Mar 1, 2019

Jatinewyork

March 01, 2019 0 Comments

Februari 2019.

Ketika menulis ini, hari masih siang. Waktu baru menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit. Aku menyalakan lampu kamar. Kemana perginya matahari? Sinarnya yang terik tengah hari tadi kini sudah tergantikan oleh gemuruh petir dan hujan deras yang perlahan berubah menjadi gerimis.
Aku mulai menyalakan laptop setelah menyingkirkan buku bacaanku di meja belajar. Sudah terlalu lama aku tidak menulis lagi. Padahal benakku terus merangkai kata, menuangkannya ke memo hp untuk kemudian terlupakan begitu saja. Seseorang bertanya padaku, “Kok jarang nulis lagi di blog?”. Pertanyaan itu membuatku berpikir cukup lama. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kupikir, karena aku mau membenahi seluruh postingan blog ini namun terlalu malas dan bingung memulai dari mana. Yang pasti, aku akan mulai menulis lagi. Untuk apa perpanjang masa penggunaan domain blog kalau blog-nya dibiarkan berdebu.

Di luar, hujan kembali menderas.                           
Belakangan, aku cukup banyak memikirkan kawasan tempatku menempuh studi tiga tahun lebih ini, yaitu Jatinangor. Mungkin karena tahun ini aku akan sudah angkat kaki dari kampus, rasanya tubuh dan pikiranku ‘diprogram’ untuk lebih memaknai hal-hal sekitar. Aku tidak melihat alasan dapat kembali lagi ke sini nantinya, bahkan untuk sekadar bernostalgia. Jadi, aku harus menikmati setiap detailnya selagi bisa.
Setiap paginya, terdengar kicauan burung menyapa hari yang baru. Juga bunyi sapu lidi bergesekan dengan halaman—srek-srek-srek. Aku menyukai sensasi dingin yang menjalari kulitku di kala subuh tak berselimut, atau kesegaran udara pagi yang dengan lembut menyambangi hidung. Terkadang, percikan air dingin membuat mandi menjadi urung. Sejak merasakan air di sini, air di rumahku tidak lagi terasa dingin. Di sisi lain, mulutku dua kali lipat lebih sering mengeluh gerah saat kepanasan di kota tempat tinggal, saking terbiasanya dengan hawa dingin di sini.
Kamarku tidak begitu besar, tapi cukup nyaman. Tempat di mana aku menggantungkan mimpi-mimpi dan rencanaku, foto orang-orang tercinta dan untaian kata-kata penyemangat, pada dindingnya yang berwarna pink pucat. Ini tempat terbaik bagiku untuk me-time. Mengisinya dengan menonton Drama Korea, variety show, atau sekadar membaca buku. Juga bergelung di atas kasur, bermain handphone hingga jatuh tertidur. Hah~ waktu luang adalah sebuah kemewahan.
Ketika menghabiskan waktu di luar, kepulan asap mengiringi truk-truk besar yang berlalu-lalang. Aku menyukai langit biru dengan gumpalan awan yang berarak di atasnya, seolah menaungi kota dan segala hiruk-pikuk masyarakatnya. Yaa, di mana-mana langit dan awan sama saja, sih. Tapi di sini lebih sering yang dapat terlihat, mungkin karena aku banyak berjalan juga.

Di luar sana, hujan sudah berhenti, tapi masih terdengar gemuruh petir sesekali.
Lalu, dunia perkuliahan. Sama saja sih pada umumnya. Mencurahkan tenaga serta pikiran dalam berorganisasi dan tugas-tugas kuliah. Kakiku terbiasa melangkah cepat, sebab seringnya aku—nyaris—terlambat. Aku mengenal banyak orang dengan beragam karakter, beberapa di antaranya kemudian menjadi sahabatku. Akan sangat panjang bila bercerita tentang semuanya. Yang pasti, aku senang mengenal mereka, bahkan siapapun yang pernah memberi luka.
Bicara soal makanan.. ah, bingung memulainya. Dari ujung ke ujung, bertebaran banyak sekali gerobak jajanan, warung kaki lima, hingga semi-kafe. Belakangan ini aku banyak menghabiskan waktu di Checo, real kafe yang cozy dengan beragam menu yang enak parah, menurutku. Tapi aku tak bisa sering-sering ke sana kalau tidak mau uang bulanan cepat habis ๐Ÿ˜Š. Bagaimanapun, aku lebih suka sate taichan-nya Dapur Bu Lin, roti bakar Tom & Jerry, Wiscar, Chocolate Changer, Papaaus, De’Chick, Warung Suroboyo, dan Chani. Oh ya, seblak kari’am juga tuh. Enak. Sandy Delivery! Atau Kantin Mega! Aaaah tidak ada habisnya kalau membicarakan topik ini.

Oke, hujan sudah benar-benar berhenti sekarang. Hawa semakin dingin.
Jika cukup beruntung, aku akan mendapat tempat duduk di dekat jendela ketika berada dalam bus yang membawaku pulang dan pergi. Memandang langit yang masih pagi, pepohonan yang seolah berlari, atau sinar matahari yang kian terik. Aku suka bagaimana pikiranku melayang ke segala memori, mengandaikan yang tidak pernah terjadi atau mengenang beberapa kenangan yang pahit. Tak lupa juga aku membaca doa dalam hati. Terkadang, sekelebat hal-hal manis sempat membuatku tersenyum sedikit. Aku pengingat yang baik, dan aku menyimpan segala kenangannya dengan apik.
Termasuk semua tentang Jatinangor ini.
Apa yang kutuliskan di atas memang terkesan abstrak, sebab aku tidak menggambarkan Jatinangor secara spesifik. Jadi barangkali, ketika sedang ingin, aku akan menuliskannya lagi nanti. Siapa tahu bisa jadi informasi bagi mereka kelak yang akan hidup di sini sebagai mahasiswa.
Udah ah.

Feb 21, 2019

Story: Lelaki Pujaan Kintan

February 21, 2019 0 Comments
Aku memandang rombongan anak berseragam putih-merah yang tengah menyeberang jalan dengan riang. Hatiku seolah menghangat, ingatanku melayang ke masa sekolahku sendiri—belasan tahun lalu. Momen ketika perasaan itu menumbuhkan ambisi, dan membentukku menjadi seperti sekarang ini..
Lampu lalu lintas berubah hijau; aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Sementara otakku bergerak lambat, memutar kenangan cinta pertama yang kental dalam ingatan.
***
Aku menatap sosoknya dari kejauhan, sembunyi-sembunyi di balik pagar kawat sekolah. Warna-warni cerahnya balon amat kontras dengan pakaiannya yang lusuh. Ia memberikan balon-balon itu pada teman-temanku yang lain. Wajahnya kelihatan letih, tapi senyumnya terus mengembang. Seorang teman menepuk pundakku keras sekali. Aduh. Aku meringis sementara ia tertawa mengejek, “Gak ikutan minta balon?!” cibirnya sambil lalu.
Saat lainnya. Dengan napas tersengal dan kaus lengket oleh keringat aku menghampiri kawasan kontruksi di tepi jalan besar itu. Aku tahu ia ada di sana. Kutitipkan nasi bungkus yang kubawa ke pos satpam. Kusisihkan uang jajanku untuk membelikannya makanan dari warteg terlezat. Pak Satpam memandangku heran bercampur takjub, “Kamu datang lagi.” sapanya tersenyum. “Jangan kesini terus, Nak. Lalu lintas sedang ramai di jam-jam ini. Kamu dan sepedamu bisa terserempet mobil.”
Aku hanya tersenyum sopan. Pak Satpam sudah bilang begitu lusinan kali. “Gapapa, Pak. Tolong kasih saja titipan saya, jangan beritahu kalau ini dari saya. Seperti biasa, bilang kalau ini—”
“Ya ya, Bapak akan bilang ini titipan dari Bos. Bapak hapal permintaan kamu.” Lagi, beliau tersenyum maklum.
Hari-hari lainnya. Kami bertemu di persimpangan sekolah. Ia membungkuk hingga matanya sejajar dengan mataku. Sorot matanya nampak kagum. “Kintan,” ucapnya dengan suara serak yang sudah kuhapal di luar kepala. “Namamu cantik. Kamu juga cantik. Tapi, cantik saja tidak cukup untuk hidup di dunia yang keras ini. Kamu harus tumbuh pintar, cerdas, membuat bangga ayah dan ibumu.. Hiduplah dengan baik, Kintan. Jadilah versi terbaik dirimu.” Ia mengusap kepalaku lembut, lalu kembali menggiring sepedanya dan keranjang berisi cilok dagangan. Ia tidak tahu kalau aku tahu, tempat tujuannya yang berikutnya adalah kawasan kontruksi.
Kau pasti tidak bisa membayangkan bagaimana beberapa patah kata darinya, mampu mendorong seorang bocah kelas 4 SD yang pendiam sepertiku menjadi bintang kelas hingga kelas 6 kini. Menjadi favorit para guru. Dikagumi kawan-kawan. Bersemangat untuk hidup di atas rata-rata.
“Nilaimu yang tertinggi lagi!” keluh Nissa berkacak pinggang, pura-pura marah di sebelahku setelah guru kelas kami mengumumkan hal itu. “Katamu semua berkat kekuatan cinta pertama. Seribu kali aku bertanya, kamu tetap gak mau bilang siapa dia! Aku kan penasaran siapa yang bikin sahabatku berubah begini.” ia memberengut, sementara aku hanya tersenyum getir. Ceritanya cukup pahit untuk dibagikan, aku belum siap memberitahu siapapun—kecuali satu, yang kutahu takkan pernah membocorkan rahasia, namun juga sangat mengerti lebih dari yang bisa kuungkapkan; Tuhan.
Memasuki masa paling krusial dalam umurku saat itu, minggu-minggu menjelang Ujian Nasional berlalu—siangnya aku mengerjakan banyak latihan soal dan bermain di sela-sela waktu. Kemudian mengulang pelajaran dan berdoa di malam hari. Aku harus lulus ujian dengan nilai terbaik. Begitu yang selalu kutanamkan dalam diriku; dan pada Tuhan, aku meminta-Nya untuk memberiku kekuatan mewujudkan impian itu. Keberhasilan ini tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan orang yang kucintai—ya, dia. Yang perlu dicamkan, kau boleh berusaha sendiri hingga titik darah penghabisan, tapi Tuhan yang memegang kendali segalanya. Itulah mengapa aku tak pernah absen berdoa.
Hingga akhirnya, impian itu terwujud.
Hari itu tiba. Aku nyaris berlari menemuinya, dengan secarik kertas kecil bertuliskan “LULUS” di genggaman tangan. Langkahku melambat ketika kudapati sosoknya telah berada di gerbang sekolah.
“Kamu lulus.” Itu bukan pertanyaan, dia sudah tahu.
“Katanya, nilai ujianmu yang paling tinggi dari seluruh murid SD di kecamatan ini.” Ia menerawang, nadanya terkesima. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kemarilah..” Ia menekuk sebelah lututnya dan membentangkan tangan lebar-lebar, mengundangku dalam pelukannya. Saat itulah aku menghambur memeluknya—cinta pertamaku. Perasaanku campur aduk, senang dan terharu hingga air mataku membanjir di kemejanya yang kusut.
“Hebat, putriku memang hebat..” bisiknya.
***
Assalamualaikum, Ayah…” ucapku lirih, begitu sampai di tempat yang kutuju.
Kupandangi batu nisan milik Setyo Prawira Seruni—cinta pertamaku, mimpi dan harapanku, Ayahku. Ayah si penjual balon depan sekolah, seorang kuli bangunan di kawasan kontruksi tepi jalan besar, dan pedagang cilok keliling—Ia menjelma menjadi apa saja demi menghidupi putri yang ia cintai tanpa dampingan istri.
Aku ingat tubuh kecilku mengejang kaku dan lidahku kelu saat Ayah berkata selembut mungkin, “Ibumu menikah lagi. Saat itu keadaan lebih sulit dari sekarang. Kita memang berkekurangan, tapi tidak miskin. Ayah masih mampu menafkahi keluarga ini meski tidak seberapa. Tapi rupanya, ibumu tidak tahan dengan semua ini dan memutuskan untuk pergi… Ayah tidak mengizinkannya membawamu, Kintan. Ayah boleh kehilangan istri, tapi tidak darah daging Ayah sendiri..”
“Berjanjilah pada Ayah, seperti apapun keadaannya, kamu akan selalu menghormati ibumu.” pinta Ayah, seolah memahami tatapanku yang sarat akan sakit hati dan benci: Ibu meninggalkan kami.
Sejak kusadari betapa besar pengorbanan Ayah dan rasa cintanya terhadapku, aku bersumpah pada diriku akan memberinya kemewahan hidup. Aku akan tumbuh menjadi putri cantiknya yang cerdas, sukses, versi terbaik dari Kintan—seperti yang pernah ia katakan. Sayangnya, begitu cepat Tuhan memanggil Ayah. Tepat ketika aku hendak naik ke kelas 3 SMP. Membuatku sangat terluka…
Ponselku bergetar. Ada messenger dari Nissa. Ya, Nissa sahabatku sedari SD itu. Kau masih di makam? Aku sudah selesai packing, barang-barang kita sudah disatukan biar tinggal angkut. Aku menunggu di apartemen, kita masih harus belanja sesuatu agar besok di Canberra tinggal bersantai. Salam untuk cinta pertamamu!, tulis Nissa. Aku membalas, good girl! Tunggu aku pulang.
Aku menyiram batu nisan dengan air mawar, menabur bunga-bunga di atas tanahnya yang kering sambil bercerita, “Yah, seperti yang Ayah tahu, aku sudah lulus kuliah satu setengah tahun lalu. Aku sempat bekerja di sebuah perusahaan bergengsi, tapi memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Ayah tahu aku senang belajar kan? Suasana kantor yang begitu-begitu saja membuatku jenuh. Aku mendaftar beasiswa lagi, seperti waktu kuliah kemarin; dan berhasil mendapat tempat di Australian National University. Di Canberra, lho, Yah. Keren, kan?” suaraku parau oleh air mata yang mendadak keluar.
“Jangan khawatir, aku tidak sendirian. Nissa juga berkuliah di sana. Entah sudah berapa banyak tahun kulewati dengan hidup bersama dia, Ayah. Untunglah Nissa sahabat yang sangat, sangat baik. Dan, oh—apartemen kami akan disewakan selama kami tidak ada. Ayah sama sekali tidak perlu khawatir... putri semata wayangmu sedang mengukir cita-cita setinggi mungkin.”
Aku mengecup puncak nisan Ayah dan melangkah pergi. Esok aku dan Nissa akan ikut penerbangan pagi. Entah apa aku bisa pulang lebih cepat, yang pasti masa studiku dua tahun di sana. Selama aku tidak di sini, aku hanya dapat menitipkan Ayah pada Tuhan—penjaga kami yang paling kuat. Semoga Tuhan menjaga cinta pertamaku, dan.. bolehkah kini aku meminta dipertemukan dengan cinta terakhirku?

Siapa tahu? Mungkin aku akan menemukan jodohku di Canberra.


Pertengahan Juni lalu, Inspira Pustaka Aksara menggelar lomba menulis cerpen bertema 'Cinta & Doa'. Cerpen di atas adalah naskah yang kuikutsertakan, dan menjadi bagian dari 55 peserta terbaik. Kurang lebih penampakan bukunya macam di bawah ini:

Jul 23, 2018

Story: Coulrophobia

July 23, 2018 0 Comments

14 Februari 2018 lalu Bakbuk.id mengadakan lomba cerpen & novel bertema cinta. Dari 1885 naskah cerpen yang masuk, terpilihlah 75 cerpen terbaik yang dibukukan ke dalam 3 buah antologi cerpen. Salah satunya berjudul #CintaItuApaan (Part 2), di mana karyaku termasuk di dalamnya. Alhamdulillah. Berikut kisahnya:

Jun 8, 2018

Moody

June 08, 2018 0 Comments

Di suatu siang berhawa panas, membuatku yang sudah mandi terasa seperti belum karena lengket dengan keringat.

Udah lama gak nulis blog; selama ini Twitter menjadi tempatku meracau segala sesuatu. Dan kali ini, aku mau menjabarkan beberapa minggu kemarin yang terasa berat, kacau, dan aneh. Siapa tahu ada yang senasib (?)
pexels.com

Pertama, soal tugas-tugas kuliah.
Buat sebagian orang, hal ini gak perlu dipusingkan. Syukurlah kalau kamu termasuk orang yang seperti ini. Tapi ini bukan tentang kamu, ini tentangku yang sadar bahwa aku mudah sekali tertekan ketika ditimpa banyak tugas—dengan deadline berdekatan setidaknya. Aku menyicilnya, mengerjakan sebaik mungkin entah itu tugas kelompok atau individu. Aku tidak ‘sendiri’, seringkali banyak yang bertanya kepadaku mengenai detail pengerjaan tugas itu. Ada yang sampai datang ke kostan juga. Aku selalu berusaha untuk menghadapi dengan sabar, menjelaskan sepengetahuanku meski terkadang aku lelah sendiri. Beberapa orang mungkin menangkap sikap enggan dan nada gusar dalam suaraku ketika menjelaskan langsung atau via telepon. Sorry, but I’m human too. Seperti kata salah seorang temanku, “Lo gak bisa jadi ibu peri buat semua orang.”
Ada beberapa momen di mana aku sudah benar-benar kesal terus dirongrong berbagai pertanyaan, atau justru dalam kelompok pertanyaanku diabaikan. Jangan salahkan aku bila aku bersikap ketus. Atau sengaja tidak membalas chat, mengabaikan telepon, dan mematikan data seluler. Ketiga hal ini biasanya kulakukan pada satu orang saja,  I can say that he’s my close friend, but sometimes he annoyed me. Dia tahu itu, begitu sadar nada bicaraku sudah tidak enak ketika menjelaskan, dia akan langsung berkata, “Iya, iya, gak usah marah-marah gitu dong, Lin..” rajuknya.
“Apaan dah orang biasa aja.”
“Enggak anjir, beda...” bla bla bla bla. Dan cara bicaranya mau tidak mau membuatku tersenyum juga meski enggan.
Nah, untuk problem yang satu ini, aku pernah baca postingan viral line sejenis—tentang orang yang segitu maunya direpotin orang lain; gak bisa menolak memberi bantuan. Entah karena faktor gabut, gak enakan, sangat tidak egois, dan lain-lain. Pokoknya isi postingan itu bilang, dalam Islam, seseorang yang membantu meringankan beban orang lain akan diringankan bebannya di akhirat (kalau gak salah ingat). Hmmm…
Bisi ada yang salah paham. Sebenarnya aku tidak keberatan membantu orang lain selama hal itu bisa kulakukan. Menanggapi pertanyaan bukan hal yang sulit, yang susah adalah ketika saat itu mood-ku dalam kondisi jelek. Bayangkan rasanya, ada orang yang memintamu membantu membuat UP-nya ketika kamu sedang sibuk-sibuknya mengedit tulisan dari 11 orang berbeda untuk dijadikan satu makalah runut dan rapi. Gila, marah rasanya waktu itu. Aku menolak dengan bahasa sesopan mungkin. Terkadang, makin formal dan sopan bahasaku itu berarti aku sudah di puncak kekesalan.
Aku sadar, bukan tugas-tugas menguras waktu dan pikiran yang membuatku tertekan. Tapi, keseharianku berjibaku dengan urusan duniawi itulah yang membuatku hampa, monoton, dan terbebani. Seharusnya aku bisa menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi. Aku melihatnya sebagai cara Tuhan menegur, mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya, karena ketenangan batin memang hanya didapat lewat sana. Dan masalahku ini memang batin, psikis—bukan fisik.
Well, untuk masalah ini aku pikir solusinya adalah belajar lebih sabar dan ikhlas dalam bekerja maupun membantu orang lain. Yang terpenting, aku harus belajar tentang MANAJEMEN STRES. Apa kabarnya aku di dunia kerja kalau mengatasi stres musiman saja tidak bisa? Apalagi beberapa pekerjaan menuntut kriteria ‘mampu bekerja di bawah tekanan.’ Dan jauh di atas semua itu, tentu aku harus menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi.

Kedua, masalah moody-an.
Ugh, aku benci ketika diperbudak oleh mood. Bawaannya males ngapa-ngapain, cuma tiduran dan scrolling timeline apapun sampai kuota tahu-tahu menipis. Baca males, nulis males, ngobrol sama orang juga enggan. Di satu sisi gak mau menghabiskan waktu sendirian—berbagai paradoksitas dalam diriku yang membuat tingkahku tak karuan. Puncaknya adalah ketika aku akhirnya menangis setelah temanku bilang tidak bisa menemukan sertifikat resmi TOEFL-ku. Padahal waktu itu aku beres sholat, seharusnya pikiran relatif tenang. Yang ada, aku malah menghela napas berkali-kali sambil bergumam, “haduh, kesal, kesal” dan akhirnya sesenggukan. Culun? I don’t care what you think about it..
Selama menangis, pikiranku berkecamuk. Soal tugas, rasa kesepian, hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana… aku menangis sambil chatting dengan beberapa orang yang kupilih untuk sharing masalah ini. Aku menangis selama satu jam penuh dan sadar betapa lebih tenangnya aku setelah itu. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menangis, dan kali itu rasanya melegakan. Aku menganggap tangisan itu adalah luapan emosi yang telah lama kutahan-tahan. Ya, aku tipe orang yang lebih banyak menahan diri—dan ini tidak baik.

Ketiga, banyak hal-hal remeh yang membuat kesal.
Salah satunya ini: jadi postingan terakhirku di blog tidak terindeks google, walaupun aku sudah fetch as google, statusnya terus redirected. Padahal artikel itu kuikutsertakan dalam lomba. Aku googling dan ngulik sendiri alasan kenapa bisa begitu, dan bagaimana membetulkannya. Praktiknya cukup sulit, aku kurang mengerti. Lantas aku bertanya ke grup line square yang isinya blogger-blogger. Mulai dari yang expert sampai yang ecek-ecek kayak aku. Ada seorang yang menyahut, “Coba cari di blog google.com …. Semuanya lengkap di situ.”
Syalan.
Kalau gue nemu di google juga gak akan gue nanya ke situ :( sebel gak si. Gedek banget. Lagipula, apa gunanya ada grup kalau gak bisa dipake buat bantu solving problem seputar yang bersangkutan?? Untung gue gak kenal sama ini orang, jadi gue masih bisa nahan diri buat gak ngegas dan lebih memilih menjawab, “Hmm yaudah makasih deh.”
“Sangat informatif.” timpalnya. Siapapun dia, dia telah membuat gue malas lagi muncul di sana.
Apa lagi ya?
Kabar terkini, keadaanku sekarang sudah lebih baik. Gak terikat emosi-emosi negatif. Aku sudah lebih ringan karena sudah menyelesaikan tiga dari enam tugas akhir yang ada. Sudah lebih ceria karena bertemu dengan kawan-kawan baik di momen bukber dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Aku ke toko buku, membeli buku best-seller soal self-healing dan notebook bersampul lucu. Banyak hal yang kulakukan demi mencoba membahagiakan diriku sendiri. Kasihan dia, selama ini aku terlalu memaksanya tenggelam dalam emosi negatif.
Satu yang kusayangkan adalah, betapa cepat waktu berjalan. Aku sama sekali tidak sadar Ramadhan tinggal satu mingguan lagi. Apa-apa saja yang telah kukerjakan?

May 16, 2018

Popbela: Media Online Wanita Yang Siap Membantumu Tampil Keren!

May 16, 2018 0 Comments
pexels.com

Attention, Ladies!

Menjadi keren tidak cukup hanya dengan penampilan yang kece aja, kamu perlu meng-upgrade diri kamu agar memiliki kepribadian yang menawan. Untuk itu, menjadi wanita yang cerdas, berwawasan luas, dan produktif sangatlah penting. Dengan ini kamu mampu membawa diri dalam segala suasana dan membagikan aura positifmu pada orang banyak. Sulit gak sih untuk menjadi wanita macam begini? 
Mari kita manfaatkan era digital yang semakin berkembang! Menjadi wanita kekinian yang keren tentu tidak boleh ketinggalan informasi. Alangkah menyenangkan bisa mengakses segudang inspirasi busana, berita terkini, hingga tips & trik dalam satu wadah informasi yang simple. Nah, dari sekian banyak media online, cukup satu yang menjadi pilihan utama. Kini, semua kebutuhan dan pesona wanita muda Indonesia dapat kamu temukan di Popbela! ๐Ÿ˜„
welcome to popbela/source:popbela.com

Popbela menyajikan segudang informasi yang perlu diketahui wanita. Konten yang ditampilkan tidak melulu soal fashion, beauty, dan lifestyle. Di sini kamu juga dapat mengakses beragam serba-serbi menarik terkait politik, karir, entertainment, hingga relationship. Dari problema single hingga married, semua dikupas tuntas! Detail banget kan, ladies?
Komitmen Popbela adalah menginspirasi para wanita agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Gak heran konten yang disajikan full of positivity dan worth-sharing. Tampilan situs yang eye catching juga dijamin membuat kamu betah berlama-lama scrolling. Baca satu artikel aja gak akan puas deh. ๐Ÿ˜

pexels.com
Kamu kekurangan ide untuk mix & match baju? Gak tahu model berpakaian apa yang lagi tren sekarang? Atau bingung aksesoris mana yang bisa membuatmu nampak lebih trendi? Jangan khawatir! Lewat menu Style & Trends dan Look for Less pada kategori Fashion Popbela, temukan tren yang sedang booming di mancanegara dan inspirasi OOTD yang bikin penampilanmu kece badai! Cek di sini.


pexels.com
Ini konten favorit penulis, dan pastinya yang paling dicari-cari oleh para wanita! Kategori Beauty di Popbela terbagi menjadi Hair, Skin, Make Up, dan Health. Penggolongan subkategori tersebut memudahkan kita para pembaca untuk mengulik info yang kita mau. Rekomendasi make up dan skincare terbaik juga pasti ada di siniDijamin deh kamu akan menemukan semua kebutuhan cantikmu di siniSiap-siap scrolling sampai juling! Hihihi ๐Ÿ˜


pexels.com
Nah, nah. Popbela juga memerhatikan kehidupan sosialmu lho, ladies. Serba-serbi keseharian, hubungan persahabatan hingga percintaan bisa kamu temukan di kategori Relationship. Ada info menarik berdasarkan perhitungan zodiakmu juga! Popbela pun memahami kebutuhanmu akan sex education. Ketahui tips dan trik bermanfaat seputar kehidupan sex supaya kamu gak ketinggalan informasi penting ya! Yuk klik di sini.


pexels.com
Wanita yang produktif sudah pasti keren, karena ia mampu menyibukkan diri pada hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau orang lain.  Here we go!  Popbela menyediakan segudang motivasi dan inspirasi kehidupan pada kategori Career. Kamu akan menemukan banyak isu terkini hingga cerita selebriti di dalamnya. Mulai dari perjalanan bisnis, rekomendasi tempat wisata, hingga hal-hal yang menjadi inspirasi dalam hidup mereka dapat ditemukan di sini. Be positive, keep positive, share your positivity! 

Begini loh tampilan webnya/source:popbela.com
Sebagai salah seorang pengunjung rutin Popbela, penulis suka sekali dengan isi lamannya. Tampilannya simple and clean, semua kontennya informatif, dan disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan. Tentunya kita ingin belajar banyak hal tanpa melalui kalimat berbelit-belit yang membuat kita malas berpikir, kan?
Nah, Popbela adalah laman yang pas untuk kamu baca di waktu santai maupun sela-sela kesibukan. Penulis juga begitu! Jika dirasa terlalu bosan melihat foto-foto di Instagram atau scrolling status orang-orang di Twitter, cusss deh kunjungi laman berfaedah semacam Popbela. Meskipun terkesan sibuk sendiri dengan gadget di genggamansetidaknya waktu yang kamu habiskan tidak akan terbuang percuma. Iyadong, daripada ngepoin hal-hal gak berfaedah, mending pantengin Popbela. ๐Ÿ˜‹
Kategori yang paling sering penulis kepoin itu Beauty dan Inspiration. Sebenarnya, banyak banget artikel yang jadi favorit! Setiap harinya berubah-ubah karena Popbela terus update informasi kekinian. Penulis bagi deh beberapa artikel recommended terfavorit saat ini di antaranya adalah 7 Beauty Vlogger Berhijab Yang Wajib Kamu Simak Videonya dan Manfaat Melakukan Double Cleansing Pada Wajah. Worth it to read? Absolutely!
Untuk kamu para wanita muda Indonesia, jangan lagi hanya menjadi sekadar ‘cantik’ ya. Yuk bersama-sama menjadi wanita cantik yang keren. Caranya? Extend your insight and make a good attitude!  Dressed up well is a must too! Bingung harus darimana memulainya? All you need is visit www.popbela.com ! ๐Ÿ˜„

May 8, 2018

Kisah Klasik

May 08, 2018 0 Comments

Seperti apa masa putih-merahmu? Menyenangkan? Sama.

Tapi bagiku, SD adalah masa-masa yang paling berperan besar dalam membentuk kepribadianku seperti sekarang ini. Tidak hanya soal bermain karet, andar-undur, atau polisi-polisian. Ini adalah masa pembuktian di mana aku mulai percaya apabila hidup kita selalu melibatkan Tuhan, maka segala urusan akan lancar.
Kamu mau tahu ceritanya?

Sama sekali tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku selalu mendapat ranking tiga besar sejak kelas 1. Pernah sekali aku tidak dapat ranking, dan entah mengapa ini terasa bagai cambuk yang membuatku merasa harus ‘merebut’ kembali posisiku. Di semester berikutnya aku langsung mendapat ranking 3. Ya, seambisius itu. Hhhh. Pada masa itu aku suka sekali belajar, aku benar-benar tidak suka mendapat nilai rendah. Namun, jangan pikir aku seorang kutu buku kurang gaul. Aku memiliki banyak teman, dan rumahku seringkali dijadikan ‘basecamp’ karena letaknya strategis.
www.pexels.com

Cerita dimulai di kelas 6.
Aku harus pindah rumah ke Bekasi. Rasanya? Sedih, aku sangat mencintai teman-temanku dan tidak mau berpisah dengan mereka. Apalagi tinggal setahun lagi aku lulus. Sebagai anak yang baru berumur sebelasan(?), aku tidak bisa menentang kehendak orang tua. Alhasil, waktu itu aku rajin sekali shalat dan berdoa, memohon entah bagaimana caranya aku tidak pindah sekolah. Rasanya mustahil. Tapi ajaibnya, Papa tiba-tiba berkabar kalau sekolah di daerah sana sudah penuh dan tidak bisa menerima siswa pindahan! Senang? Banget. Singkat cerita, aku tetap pindah rumah ke Bekasi namun tetap bersekolah di Jakarta. Dengan polosnya aku berpikir, Allah luar biasa sekali bisa memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Bullying
Boleh kubilang, kelasku penuh dengan anak-anak yang ‘bandel’. Kultur persaingannya juga sangat ketat. Teman-temanku yang terkenal pintar sekelas denganku. Aku melihat kelas lain begitu adem-ayem, tidak seperti kelasku yang gerah akan emosi dan bullying. Ya, aku juga kena bully.
Ada seorang anak bertubuh gempal yang terkenal bandelnya sejagat raya sekolah. Ini anak rese parah mengganggu hampir semua murid termasuk aku. Dia tidak membully-ku secara fisik, tapi batin. Dengan cara apa? MENCONTEK! Aku paling tidak suka dicontek, dan orang ini bahkan memaksaku mengisi lembar jawaban ulangan hariannya. Kalaupun duduknya jauh dariku, begitu guru mengumumkan adanya try out atau tes apapun, dia akan pindah duduk di dekatku. Aku takut dan tidak bisa apa-apa hingga hanya bisa menangis diam-diam.
Agak sulit dijelaskan, yang pasti bukan hanya aku yang diganggu. Dia sering membuat teman-teman lainnya baik cewek atau cowok menangis, sering ngamuk di kelas, bahkan membuat wali kelasku rasanya darah tinggi setiap hari. Ibu Meytuti guruku yang baik, terima kasih telah mengizinkan aku duduk paling depan dekat mejamu demi menghindari tukang bully itu. Ya walaupun gak mempan sih. Guru sekalipun tidak bisa menghalangi anak itu mengganggu orang lain. Lucunya, kabarnya dia sempat naksir padaku. bahkan memberikan sekotak cokelat yang tentu saja tidak kumakan.
Aku ingat ada suatu waktu di mana aku benar-benar merasa takut ke sekolah karena dia. Lalu apa? Aku gencarkan lagi shalat dan berdoa agar dijauhkan dari setan macam dia HAHAHA. Ajaibnya lagi, doaku sepertinya terkabul karena hampir seminggu aku tidak pernah diganggu lagi oleh Si Gempal. Kemudian ibadahku mengendur—namanya juga anak SD—dan entah bagaimana Si Gempal ini menggangguku lagi. Percaya atau tidak, hal ini menjadi landasan berpikirku hingga sekarang; kalau kita mendekati Allah, Dia akan memberikan apapun yang kita mau. Aku masih kelas 6 SD saat itu, tapi aku semakin yakin dan tahu ke mana aku harus meminta pertolongan.

Masa-masa sulit tapi menyenangkan.
Aku hanya bisa bilang betapa bersyukurnya aku berada pada lingkaran pertemanan yang tepat. Inilah bagian paling menyenangkan—bermain dengan teman-teman, ngumpul-ngumpul di rumah mbahku dan jajan kesana-kemari. Teman-teman perempuanku asyik dan luar biasa baik. Yang laki-laki juga sih, hanya saja banyak juga dari mereka yang kasar dan senang memaki. You know la dulu itu jamannya ngeledek nama orang tua.
Jangan lupa bahwa aku harus bepergian setiap hari Jakarta-Bekasi untuk sekolah. Bekasi-nya di ujung, daerah Bantar Gebang. Ini bagian yang cukup sulit, terlebih ketika itu kami belum punya mobil. Bayangkan sendiri, tiap hari naik motor berempat (aku, kakak, adik, Papa) berangkat nyubuh dan pulang malam hari. Kenapa malam? Setelah mengantar kami ke rumah mbah di Jakarta (dekat sekolahku), Papa harus kembali ke Bekasi untuk bekerja dan baru menjemput kami ke Jakarta seberesnya. Agak sedih kalau diingat, kami pernah jatuh di jalan raya karena Papa terlalu ngantuk untuk mengendarai motor saat malam. Kami juga pernah tersasar di jalan. Tapi bagian paling menyedihkan bukan itu..
Suatu hari, aku tidak bisa sekolah karena Papa sakit. Jelas Papa tidak bisa mengendarai motor dan menempuh perjalanan panjang. Tubuhnya meriang. Beliau duduk bersandar pada dinding dan melipat lengannya di atas lutut ketika berkata, “Kalian harus belajar yang benar, Papa udah capek-capek ngantar...”
Di balik raut wajahku yang datar, mendadak muncul ambisi yang menggelora. Bukan beban, melainkan harapan yang mesti diwujudkan; aku akan membalas jerih payah mereka. Lihat saja.

Belajar, belajar, dan berdoa
Aku pernah baca, kalau doa seorang musafir akan diijabah oleh Allah. Waktu itu, aku tidak tahu apakah aku termasuk seorang musafir karena melakukan perjalanan Jakarta-Bekasi setiap hari. Haha. Yang pasti selain tidur atau dengar radio pakai headset di hape esia express music, ketika di motor aku selalu berkata dalam hati, “Aku pengen lulus dengan nilai tinggi, bikin Papa sama Mama bangga.” “Aku sayang banget sama teman-temanku, semoga aku masuk SMP yang sama kayak mereka dan terus sekolah di Jakarta.” Uhm, rada gimana gitu ya.
Aku ingat bagaimana rajinnya diriku pada masa itu, setiap hari belajar dan terus belajar. Anehnya, aku sangat menikmati proses itu. Guruku selalu mencekoki para muridnya dengan latihan soal-soal—membuatku terlatih. Meski persaingan di kelas sangat ketat, aku tidak patah semangat. Begitu ambisiusnya aku hingga ketika kudapati hasil try out-ku di bawah 80, aku akan membalasnya di latihan berikutnya, tak tanggung-tanggung menargetkan nilai 90. Dan aku selalu berhasil. Si Gempal? Masih mengganggu, tapi aku lebih berfokus pada quality time dengan sahabat-sahabatku dan pelajaran sehingga tidak ambil pusing.
Lupa sejak kapan, tapi aku memang suka membaca buku-buku bertema agama meski itu hanya sekadar ‘tata cara shalat lengkap’ atau ‘doa & dzikir harian’. Kala itu aku mencoba mengamalkan yang dikatakan isi buku. Katanya, kalau kita shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir, kita minta apa saja akan dikabulkan. Katanya, kalau baca doa ini-itu Allah akan memberi kelancaran, menjauhkan dari gangguan, dan sebagainya. Yoweslah aku baca saja. Belajar dari pengalaman sederhana sebelumnya, kalau kita rajin shalat dan berdoa, yang dimau akan didapat.

Hasil yang manis
Meskipun selama UN berlangsung Si Gempal masih mencontek (dia mendapat tempat duduk di depanku!), paling tidak dia kuberikan jawaban yang salah.
-Enak aja gue belajar siang malem berbulan-bulan, eh orang lain maen nyalin aja!-
Oya, ketika hari perpisahan, aku dipanggil maju ke depan oleh kepala sekolah karena mendapat nilai try out tertinggi. Lupa TO provinsi apa bukan. Pokoknya, di hari pengumuman Ujian Nasional, aku kembali mendapat hadiah yang sangaaaaat tidak terduga. Tidak hanya lulus, aku juga mendapat nem tertinggi di sekolah dengan nilai rata-rata 9! Dulu aku bukan orang yang cengeng, sehingga mendapati berita seperti ini lebih membuatku syok ketimbang menangis terharu. Keluargaku? Jelas bangga. Dan aku bahagia dapat menjadi alasan kebanggaan mereka.
Walaupun di kelas aku hanya menempati ranking 3, tapi bagiku aku sudah memenangkan persaingan yang sebenarnya. Nem-ku lebih dari cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jakarta. Tentu saja keinginan ini pupus karena aku kembali harus pindah rumah—dan sekolah. Ke mana? Karawanx City. Di mana cerita-cerita berikutnya membentukku menjadi pribadi yang sekarang…

Ini menjadi pengalamanku yang sangat berharga. Bagaimana kolaborasi usaha, doa, dan percaya pada Yang Kuasa mampu mewujudkan harapan paling tidak mungkin sekalipun. Kupikir, inilah yang menjadi alasan kuat mengapa aku seringkali membawa agama dalam celoteh tulisanku. Karena agama (dalam hal ini Islam) telah menjadi landasan pola pikirku sejak lama. Dan isi blog ini adalah buah dari pikiranku. Ya, sampai saat ini aku memang belum mampu menjadi muslimah yang sebenarnya. Aku juga tidak menganggap diriku sudah baik. Tapi menurutku, semua itu berangkat dari keyakinan hati dan pola pikir. Seiring berjalannya waktu, semua akan ikut baik.

Ya udah, gitu aja ceritanya.
Oh, seseorang pernah bilang padaku ketika aku berulang tahun, “Jangan bosan jadi orang baik ya.”
He doesn’t know how it cheer me up to keep going to be better.
Kamu juga. Siapapun kamu, tetap semangat untuk menjadi yang lebih baik ya.

Apr 17, 2018

Kami Yang Tidak Sempat Menjadi 'Kita'

April 17, 2018 0 Comments

4 Februari 2018, 10:33 PM
Aku tidak bisa tidur.
Pilihannya cuma dua, membaca atau menulis sesuatu.

Aku sedang tidak tertarik membaca wattpad, apalagi membaca ulang novel-novel yang ada di kamarku; jadi aku meraih pulpen dan buku yang sengaja kuselipkan di tempat tidur.
Di kepalaku terbayang seseorang dari masa lalu. Seorang teman baik yang pernah kusakiti hatinya karena memberikan jawaban yang tidak ia harapkan. Aku masih ingat jelas saat itu, bahkan hari-hari sebelum hal itu terjadi, bagaimana kami cukup akrab hingga membuat kekasihku yang sesungguhnya saat itu cemburu. Hari-hari di mana aku menikmati momen ketika dia mengambil tempat duduk di sebelahku dan mulai menyanyikan lagu. Aku selalu suka caranya bernyanyi sambil memetik gitar, bagiku itu hiburan yang melegakan.
Aku senang dengan caranya memperlakukanku. Membuatku berpikir, begitulah seharusnya perempuan diperlakukan. Usai menjalin hubungan dengan seorang yang kasar dan hobi memperlakukanku seperti sampah, dia seolah hadir menawarkan tempat berteduh yang nyaman. Aku ingat, siang itu dia menghampiriku dan berkata, “Mana si monyt itu? Cowok macam apa yang ngomong anjing ke ceweknya?” dan aku masih ingat, bagaimana mendadak hatiku lembek seperti marshmellow. Kau boleh menyebut ini lebay, tapi kita semua memiliki caranya sendiri dalam mengistimewakan sesuatu.
www.unsplash.com
Hm, begitu memori tentang seseorang muncul, kenangan-kenangan yang menyertainya akan mengalir deras. Sebagai orang yang tidak mudah lupa, aku menyimpan baik segala kenangan itu. Setiap perbuatan orang lain kepadaku, menyenangkan atau tidak, terpatri mendetail dalam ingatan.
Kembali lagi pada lelaki yang tengah kuceritakan. Sekian waktu berlalu, begitu banyak kesalahpahaman di antara kami. Aku dengar dia menyukaiku bahkan sebelum kami mulai berteman. Aku menyukainya setelah kami berteman. Sudah kubilang, caranya memperlakukan perempuan membuatku luluh. Saking dekatnya kami, aku ingat rekan kerja kami pernah berkata, “Kalian kayak permen karet, nempel terus.” Beberapa orang menganggap kami tampak cocok bersama.
Namun secara tiba-tiba aku bersama dengan yang lain. Ah, akan sulit menjelaskan bagaimana aku dan lelaki lain itu mendadak menjadi ‘kita’. Lucu entah bagaimana, dibanding pacarku sendiri, aku merasa lebih terikat dengan dia. Waktu itu aku dan dia tengah bicara di depan pintu ruang kerja ketika si pacar terlihat datang dari ujung lorong, berjalan ke arah kami—aku memberengut kesal saat laki-laki di hadapanku ini menyuruhku masuk. Raut wajahnya mengatakan, “Lebih baik kita tidak menimbulkan salah paham.” Baca: jaga jarak.
Aku mengerti, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu dengan dia.
Selang hanya satu bulan, aku kembali berstatus sendiri. Apakah dia bergembira setelah aku bebas? Aku yakin iya. Sayangnya, perpisahan terakhirku membuatku takut akan menyakiti orang lain lagi. Kemarin itu, aku tidak cukup menyukai pacarku sehingga melepaskan diri darinya hanya menyisakan ruang untuk rasa bersalah, tidak lebih. Tak ada rasa yang tertinggal, bahkan keinginan untuk tetap bertahan. Saat itu pacar hanya mengiyakan keenggananku untuk tetap berhubungan dan pergi dengan air mata tertahan. Dari sana aku belajar, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Bagiku, tidak masalah jika hanya diri sendiri yang merasa sakit. Bagaimana cara menanggungnya, itu urusanku. Tetapi aku takkan tahan bila seseorang merana karena aku.

Aku akan menulis seolah dia ini kau.
Pola pikirku yang baru ini rupanya membuat hubungan kita rusak—kita tidak memulai apapun, namun kita juga tidak bisa berteman setelahnya. Menyakitkan. Kau dengan kepribadianmu yang begitu, dan aku dengan cara berpikirku yang semrawut.
Betapa cepat pikiranku berubah-ubah. Ketika kau—akhirnya—menyatakan perasaan padaku malam itu, aku yang semula yakin dan dengan mantap menulis jawaban mengiyakan, pada detik-detik terakhir meragu dan mengubahnya jadi sebuah penolakan..
Kau harus paham. Sebelum memberi jawaban aku merasa ragu. Lalu aku ingat pelajaran yang belum lama kudapatkan, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Aku takut kejadian yang sama akan berulang, menyakitimu seperti apa yang kulakukan pada yang lain. Jika aku sampai menyakitimu, tidak hanya akan ada ruang untuk rasa bersalah, tetapi juga ruang untuk merana. Karena aku menyukaimu, lebih menyukaimu dibandingkan yang sebelumnya—aku tidak dapat mengambil resiko untuk membuatmu terluka.
Katamu, kau juga takut menyakitiku seperti yang kau lakukan pada mantan pacarmu. Kalau kuingat lagi, tidakkah saat itu kita terlalu banyak berpikir? Itu tidak masalah, aku tidak pernah takut dengan hal seperti itu. Sudah kubilang, itu urusanku bagaimana menanggungnya. Namun, aku tidak akan memberikan kesempatan pada diriku untuk menyakiti orang yang penting buatku. Kau mungkin tidak akan pernah tahu, aku tidak menerimamu bukan karena tidak suka, justru karena kau istimewa.
Tak lama sejak kejadian itu, kita sama-sama menarik diri. Ah, ralat—kau yang menarik diri sementara aku dengan tidak-tahu-dirinya bilang rindu. Kau dengan kekanakan tegasnya berkata, "Kita tidak bisa berteman sedekat dulu."
Tidak apa, saat itu kita bersikap seolah sudah dewasa, padahal kita belum mencapai tahap itu.
Bermula dari dua orang yang berteman baik, kita mulai terasa asing. Hubungan kita hilang-timbul dimakan ego dan gengsi. Kau sempat membenciku, aku sempat merasa muak padamu. Kau menganggap dirimu korban, rupanya kau juga bersikap keterlaluan. Kupikir, sejak kejadian terakhir kali di penghujung masa putih abu, kedudukan kita seri. Tidak hanya aku yang menyakitimu—kau juga melakukannya padaku. Dulu aku bagaikan mengemis maafmu, ternyata kau juga berutang maaf padaku. Terima kasih, aku senang kita impas.
Terlepas dari seperti apa kita sekarang, bahkan mungkin tak pernah sedikitpun terlintas di benakmu ingatan tentang aku; aku mengingatnya dengan baik.
Ah iya, lucu; terakhir kali bertemu aku masih berdebar melihatmu. Tidak dalam artian rasa yang sama seperti kisah yang lalu. Rupanya jantungku juga sadar betul, Tuhan tidak mungkin mempertemukan satu dengan yang lain tanpa alasan. Barangkali dengan ini pendoamu bertambah satu, karena aku berharap kau sehat dan bahagia selalu.

Apr 7, 2018

Satu Juta Keluhan

April 07, 2018 0 Comments

Berapa kali aku menekankan pada diri sendiri ‘gak boleh ngeluh, gak boleh ngeluh’ tapi tetap aja ini mulut kadang-kadang suka bertindak semaunya.


Dalam salah satu episode acara Uang Kaget yang pernah kutonton, si bapak yang bakal dikasih uang itu bilang kalau penghasilan perharinya cuma enam puluh ribu. Mentok, gak lebih. Bapak itu juga bilang kalau selama ini dia sekeluarga cuma makan pakai nasi dan sayur, tanpa lauk. Malah kadang-kadang nasi sama garam. Terakhir kali dia makan daging dan ayam itu waktu lebaran haji entah tahun kapan. Aku langsung terpelatuk, selama ini di kostan ngeluh dan bosan setengah mati makan ayam terus. Padahal belum tentu orang di luar sana bisa makan ‘semewah’ aku.
Bicara soal makanan, aku mulai berpikir ada baiknya merutinkan puasa senin-kamis. Di samping bisa menghemat uang hahaha, biar merasakan sensasi betapa bersyukurnya bisa makan. Kalau aku pribadi sering kebingungan sendiri mau makan apa di sini saking bosannya. Dengan berpuasa, air putih aja kerasa nikmat. Pernah baca di buku tentang Islam gitu kalau kita makan dengan penuh rasa syukur aja tuh Allah ridho. Lupa kata-kata persisnya, tadinya mau googling dulu tapi mager. Maaf ya Allah kalau salah ingat.

-BTW, aku ngetik ini jam 2 kurang 15 pagi dan sekarang ada suara-suara apa gitu di luar kamar kost. KOK HOROR SIH WOY. Mau ngintip dari gorden gak punya nyali. Moga aja itu si bapak kost yang lagi bersih-bersih halaman abis tahajjud-

Heup, kembali lagi.
Begitu banyak yang suka dikeluhkan. Aku pernah baca juga di buku, kalau di pagi hari itu kita gak boleh mengeluh, justru harus banyak-banyak bersyukur karena Allah ‘tersinggung’ kalau pagi-pagi kita udah ngeluh. Tadinya mau cantumin di sini kata-kata persisnya, googling dulu tapi mager. Maaf ya Allah kalau salah ingat lagi. Intinya, aku berusaha mematri hal tersebut di otak dan perlahan merubah diri dari hal-hal terkecil, contohnya kayak gak ngeluh karena harus kuliah pagi.
Awalnya ini susah, banget.
Apalagi ke gedung kampus harus nanjak dikit—dikiiiit banget, tapi lumayan lah kalau jalan dari kostan ke kampus. Biasanya temenku hobi banget nyeletuk ‘aduh gua capek banget’, gak peduli udah seberapa sering di tiap harinya kami harus menanjak untuk mencapai gedung fakultas. Padahal kalau mau postitif thinking, masih mending gedung fakultas kami terjangkau dengan sekali jalan, gak perlu mengantri odong-odong kampus dan berdesakan di jam-jam sibuk. Bener-bener tinggal jalan kaki sampai. Paling cuma 5-10 menit.

Soal sehat dan sakit.
Teman dekatku sempat ada yang sakit. Beberapa waktu lalu dia masih terbaring lemah di rumahnya dan sempat berencana bakal cuti kuliah. Di samping rasa empati yang kurasakan, aku memaknai kejadian ini sebagai pelajaran juga buatku. Kebayang kalau ada di posisi dia, pasti sedih dan kepikiran. Sedih karena gak bisa ketemu teman-teman di kampus, gak bisa ngeblog, gak bisa nonton drama, gak bisa beli telor gulung dan basreng cintaqu, gak bisa beli jus di brondong ganteng HAHAHA—duh sedih. Kepikiran juga soal kuliah, walaupun ceritanya aku memang harus fokus untuk memulihkan diri dan segera sembuh, tapi pasti ada rasa terbebani karena tertinggal dari teman-teman sepantar. Btw, si teman ini alhamdulillah udah lebih sehat, tapi masih harus pemulihan. Kalaupun kamu gak kenal, pas baca ini aminin ya dia segera sembuh total—aamin!
Dari situ aku ingat masa ketika sedang ringkih-ringkihnya, berapa kali dirawat di rumah sakit gara-gara tipes dan TBC. Aku sadar betul sehat itu amat-sangat berharga. Tetapi baru kali ini aku sebersyukur ini bisa sehat walafiat—mungkin karena aku punya hobi yang sedang giat-giatnya ditekuni, punya target jangka pendek dan panjang, dan segudang hal yang harus dilakukan lainnya. Aku gak mau melewatkan satu kesempatan pun.
Sakit adalah pengalaman tidak menyenangkan. Sederhananya sih jadi susah nelan, makanan terasa hambar, pusing mulu dan rasanya lemah letih lesu lunglai alay. Pasti tahulah ya rasanya gimana. Walaupun tidak menyenangkan, gak selalu berarti buruk. Kan dengan sakit dosa-dosa kita lagi dihapus sama Allah. Mungkin itu sisi positif dari sakit.

Soal harta. Hmm, aku pribadi jarang mengeluhkan barang kepunyaan. Selagi itu masih bisa dipakai ya udah. Aku bukan anak yang suka rewel ke orang tua minta ini-itu. Sebelum hp yang sekarang, hp-ku culun. Kameranya payah, baterainya bocor dan si hp ini sakit-sakitan. Aku gak minta ke ortu buat ganti baru, pakai aja seadanya, toh masih berfungsi dengan baik walaupun selalu ada saat-saat dimana aku pengen ngebanting dan maki-maki itu hp. Jalanin aja, tau-tau ada aja kan rezeki dikasih hp baru. Btw, kayaknya ini keluar dari konteks keluhan, tapi nyambung sih. Kan mensyukuri apa yang ada.
Soal status juga. Punya pacar ngeluh, jomblo juga ngeluh—heran. Banyak kesibukan ngeluh, gabut juga ngeluh—heran. Tapi karena sekarang lagi sibuk-sibuknya, jadi gak kepengen banget punya pacar. Sama kayak kasus si hp culun tadi, kalau memang rezeki nanti juga ada waktunya berganti status. Jalani dulu aja yang ada, cmiww.

Sampai saat ini mulut masih suka ngeluh dan ngedumel, apalagi kalau lagi kesel. Aku gak mau bersikap keras pada diri sendiri dengan bener-bener melarang diri untuk mengeluh sama sekali. Kalau mumet ya keluarin aja, daripada tekanan batin. Tapi seharusnya sebaik-baik curhat atau ngeluh itu ke Allah sih. H a r u s n y a.
Inti tulisan ini adalah…mau sepositif apapun pikiran kita, kayaknya mulut gak akan pernah lepas dari keluhan. Tentang hal apapun. Namun, persepsi dan pola pikir itu bisa ditata. Kalau otak dan hati udah sinkron di koridor kebaikan, nanti mulut akan menyesuaikan.
Dari buku Fiqih Wanita yang kupunya disebutkan, “Allah SWT berfirman: “Anak Adam menyakiti Aku ketika ia mencela masa: ‘Wahai, hari sial!’ Karena itu, janganlah seseorang di antara kalian menyatakan demikian, karena Aku adalah penguasa masa. Aku membolak-balik waktu malam dan siang sekehendak-Ku.” (Abu Daud, 4/52740). Sebenarnya kalau mau dikaitkan dengan ayat atau hadist gitu bakal banyak banget gitu gak sih, karena kesemuanya berkesinambungan. Ada juga kan firman yang menyatakan kalau kita bersyukur, nikmat kita bakal ditambah. Ada pula reminder untuk kita berkata baik atau diam. Menurutku itu masuk dalam konteks ini, karena intinya sama: menyuruh kita menahan lisan dari yang buruk dan banyak bersyukur.
Aku cuma orang biasa, mahasiswi-tingkat-tiga yang kadang-kadang masih dikira mahasiswa tingkat dua bahkan maba. Masih suka spam daily activity di twitter. Ngetik begini memang gampang, ngelakuinnya yang susah. Tapi dengan menulis ini aku merasa lebih mengenali isi pikiranku, dan itu membantuku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Untuk kemudian sadar betul kalau ngeluh gak ada gunanya.
Nonton Korea dulu biar ngakak baru nugas.
Bye, Blog.