bergema di telingaku bahkan ketika sinyal yang terputus-putus membuat kami terpaksa mengakhiri percakapan malam itu. Aku beranjak tidur dengan pikiran berkecamuk.
Sedih? Jelas. Siapa yang tidak ketika melihat orang yang disayanginya terjerumus ke dalam hal-hal buruk? Di sini, aku tidak bisa semerta-merta menyalahkan pacarnya dan teman-teman sepergaulannya. Aku, sebagai teman lamanya juga perlu diperhitungkan.
Bagiku, sahabat dan pacar adalah orang-orang di luar keluarga yang memiliki andil cukup besar dalam kehidupan pribadi seseorang. Kenapa aku merasa ikut bertanggung jawab atas kenakalannya? Bukankah ketika melihat kemungkaran kita diperintahkan untuk mengingatkan? Kalau tidak bisa, ya diam saja--dan itulah selemah-lemahnya iman. Tidak mungkin kan, kau diam saja ketika temanmu berbuat buruk? Kalau ya, mungkin kau perlu berkaca: teman macam apa dirimu.
Terlebih, Rasulullah bersabda: "Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di atara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman." (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378). Dalam hadis lainnya, Rasululah mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Aku cantumkan ini agar kita sama-sama bisa melihat, betapa seorang teman atau sahabat berpengaruh terhadap diri kita, pun sebaliknya.
Aku kembali menata pikiranku menyikapi hal ini.
Merantau ke kota lain, hidup di kos-kosan tanpa pengawasan orang tua; pintar-pintar dalam bergaul adalah hal yang harus dilakukan. Seperti yang kusebutkan dalam cerita sebelumnya, bukan pilih-pilih teman ala anak SD; melainkan bersikap selektif. Senakal-nakalnya pergaulan di kawasan metropolitan menurutku tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan keadaan. Semacam bertanya, ‘kenapa kau mabuk-mabukan?’ lalu diberi jawaban ‘pergaulan di sini memang begitu’. Oke, mungkin itu benar adanya. Lingkungan dan teman sepermainan sangat berpengaruh pada diri kita. Tetapi kita dapat memilih untuk mengikutinya, atau mengabaikannya. Barangkali memang sulit bagi beberapa orang untuk berdiri melawan arus, apalagi bila sendirian. Namun, yang aku garisbawahi di sini adalah, bagaimana si pacar sebagai orang terdekat malah memberikan asupan negatif paling besar terhadap diri temanku. Tidakkah dia bisa sekadar menggenggam tangan wanitanya dan menuntunnya ke hal-hal baik? Aku menyisakan ruang di pikiranku untuk mengutuk laki-laki itu.
Apa yang dikatakannya terakhir tadi? Jangan sampai seperti aku sekarang ini. Hatiku tergetar aneh—terharu dan menyesal. Terharu, karena dia mengingatkan untuk tidak jatuh ke dalam hal-hal yang ‘merusak’, sementara dia sendiri membiarkan dirinya jatuh tersesat. Menyesal, karena seharusnya aku bisa berperan lebih banyak—membantunya keluar dari masa-masa sulit dan menata kembali segala impiannya. Aku menyesal tidak dapat mengatakan dengan lantang betapa sedih diriku bila dia terjerat pada hal-hal yang merugikannya. Tidak bisa melarangnya setegas yang seharusnya.
www.pexels.com
Aku mengingat sosok temanku. Sudah berbulan-bulan lamanya kami tidak bersua. Pergaulannya sudah berbeda sekarang, tapi ia tetap temanku yang sama. Dia masihlah seseorang yang sangat mengerti diriku. Tahu, siapa laki-laki yang menurutku istimewa dan hapal betul aku akan luluh padanya sebagaimanapun menyebalkannya dia. Dia masihlah seorang teman yang sangat pengertian dan setia kawan; tidak rela aku diperlakukan buruk oleh orang lain. Dia adalah sosok yang berani, namun juga hangat; sederhana, tapi hebat. Aku menyayanginya seperti saudara. Aku menyesalkan sikapnya yang terkungkung dalam entah-kenakalan-apa-saja yang telah diperbuatnya di sana. Dulu, dia seorang perempuan yang memiliki banyak mimpi…
Mungkin aku kurang tegas, tak mampu bersikap keras. Sebagai teman, aku hanya dapat mendoakan kebaikannya. Siap memasang telinga kapanpun dia butuh aku untuk mendengarkan. Aku tahu dan percaya, dia seseorang yang baik, dan dapat menjadi lebih baik.


Setiap orang pasti pernah memiliki masa-masa kelam dalam hidupnya. Masa-masa di mana dia merasa jatuh atau terlalu bersenang-senang menikmati dunia hingga lupa ajal bisa datang kapan saja. Orang-orang terdekat kita memang akan memegang peranan besar untuk membuat hal itu semakin parah, atau justru dengan berani menyadarkan kita kalau itu salah. Tetapi kita tidak selalu dapat mengandalkan bantuan orang lain, karena diri sendirilah yang harus memutuskan—masa muda kita mau diisi dengan hal-hal bermanfaat atau malah penuh sesat?

2 comments: