Feb 14, 2018

# Celotehan # Coretan Pena

Berubah: Taat atau Tersesat (1)

Banyak hal yang mungkin terjadi ketika kita sedang dalam masa pencarian jati diri. Satu hal yang kutahu pasti, lingkungan akan sangat mempengaruhi. Entah membantu kita menjadi lebih baik, atau malah mengendurkan kontrol diri. Itulah mengapa kurasa penting sekali memilih dengan siapa kita bergaul. Bukan pilih-pilih teman ala anak SD kalau lagi musuhan, mungkin lebih tepat disebut selektif—terkesan memilah mana yang masuk kategori ‘diinginkan’ dan ‘tidak diinginkan’. Dalam hal ini, mana yang baik dan yang buruk.
Terpikir menulis ini ketika sedang memikirkan orang-orang yang telah mengalami perubahan dalam dirinya: yang satu menjadi lebih taat, dan satunya lagi tersesat. Tersesat di sini bukan dalam konteks agama berkenaan aliran-aliran tertentu, melainkan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Kalau yang taat? Tentu maksudnya hijrah menjadi lebih religius.
www.pexels.com
Pertama, tentang Ia yang taat.
Btw, taat di sini bukan berarti sebelum ini dia sama-sekali jauh dari agama. Hanya agak sedikit begajulan.
Aku kurang tahu persis bagaimana asal-usulnya dia bisa menjadi lebih agamais. Yang pasti, postingannya di media sosial penuh dengan pengetahuan-pengetahuan tentang Islam. Ia juga rajin nge-share postingan official account line dakwah ke grup-grup. Termasuk grup kelas kami. Ah, di mana-mana agama selalu menjadi topik sensitif. Sempat beberapa kali terjadi ‘huru-hara’ di grup kelas kami itu. Mulai dari persoalan larangan mengucapkan selamat ulang tahun, masalah hukum puasa sunah ini-itu, sampai niat baik untuk sharing seputar Islam pun dipertanyakan. Yah, tidak terkecuali adanya kekhawatiran dari kami, teman-temannya, kalau dia berangsur-angsur menjadi fanatik.
Sebagai teman yang cukup dekat, aku yakin ia cukup cerdas untuk tidak terseret ke dalam hal-hal seperti itu. Aku bersyukur ia sudah mampu berhijrah dan tampak benar-benar mencintai Islam. Sebagai teman, siapa sih yang tidak senang melihat kawannya begitu? Di sisi lain, ada hal-hal yang agak membuatku terganggu. Salah satunya, sikapnya yang terkesan menggurui.
Beberapa kali chatting dan membahas seputar agama, terkadang aku merasa tidak nyaman dengan caranya bertutur kata. Seolah-olah.. dia mengerti seluk-beluk agama sedangkan aku masih tidak tahu caranya berdoa. Mungkin karena aku berpikir, Ia berhijrah belum lama; tapi kata-katanya sudah seperti seorang ustadz. Padahal aku menjadi saksi segala kelakuan aneh dan konyolnya dia semasa sekolah. Aku merasa serba salah. Kadang gregetan ketika dia bersikap ‘menyebalkan’, tapi jauh di lubuk hati merasa tidak enak berpikir begitu tentang dia. Yah, aku pikir ia masih perlu belajar bagaimana cara berbagi tanpa terkesan menggurui, dan aku juga perlu belajar membersihkan hati yang kayaknya memang rada-rada kotor. HaL. Namun, semua itu hanya perasaan sesaat saja.
Hal lain yang kurasakan setelah hijrahnya dia adalah.. perasaan kehilangan.
Fyi, dia yang tengah kuceritakan ini seorang laki-laki.
Mencoba berpikir objektif; dari tulisan-tulisan yang pernah kubaca seputar hijrahnya seseorang, pada umumnya mereka mengalami sedikit ‘tekanan’. Teman-teman mainnya akan sedikit menjaga jarak, atau paling tidak bersikap agak berbeda karena si hijrah-ers tidak seasyik dulu. Akan ada orang-orang yang mencibir perubahannya, ngomongin ini-itu, dan sebagainya. Dan aku merasa menemukan hal-hal tersebut pada diri temanku, walaupun dia tidak pernah menceritakan atau mungkin tidak ambil peduli. Aku menemukan diriku pada bagian ‘teman mainnya akan sedikit menjaga jarak’.
Ah, apa iya?
Ya, ya. Bisa jadi.
Aku mulai merasa segan untuk menghubunginya. Entah mengapa tiap kali secara random ingin nge-chat, aku khawatir dia akan berpikir ‘gak usah dilanjut chatnya kalau gak penting-penting amat’. Secara aku perempuan, dia laki-laki. Sepengetahuanku—yang kebanyakan kudapati dari buku-buku Felix Siauw—komunikasi yang tidak perlu antara lelaki dan perempuan lebih baik dihindari. Di situlah aku merasa agak kehilangan. Dulu, dia banyak meluangkan waktunya untuk meladeni curhatku yang menye-menye. Walaupun kami jarang bertemu karena beda kampus, komunikasi tetap jalan. Aku banyak berpikir, sepertinya ini hanya perasaanku saja. Toh, aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Meskipun di dunia maya ia terlihat sangat ‘disibukkan’ dengan hal-hal berbau agama, belum tentu di dunia nyata ia sekaku itu. Kupikir, temanku tidak akan berubah se-drastis itu. Lagi-lagi aku mungkin sedang overthinking.
Sampai akhirnya, perjumpaan kami menjawab kegelisahanku. Beberapa teman berkumpul bersama. Kami semua saling menyapa dan bertukar cerita masing-masing. Membahas kabar terbaru hingga kenangan-kenangan masa sekolah dulu. Satu hal yang aku tahu, temanku masih sama. Dia orang yang sama yang aku kenal. Temanku yang bicaranya agak blak-blakan dan banyak komentar, tapi selalu siap mendengarkan bila—khususnya—teman-teman ceweknya berceloteh tentang mantan yang menyebalkan atau kisah cinta yang gagal (bukan kok, bukan aku..). Dia tetaplah orang yang hobi mengolokku dengan ejekan-ejekannya yang tidak jelas, rusuh, dan suka ngebanyol.
Intinya, selama ini rasa kehilangan itu hanya prasangkaku saja, karena rasanya ini baru pertama kalinya aku mendapati sahabat dekatku berhijrah. Sebagai teman, kau hanya harus memberikan yang terbaik; apapun yang teman itu butuhkan. Dukungan, ketika dia menjelma jadi pribadi yang lebih baik. Teguran, ketika dia tersesat ke hal-hal yang salah.
Dan yang terakhir disebut, akan menjadi cerita yang berikutnya

No comments:

Post a Comment