May 16, 2018

Popbela: Media Online Wanita Yang Siap Membantumu Tampil Keren!

May 16, 2018
pexels.com

Attention, Ladies!

Menjadi keren tidak cukup hanya dengan penampilan yang kece aja, kamu perlu meng-upgrade diri kamu agar memiliki kepribadian yang menawan. Untuk itu, menjadi wanita yang cerdas, berwawasan luas, dan produktif sangatlah penting. Dengan ini kamu mampu membawa diri dalam segala suasana dan membagikan aura positifmu pada orang banyak. Sulit gak sih untuk menjadi wanita macam begini? 
Mari kita manfaatkan era digital yang semakin berkembang! Menjadi wanita kekinian yang keren tentu tidak boleh ketinggalan informasi. Alangkah menyenangkan bisa mengakses segudang inspirasi busana, berita terkini, hingga tips & trik dalam satu wadah informasi yang simple. Nah, dari sekian banyak media online, cukup satu yang menjadi pilihan utama. Kini, semua kebutuhan dan pesona wanita muda Indonesia dapat kamu temukan di Popbela! ๐Ÿ˜„
welcome to popbela/source:popbela.com

Popbela menyajikan segudang informasi yang perlu diketahui wanita. Konten yang ditampilkan tidak melulu soal fashion, beauty, dan lifestyle. Di sini kamu juga dapat mengakses beragam serba-serbi menarik terkait politik, karir, entertainment, hingga relationship. Dari problema single hingga married, semua dikupas tuntas! Detail banget kan, ladies?
Komitmen Popbela adalah menginspirasi para wanita agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Gak heran konten yang disajikan full of positivity dan worth-sharing. Tampilan situs yang eye catching juga dijamin membuat kamu betah berlama-lama scrolling. Baca satu artikel aja gak akan puas deh. ๐Ÿ˜

pexels.com
Kamu kekurangan ide untuk mix & match baju? Gak tahu model berpakaian apa yang lagi tren sekarang? Atau bingung aksesoris mana yang bisa membuatmu nampak lebih trendi? Jangan khawatir! Lewat menu Style & Trends dan Look for Less pada kategori Fashion Popbela, temukan tren yang sedang booming di mancanegara dan inspirasi OOTD yang bikin penampilanmu kece badai! Cek di sini.


pexels.com
Ini konten favorit penulis, dan pastinya yang paling dicari-cari oleh para wanita! Kategori Beauty di Popbela terbagi menjadi Hair, Skin, Make Up, dan Health. Penggolongan subkategori tersebut memudahkan kita para pembaca untuk mengulik info yang kita mau. Rekomendasi make up dan skincare terbaik juga pasti ada di siniDijamin deh kamu akan menemukan semua kebutuhan cantikmu di siniSiap-siap scrolling sampai juling! Hihihi ๐Ÿ˜


pexels.com
Nah, nah. Popbela juga memerhatikan kehidupan sosialmu lho, ladies. Serba-serbi keseharian, hubungan persahabatan hingga percintaan bisa kamu temukan di kategori Relationship. Ada info menarik berdasarkan perhitungan zodiakmu juga! Popbela pun memahami kebutuhanmu akan sex education. Ketahui tips dan trik bermanfaat seputar kehidupan sex supaya kamu gak ketinggalan informasi penting ya! Yuk klik di sini.


pexels.com
Wanita yang produktif sudah pasti keren, karena ia mampu menyibukkan diri pada hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau orang lain.  Here we go!  Popbela menyediakan segudang motivasi dan inspirasi kehidupan pada kategori Career. Kamu akan menemukan banyak isu terkini hingga cerita selebriti di dalamnya. Mulai dari perjalanan bisnis, rekomendasi tempat wisata, hingga hal-hal yang menjadi inspirasi dalam hidup mereka dapat ditemukan di sini. Be positive, keep positive, share your positivity! 

Begini loh tampilan webnya/source:popbela.com
Sebagai salah seorang pengunjung rutin Popbela, penulis suka sekali dengan isi lamannya. Tampilannya simple and clean, semua kontennya informatif, dan disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan. Tentunya kita ingin belajar banyak hal tanpa melalui kalimat berbelit-belit yang membuat kita malas berpikir, kan?
Nah, Popbela adalah laman yang pas untuk kamu baca di waktu santai maupun sela-sela kesibukan. Penulis juga begitu! Jika dirasa terlalu bosan melihat foto-foto di Instagram atau scrolling status orang-orang di Twitter, cusss deh kunjungi laman berfaedah semacam Popbela. Meskipun terkesan sibuk sendiri dengan gadget di genggamansetidaknya waktu yang kamu habiskan tidak akan terbuang percuma. Iyadong, daripada ngepoin hal-hal gak berfaedah, mending pantengin Popbela. ๐Ÿ˜‹
Kategori yang paling sering penulis kepoin itu Beauty dan Inspiration. Sebenarnya, banyak banget artikel yang jadi favorit! Setiap harinya berubah-ubah karena Popbela terus update informasi kekinian. Penulis bagi deh beberapa artikel recommended terfavorit saat ini di antaranya adalah 7 Beauty Vlogger Berhijab Yang Wajib Kamu Simak Videonya dan Manfaat Melakukan Double Cleansing Pada Wajah. Worth it to read? Absolutely!
Untuk kamu para wanita muda Indonesia, jangan lagi hanya menjadi sekadar ‘cantik’ ya. Yuk bersama-sama menjadi wanita cantik yang keren. Caranya? Extend your insight and make a good attitude!  Dressed up well is a must too! Bingung harus darimana memulainya? All you need is visit www.popbela.com ! ๐Ÿ˜„

May 8, 2018

Kisah Klasik

May 08, 2018

Seperti apa masa putih-merahmu? Menyenangkan? Sama.

Tapi bagiku, SD adalah masa-masa yang paling berperan besar dalam membentuk kepribadianku seperti sekarang ini. Tidak hanya soal bermain karet, andar-undur, atau polisi-polisian. Ini adalah masa pembuktian di mana aku mulai percaya apabila hidup kita selalu melibatkan Tuhan, maka segala urusan akan lancar.
Kamu mau tahu ceritanya?

Sama sekali tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku selalu mendapat ranking tiga besar sejak kelas 1. Pernah sekali aku tidak dapat ranking, dan entah mengapa ini terasa bagai cambuk yang membuatku merasa harus ‘merebut’ kembali posisiku. Di semester berikutnya aku langsung mendapat ranking 3. Ya, seambisius itu. Hhhh. Pada masa itu aku suka sekali belajar, aku benar-benar tidak suka mendapat nilai rendah. Namun, jangan pikir aku seorang kutu buku kurang gaul. Aku memiliki banyak teman, dan rumahku seringkali dijadikan ‘basecamp’ karena letaknya strategis.
www.pexels.com

Cerita dimulai di kelas 6.
Aku harus pindah rumah ke Bekasi. Rasanya? Sedih, aku sangat mencintai teman-temanku dan tidak mau berpisah dengan mereka. Apalagi tinggal setahun lagi aku lulus. Sebagai anak yang baru berumur sebelasan(?), aku tidak bisa menentang kehendak orang tua. Alhasil, waktu itu aku rajin sekali shalat dan berdoa, memohon entah bagaimana caranya aku tidak pindah sekolah. Rasanya mustahil. Tapi ajaibnya, Papa tiba-tiba berkabar kalau sekolah di daerah sana sudah penuh dan tidak bisa menerima siswa pindahan! Senang? Banget. Singkat cerita, aku tetap pindah rumah ke Bekasi namun tetap bersekolah di Jakarta. Dengan polosnya aku berpikir, Allah luar biasa sekali bisa memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Bullying
Boleh kubilang, kelasku penuh dengan anak-anak yang ‘bandel’. Kultur persaingannya juga sangat ketat. Teman-temanku yang terkenal pintar sekelas denganku. Aku melihat kelas lain begitu adem-ayem, tidak seperti kelasku yang gerah akan emosi dan bullying. Ya, aku juga kena bully.
Ada seorang anak bertubuh gempal yang terkenal bandelnya sejagat raya sekolah. Ini anak rese parah mengganggu hampir semua murid termasuk aku. Dia tidak membully-ku secara fisik, tapi batin. Dengan cara apa? MENCONTEK! Aku paling tidak suka dicontek, dan orang ini bahkan memaksaku mengisi lembar jawaban ulangan hariannya. Kalaupun duduknya jauh dariku, begitu guru mengumumkan adanya try out atau tes apapun, dia akan pindah duduk di dekatku. Aku takut dan tidak bisa apa-apa hingga hanya bisa menangis diam-diam.
Agak sulit dijelaskan, yang pasti bukan hanya aku yang diganggu. Dia sering membuat teman-teman lainnya baik cewek atau cowok menangis, sering ngamuk di kelas, bahkan membuat wali kelasku rasanya darah tinggi setiap hari. Ibu Meytuti guruku yang baik, terima kasih telah mengizinkan aku duduk paling depan dekat mejamu demi menghindari tukang bully itu. Ya walaupun gak mempan sih. Guru sekalipun tidak bisa menghalangi anak itu mengganggu orang lain. Lucunya, kabarnya dia sempat naksir padaku. bahkan memberikan sekotak cokelat yang tentu saja tidak kumakan.
Aku ingat ada suatu waktu di mana aku benar-benar merasa takut ke sekolah karena dia. Lalu apa? Aku gencarkan lagi shalat dan berdoa agar dijauhkan dari setan macam dia HAHAHA. Ajaibnya lagi, doaku sepertinya terkabul karena hampir seminggu aku tidak pernah diganggu lagi oleh Si Gempal. Kemudian ibadahku mengendur—namanya juga anak SD—dan entah bagaimana Si Gempal ini menggangguku lagi. Percaya atau tidak, hal ini menjadi landasan berpikirku hingga sekarang; kalau kita mendekati Allah, Dia akan memberikan apapun yang kita mau. Aku masih kelas 6 SD saat itu, tapi aku semakin yakin dan tahu ke mana aku harus meminta pertolongan untuk hal-hal yang tidak bisa kukendalikan.

Masa-masa sulit tapi menyenangkan.
Aku hanya bisa bilang betapa bersyukurnya aku berada pada lingkaran pertemanan yang tepat. Inilah bagian paling menyenangkan—bermain dengan teman-teman, ngumpul-ngumpul di rumah mbahku dan jajan kesana-kemari. Teman-teman perempuanku asyik dan luar biasa baik. Yang laki-laki juga sih, hanya saja banyak juga dari mereka yang kasar dan senang memaki. You know la dulu itu jamannya ngeledek nama orang tua.
Jangan lupa bahwa aku harus bepergian setiap hari Jakarta-Bekasi untuk sekolah. Bekasi-nya di ujung, daerah Bantar Gebang. Ini bagian yang cukup sulit, terlebih ketika itu kami belum punya mobil. Bayangkan sendiri, tiap hari naik motor berempat (aku, kakak, adik, Papa) berangkat nyubuh dan pulang malam hari. Kenapa malam? Setelah mengantar kami ke rumah mbah di Jakarta (dekat sekolahku), Papa harus kembali ke Bekasi untuk bekerja dan baru menjemput kami ke Jakarta seberesnya. Agak sedih kalau diingat, kami pernah jatuh di jalan raya karena Papa terlalu ngantuk untuk mengendarai motor saat malam. Kami juga pernah tersasar di jalan. Tapi bagian paling menyedihkan bukan itu..
Suatu hari, aku tidak bisa sekolah karena Papa sakit. Jelas Papa tidak bisa mengendarai motor dan menempuh perjalanan panjang. Tubuhnya meriang. Beliau duduk bersandar pada dinding dan melipat lengannya di atas lutut ketika berkata, “Kalian harus belajar yang benar, Papa udah capek-capek ngantar...”
Di balik raut wajahku yang datar, mendadak muncul ambisi yang menggelora. Bukan beban, melainkan harapan yang mesti diwujudkan; aku akan membalas jerih payah mereka. Lihat saja.

Belajar, belajar, dan berdoa
Aku pernah baca, kalau doa seorang musafir akan diijabah oleh Allah. Waktu itu, aku tidak tahu apakah aku termasuk seorang musafir karena melakukan perjalanan Jakarta-Bekasi setiap hari. Haha. Yang pasti selain tidur atau dengar radio pakai headset di hape esia express music, ketika di motor aku selalu berkata dalam hati, “Aku pengen lulus dengan nilai tinggi, bikin Papa sama Mama bangga.” “Aku sayang banget sama teman-temanku, semoga aku masuk SMP yang sama kayak mereka dan terus sekolah di Jakarta.” Uhm, rada gimana gitu ya.
Aku ingat bagaimana rajinnya diriku pada masa itu, setiap hari belajar dan terus belajar. Anehnya, aku sangat menikmati proses itu. Guruku selalu mencekoki para muridnya dengan latihan soal-soal—membuatku terlatih. Meski persaingan di kelas sangat ketat, aku tidak patah semangat. Begitu ambisiusnya aku hingga ketika kudapati hasil try out-ku di bawah 80, aku akan membalasnya di latihan berikutnya, tak tanggung-tanggung menargetkan nilai 90. Dan aku selalu berhasil. Si Gempal? Masih mengganggu, tapi aku lebih berfokus pada quality time dengan sahabat-sahabatku dan pelajaran sehingga tidak ambil pusing.
Lupa sejak kapan, tapi aku memang suka membaca buku-buku bertema agama meski itu hanya sekadar ‘tata cara shalat lengkap’ atau ‘doa & dzikir harian’. Kala itu aku mencoba mengamalkan yang dikatakan isi buku. Katanya, kalau kita shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir, kita minta apa saja akan dikabulkan. Katanya, kalau baca doa ini-itu Allah akan memberi kelancaran, menjauhkan dari gangguan, dan sebagainya. Yoweslah aku baca saja. Belajar dari pengalaman sederhana sebelumnya, kalau kita rajin shalat dan berdoa, yang dimau akan didapat.

Hasil yang manis
Meskipun selama UN berlangsung Si Gempal masih mencontek (dia mendapat tempat duduk di depanku!), paling tidak dia kuberikan jawaban yang salah.
-Enak aja gue belajar siang malem berbulan-bulan, eh orang lain maen nyalin aja!-
Oya, ketika hari perpisahan, aku dipanggil maju ke depan oleh kepala sekolah karena mendapat nilai try out tertinggi. Lupa TO provinsi apa bukan. Pokoknya, di hari pengumuman Ujian Nasional, aku kembali mendapat hadiah yang sangaaaaat tidak terduga. Tidak hanya lulus, aku juga mendapat nem tertinggi di sekolah dengan nilai rata-rata 9! Dulu aku bukan orang yang cengeng, sehingga mendapati berita seperti ini lebih membuatku syok ketimbang menangis terharu. Keluargaku? Jelas bangga. Dan aku bahagia dapat menjadi alasan kebanggaan mereka.
Walaupun di kelas aku hanya menempati ranking 3, tapi bagiku aku sudah memenangkan persaingan yang sebenarnya. Nem-ku lebih dari cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jakarta. Tentu saja keinginan ini pupus karena aku kembali harus pindah rumah—dan sekolah. Ke mana? Karawanx City. Di mana cerita-cerita berikutnya membentukku menjadi pribadi yang sekarang…

Ini menjadi pengalamanku yang sangat berharga. Bagaimana kolaborasi usaha, doa, dan percaya pada Yang Kuasa mampu mewujudkan harapan paling tidak mungkin sekalipun. Kupikir, inilah yang menjadi alasan kuat mengapa aku seringkali membawa agama dalam celoteh tulisanku. Karena agama (dalam hal ini Islam) telah menjadi landasan pola pikirku sejak lama. Dan isi blog ini adalah buah dari pikiranku. Ya, sampai saat ini aku memang belum mampu menjadi muslimah yang sebenarnya. Aku juga tidak menganggap diriku sudah baik. Tapi menurutku, semua itu berangkat dari keyakinan hati dan pola pikir. Seiring berjalannya waktu, semua akan ikut baik.

Ya udah, gitu aja ceritanya.
Oh, seseorang pernah bilang padaku ketika aku berulang tahun, “Jangan bosan jadi orang baik ya.”
He doesn’t know how it cheer me up to keep going to be better.
Kamu juga. Siapapun kamu, tetap semangat untuk menjadi yang lebih baik ya.

Apr 17, 2018

Kami Yang Tidak Sempat Menjadi 'Kita'

April 17, 2018


4 Februari 2018, 10:33 PM
Aku tidak bisa tidur.
Pilihannya cuma dua, membaca atau menulis sesuatu.

Aku sedang tidak tertarik membaca wattpad, apalagi membaca ulang novel-novel yang ada di kamarku; jadi aku meraih pulpen dan buku yang sengaja kuselipkan di tempat tidur.
pexels.com
Di kepalaku terbayang seseorang dari masa lalu. Seorang teman baik yang pernah kusakiti hatinya karena memberikan jawaban yang tidak ia harapkan. Aku masih ingat jelas saat itu, bahkan hari-hari sebelum hal itu terjadi, bagaimana kami cukup akrab hingga membuat kekasihku yang sesungguhnya saat itu cemburu. Hari-hari di mana aku menikmati momen ketika dia mengambil tempat duduk di sebelahku dan mulai menyanyikan lagu. Aku selalu suka caranya bernyanyi sambil memetik gitar, bagiku itu hiburan yang melegakan.
Aku senang dengan caranya memperlakukanku. Membuatku berpikir, begitulah seharusnya perempuan diperlakukan. Usai menjalin hubungan dengan seorang yang kasar dan hobi memperlakukanku seperti sampah, dia seolah hadir menawarkan tempat berteduh yang nyaman. Aku ingat, siang itu dia menghampiriku dan berkata, “Mana si monyt itu? Cowok macam apa yang ngomong anjing ke ceweknya?” dan aku masih ingat, bagaimana mendadak hatiku lembek seperti marshmellow. Kau boleh menyebut ini lebay, tapi kita semua memiliki caranya sendiri dalam mengistimewakan sesuatu.
Hm, begitu memori tentang seseorang muncul, kenangan-kenangan yang menyertainya akan mengalir deras. Sebagai orang yang tidak mudah lupa, aku menyimpan baik segala kenangan itu. Setiap perbuatan orang lain kepadaku, menyenangkan atau tidak, terpatri mendetail dalam ingatan.
Kembali lagi pada lelaki yang tengah kuceritakan. Sekian waktu berlalu, begitu banyak kesalahpahaman di antara kami. Aku dengar dia menyukaiku bahkan sebelum kami mulai berteman. Aku menyukainya setelah kami berteman. Sudah kubilang, caranya memperlakukan perempuan membuatku luluh. Saking dekatnya kami, aku ingat rekan kerja kami pernah berkata, “Kalian kayak permen karet, nempel terus.” Beberapa orang menganggap kami tampak cocok bersama.
Namun secara tiba-tiba aku bersama dengan yang lain. Ah, akan sulit menjelaskan bagaimana aku dan lelaki lain itu mendadak menjadi ‘kita’. Lucu entah bagaimana, dibanding pacarku sendiri, aku merasa lebih terikat dengan dia. Waktu itu aku dan dia tengah bicara di depan pintu ruang kerja ketika si pacar terlihat datang dari ujung lorong, berjalan ke arah kami—aku memberengut kesal saat laki-laki di hadapanku ini menyuruhku masuk. Raut wajahnya mengatakan, “Lebih baik kita tidak menimbulkan salah paham.” Baca: jaga jarak.
Aku mengerti, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu dengan dia.
Selang hanya satu bulan, aku kembali berstatus sendiri. Apakah dia bergembira setelah aku bebas? Aku yakin iya. Sayangnya, perpisahan terakhirku membuatku takut akan menyakiti orang lain lagi. Kemarin itu, aku tidak cukup menyukai pacarku sehingga melepaskan diri darinya hanya menyisakan ruang untuk rasa bersalah, tidak lebih. Tak ada rasa yang tertinggal, bahkan keinginan untuk tetap bertahan. Saat itu pacar hanya mengiyakan keenggananku untuk tetap berhubungan dan pergi dengan air mata tertahan. Dari sana aku belajar, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Bagiku, tidak masalah jika hanya diri sendiri yang merasa sakit. Bagaimana cara menanggungnya, itu urusanku. Tetapi aku takkan tahan bila seseorang merana karena aku.

Aku akan menulis seolah dia ini kau.
Pola pikirku yang baru ini rupanya membuat hubungan kita rusak—kita tidak memulai apapun, namun kita juga tidak bisa berteman setelahnya. Menyakitkan. Kau dengan kepribadianmu yang begitu, dan aku dengan cara berpikirku yang semrawut.
Betapa cepat pikiranku berubah-ubah. Ketika kau—akhirnya—menyatakan perasaan padaku malam itu, aku yang semula yakin dan dengan mantap menulis jawaban mengiyakan, pada detik-detik terakhir meragu dan mengubahnya jadi sebuah penolakan..
Kau harus paham. Sebelum memberi jawaban aku merasa ragu. Lalu aku ingat pelajaran yang belum lama kudapatkan, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Aku takut kejadian yang sama akan berulang, menyakitimu seperti apa yang kulakukan pada yang lain. Jika aku sampai menyakitimu, tidak hanya akan ada ruang untuk rasa bersalah, tetapi juga ruang untuk merana. Karena aku menyukaimu, lebih menyukaimu dibandingkan yang sebelumnya—aku tidak dapat mengambil resiko untuk membuatmu terluka.
Katamu, kau juga takut menyakitiku seperti yang kau lakukan pada mantan pacarmu. Kalau kuingat lagi, tidakkah saat itu kita terlalu banyak berpikir? Itu tidak masalah, aku tidak pernah takut dengan hal seperti itu. Sudah kubilang, itu urusanku bagaimana menanggungnya. Namun, aku tidak akan memberikan kesempatan pada diriku untuk menyakiti orang yang penting buatku. Kau mungkin tidak akan pernah tahu, aku tidak menerimamu bukan karena tidak suka, justru karena kau istimewa.
Tak lama sejak kejadian itu, kita sama-sama menarik diri. Ah, ralat—kau yang menarik diri sementara aku dengan tidak-tahu-dirinya bilang rindu. Kau dengan kekanakan tegasnya berkata, "Kita tidak bisa berteman sedekat dulu."
Tidak apa, saat itu kita bersikap seolah sudah dewasa, padahal kita belum mencapai tahap itu.
Bermula dari dua orang yang berteman baik, kita mulai terasa asing. Hubungan kita hilang-timbul dimakan ego dan gengsi. Kau sempat membenciku, aku sempat merasa muak padamu. Kau menganggap dirimu korban, rupanya kau juga bersikap keterlaluan. Kupikir, sejak kejadian terakhir kali di penghujung masa putih abu, kedudukan kita seri. Tidak hanya aku yang menyakitimu—kau juga melakukannya padaku. Dulu aku bagaikan mengemis maafmu, ternyata kau juga berutang maaf padaku. Terima kasih, aku senang kita impas.
Terlepas dari seperti apa kita sekarang, bahkan mungkin tak pernah sedikitpun terlintas di benakmu ingatan tentang aku; aku mengingatnya dengan baik.
Ah iya, lucu; terakhir kali bertemu aku masih berdebar melihatmu. Tidak dalam artian rasa yang sama seperti kisah yang lalu. Rupanya jantungku juga sadar betul, Tuhan tidak mungkin mempertemukan satu dengan yang lain tanpa alasan. Barangkali dengan ini pendoamu bertambah satu, karena aku berharap kau sehat dan bahagia selalu.


x

Apr 7, 2018

Satu Juta Keluhan

April 07, 2018


Dalam salah satu episode acara Uang Kaget yang pernah kutonton, si bapak yang bakal dikasih uang itu bilang kalau penghasilan perharinya cuma enam puluh ribu. Mentok, gak lebih. Bapak itu juga bilang kalau selama ini dia sekeluarga cuma makan pakai nasi dan sayur, tanpa lauk. Malah kadang-kadang nasi sama garam. Terakhir kali dia makan daging dan ayam itu waktu lebaran haji entah tahun kapan. Aku langsung terpelatuk, selama ini di kostan ngeluh dan bosan setengah mati makan ayam terus. Padahal belum tentu orang di luar sana bisa makan ‘semewah’ aku.

Bicara soal makanan, aku mulai berpikir ada baiknya merutinkan puasa senin-kamis. Di samping bisa menghemat uang hahaha, biar merasakan sensasi betapa bersyukurnya bisa makan. Kalau aku pribadi sering kebingungan sendiri mau makan apa di sini saking bosannya. Dengan berpuasa, air putih aja kerasa nikmat. Pernah baca di buku tentang Islam gitu kalau kita makan dengan penuh rasa syukur aja tuh Allah ridho. Lupa kata-kata persisnya.

Terus.

Begitu banyak yang suka dikeluhkan. Aku pernah baca juga di buku, kalau di pagi hari itu kita gak boleh mengeluh, justru harus banyak-banyak bersyukur karena Tuhan ‘tersinggung’ kalau pagi-pagi kita udah ngeluh. Kasarnya, masih untung bisa bangun dari tidur dalam keadaan segar bugar kan? Tadinya mau cantumin di sini kata-kata persisnya, googling dulu tapi mager. Maaf ya Allah kalau salah ingat lagi. Intinya, aku berusaha mematri hal tersebut di otak dan perlahan merubah diri dari hal-hal terkecil, contohnya kayak gak ngeluh karena harus kuliah pagi.

Awalnya ini susah. Banget.

Apalagi ke gedung kampus harus nanjak dikit—dikiiiit banget, tapi lumayan lah kalau jalan dari kostan ke kampus. Biasanya temenku hobi banget nyeletuk ‘aduh gua capek banget’, gak peduli udah seberapa sering di tiap harinya kami harus menanjak untuk mencapai gedung fakultas. Terkadang akupun begitu. Padahal kalau mau postitive thinking, masih mending gedung fakultas kami terjangkau dengan sekali jalan, gak perlu mengantri odong-odong kampus dan berdesakan di jam-jam sibuk. Bener-bener tinggal jalan kaki sampai. Paling cuma 5-10 menit.


Soal sehat dan sakit.

Teman dekatku sempat ada yang sakit. Beberapa waktu lalu dia masih terbaring lemah di rumahnya dan sempat berencana bakal cuti kuliah. Di samping rasa empati yang kurasakan, aku memaknai kejadian ini sebagai pelajaran juga buatku. Kebayang kalau ada di posisi dia, pasti sedih dan kepikiran. Sedih karena gak bisa ketemu teman-teman di kampus, gak bisa ngeblog, gak bisa nonton drama, gak bisa beli telor gulung dan basreng cintaqu, gak bisa beli jus di brondong ganteng HAHAHA—duh sedih. Kepikiran juga soal kuliah, walaupun ceritanya aku memang harus fokus untuk memulihkan diri dan segera sembuh, tapi pasti ada rasa terbebani karena tertinggal dari teman-teman sepantar. Btw, si teman ini alhamdulillah udah lebih sehat, tapi masih harus pemulihan. Kalaupun kamu gak kenal, pas baca ini aminin ya dia segera sembuh total—aamin!

Dari situ aku ingat masa ketika sedang ringkih-ringkihnya, berapa kali dirawat di rumah sakit gara-gara tipes dan TBC. Aku sadar betul sehat itu amat-sangat berharga. Tetapi baru kali ini aku sebersyukur ini bisa sehat walafiat—mungkin karena aku punya hobi yang sedang giat-giatnya ditekuni, punya target jangka pendek dan panjang, dan segudang hal yang harus dilakukan lainnya. Aku gak mau melewatkan satu kesempatan pun.

Sakit adalah pengalaman tidak menyenangkan. Sederhananya sih jadi susah nelan, makanan terasa hambar, pusing mulu dan rasanya lemah letih lesu lunglai alay. Pasti tahulah ya rasanya gimana. Walaupun tidak menyenangkan, gak selalu berarti buruk. Kan dengan sakit dosa-dosa kita lagi dihapus sama Allah. Mungkin itu sisi positif dari sakit.


Soal harta. Hmm, aku pribadi jarang mengeluhkan barang kepunyaan. Selagi itu masih bisa dipakai ya udah. Aku bukan anak yang suka rewel ke orang tua minta ini-itu. Sebelum hp yang sekarang, hp-ku culun. Kameranya payah, baterainya bocor dan si hp ini sakit-sakitan. Aku gak minta ke ortu buat ganti baru, pakai aja seadanya, toh masih berfungsi dengan baik walaupun selalu ada saat-saat dimana aku pengen ngebanting dan maki-maki itu hp. Jalanin aja, tau-tau ada aja kan rezeki dikasih hp baru. Btw, kayaknya ini keluar dari konteks keluhan, tapi nyambung sih. Kan mensyukuri apa yang ada.

Soal status juga. Punya pacar ngeluh, jomblo juga ngeluh—heran. Banyak kesibukan ngeluh, gabut juga ngeluh—heran. Tapi karena sekarang lagi sibuk-sibuknya, jadi gak kepengen banget punya pacar. Sama kayak kasus si hp culun tadi, kalau memang rezeki nanti juga ada waktunya berganti status. Jalani dulu aja yang ada, kiw.

Sampai saat ini mulut masih suka ngeluh dan ngedumel, apalagi kalau lagi kesel. Aku gak mau bersikap keras pada diri sendiri dengan bener-bener melarang diri untuk mengeluh sama sekali. Kalau mumet ya keluarin aja, daripada tekanan batin. Manusiawi buat ngeluh. Asal gak selalu.
Inti tulisan ini adalah…mau sepositif apapun pikiran kita, kayaknya mulut gak akan pernah lepas dari keluhan. Tentang hal apapun. Namun, persepsi dan pola pikir itu bisa ditata. Kalau otak dan hati udah sinkron di koridor kebaikan, nanti mulut akan menyesuaikan.

Dari buku Fiqih Wanita yang kupunya disebutkan, “Allah SWT berfirman: “Anak Adam menyakiti Aku ketika ia mencela masa: ‘Wahai, hari sial!’ Karena itu, janganlah seseorang di antara kalian menyatakan demikian, karena Aku adalah penguasa masa. Aku membolak-balik waktu malam dan siang sekehendak-Ku.” (Abu Daud, 4/52740). Sebenarnya kalau mau dikaitkan dengan ayat atau hadist gitu bakal banyak banget gitu gak sih, karena kesemuanya berkesinambungan dan mencakup segala aspek kehidupan. Rasa-rasanya aku bukan orang yang tepat membahas ini lebih jauh karena ilmuku juga masih cetek. Tetapi, ada juga kan firman yang menyatakan kalau kita bersyukur, nikmat kita bakal ditambah. Ada pula reminder untuk kita berkata baik atau diam. Menurutku itu masuk dalam konteks ini, karena intinya sama: menyuruh kita menahan lisan dari yang buruk dan banyak bersyukur.

Aku cuma orang biasa, mahasiswi-tingkat-tiga yang kadang-kadang masih dikira mahasiswa tingkat dua bahkan maba. Masih suka spam daily activity di twitter. Ngetik begini memang gampang, ngelakuinnya yang susah. Tapi dengan menulis ini aku merasa lebih mengenali isi pikiranku, dan itu membantuku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Untuk kemudian sadar betul kalau ngeluh melulu gak ada gunanya (bukan berarti gak boleh ngeluh, manusiawi).

Nonton Korea dulu biar ngakak baru nugas.

Bye, Blog.


Mar 8, 2018

Pendekatan Lebih Jauh dengan Rasulullah

March 08, 2018


“Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; (di antaranya) yaitu jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya..”

(H.R. Al-Bukhari nomor 16, 21, dan Muslim nomor 43)

Judul               : Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW
Penulis           : Imam At-Tirmidzi
Penerbit        : Ummul Qura
Cetakan         : IV (2017)
Jumlah Hlm : 208

Membaca buku ini mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk ‘pendekatan’ terhadap manusia yang seluruh umat Islam cintai yakni, Nabi Muhammad SAW. Siapa yang tidak ingin mengenal, dan bertemu Rasulullah? Duduk dekat dengan beliau di akhirat kelak? Kalau kau termasuk yang tidak, mungkin ada baiknya membaca buku ini. Kau akan tahu betapa mulia dan indah sosok Rasulullah hingga patut menjadi teladan bagi seluruh manusia.

Buku Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW menghimpun hadits-hadits tentang keseharian dan pribadi Rasulullah. Mulai dari hal-hal kecil seperti cara berjalan, cara duduk, bahkan cara bersandar hingga lauk-pauk yang biasa Rasulullah makan. Total terdapat 57 bab dengan 417 hadits yang dicantumkan dalam buku ini.

Dari segi fisik, aku suka buku ini karena hardcovernya. Seluruh halamannya juga terkesan clean dengan latar belakang warna putih, nyaman dibaca, kontras dengan gambar-gambar full color yang terdapat di dalamnya (iya, buku ini full color dan dilengkapi gambar, jadi tidak membosankan).

dok. pribadi
Penulisan buku ini tidak bertele-tele, langsung pada hadits yang berkaitan dengan bab bahasannya. Misalnya Bab 5: Uban Rasulullah (8 Hadits), maka langsung dicantumkan di bawahnya 8 hadits berkaitan dengan uban Rasulullah. Tulisan pada buku dibedakan menjadi 2 warna; warna hitam untuk perawi dan warna biru untuk isi hadits.



Hadits yang dhaif, hasan, shahih dan muttafaq alaih—seluruhnya terdapat di buku ini. Keterangannya ada di footnote setiap nomor. Hanya saja, tidak ada penjelasan sebelumnya tentang hukum jenis-jenis hadits tersebut. Seperti kalau dhaif itu lemah, hasan berarti baik, dan semacamnya. Paling tidak, kupikir seharusnya di awal diberikan penjelasan umum tentang hakikat hadits dan arti setiap jenisnya. Dengan begitu, pembaca sepertiku yang belum tahu apa-apa tentang nilai jenis-jenis hadits tidak perlu repot-repot browsing atau bertanya ke teman untuk mengetahui mana hadits yang bisa dijadikan acuan dan mana yang dipertanyakan keshahihannya.

Selain itu, kupikir sebaiknya di akhir setiap bab diberi kesimpulan terkait judul babnya. Misalnya, Bab 1: Fisik Rasulullah (15 Hadits). Seluruh hadits tersebut terdiri dari hadits shahih, muttafaq alaih, ada pula yang dhaif. Barangkali di akhir bab dapat diberi simpulan “Berdasarkan hadits-hadits di atas, bahwasanya fisik Rasulullah begini dan begitu…” Namun, mungkin saja penulis mengasumsikan para pembaca dapat menyimpulkan sendiri dari apa yang telah dibacanya tanpa perlu dicantumkan kesimpulan.

Secara keseluruhan, buku ini bagus dan recommended untuk kita yang kepo lebih lanjut soal pribadi Rasulullah. Tentu saja ketika membayangkan sosok Nabi Muhammad SAW, setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda-beda. Buku ini membantu kita untuk mengetahui sedikit-banyak garis besar yang dapat dijadikan acuan dalam mengenal sosok Rasulullah lebih jauh. Terlepas dari seperti apa wujud Rasulullah, segala hal dalam dirinya adalah suri tauladan bagi umat manusia. Semoga dengan mengenal diri Rasulullah lebih jauh, kita dapat lebih mencintai dan sering merindukannya, karena Rasulullah bersabda,
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga saya yang lebih ia cintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.”
(H.R. Al-Bukhari nomor 16)

Allah menguatkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab Ayat 6 bahwasanya,
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”


Mar 2, 2018

Catatan dari Alan

March 02, 2018

2.

Itu dia yang di sana. Menarik perhatianku. Cukup manis. Aku suka.
www.pexels.com
Desember.
Kawanku bersikap kurang ajar. Membajak ponselku dan bertanya, berkenankah kau jadi pacarku. Begitu kau mengatakan ya, dia langsung menuliskan namamu di statusku. Akh! Sungguh, aku memang menyukaimu! Tapi, ini terlalu cepat. Aku tak bisa menarik kata-kata itu, kau akan sakit hati bila tahu itu bukan dariku.

Maret.
Aku dan kau yang berpacaran, lantas mengapa mereka yang repot-repot mengurus kita? Maksudku, teman-teman berkomentar ketika aku meghampirimu. Pun ketika aku bersikap cuek padamu. Aku tahu tak seharusnya mendengarkan perkataan orang lain, tapi itu membuatku tidak nyaman. Enggan bersamamu di depan orang banyak. Aku tahu kau sudah berusaha memahamiku, tapi aku tak dapat menjanjikan apa-apa.

Mei.
Ah, rasanya sepi sekali. Tapi bukan kau yang ingin kuhubungi. Percakapan kita terasa tak ada maknanya, hanya basa-basi belaka. Walau kau selalu memerhatikanku, maaf aku tidak bisa menghidupkan suasana seperti yang biasa kulakukan dengan teman-temanku. Aku bertanya-tanya mengapa bisa begitu. Apa karena itu kau?

Juli.
Hubungan apa ini namanya? Semua tahu kita bersama. Tapi rasanya hambar. Aku tak kuasa menyakitimu, kau terlalu baik. Namun, aku juga tak bisa menyenangkanmu, meski aku berusaha untuk itu. Aku mulai jengah, hobimu spam chat membuatku risih, padahal kau berbuat begitu karena aku yang selalu bersikap tidak peduli. Miris, kau bagaikan mengemis perhatianku. Maafkan aku, sungguh! Kenapa tak kau enyahkan saja aku? Mengapa kau begitu sabar padaku? Benci saja padaku! Kau lebih baik tanpaku..

Oktober.
Cepat atau lambat aku harus mengakhirinya. Ah iya, sebentar lagi kau berulang tahun. Biarlah kubuat senang dulu dirimu. Sebagai balasan kebaikanmu 4 bulan lalu, memberiku kejutan dan hadiah buatan tangan, yang jelas tiada duanya.
Aku bisa melihatnya di matamu. Kau bahagia dengan kejutan itu.. aku makin tak kuasa untuk mengakhiri hubungan ini lebih dulu.

Kita sama-sama tersiksa.
Aku, yang ingin lepas darimu.
Kau, yang menghabiskan seluruh energimu untuk memahamiku, sabar terhadapku, tidak menuntut apapun kecuali hanya secuil perhatian dariku.

Aku memang pengecut.
Pengecut yang tak berani terus terang ketika kau bertanya,
“Jadi maumu apa?”

Pengecut yang lalu dengan tega mengatakan,
“Aku sudah bosan. Aku tidak nyaman dengan ini. Lebih baik cukupkan sampai di sini.”

Pengecut yang menolak menemuimu ketika kau berkata,
“Kita boleh putus. Tapi katakan itu di depan wajahku. Setidaknya sekali, biarkan kita menyelesaikan masalah bukan via aplikasi.”

Si brengsek yang langsung menghapus namamu di statusku keesokan paginya, padahal kau belum selesai bicara tentang hubungan kita.
Aku bisa lihat, kau bukannya tidak ingin putus denganku. Kau hanya ingin, sekali saja dalam sembilan bulan yang sia-sia ini , aku memperlakukanmu dengan baik: mengakhiri semuanya sebagaimana layaknya.

Barangkali kau ingin aku menawarkan pipiku untuk kau tampar, meski kau takkan tega melakukannya. Atau mungkin kau hendak menarik kerahku, marah dan menangis; membuat rasa bersalahku menjadi-jadi.

Sudahlah. Aku ini si brengsek yang harus kau lupakan, aku tak pernah memberimu cinta, hanya melatih terus kesabaranmu dan memberi luka. Maka berbahagialah selepas ini.
Kuharap kau cepat memiliki pengganti.

Seperti aku sekarang ini.

Feb 20, 2018

Cerita dari Rani

February 20, 2018

Bercerita tentangmu bukan berarti rindu. Camkan itu.

1.

Ah, itu kau rupanya.
Kudengar, kepada teman-teman kau menyebutku manis. Tahukah kau, akupun menganggapmu begitu.

Di bulan kedua kedekatan kita, di tengah bahasan chatting yang kurang penting, kau mengganti topik,
“Boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Silakan,”
“Malu mengatakannya”
“Ada apa?”
“Kamu mau tidak, jadi pacarku?”
Aneh. Denganku, biasanya kau tidak menggunakan ‘aku-kamu’, melainkan namaku dan namamu. Bukankah seharusnya, “Rani mau tidak, jadi pacar Alan?”
Hmm mungkin kau gugup sehingga bertingkah berbeda. Entahlah, sebenarnya aku belum cukup mengenalmu. Sudah lama--kupikir--kita saling suka, tentu saja jawabanku, “Ya.”
Oh, lihat. Menit berikutnya, namaku sudah tercantum di statusmu. Aneh juga. Tetapi, hal buruk apa yang mungkin bisa kupikirkan?
www.pexels.com

Di bulan ketiga jadian kita.
Sikapmu aneh, masih banyak diam ketika bertemu. Ah iya, mungkin kau malu dengan teman-teman kita yang hobi ikut campur. Kau tidak suka disuruh menghampiriku, memperlakukanku begini dan begitu. Kau terganggu dan aku mengerti. Meski itu berarti aku harus terima hanya bicara denganmu via aplikasi. Tapi, bisakah kau beri aku sedikit perhatian? Aku merasa agak kesepian.

Di bulan kelima.
Aku mulai menangis. Aku lelah tak kau anggap ada, meski hampir setiap hari kita menghadap dinding yang sama. Bila jauh, aku merana tak kau beri kabar. Pun sekali kau hubungi terdengar seperti basa-basi. Oh, ralat—terbaca. Karena selama ini kita berhubungan lewat chatting. Aku sudah memaklumimu sejauh ini. Kumulai habis sabar; begitu hambar, rasanya seperti aku tidak punya pacar.

Di bulan ketujuh.
Banyak waktu kulewati dengan perasaan galau. Haruskah aku menyerah? Kau tampak tidak menginginkanku. Sejauh ini kita hanya makan bersama sekali, menonton film dua kali, dengan aku yang selalu memulai pertama kali. Selalu aku! Inilah aku yang kerap mengabaikan naluriku sebagai perempuan. Mengendurkan egoku, menyembunyikan kekhawatiranku, demi kenyamananmu..
Jangan nilai aku agresif, aku begini demi mengimbangi dirimu yang pasif.

Di bulan kedelapan.
Kau memberiku kejutan ulang tahun! Menyenangkan sekali. Aku berharap setelah ini hubungan kita berangsur membaik. Kau akan memperlakukanku sebagaimana mestinya. Tidak muluk-muluk, cukup ladeni aku bicara. Balas ketika kutanya kabar, ajak aku pergi meski hanya makan di kaki lima. Ya, aku menyayangimu dengan cara sederhana, maka cukup anggap aku ada agar aku bahagia!

Di bulan kesembilan.
Ah, begini rupanya. Keadaan tak kunjung membaik. Duluan kuangkat topik mau dibawa kemana hubungan ini. Kuberanikan diri menghampirimu dan bertanya, “Jadi maumu apa?”
Kau tampak kesulitan bicara. Tanganmu mengepal ketika berucap, “Nanti malam kuhubungi.”

Kau sebut dirimu lelaki, tapi sangat tidak bernyali.
Jelas sudah akhir kisah ini.
Aku, si keras kepala yang bertahan sia-sia dan tak mau lebih dulu mengakhiri, selesai dengan ditinggalkan secara menyedihkan. Bukan tanpa alasan, melainkan terlalu banyak alasan.
Seluruhnya bermuara pada satu inti: kau tidak menginginkan aku lagi.


Atau, memang tidak pernah ingin.
Paris, Oktober 2016.

Feb 16, 2018

Berubah: Taat atau Tersesat (2)

February 16, 2018
Pada suatu siang di salah satu tempat makan, aku mendapat pesan dari seorang kawan.
“Aku benar-benar gak tau lagi ini kenapa. Gimana ya? Aku udah gak ngerasain lagi feel-nya shalat. Rasanya udah jauh banget dari agama. Aku bahkan sempat terpikir soal murtad, tapi tentu aja aku gak akan kaya gitu. Tapi gimana cara menyikapi perasaan ini?! ”
Syok. Ini masalah serius. Aku tahu itu ketika sadar jantungku berdegup kencang. Butuh beberapa saat bagiku sebelum mampu membalas. Aku mengingat lagi akar permasalahannya, darimana semua ini bermula. Aku seperti mendengar suaranya lagi ketika mengingat saat kami bercakap-cakap..
**
“Laki-laki itu baik. Dia cukup pintar. Sayangnya, kami berbeda agama. Tapi, biar begitu, semua berjalan menyenangkan! Aku bahkan mengenal akrab kawan-kawan di komunitas agamanya.”
“Kok bisa?” tanyaku sesantai mungkin.
“Aku sering ikut ketika mereka sedang berkumpul,” ia melahap sepotong bakso dan terus bicara di sela-sela kunyahan, “Aku melihat cara mereka beribadah.. Kadang-kadang, aku ikut dia ke tempat ibadahnya. Aku bahkan bisa menunjukkan padamu gerakannya sekarang kalau saja kita tidak sedang makan di mall.” Ia nyengir padaku. Aku menjaga ekspresiku dan tersenyum lemah. Sekarang bakso milikku terasa seperti dibumbui kekhawatiran. Aku yakin pernah mendengar suatu hadist yang kurang-lebih menyatakan, ‘barang siapa mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam bagiannya..’. meski aku masih sangat kurang pengetahuan tentang itu.
**
“Jadi..,” ia terdengar ragu di ujung telepon, namun ada nada tidak sabar untuk segera memberitahuku sesuatu. “aku bermain ke beberapa tempat, dan mencoba sesuatu.”
Aku merasa yang membuatnya ragu adalah kemungkinan reaksiku ketika mendengar ceritanya, jadi aku berusaha memperdengarkan nada ingin tahu yang tenang, “Oh ya? Apa itu?”
“Aku beberapa kali pergi ke kelab malam.”
“Oh ya? Di mana? Memang ada di sekitar sana?” 
“Ada banyak, di sini mah.” Ia tertawa geli sementara aku menghela napas dalam-dalam di sini. Kubiarkan saja dia bercerita dulu, kusimpan reaksiku di akhir.
“Aku mencoba minuman itu. Yang ini, yang itu; sepertinya aku pernah mencoba..hampir semua jenisnya? Entahlah,” dia terkekeh. “Rasanya memang enak. Tapi ada yang kukhawatirkan.”
“Apa?” tanyaku datar.
“Yah, aku cukup paham hukum minum-minum dalam agama kita. Katanya, shalat kita gak akan diterima selama empat puluh hari, kan ya? Tapi, sekarang-sekarang ini aku memang jarang shalat, sih. Lagipula kalau memang gak diterima, gak usah shalat dulu, bukan?” ia terdengar malu-malu, tapi aku bisa membayangkan cengiran lemahnya di sana.
“Sama siapa ke sana?” tanyaku jengkel, sudah kesal.
“Pacar. Dia yang awalnya mengajakku.”
**
Kembali ke saat ini.
Kalau saja jarak kami tidak terpisah beberapa kota, aku pasti mendatanginya begitu membaca pesan itu. Saat itu, amarahku terhadap sosok lelaki yang belum pernah kutemui itu menyala-nyala. Mungkin, dia tidak sepenuhnya salah. Sifat temanku yang cenderung penasaran akan segala sesuatu bisa saja mendorongnya mencoba ‘hal-hal baru’. Tetapi seharusnya, sebagai orang yang mengaku pacar, dia paham akan itu dan mengarahkan temanku ke hal-hal yang baik. Bukan malah menjerumuskannya. Untuk alasan apa? Sedikit bersenang-senang? Hanya secuil kenakalan remaja? Persetan.
Putusin dia," kecamku di kolom chat. “Dulu kamu gak kayak gini. Aku gak mau tahu jenis pergaulan macam apa yang ada di kota sana. Yang pasti, pacar kamu gak membawa pengaruh baik. Masa bodoh cinta-cintaan, putusin dia cepat atau lambat!” Aku tidak tahu apakah dia bisa merasakan kesenduanku saat menambahkan, “Kalau kamu sampai kayak gini, aku merasa gagal sebagai teman kamu…”
**
Tentu saja mereka putus. Karena satu dan lain hal. Tidak serta merta karena aku menyarankan temanku untuk putus.
Butuh waktu beberapa bulan sejak peristiwa itu. Tentu tidak mudah mengakhirinya, yang kudengar si lelaki sempat menolak mentah-mentah tidak mau berpisah. Dan mungkin temanku butuh waktu juga untuk mengenyahkan perasaannya. Namun akhirnya semua itu berlalu. Aku merasa cukup lega.
Lama waktu berselang hingga temanku mendapatkan kekasih baru, sementara aku masih sendiri-sendiri saja—jangan tanya kenapa, dan jangan peduli mengapa; akan menjadi kisah konyol kalau diceritakan.
Berbulan-bulan kami tenggelam ke dalam kesibukan masing-masing tanpa sempat bertukar kabar. Sesekali kami saling menyapa di instastory, tapi hanya sekadar itu. Aku menekan rasa penasaranku tentang bagaimana pacarnya yang sekarang; masih banyak hal-hal yang perlu kupikirkan. Satu dari sekian hal yang membuat waktu dan pikiranku terkuras adalah tugas. Namun, tak urung aku sempat bertanya-tanya mengapa kini dia jarang bercerita. Biasanya dia akan ujuk-ujuk memulai pembicaraan tentang pacarnya. Aku berpikir, mungkin tidak ada masalah sehingga tak ada yang perlu diceritakan.
Sampai pada suatu ketika, aku mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Sesuatu mengganjal hatiku dan satu-satunya orang yang terpikir olehku untuk membahas ini adalah teman itu. Malamnya, aku mengirim chat cukup panjang, isinya adalah curhatku tentang seorang laki-laki yang membuat perasaanku tidak enak hari itu.
“Gimana kalau nanti kita telfonan? Ada yang mau kuceritakan juga.” jawabnya di kolom chat.
Beberapa jam kemudian, kami sudah bercakap-cakap di telepon. Tidak hanya menanggapi ceritaku, ia juga menceritakan kisahnya yang sekarang. Ternyata dia sudah putus lagi dengan pacar yang kemarin, saat ini dia sedang mencoba bangkit. Aku menyimak dengan penuh perhatian, seperti biasa menjaga nada suaraku tetap tenang bahkan ketika mendengar hal-hal yang cukup mengejutkan. Aku terus memperdengarkan nada kasual selama mengulik-ulik ceritanya. Bagaimana bisa? Kenapa begitu? Mengapa dia selalu menjadikan laki-laki brengsek sebagai pacarnya? Yang sekarang bahkan lebih buruk dari yang dulu! Aku terus merutuk dalam hati. Pengertian dan penyesalan bercampur-aduk dalam diriku.
“Maka dari itu,” ucapnya di ujung telepon. “Kamu jangan mau sama laki-laki gak benar. Gak perlu ditanggapi cowok yang menghubungi kamu itu. Apa-apaan coba dia? Pokoknya jangan, ya—jangan pernah coba-coba. Ingat, jangan sampai seperti aku sekarang ini.” Ia mengingatkan, nyaris seperti mengancam.
Jangan sampai seperti aku sekarang ini.
Kata-kata itu bergema di telingaku bahkan ketika sinyal yang terputus-putus membuat kami terpaksa mengakhiri percakapan malam itu. Aku beranjak tidur dengan pikiran berkecamuk.
Sedih? Jelas. Siapa yang tidak ketika melihat orang yang disayanginya terjerumus ke dalam hal-hal buruk? Di sini, aku tidak bisa semerta-merta menyalahkan pacarnya dan teman-teman sepergaulannya. Aku, sebagai teman lamanya juga perlu diperhitungkan.
Bagiku, sahabat dan pacar adalah orang-orang di luar keluarga yang memiliki andil cukup besar dalam kehidupan pribadi seseorang. Kenapa aku merasa ikut bertanggung jawab atas kenakalannya? Bukankah ketika melihat kemungkaran kita diperintahkan untuk mengingatkan? Kalau tidak bisa, ya diam saja--dan itulah selemah-lemahnya iman. Tidak mungkin kan, kau diam saja ketika temanmu berbuat buruk? Kalau ya, mungkin kau perlu berkaca: teman macam apa dirimu.
Terlebih, Rasulullah bersabda: "Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di atara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman." (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378). Dalam hadis lainnya, Rasululah mengingatkan, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Aku cantumkan ini agar kita sama-sama bisa melihat, betapa seorang teman atau sahabat berpengaruh terhadap diri kita, pun sebaliknya.
Aku kembali menata pikiranku menyikapi hal ini.
Merantau ke kota lain, hidup di kos-kosan tanpa pengawasan orang tua; pintar-pintar dalam bergaul adalah hal yang harus dilakukan. Seperti yang kusebutkan dalam cerita sebelumnya, bukan pilih-pilih teman ala anak SD; melainkan bersikap selektif. Senakal-nakalnya pergaulan di kawasan metropolitan menurutku tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan keadaan. Semacam bertanya, ‘kenapa kau mabuk-mabukan?’ lalu diberi jawaban ‘pergaulan di sini memang begitu’. Oke, mungkin itu benar adanya. Lingkungan dan teman sepermainan sangat berpengaruh pada diri kita. Tetapi kita dapat memilih untuk mengikutinya, atau mengabaikannya. Barangkali memang sulit bagi beberapa orang untuk berdiri melawan arus, apalagi bila sendirian. Namun, yang aku garisbawahi di sini adalah, bagaimana si pacar sebagai orang terdekat malah memberikan asupan negatif paling besar terhadap diri temanku. Tidakkah dia bisa sekadar menggenggam tangan wanitanya dan menuntunnya ke hal-hal baik? Aku menyisakan ruang di pikiranku untuk mengutuk laki-laki itu.
Apa yang dikatakannya terakhir tadi? Jangan sampai seperti aku sekarang ini. Hatiku tergetar aneh—terharu dan menyesal. Terharu, karena dia mengingatkan untuk tidak jatuh ke dalam hal-hal yang ‘merusak’, sementara dia sendiri membiarkan dirinya jatuh tersesat. Menyesal, karena seharusnya aku bisa berperan lebih banyak—membantunya keluar dari masa-masa sulit dan menata kembali segala impiannya. Aku menyesal tidak dapat mengatakan dengan lantang betapa sedih diriku bila dia terjerat pada hal-hal yang merugikannya. Tidak bisa melarangnya setegas yang seharusnya.

pexels.com
Aku mengingat sosok temanku. Sudah berbulan-bulan lamanya kami tidak bersua. Pergaulannya sudah berbeda sekarang, tapi ia tetap temanku yang sama. Dia masihlah seseorang yang sangat mengerti diriku. Tahu, siapa laki-laki yang menurutku istimewa dan hafal betul aku akan luluh padanya sebagaimanapun menyebalkannya dia. Dia masihlah seorang teman yang sangat pengertian dan setia kawan; tidak rela aku diperlakukan buruk oleh orang lain. Dia adalah sosok yang berani, namun juga hangat; sederhana, tapi hebat. Aku menyayanginya seperti saudari. Aku menyesalkan sikapnya yang terkungkung dalam entah-kenakalan-apa-saja yang telah diperbuatnya di sana. Dulu, dia seorang perempuan yang memiliki banyak mimpi…
Mungkin aku kurang tegas, tak mampu bersikap keras. Sebagai teman, aku hanya dapat mendoakan kebaikannya. Siap memasang telinga kapanpun dia butuh aku untuk mendengarkan. Aku tahu dan percaya, dia seseorang yang baik, dan dapat menjadi lebih baik.
_____
Setiap orang pasti pernah memiliki masa-masa kelam dalam hidupnya. Masa-masa di mana dia merasa jatuh atau terlalu bersenang-senang menikmati dunia hingga lupa ajal bisa datang kapan saja. Orang-orang terdekat kita memang akan memegang peranan besar untuk membuat hal itu semakin parah, atau justru dengan berani menyadarkan kita kalau itu salah. Tetapi kita tidak selalu dapat mengandalkan bantuan orang lain, karena diri sendirilah yang harus memutuskan—masa muda kita mau diisi dengan hal-hal bermanfaat atau malah penuh sesat?