Feb 20, 2018

Cerita dari Rani

February 20, 2018 0 Comments

Bercerita tentangmu bukan berarti rindu. Camkan itu.

1.

Ah, itu kau rupanya.
Kudengar, kepada teman-teman kau menyebutku manis. Tahukah kau, akupun menganggapmu begitu.

Di bulan kedua kedekatan kita, di tengah bahasan chatting yang kurang penting, kau mengganti topik,
“Boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Silakan,”
“Malu mengatakannya”
“Ada apa?”
“Kamu mau tidak, jadi pacarku?”
Aneh. Denganku, biasanya kau tidak menggunakan ‘aku-kamu’, melainkan namaku dan namamu. Bukankah seharusnya, “Rani mau tidak, jadi pacar Alan?”
Hmm, mungkin kau gugup, sehingga bertingkah berbeda. Sudah lama kita saling suka, tentu saja jawabanku, “Ya.”
Oh lihat, menit berikutnya, namaku sudah tercantum di statusmu. Ah, apakah kau sesenang itu?
www.pexels.com

Di bulan ketiga jadian kita.
Sikapmu aneh, masih banyak diam ketika bertemu. Ah iya, mungkin kau malu dengan teman-teman kita yang hobi ikut campur. Kau tidak suka disuruh menghampiriku, memperlakukanku begini dan begitu. Kau terganggu dan aku mengerti. Meski itu berarti aku harus terima hanya bicara denganmu via aplikasi. Tapi, bisakah kau beri aku sedikit perhatian? Aku merasa agak kesepian.

Di bulan kelima.
Aku mulai menangis. Aku lelah tak kau anggap ada, meski hampir setiap hari kita menghadap dinding yang sama. Bila jauh, aku merana tak kau beri kabar. Pun sekali kau hubungi terdengar seperti basa-basi. Oh, ralat—terbaca. Karena selama ini kita berhubungan lewat chatting. Aku sudah memaklumimu sejauh ini. Kumulai habis sabar; begitu hambar, rasanya seperti aku tidak punya pacar.

Di bulan ketujuh.
Banyak waktu kulewati dengan perasaan galau. Haruskah aku menyerah? Kau tampak tidak menginginkanku. Sejauh ini kita hanya makan bersama sekali, menonton film dua kali, dengan aku yang selalu memulai pertama kali. Selalu aku! Inilah aku yang kerap mengabaikan naluriku sebagai perempuan. Mengendurkan egoku, menyembunyikan kekhawatiranku, demi kenyamananmu..
Jangan nilai aku agresif, aku begini demi mengimbangi dirimu yang pasif.

Di bulan kedelapan.
Kau memberiku kejutan ulang tahun! Menyenangkan sekali. Aku berharap setelah ini hubungan kita berangsur membaik. Kau akan memperlakukanku sebagaimana mestinya. Tidak muluk-muluk, cukup ladeni aku bicara. Balas ketika kutanya kabar, ajak aku pergi meski hanya makan di kaki lima. Ya, aku menyayangimu dengan cara sederhana, maka cukup anggap aku ada agar aku bahagia!

Di bulan kesembilan.
Ah, begini rupanya. Keadaan tak kunjung membaik. Duluan kuangkat topik mau dibawa kemana hubungan ini. Kuberanikan diri menghampirimu dan bertanya, “Jadi maumu apa?”
Kau tampak kesulitan bicara. Tanganmu mengepal ketika berucap, “Nanti malam kuhubungi.”

Kau sebut dirimu lelaki, tapi sangat tidak bernyali.
Jelas sudah akhir kisah ini.
Aku, si keras kepala yang bertahan sia-sia dan tak mau lebih dulu mengakhiri, selesai dengan ditinggalkan secara menyedihkan. Bukan tanpa alasan, melainkan terlalu banyak alasan.
Seluruhnya bermuara pada satu inti: kau tidak menginginkan aku lagi.


Atau, memang tidak pernah ingin.
Paris, Oktober 2016.

Feb 16, 2018

Berubah: Taat atau Tersesat (2)

February 16, 2018 2 Comments

Tersesat.

Pada suatu siang di salah satu tempat makan, aku mendapat pesan dari seorang kawan.
“Aku benar-benar gak tau lagi ini kenapa. Gimana ya? Aku udah gak ngerasain lagi feel-nya shalat. Rasanya udah jauh banget dari agama. Aku bahkan sempat terpikir soal murtad, tapi tentu aja aku gak akan kaya gitu. Tapi gimana cara menyikapi perasaan ini?! ”
Syok. Ini masalah serius. Aku tahu itu ketika sadar jantungku berdegup kencang. Butuh beberapa saat bagiku sebelum mampu membalas. Aku mengingat lagi akar permasalahannya, darimana semua ini bermula. Aku seperti mendengar suaranya lagi ketika mengingat saat kami bercakap-cakap..
*
“Laki-laki itu baik. Dia cukup pintar. Sayangnya, kami berbeda agama. Tapi, biar begitu, semua berjalan menyenangkan! Aku bahkan mengenal akrab kawan-kawan di komunitas agamanya.”
“Kok bisa?” tanyaku sesantai mungkin.
“Aku sering ikut ketika mereka sedang berkumpul,” ia melahap sepotong bakso dan terus bicara di sela-sela kunyahan, “Aku melihat cara mereka beribadah.. Kadang-kadang, aku ikut dia ke tempat ibadahnya. Aku bahkan bisa menunjukkan padamu gerakannya sekarang kalau saja kita tidak sedang makan di mall.” Ia nyengir padaku. Aku menjaga ekspresiku dan tersenyum lemah. Sekarang bakso milikku terasa seperti dibumbui kekhawatiran. Aku yakin pernah mendengar suatu hadist yang kurang-lebih menyatakan, ‘barang siapa mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam bagiannya..’.
*
“Jadi..,” ia terdengar ragu di ujung telepon, namun ada nada tidak sabar untuk segera memberitahuku sesuatu. “aku bermain ke beberapa tempat, dan mencoba sesuatu.”
Aku merasa yang membuatnya ragu adalah kemungkinan reaksiku ketika mendengar ceritanya, jadi aku berusaha memperdengarkan nada ingin tahu yang tenang, “Oh ya? Apa itu?”
“Aku beberapa kali pergi ke kelab malam.”
“Oh ya? Di mana? Memang ada di sekitar sana?” aku berbasa-basi.
“Ada banyak, di sini mah.” Ia tertawa geli sementara aku menghela napas dalam-dalam di sini. Kubiarkan saja dia bercerita dulu, kusimpan reaksiku di akhir.
“Aku mencoba minuman itu. Yang ini, yang itu; sepertinya aku pernah mencoba..hampir semua jenisnya? Entahlah,” dia terkekeh. “Rasanya memang enak. Tapi ada yang kukhawatirkan.”
“Apa?” tanyaku datar.
“Yah, aku cukup paham hukum minum-minum dalam agama kita. Katanya, shalat kita gak akan diterima selama empat puluh hari, kan ya? Tapi, sekarang-sekarang ini aku memang jarang shalat, sih. Lagipula kalau memang gak diterima, gak usah shalat dulu, bukan?” ia terdengar malu-malu, tapi aku bisa membayangkan cengiran lemahnya di sana.
“Sama siapa ke sana?” tanyaku jengkel, sudah kesal.
“Pacar. Dia yang awalnya mengajakku.”
*
Kembali ke saat ini.
Kalau saja jarak kami tidak terpisah beberapa kota, aku pasti mendatanginya begitu membaca pesan itu. Saat itu, amarahku terhadap sosok lelaki yang belum pernah kutemui itu menyala-nyala. Mungkin, dia tidak sepenuhnya salah. Sifat temanku yang cenderung penasaran akan segala sesuatu bisa saja mendorongnya mencoba ‘hal-hal baru’. Tetapi seharusnya, sebagai orang yang mengaku pacar, dia paham akan itu dan mengarahkan temanku ke hal-hal yang baik. Bukan malah menjerumuskannya. Untuk alasan apa? Sedikit bersenang-senang? Hanya secuil kenakalan remaja? Persetan.
Putusin, dia.” Kecamku di kolom chat. “Dulu kamu gak kayak gini. Aku gak mau tahu jenis pergaulan macam apa yang ada di kota sana. Yang pasti, pacar kamu gak membawa pengaruh baik. Masa bodoh cinta-cintaan, putusin dia cepat atau lambat!” Aku tidak tahu apakah dia bisa merasakan kesenduanku saat menambahkan, “Kalau kamu sampai kayak gini, aku merasa gagal sebagai teman kamu…”
**
Tentu saja mereka putus.
Butuh waktu beberapa bulan sejak peristiwa itu. Tentu tidak mudah mengakhirinya, yang kudengar si lelaki sempat menolak mentah-mentah tidak mau berpisah. Dan mungkin temanku butuh waktu juga untuk mengenyahkan perasaannya. Namun akhirnya semua itu berlalu. Aku merasa cukup lega.
Lama waktu berselang hingga temanku mendapatkan kekasih baru, sementara aku masih sendiri-sendiri saja—jangan tanya kenapa, dan jangan peduli mengapa; akan menjadi kisah konyol kalau diceritakan.
Berbulan-bulan kami tenggelam ke dalam kesibukan masing-masing tanpa sempat bertukar kabar. Sesekali kami saling menyapa di instastory, tapi hanya sekadar itu. Aku menekan rasa penasaranku tentang bagaimana pacarnya yang sekarang; masih banyak hal-hal yang perlu kupikirkan. Satu dari sekian hal yang membuat waktu dan pikiranku terkuras adalah tugas. Namun, tak urung aku sempat bertanya-tanya mengapa kini dia jarang bercerita. Biasanya dia akan ujuk-ujuk memulai pembicaraan tentang pacarnya. Aku berpikir, mungkin tidak ada masalah sehingga tak ada yang perlu diceritakan.
Sampai pada suatu ketika, aku mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Sesuatu mengganjal hatiku dan satu-satunya orang yang terpikir olehku untuk membahas ini adalah teman itu. Malamnya, aku mengirim chat cukup panjang, isinya adalah curhatku tentang seorang laki-laki yang membuat perasaanku tidak enak hari itu.
“Gimana kalau nanti kita telfonan? Ada yang mau kuceritakan juga.” jawabnya di kolom chat.
Beberapa jam kemudian, kami sudah bercakap-cakap di telepon. Tidak hanya menanggapi ceritaku, ia juga menceritakan kisahnya yang sekarang. Ternyata dia sudah putus lagi dengan pacar yang kemarin, saat ini dia sedang mencoba bangkit. Aku menyimak dengan penuh perhatian, seperti biasa menjaga nada suaraku tetap tenang bahkan ketika mendengar hal-hal yang cukup mengejutkan. Aku terus memperdengarkan nada kasual selama mengulik-ulik ceritanya. Bagaimana bisa? Kenapa begitu? Mengapa dia selalu menjadikan laki-laki brengsek sebagai pacarnya? Yang sekarang bahkan lebih buruk dari yang dulu! Aku terus merutuk dalam hati. Pengertian dan penyesalan bercampur-aduk dalam diriku.
“Maka dari itu,” ucapnya di ujung telepon. “Kamu jangan mau sama laki-laki gak benar. Gak perlu ditanggapi cowok yang menghubungi kamu itu. Apa-apaan coba dia? Pokoknya jangan, ya—jangan pernah coba-coba. Ingat, jangan sampai seperti aku sekarang ini.” Ia mengingatkan, nyaris seperti mengancam.
Jangan sampai seperti aku sekarang ini.
Kata-kata itu bergema di telingaku bahkan ketika sinyal yang terputus-putus membuat kami terpaksa mengakhiri percakapan malam itu. Aku beranjak tidur dengan pikiran berkecamuk.
Sedih? Jelas. Siapa yang tidak ketika melihat orang yang disayanginya terjerumus ke dalam hal-hal buruk? Di sini, aku tidak bisa semerta-merta menyalahkan pacarnya dan teman-teman sepergaulannya. Aku, sebagai teman lamanya juga perlu diperhitungkan.
Bagiku, sahabat dan pacar adalah orang-orang di luar keluarga yang memiliki andil cukup besar dalam kehidupan pribadi seseorang. Kenapa aku merasa ikut bertanggung jawab atas kenakalannya? Bukankah ketika melihat kemungkaran kita diperintahkan untuk mengingatkan? Kalau tidak bisa, ya diam saja--dan itulah selemah-lemahnya iman. Tidak mungkin kan, kau diam saja ketika temanmu berbuat buruk? Kalau ya, mungkin kau perlu berkaca: teman macam apa dirimu.
Terlebih, Rasulullah bersabda: "Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di atara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman." (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378). Dalam hadis lainnya, Rasululah mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Aku cantumkan ini agar kita sama-sama bisa melihat, betapa seorang teman atau sahabat berpengaruh terhadap diri kita, pun sebaliknya.
Aku kembali menata pikiranku menyikapi hal ini.
Merantau ke kota lain, hidup di kos-kosan tanpa pengawasan orang tua; pintar-pintar dalam bergaul adalah hal yang harus dilakukan. Seperti yang kusebutkan dalam cerita sebelumnya, bukan pilih-pilih teman ala anak SD; melainkan bersikap selektif. Senakal-nakalnya pergaulan di kawasan metropolitan menurutku tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan keadaan. Semacam bertanya, ‘kenapa kau mabuk-mabukan?’ lalu diberi jawaban ‘pergaulan di sini memang begitu’. Oke, mungkin itu benar adanya. Lingkungan dan teman sepermainan sangat berpengaruh pada diri kita. Tetapi kita dapat memilih untuk mengikutinya, atau mengabaikannya. Barangkali memang sulit bagi beberapa orang untuk berdiri melawan arus, apalagi bila sendirian. Namun, yang aku garisbawahi di sini adalah, bagaimana si pacar sebagai orang terdekat malah memberikan asupan negatif paling besar terhadap diri temanku. Tidakkah dia bisa sekadar menggenggam tangan wanitanya dan menuntunnya ke hal-hal baik? Aku menyisakan ruang di pikiranku untuk mengutuk laki-laki itu.
Apa yang dikatakannya terakhir tadi? Jangan sampai seperti aku sekarang ini. Hatiku tergetar aneh—terharu dan menyesal. Terharu, karena dia mengingatkan untuk tidak jatuh ke dalam hal-hal yang ‘merusak’, sementara dia sendiri membiarkan dirinya jatuh tersesat. Menyesal, karena seharusnya aku bisa berperan lebih banyak—membantunya keluar dari masa-masa sulit dan menata kembali segala impiannya. Aku menyesal tidak dapat mengatakan dengan lantang betapa sedih diriku bila dia terjerat pada hal-hal yang merugikannya. Tidak bisa melarangnya setegas yang seharusnya.
www.pexels.com
Aku mengingat sosok temanku. Sudah berbulan-bulan lamanya kami tidak bersua. Pergaulannya sudah berbeda sekarang, tapi ia tetap temanku yang sama. Dia masihlah seseorang yang sangat mengerti diriku. Tahu, siapa laki-laki yang menurutku istimewa dan hapal betul aku akan luluh padanya sebagaimanapun menyebalkannya dia. Dia masihlah seorang teman yang sangat pengertian dan setia kawan; tidak rela aku diperlakukan buruk oleh orang lain. Dia adalah sosok yang berani, namun juga hangat; sederhana, tapi hebat. Aku menyayanginya seperti saudara. Aku menyesalkan sikapnya yang terkungkung dalam entah-kenakalan-apa-saja yang telah diperbuatnya di sana. Dulu, dia seorang perempuan yang memiliki banyak mimpi…
Mungkin aku kurang tegas, tak mampu bersikap keras. Sebagai teman, aku hanya dapat mendoakan kebaikannya. Siap memasang telinga kapanpun dia butuh aku untuk mendengarkan. Aku tahu dan percaya, dia seseorang yang baik, dan dapat menjadi lebih baik.


Setiap orang pasti pernah memiliki masa-masa kelam dalam hidupnya. Masa-masa di mana dia merasa jatuh atau terlalu bersenang-senang menikmati dunia hingga lupa ajal bisa datang kapan saja. Orang-orang terdekat kita memang akan memegang peranan besar untuk membuat hal itu semakin parah, atau justru dengan berani menyadarkan kita kalau itu salah. Tetapi kita tidak selalu dapat mengandalkan bantuan orang lain, karena diri sendirilah yang harus memutuskan—masa muda kita mau diisi dengan hal-hal bermanfaat atau malah penuh sesat?

Feb 14, 2018

Berubah: Taat atau Tersesat (1)

February 14, 2018 0 Comments
Banyak hal yang mungkin terjadi ketika kita sedang dalam masa pencarian jati diri. Satu hal yang kutahu pasti, lingkungan akan sangat mempengaruhi. Entah membantu kita menjadi lebih baik, atau malah mengendurkan kontrol diri. Itulah mengapa kurasa penting sekali memilih dengan siapa kita bergaul. Bukan pilih-pilih teman ala anak SD kalau lagi musuhan, mungkin lebih tepat disebut selektif—terkesan memilah mana yang masuk kategori ‘diinginkan’ dan ‘tidak diinginkan’. Dalam hal ini, mana yang baik dan yang buruk.
Terpikir menulis ini ketika sedang memikirkan orang-orang yang telah mengalami perubahan dalam dirinya: yang satu menjadi lebih taat, dan satunya lagi tersesat. Tersesat di sini bukan dalam konteks agama berkenaan aliran-aliran tertentu, melainkan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Kalau yang taat? Tentu maksudnya hijrah menjadi lebih religius.
www.pexels.com
Pertama, tentang Ia yang taat.
Btw, taat di sini bukan berarti sebelum ini dia sama-sekali jauh dari agama. Hanya agak sedikit begajulan.
Aku kurang tahu persis bagaimana asal-usulnya dia bisa menjadi lebih agamais. Yang pasti, postingannya di media sosial penuh dengan pengetahuan-pengetahuan tentang Islam. Ia juga rajin nge-share postingan official account line dakwah ke grup-grup. Termasuk grup kelas kami. Ah, di mana-mana agama selalu menjadi topik sensitif. Sempat beberapa kali terjadi ‘huru-hara’ di grup kelas kami itu. Mulai dari persoalan larangan mengucapkan selamat ulang tahun, masalah hukum puasa sunah ini-itu, sampai niat baik untuk sharing seputar Islam pun dipertanyakan. Yah, tidak terkecuali adanya kekhawatiran dari kami, teman-temannya, kalau dia berangsur-angsur menjadi fanatik.
Sebagai teman yang cukup dekat, aku yakin ia cukup cerdas untuk tidak terseret ke dalam hal-hal seperti itu. Aku bersyukur ia sudah mampu berhijrah dan tampak benar-benar mencintai Islam. Sebagai teman, siapa sih yang tidak senang melihat kawannya begitu? Di sisi lain, ada hal-hal yang agak membuatku terganggu. Salah satunya, sikapnya yang terkesan menggurui.
Beberapa kali chatting dan membahas seputar agama, terkadang aku merasa tidak nyaman dengan caranya bertutur kata. Seolah-olah.. dia mengerti seluk-beluk agama sedangkan aku masih tidak tahu caranya berdoa. Mungkin karena aku berpikir, Ia berhijrah belum lama; tapi kata-katanya sudah seperti seorang ustadz. Padahal aku menjadi saksi segala kelakuan aneh dan konyolnya dia semasa sekolah. Aku merasa serba salah. Kadang gregetan ketika dia bersikap ‘menyebalkan’, tapi jauh di lubuk hati merasa tidak enak berpikir begitu tentang dia. Yah, aku pikir ia masih perlu belajar bagaimana cara berbagi tanpa terkesan menggurui, dan aku juga perlu belajar membersihkan hati yang kayaknya memang rada-rada kotor. HaL. Namun, semua itu hanya perasaan sesaat saja.
Hal lain yang kurasakan setelah hijrahnya dia adalah.. perasaan kehilangan.
Fyi, dia yang tengah kuceritakan ini seorang laki-laki.
Mencoba berpikir objektif; dari tulisan-tulisan yang pernah kubaca seputar hijrahnya seseorang, pada umumnya mereka mengalami sedikit ‘tekanan’. Teman-teman mainnya akan sedikit menjaga jarak, atau paling tidak bersikap agak berbeda karena si hijrah-ers tidak seasyik dulu. Akan ada orang-orang yang mencibir perubahannya, ngomongin ini-itu, dan sebagainya. Dan aku merasa menemukan hal-hal tersebut pada diri temanku, walaupun dia tidak pernah menceritakan atau mungkin tidak ambil peduli. Aku menemukan diriku pada bagian ‘teman mainnya akan sedikit menjaga jarak’.
Ah, apa iya?
Ya, ya. Bisa jadi.
Aku mulai merasa segan untuk menghubunginya. Entah mengapa tiap kali secara random ingin nge-chat, aku khawatir dia akan berpikir ‘gak usah dilanjut chatnya kalau gak penting-penting amat’. Secara aku perempuan, dia laki-laki. Sepengetahuanku—yang kebanyakan kudapati dari buku-buku Felix Siauw—komunikasi yang tidak perlu antara lelaki dan perempuan lebih baik dihindari. Di situlah aku merasa agak kehilangan. Dulu, dia banyak meluangkan waktunya untuk meladeni curhatku yang menye-menye. Walaupun kami jarang bertemu karena beda kampus, komunikasi tetap jalan. Aku banyak berpikir, sepertinya ini hanya perasaanku saja. Toh, aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Meskipun di dunia maya ia terlihat sangat ‘disibukkan’ dengan hal-hal berbau agama, belum tentu di dunia nyata ia sekaku itu. Kupikir, temanku tidak akan berubah se-drastis itu. Lagi-lagi aku mungkin sedang overthinking.
Sampai akhirnya, perjumpaan kami menjawab kegelisahanku. Beberapa teman berkumpul bersama. Kami semua saling menyapa dan bertukar cerita masing-masing. Membahas kabar terbaru hingga kenangan-kenangan masa sekolah dulu. Satu hal yang aku tahu, temanku masih sama. Dia orang yang sama yang aku kenal. Temanku yang bicaranya agak blak-blakan dan banyak komentar, tapi selalu siap mendengarkan bila—khususnya—teman-teman ceweknya berceloteh tentang mantan yang menyebalkan atau kisah cinta yang gagal (bukan kok, bukan aku..). Dia tetaplah orang yang hobi mengolokku dengan ejekan-ejekannya yang tidak jelas, rusuh, dan suka ngebanyol.
Intinya, selama ini rasa kehilangan itu hanya prasangkaku saja, karena rasanya ini baru pertama kalinya aku mendapati sahabat dekatku berhijrah. Sebagai teman, kau hanya harus memberikan yang terbaik; apapun yang teman itu butuhkan. Dukungan, ketika dia menjelma jadi pribadi yang lebih baik. Teguran, ketika dia tersesat ke hal-hal yang salah.
Dan yang terakhir disebut, akan menjadi cerita yang berikutnya

Feb 9, 2018

Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah by Sibel Eraslan

February 09, 2018 0 Comments

Identitas Buku

Judul              : Aisyah
Penulis          : Sibel Eraslan
Penerbit        : Kaysa Media
Cetakan         : V (2016)
Jumlah Hlm  : 474



“Aisyah,” panggilnya sekali lagi kepadaku. “Jika semua ucapan mengenai dirimu itu tidak benar, Allah pasti akan membersihkan dirimu dari fitnah ini. Tapi jika engkau melakukan dosa itu, mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah, karena Allah memaafkan hamba yang mengakui dosa dan bertaubat.”

Rasulullah mengucapkan kata-kata ini satu per satu dan lemah lembut. Tapi saat itu gunung-gunung seakan-akan jatuh membebani diriku. Seakan-akan aku terpuruk berat, seakan petir menyambar diriku.




Penggalan kisah di atas dikutip dari novel karya Sibel Eraslan yang berjudul Aisyah, Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah. Isi buku ini memang mengangkat kisah perjalanan hidup Aisyah bersama Rasulullah. Melihatnya dari sudut pandang Aisyah, membuat kisah ini terasa lebih hidup.
Novel ini terbagi menjadi lima bab utama yang disebut dengan Lima Waktu Aisyah. Uniknya, setiap bab menggunakan nama-nama waktu shalat; Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Sebelum masuk ke dalam halaman-halaman kisahnya, di awal kita akan menemukan sebuah sajak tentang Aisyah yang sangat indah, menegaskan arti diri Aisyah dalam hidup Rasulullah.
Masing-masing bab mewakili keadaan pada zaman itu. Waktu Subuh menceritakan masa kecil Aisyah yang terlahir dalam keluarga pedagang terkenal. Ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, menjadi orang kedua yang memeluk agama Islam kala itu. Pada waktu Zuhur, diceritakan masa-masa awal agama Islam muncul dan berkembang di Mekkah hingga perintah hijrah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah menerima banyak kecaman dari kaum kafir Quraisy dan Abu Bakar banyak membebaskan budak-budak yang disiksa, termasuk Bilal. Seiring dengan datangnya pertentangan dari berbagai pihak yang melahirkan boikot terhadap kaum Muslimin, banyak pula yang menyatakan dirinya beriman dan bersumpah setia melindungi Rasulullah. Di tengah semua itu, pada bab ini diceritakan tentang pernikahan Rasulullah dengan Aisyah, hingga awal kehidupan kaum Muslimin setelah berhijrah ke Madinah. Bahkan di penghujung bab, dilampirkan gambar denah Masjid Nabawi dan Rumah Rasulullah ketika itu.
Waktu Ashar diisi dengan cerita kemenangan Perang Badar hingga Tragedi Perang Uhud. Asal-muasal turunnya surah An-Nur ayat 11-20 juga dikisahkan di sini, yakni tentang kalung Aisyah yang hilang dan fitnah yang menyertainya. Dengan firman tersebut Allah membersihkan nama Aisyah. Pada waktu Maghrib, terdapat deskripsi pengenalan para ahli bait, yakni istri-istri Rasulullah. Selain itu, diceritakan pula pelaksanaan ibadah haji dan khotbah terakhir yang dilakukan Rasulullah, serta tanda-tanda kematiannya yang sudah dekat hingga dijemput maut dalam pangkuan Aisyah. Sebagai penutup, waktu Isya menceritakan masa-masa kekhalifahan setelah wafatnya Rasulullah.
Secara keseluruhan, novel ini amat sangat bagus, terlebih dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama yang memberi efek seolah pembaca benar-benar dekat dengan tokoh utamanya. Sayangnya, ada beberapa bagian yang sulit dicerna karena digambarkan dengan bahasa yang terlalu ‘kaku’ (apa karena ini novel terjemahan?). Lupa di bagian mana—kau akan tahu ketika membacanya. Yang pasti, Sibel Eraslan memang benar mampu meramu berbagai sumber pengisahannya menjadi dongeng modern yang menyenangkan untuk dibaca, namun tidak melenceng dari fakta yang ada. Aku pribadi mulai sedikit kehilangan minat membaca setelah Rasulullah dikisahkan wafat. Mungkin karena dikisahkan betapa kisruhnya keadaan pada masa itu. Tetapi, penggambaran Rasulullah di sini memang sedikit-banyak berhasil mengundang kita untuk mencintainya, lho. Aku yang sangat penasaran mengetahui lebih lanjut tentang sosok beliau sampai membeli sebuah buku karya Imam At-Tirmidzi yang berjudul, Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad. Kalau sudah selesai dibaca, akan kuposting reviewnya di sini. Yuhu, bye.






Better Than Reading Sociology Theories

February 09, 2018 0 Comments
www.pexels.com
Sejak awal, aku pikir gak akan sulit mengisi blog ini. Setidaknya di waktu sekarang-sekarang ini. Aku sedang dalam mode supergabut karena banyak menghabiskan waktu libur di rumah. Artinya, aku punya banyak waktu luang untuk nulis, kegiatan yang sangat aku sukai. Lagipula, aku juga gak bingung-bingung amat mau nulis apa. Ada folder khusus di notebook yang isinya draft tulisan-tulisan yang dulu dengan penuh semangat dimulai, namun ujungnya terbengkalai. Bisa aku revisi. Namun sekarang aku sedang memikirkan alasan kenapa tiba-tiba ngeblog.
Jujur, sebelum ini aku udah jarang baca buku, bentuk kegiatan lain yang sangat aku sukai juga. Ketika lagi senggang di kosan aku lebih memilih tidur, main hp, dan nonton drama Korea atau Running Man. Aku pernah mikir, ‘hidup ngekos telah merenggut hobi membacaku…’. Thatmerenggut’. Kadang-kadang aku gak habis pikir dengan caraku berpikir. Nyalahin keadaan atas segala kemageran.
Kembali lagi pada alasan ngeblog. Lama berdiam di rumah sebenarnya bukan masalah. Aku punya banyak buku yang bisa aku baca (ulang). Kalau bosan baca dan pengen mikir, aku bakal ngisi buku-buku pelajaran SMA yang masih disimpan. Jangan tanya kenapa—aku gamau ngabisin waktu libur dengan teori-teorinya Durkheim dan Karl Marx atau milah-milih judul usulan penelitian. Belum masuk kuliah lagi udah mabok duluan. Jadi, mungkin itu alasan pertama. Killing time by do your hobbies are the best choice. It’s better than reading sociology theories.
Namun, beberapa hari yang lalu aku memutuskan beli buku tes CPNS, hanya supaya bisa mengerjakan sesuatu yang ‘baru’ di rumah—bukan karena benar-benarr beres kuliah mau lanjut kesitu. Baru ngerjain separuh Bab I: Tes Intelegensi Umum. Belum lanjut lagi. Males mikir.
Okay, kembali ke topik.
Walaupun aku sempet berhenti membaca, aku gak pernah berhenti nulis. Apa aja aku tulis. Kadang binder isinya gak cuma catatan kuliah, tapi juga curhat (dan gamungkin hanya aku yang begini). Karena kebiasaan corat-coret-apapun ini, aku selalu punya buku kecil sebagai ‘tempat sampah’-ku. Tapi rasanya selalu cepat habis. Second account sosial mediaku juga menjadi semacam ‘instablog’ sebelum ini. Dan gak cuma itu, di main account-ku juga dibikin close friends list-nya. Hal ini membuatku bertanya-tanya, teman-teman muak gak ya ngeliat aku muncul di mana-mana. Wkwk. But itu gak jadi masalah juga sih. Aku nulis karena aku butuh itu untuk menjabarkan pikiran—like I’m doing now—dan mereka gak perlu membacanya. We can just ignore it when we not interested it. So, daripada semua tulisan itu tercecer dimana-mana, lebih baik aku tuangkan saja semuanya ke dalam blog. Itu alasan kedua.
Btw, garis besar isi personal blog ini ada 3—Celotehan, Coretan Kisah, dan Tentang Buku. Celotehan isinya ya kayak begini; pendapatku tentang satu dan lain hal. Khusus kategori ini bahasanya agak nyantai, 'semi-baku' kalau kuistilahkan sendiri. Coretan kisah, kurang lebih berisi karangan yang kubuat. Bukan berarti hal yang kutulis itu tidak benar-benar terjadi juga, baik yang berbentuk penggalan cerita atau puisi. Masih mikir-mikir mau dituangkan kesini atau enggak, mendadak pelit. Tentang Buku..well, aku punya banyak buku. Sebagian besar di antaranya bernuansa agama. Sejak SD aku menyenangi buku-buku model begitu, bukan berarti sok religius juga.. kali lain kuceritakan di celotehan. Intinya, pada kategori ini, isinya kurang lebih review tentang buku-buku yang pernah kubaca. Tidak selalu buku baru, karena ada juga buku-buku keluaran lama yang menurutku pantas untuk dibagikan.
Jadi, sejauh ini alasanku ngeblog adalah karena gabut dan bermaksud menjadikan tulisan-tulisanku terkumpul jadi satu. Alasan ketiga, because I’m loving it.
I just did because I loved it.
Started from pen and paper, sure it can makes life as sweet as candy. To me, at least.
Ngetik berjam-jam, nulis apapun di atas kertas; selama itu bukan tugas, aku akan sangat antusias. Yah, ketika kita sudah mencintai sesuatu (atau mungkin seseorang) rasanya gak perlu ada alasan kenapa kita mau repot-repot mengurusnya.

Feb 2, 2018

Senior High School Vibes

February 02, 2018 0 Comments
Dalam rangka menghabiskan kuota gratis yang bertenggat waktu malam ini, aku memutuskan untuk mengisi blog ini dengan memanfaatkan tulisan-tulisan lama karanganku sewaktu SMA. Salah satunya ini, dengan sedikit editan di sana-sini.


source: koreabanget.com


29 Januari 2015 7:16 PM

 Seorang senior pernah berkata padaku di hari-hari pertamaku sebagai pelajar SMA, bahwa masa SMA adalah saat-saat yang paling berkesan, yang kelak akan paling diingat ketika kita sudah dewasa. Ketika itu, aku tidak mengakuinya—belum—tetapi jika sekarang aku mengingat kembali semua yang terjadi, aku mengakuinya juga.
Di tahun pertama, hawa senioritas pada masa orientasi membuatku dicekam ketakutan. Kalau kuingat lagi, aku merasa sangat konyol, kikuk, dan menggelikanSetiap hari dalam satu minggu masa orientasi itu selalu saja ada kesalahan yang membuatku ditegur senior (wkwkwk culun abis). Mungkin mereka juga sudah muak—aku lagi, aku lagi. Teman-teman seperjuangan di kelompokku adalah saksinya. Masih di tahun pertama, aku menjadi bagian dari kelas yang persaingannya cukup ketat namun solidaritasnya kuat. Aku tergabung dalam ekstrakurikuler teater, yang bisa dikatakan bertolak belakang dengan kepribadianku. Jelas, teater butuh orang yang berani dan tidak kenal malu. Apalah aku yang malu-malu tai kucing. Niatnya ikut ekskul itu untuk merubah sifatku yang begitu, alhamdulillah ngefek dikit-dikit. Gilanya. Teman-temanku di ekskul teater adalah manusia-manusia paling gila yang pernah kutemui, dan aku merasa nyaman di dalamnya.
Di tahun kedua, aku diperkenalkan dengan ‘keluarga baru’ saat menjadi pengurus OSIS. Ide, kerja keras, dan semangat diupayakan demi terealisasikannya program kerja yang telah dibuat bersama. Pengalaman organisasi yang sangat berkesan. Orang-orangnya asyik dan mereka semua hebat. Lumayan untuk bekal organisasi di perkuliahan nanti.
Paling penting di antara semuanya adalah orang-orang yang sudah menetap di bawah atap yang sama denganku selama dua tahun—naungan Sosial 2. Tiga puluh dua individu berbeda karakter yang merangkai sebuah cerita. Satu cerita dengan tiga puluh dua sudut pandang yang bisa saja berbeda. Namun, seperti apapun itu, aku yakin tidak satupun dari kami menyesal menjadi bagian satu sama lainnya di kelas ini.
Setiap anak yang menulis karangan ini pasti memiliki kesan, pengalaman, dan ceritanya masing-masing. Suka dan duka yang dialami, kisah asmara yang pernah terjalin, dan konflik yang berbelit-belit. Tentu kita semua sepakat kalau masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Jika tidak diakui sekarang, mungkin nanti—ketika kita sadar betapa berbedanya dunia putih abu dengan dunia yang sesungguhnya.

3 years since I wrote this and we're all still keep in touch.
Even this weekend we gonna meet up, yuhu!

Rentang Kisah by Gita Savitri Devi

February 02, 2018 0 Comments


Identitas Buku

Judul                 : Rentang Kisah
Penulis             : Gita Savitri Devi
Penerbit          : Gagasmedia
Cetakan           : V
Jumlah Hlm    : 207
Harga                : Rp. 65.000




“Whatever that may come, you and I just need to do well, be nice to ourselves, to people around us. Because we are given only one chance. We only live once.”



Kalimat di atas mengutip dari buku yang ditulis oleh Gita Savitri Devi, seorang youtuber terkenal yang banyak disukai kawula muda. Aku pribadi mengetahui seorang Gita ketika tak sengaja menemukan video tutorial makeup-nya di youtube. Kesan pertamaku, gayanya cuek namun cara bicaranya mampu menarik orang untuk terus mendengarkan celotehnya. Tidak pernah update mengikuti vlognya terlebih hanya sesekali mengintip instagramnya, heran juga aku kenapa langsung beli buku ini ketika nemu di shopee.

Buku ini berisi perjalanan hidup seorang Gita dimulai dari ketika SMA hingga kuliah di Jerman. Menceritakan dirinya sebagai pemalas yang semasa sekolah hanya hobi bermain-main, kemudian dibuat panik ketika sudah saatnya menjawab pertanyaan: akan lanjut kemana?. Setelah menentukan tujuan dan berjuang keras demi masuk FSRD ITB, Gita kembali harus memutuskan—mengambil kesempatan di ITB tersebut atau mengiyakan tawaran mendadak dari ibunya untuk kuliah di Jerman.
Kisah dengan Paulus (yang sering ngikutin vlognya Gita pasti tau) tidak luput dari serba-serbi Gita tentang Jerman di buku ini. Bermula dari kekhawatirannya akan ujung hubungan beda agama yang tengah dijalani, niat untuk mengislamkan Paul membuka pandangannya tentang Islam lebih lebar. Saat itu tujuannya memperkenalkan Islam pada Paul tidak lagi hanya untuk menyelamatkan hubungan mereka dari kebuntuan, tetapi karena pure ia ingin membantu Paul menjemput hidayahnya. Berbagai persoalan yang mesti dihadapi membentuk si introvert sedemikian rupa hingga menjadi seperti sekarang. A famous influencer. Beberapa cuitan dari blog Gita juga turut meramaikan isi buku ini.

Buku ini recommended untuk kita yang haus motivasi. Menginspirasi namun tidak menggurui. Gita memaparkan pemikirannya dengan cara yang ‘akrab’ dan mudah dicerna. Gaya bahasanya ringan, tidak bertele-tele, sehingga kita bisa membacanya dengan enjoy. Lumayan untuk menjadikan waktu senggang rada-rada berfaedah.
Setelah membaca ini, menilai dari diri Gita sendiri terlepas isi bukunya, kupikir daya tariknya tentu tidak hanya paras yang cantik. Ia mampu membagikan keseharian, pengalaman dan wawasan dengan gaya yang tidak biasa, namun juga tidak neko-neko. Sederhana, tapi ngena. Memang pantas jadi inspirasi ciwi-ciwi.
Jadilah aku followers Gita yang suka ngepoin vlog dan akun instagramnya.
Sekian.