Aug 12, 2018

Tentang Magang

August 12, 2018 0 Comments

Hey ho~

Kali ini aku mau sedikit menceritakan pengalamanku ketika magang di sebuah kantor. Gak lama-lama, cukup sebulan lebih aja. Cerita setiap orang mungkin berbeda, dan inilah yang kurasakan.
pexels.com

Bisa dibilang, hambatan terbesarku selama magang adalah diri sendiri.  Awalnya sulit meyakinkan diri bahwa everything’s ok, I can do this, bla bla bla. Harap dimaklum, ini semua baru bagiku dan aku punya kecenderungan mudah panik. Begitu good mindset udah terbentuk, tantangan berikutnya adalah gimana cara menjaga mood tetap baik. Agar aku gak tiba-tiba ngambek berhenti magang karena gak betah, atau harus bangun pagi di tengah liburan dalam keadaan kesal harus ‘kerja’. Uww, beginilah kalau niat gak niat.
Overall, tempat ini punya lingkungan kerja yang baik. Sumpah. Orang-orang pada welcome, tugasku juga gak begitu berat. Walaupun jam pulang pukul 5, seringkali sebelum zuhur kerjaanku beres. Must item: headset! Buat streaming drama dan lagu di Joox. Kebayang gak betapa betenya waktu hp rusak, kerjaan gue cuman ngegambar di Paint komputer dan ngambilin sedotan di kantin buat dibikin jadi bunga-bunga. NGAPAIN. Sesekali tidur juga sih di mushola.
Okedeh, ini beberapa hal menarik yang aku alami:
Day 2: Masalah Kerudung
Aku nyimak waktu seorang atasan bertanya pada karyawan muda yang udah mau habis masa kerjanya, “Kamu berjilbab udah paten, ya?”
“Iyalah, Pak.”
“Padahal kesempatan kerja kamu bakal lebih banyak kalau kamu gak berjilbab.”
Sederhana, tapi ngena. Kata-kata itu memang bukan ditujukan padaku, tapi entah kenapa sebagai perempuan aku merasa terganggu. Well, barangkali itu memang benar adanya. Yang perlu dicamkan, setiap orang punya pilihannya masing-masing. Seorang ibu-ibu menyambar, kupikir terganggu juga.
“Ya biarin lah, Pak. Justru ini ujian buat dia. Agak susah cari kerja tapi tetap berkerudung, atau gampang dapet kerja tapi auratnya kemana-mana. Masalahnya, satu langkah aja dia keluar rumah rambut keliatan, itu bapaknya bisa selangkah lebih dekat ke neraka.”
             Hmmmm no comment.
Day 4: Dinyinyirin
Pertama kalinya dikomen gak enak sama ibu-ibu. Sebut aja Bu Jengkol. Dengar-dengar emang orangnya disebelin juga sih. Singkatnya, salah satu tugasku itu merekap pengeluaran para driver. Aku agak kurang teliti, yang harusnya 41.000 malah ketulis 41.500. Nah, hal ini tuh urusanku dengan (sebut saja) Bu Nangka. Beliau baik, dengan nada lembut memintaku hitung ulang. Lah ini kenapa si Bu Jengkol tiba-tiba berdiri di sebelahku dan bilang, “Makanya diitung dulu neng jangan main ditanda-tanganin aja.”
            Reaksiku? Refleks masang muka tanpa dosa datar dan bilang, “Diitung ko.”
           Kalo emang gak ngitung sama sekali, barulah itu salah dan sila aja dimarahin. Tapi ini kan beneran itung ulang. Sayangnya keliru masukin nol sama lima. Kurang teliti.
         Aku balik ke ruanganku dalam keadaan bete. Gak dimasukin ke hati, tapi kok terngiang-ngiang (pada dasarnya gak suka aja sih sama segala bentuk per-nge-gas-an). Suasana di situ gak enak pula, para karyawan di ruangan departemenku lagi hectic sehingga rasanya semua pada sensi. Atmosfernya terasa gak nyaman, akupun kabur ke mushola dan berlama-lama di sana. Sekalian memperbaiki mood.
        Begitu balik, hal menyenangkan terjadi. PM-ku sedang marah karena sesuatu hal ke Bu Jengkol. Si ibu dipanggil ke ruangan kami dan agak digalakkin sama PM. Walaupun aku sedang berkutat dengan komputerku, diam-diam aku menyimak dan tersenyum kecil. KALIAN HARUS TAHU betapa puasnya ngeliat dia nunduk aja dengan suara mencicit ke PM gue, “Iya, Pak.. Jangan marah-marah atuh, Pak..” padahal sebelumnya dia nyinyirin gue dengan muka judes dan ngegas. HAHAHA. Kesan gue atas kejadian ini adalah, Allah bae banget seolah mau menghibur gue setelah tadi ‘ngadu’ di mushola. HAHAHAHA masih ketawa kalo inget kejadian ini.
Remeh-Temeh
Aku yang paling muda di sini. Satu-satunya mahasiswa magang. Mejaku kadang penuh makanan karena yang lain berbaik hati selalu menawarkan makanan/camilan padaku. Sehari-harinya aku cuma berpenampilan biasa, Dandan juga kagak: pelembab, sunscreen, bedak, lipstick. Walaupun tengah hari ini semua udah hilang, aku gak pernah touch up. Teuing dah kalau kayak gembel,
Wajah Yang Beragam
Aku udah dengar soal dunia kerja yang katanya begini dan begitu. Lain kesannya ketika merasakan dengan mata kepala sendiri. Aku menyaksikan sejelas itu bagaimana A dan B ngomongin C, tapi ketika ada C mereka berlaku baik. Atau bagaimana si B menggerutu kesal diam-diam pada A, dan C yang gemar cari muka. Ada bapak-bapak yang menurutku ramah dan menyenangkan, tapi ternyata dia gak disukai orang karena katanya ‘comel’ dan beda-beda omongannya.
            Bukan berarti perkuliahan gak ada hal macam ini, tapi rasanya di sini semua terasa..jelas? Mungkin akunya aja yang terlalu naif.
        Kesekian kali aku diberitahu bahwa bangku kuliah dan kerja itu berbeda. Di kuliah, aku mungkin dapat memiliki sahabat-sahabat yang terus bersamaku sampai menikah dan punya anak, tapi di sini semua itu semu. Yang ada hanya kompetisi, semua bersaing menjaga posisi atau mengincar yang lebih tinggi lewat bekerja sebaik-baiknya; cari muka menjalin relasi seluas-luasnya. Percaya atau tidak, koneksi adalah faktor pendukung. Seorang karyawan yang lebih tua menegaskan padaku, “Intinya kalau kita mampu, orang bakal mau mempekerjakan kita.”
         Itu aja sih yang mau diceritakan di sini. Cepat atau lambat, aku sudah harus menghadapi skripsi. Itu berarti sisa kurang dari setahun berkelana di Jatinangor. Aku belum mau memikirkan detail soal terjun ke dunia kerja, nanti aja kalau udah saatnya. Sekarang, mari kembali menikmati indahnya jadi mahasiswa.

           


Jul 23, 2018

Story: Coulrophobia

July 23, 2018 0 Comments

14 Februari 2018 lalu Bakbuk.id mengadakan lomba cerpen & novel bertema cinta. Dari 1885 naskah cerpen yang masuk, terpilihlah 75 cerpen terbaik yang dibukukan ke dalam 3 buah antologi cerpen. Salah satunya berjudul #CintaItuApaan (Part 2), di mana karyaku termasuk di dalamnya. Alhamdulillah. Berikut kisahnya:

Jun 8, 2018

Moody

June 08, 2018 0 Comments

Di suatu siang berhawa panas, membuatku yang sudah mandi terasa seperti belum karena lengket dengan keringat.

Udah lama gak nulis blog; selama ini Twitter menjadi tempatku meracau segala sesuatu. Dan kali ini, aku mau menjabarkan beberapa minggu kemarin yang terasa berat, kacau, dan aneh. Siapa tahu ada yang senasib (?)
pexels.com

Pertama, soal tugas-tugas kuliah.
Buat sebagian orang, hal ini gak perlu dipusingkan. Syukurlah kalau kamu termasuk orang yang seperti ini. Tapi ini bukan tentang kamu, ini tentangku yang sadar bahwa aku mudah sekali tertekan ketika ditimpa banyak tugas—dengan deadline berdekatan setidaknya. Aku menyicilnya, mengerjakan sebaik mungkin entah itu tugas kelompok atau individu. Aku tidak ‘sendiri’, seringkali banyak yang bertanya kepadaku mengenai detail pengerjaan tugas itu. Ada yang sampai datang ke kostan juga. Aku selalu berusaha untuk menghadapi dengan sabar, menjelaskan sepengetahuanku meski terkadang aku lelah sendiri. Beberapa orang mungkin menangkap sikap enggan dan nada gusar dalam suaraku ketika menjelaskan langsung atau via telepon. Sorry, but I’m human too. Seperti kata salah seorang temanku, “Lo gak bisa jadi ibu peri buat semua orang.”
Ada beberapa momen di mana aku sudah benar-benar kesal terus dirongrong berbagai pertanyaan, atau justru dalam kelompok pertanyaanku diabaikan. Jangan salahkan aku bila aku bersikap ketus. Atau sengaja tidak membalas chat, mengabaikan telepon, dan mematikan data seluler. Ketiga hal ini biasanya kulakukan pada satu orang saja,  I can say that he’s my close friend, but sometimes he annoyed me. Dia tahu itu, begitu sadar nada bicaraku sudah tidak enak ketika menjelaskan, dia akan langsung berkata, “Iya, iya, gak usah marah-marah gitu dong, Lin..” rajuknya.
“Apaan dah orang biasa aja.”
“Enggak anjir, beda...” bla bla bla bla. Dan cara bicaranya mau tidak mau membuatku tersenyum juga meski enggan.
Nah, untuk problem yang satu ini, aku pernah baca postingan viral line sejenis—tentang orang yang segitu maunya direpotin orang lain; gak bisa menolak memberi bantuan. Entah karena faktor gabut, gak enakan, sangat tidak egois, dan lain-lain. Pokoknya isi postingan itu bilang, dalam Islam, seseorang yang membantu meringankan beban orang lain akan diringankan bebannya di akhirat (kalau gak salah ingat). Hmmm…
Bisi ada yang salah paham. Sebenarnya aku tidak keberatan membantu orang lain selama hal itu bisa kulakukan. Menanggapi pertanyaan bukan hal yang sulit, yang susah adalah ketika saat itu mood-ku dalam kondisi jelek. Bayangkan rasanya, ada orang yang memintamu membantu membuat UP-nya ketika kamu sedang sibuk-sibuknya mengedit tulisan dari 11 orang berbeda untuk dijadikan satu makalah runut dan rapi. Gila, marah rasanya waktu itu. Aku menolak dengan bahasa sesopan mungkin. Terkadang, makin formal dan sopan bahasaku itu berarti aku sudah di puncak kekesalan.
Aku sadar, bukan tugas-tugas menguras waktu dan pikiran yang membuatku tertekan. Tapi, keseharianku berjibaku dengan urusan duniawi itulah yang membuatku hampa, monoton, dan terbebani. Seharusnya aku bisa menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi. Aku melihatnya sebagai cara Tuhan menegur, mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya, karena ketenangan batin memang hanya didapat lewat sana. Dan masalahku ini memang batin, psikis—bukan fisik.
Well, untuk masalah ini aku pikir solusinya adalah belajar lebih sabar dan ikhlas dalam bekerja maupun membantu orang lain. Yang terpenting, aku harus belajar tentang MANAJEMEN STRES. Apa kabarnya aku di dunia kerja kalau mengatasi stres musiman saja tidak bisa? Apalagi beberapa pekerjaan menuntut kriteria ‘mampu bekerja di bawah tekanan.’ Dan jauh di atas semua itu, tentu aku harus menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi.

Kedua, masalah moody-an.
Ugh, aku benci ketika diperbudak oleh mood. Bawaannya males ngapa-ngapain, cuma tiduran dan scrolling timeline apapun sampai kuota tahu-tahu menipis. Baca males, nulis males, ngobrol sama orang juga enggan. Di satu sisi gak mau menghabiskan waktu sendirian—berbagai paradoksitas dalam diriku yang membuat tingkahku tak karuan. Puncaknya adalah ketika aku akhirnya menangis setelah temanku bilang tidak bisa menemukan sertifikat resmi TOEFL-ku. Padahal waktu itu aku beres sholat, seharusnya pikiran relatif tenang. Yang ada, aku malah menghela napas berkali-kali sambil bergumam, “haduh, kesal, kesal” dan akhirnya sesenggukan. Culun? I don’t care what you think about it..
Selama menangis, pikiranku berkecamuk. Soal tugas, rasa kesepian, hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana… aku menangis sambil chatting dengan beberapa orang yang kupilih untuk sharing masalah ini. Aku menangis selama satu jam penuh dan sadar betapa lebih tenangnya aku setelah itu. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menangis, dan kali itu rasanya melegakan. Aku menganggap tangisan itu adalah luapan emosi yang telah lama kutahan-tahan. Ya, aku tipe orang yang lebih banyak menahan diri—dan ini tidak baik.

Ketiga, banyak hal-hal remeh yang membuat kesal.
Salah satunya ini: jadi postingan terakhirku di blog tidak terindeks google, walaupun aku sudah fetch as google, statusnya terus redirected. Padahal artikel itu kuikutsertakan dalam lomba. Aku googling dan ngulik sendiri alasan kenapa bisa begitu, dan bagaimana membetulkannya. Praktiknya cukup sulit, aku kurang mengerti. Lantas aku bertanya ke grup line square yang isinya blogger-blogger. Mulai dari yang expert sampai yang ecek-ecek kayak aku. Ada seorang yang menyahut, “Coba cari di blog google.com …. Semuanya lengkap di situ.”
Syalan.
Kalau gue nemu di google juga gak akan gue nanya ke situ :( sebel gak si. Gedek banget. Lagipula, apa gunanya ada grup kalau gak bisa dipake buat bantu solving problem seputar yang bersangkutan?? Untung gue gak kenal sama ini orang, jadi gue masih bisa nahan diri buat gak ngegas dan lebih memilih menjawab, “Hmm yaudah makasih deh.”
“Sangat informatif.” timpalnya. Siapapun dia, dia telah membuat gue malas lagi muncul di sana.
Apa lagi ya?
Kabar terkini, keadaanku sekarang sudah lebih baik. Gak terikat emosi-emosi negatif. Aku sudah lebih ringan karena sudah menyelesaikan tiga dari enam tugas akhir yang ada. Sudah lebih ceria karena bertemu dengan kawan-kawan baik di momen bukber dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Aku ke toko buku, membeli buku best-seller soal self-healing dan notebook bersampul lucu. Banyak hal yang kulakukan demi mencoba membahagiakan diriku sendiri. Kasihan dia, selama ini aku terlalu memaksanya tenggelam dalam emosi negatif.
Satu yang kusayangkan adalah, betapa cepat waktu berjalan. Aku sama sekali tidak sadar Ramadhan tinggal satu mingguan lagi. Apa-apa saja yang telah kukerjakan?

May 16, 2018

Popbela: Media Online Wanita Yang Siap Membantumu Tampil Keren!

May 16, 2018 0 Comments
pexels.com

Attention, Ladies!

Menjadi keren tidak cukup hanya dengan penampilan yang kece aja, kamu perlu meng-upgrade diri kamu agar memiliki kepribadian yang menawan. Untuk itu, menjadi wanita yang cerdas, berwawasan luas, dan produktif sangatlah penting. Dengan ini kamu mampu membawa diri dalam segala suasana dan membagikan aura positifmu pada orang banyak. Sulit gak sih untuk menjadi wanita macam begini? 
Mari kita manfaatkan era digital yang semakin berkembang! Menjadi wanita kekinian yang keren tentu tidak boleh ketinggalan informasi. Alangkah menyenangkan bisa mengakses segudang inspirasi busana, berita terkini, hingga tips & trik dalam satu wadah informasi yang simple. Nah, dari sekian banyak media online, cukup satu yang menjadi pilihan utama. Kini, semua kebutuhan dan pesona wanita muda Indonesia dapat kamu temukan di Popbela! ๐Ÿ˜„
welcome to popbela/source:popbela.com

Popbela menyajikan segudang informasi yang perlu diketahui wanita. Konten yang ditampilkan tidak melulu soal fashion, beauty, dan lifestyle. Di sini kamu juga dapat mengakses beragam serba-serbi menarik terkait politik, karir, entertainment, hingga relationship. Dari problema single hingga married, semua dikupas tuntas! Detail banget kan, ladies?
Komitmen Popbela adalah menginspirasi para wanita agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Gak heran konten yang disajikan full of positivity dan worth-sharing. Tampilan situs yang eye catching juga dijamin membuat kamu betah berlama-lama scrolling. Baca satu artikel aja gak akan puas deh. ๐Ÿ˜

pexels.com
Kamu kekurangan ide untuk mix & match baju? Gak tahu model berpakaian apa yang lagi tren sekarang? Atau bingung aksesoris mana yang bisa membuatmu nampak lebih trendi? Jangan khawatir! Lewat menu Style & Trends dan Look for Less pada kategori Fashion Popbela, temukan tren yang sedang booming di mancanegara dan inspirasi OOTD yang bikin penampilanmu kece badai! Cek di sini.


pexels.com
Ini konten favorit penulis, dan pastinya yang paling dicari-cari oleh para wanita! Kategori Beauty di Popbela terbagi menjadi Hair, Skin, Make Up, dan Health. Penggolongan subkategori tersebut memudahkan kita para pembaca untuk mengulik info yang kita mau. Rekomendasi make up dan skincare terbaik juga pasti ada di siniDijamin deh kamu akan menemukan semua kebutuhan cantikmu di siniSiap-siap scrolling sampai juling! Hihihi ๐Ÿ˜


pexels.com
Nah, nah. Popbela juga memerhatikan kehidupan sosialmu lho, ladies. Serba-serbi keseharian, hubungan persahabatan hingga percintaan bisa kamu temukan di kategori Relationship. Ada info menarik berdasarkan perhitungan zodiakmu juga! Popbela pun memahami kebutuhanmu akan sex education. Ketahui tips dan trik bermanfaat seputar kehidupan sex supaya kamu gak ketinggalan informasi penting ya! Yuk klik di sini.


pexels.com
Wanita yang produktif sudah pasti keren, karena ia mampu menyibukkan diri pada hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau orang lain.  Here we go!  Popbela menyediakan segudang motivasi dan inspirasi kehidupan pada kategori Career. Kamu akan menemukan banyak isu terkini hingga cerita selebriti di dalamnya. Mulai dari perjalanan bisnis, rekomendasi tempat wisata, hingga hal-hal yang menjadi inspirasi dalam hidup mereka dapat ditemukan di sini. Be positive, keep positive, share your positivity! 

Begini loh tampilan webnya/source:popbela.com
Sebagai salah seorang pengunjung rutin Popbela, penulis suka sekali dengan isi lamannya. Tampilannya simple and clean, semua kontennya informatif, dan disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan. Tentunya kita ingin belajar banyak hal tanpa melalui kalimat berbelit-belit yang membuat kita malas berpikir, kan?
Nah, Popbela adalah laman yang pas untuk kamu baca di waktu santai maupun sela-sela kesibukan. Penulis juga begitu! Jika dirasa terlalu bosan melihat foto-foto di Instagram atau scrolling status orang-orang di Twitter, cusss deh kunjungi laman berfaedah semacam Popbela. Meskipun terkesan sibuk sendiri dengan gadget di genggamansetidaknya waktu yang kamu habiskan tidak akan terbuang percuma. Iyadong, daripada ngepoin hal-hal gak berfaedah, mending pantengin Popbela. ๐Ÿ˜‹
Kategori yang paling sering penulis kepoin itu Beauty dan Inspiration. Sebenarnya, banyak banget artikel yang jadi favorit! Setiap harinya berubah-ubah karena Popbela terus update informasi kekinian. Penulis bagi deh beberapa artikel recommended terfavorit saat ini di antaranya adalah 7 Beauty Vlogger Berhijab Yang Wajib Kamu Simak Videonya dan Manfaat Melakukan Double Cleansing Pada Wajah. Worth it to read? Absolutely!
Untuk kamu para wanita muda Indonesia, jangan lagi hanya menjadi sekadar ‘cantik’ ya. Yuk bersama-sama menjadi wanita cantik yang keren. Caranya? Extend your insight and make a good attitude!  Dressed up well is a must too! Bingung harus darimana memulainya? All you need is visit www.popbela.com ! ๐Ÿ˜„

May 8, 2018

Kisah Klasik

May 08, 2018 0 Comments

Seperti apa masa putih-merahmu? Menyenangkan? Sama.

Tapi bagiku, SD adalah masa-masa yang paling berperan besar dalam membentuk kepribadianku seperti sekarang ini. Tidak hanya soal bermain karet, andar-undur, atau polisi-polisian. Ini adalah masa pembuktian di mana aku mulai percaya apabila hidup kita selalu melibatkan Tuhan, maka segala urusan akan lancar.
Kamu mau tahu ceritanya?

Sama sekali tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku selalu mendapat ranking tiga besar sejak kelas 1. Pernah sekali aku tidak dapat ranking, dan entah mengapa ini terasa bagai cambuk yang membuatku merasa harus ‘merebut’ kembali posisiku. Di semester berikutnya aku langsung mendapat ranking 3. Ya, seambisius itu. Hhhh. Pada masa itu aku suka sekali belajar, aku benar-benar tidak suka mendapat nilai rendah. Namun, jangan pikir aku seorang kutu buku kurang gaul. Aku memiliki banyak teman, dan rumahku seringkali dijadikan ‘basecamp’ karena letaknya strategis.
www.pexels.com

Cerita dimulai di kelas 6.
Aku harus pindah rumah ke Bekasi. Rasanya? Sedih, aku sangat mencintai teman-temanku dan tidak mau berpisah dengan mereka. Apalagi tinggal setahun lagi aku lulus. Sebagai anak yang baru berumur sebelasan(?), aku tidak bisa menentang kehendak orang tua. Alhasil, waktu itu aku rajin sekali shalat dan berdoa, memohon entah bagaimana caranya aku tidak pindah sekolah. Rasanya mustahil. Tapi ajaibnya, Papa tiba-tiba berkabar kalau sekolah di daerah sana sudah penuh dan tidak bisa menerima siswa pindahan! Senang? Banget. Singkat cerita, aku tetap pindah rumah ke Bekasi namun tetap bersekolah di Jakarta. Dengan polosnya aku berpikir, Allah luar biasa sekali bisa memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Bullying
Boleh kubilang, kelasku penuh dengan anak-anak yang ‘bandel’. Kultur persaingannya juga sangat ketat. Teman-temanku yang terkenal pintar sekelas denganku. Aku melihat kelas lain begitu adem-ayem, tidak seperti kelasku yang gerah akan emosi dan bullying. Ya, aku juga kena bully.
Ada seorang anak bertubuh gempal yang terkenal bandelnya sejagat raya sekolah. Ini anak rese parah mengganggu hampir semua murid termasuk aku. Dia tidak membully-ku secara fisik, tapi batin. Dengan cara apa? MENCONTEK! Aku paling tidak suka dicontek, dan orang ini bahkan memaksaku mengisi lembar jawaban ulangan hariannya. Kalaupun duduknya jauh dariku, begitu guru mengumumkan adanya try out atau tes apapun, dia akan pindah duduk di dekatku. Aku takut dan tidak bisa apa-apa hingga hanya bisa menangis diam-diam.
Agak sulit dijelaskan, yang pasti bukan hanya aku yang diganggu. Dia sering membuat teman-teman lainnya baik cewek atau cowok menangis, sering ngamuk di kelas, bahkan membuat wali kelasku rasanya darah tinggi setiap hari. Ibu Meytuti guruku yang baik, terima kasih telah mengizinkan aku duduk paling depan dekat mejamu demi menghindari tukang bully itu. Ya walaupun gak mempan sih. Guru sekalipun tidak bisa menghalangi anak itu mengganggu orang lain. Lucunya, dia sempat naksir padaku dan memberikan sekotak cokelat yang tentu saja tidak kumakan.
Aku ingat ada suatu waktu di mana aku benar-benar merasa takut ke sekolah karena dia. Lalu apa? Aku gencarkan lagi shalat dan berdoa agar dijauhkan dari setan macam dia HAHAHA. Ajaibnya lagi, doaku sepertinya terkabul karena hampir seminggu aku tidak pernah diganggu lagi oleh Si Gempal. Kemudian ibadahku mengendur—namanya juga anak SD—dan entah bagaimana Si Gempal ini menggangguku lagi. Percaya atau tidak, hal ini menjadi landasan berpikirku hingga sekarang; kalau kita mendekati Allah, Dia akan memberikan apapun yang kita mau. Aku masih kelas 6 SD saat itu, tapi aku semakin yakin dan tahu ke mana aku harus meminta pertolongan.

Masa-masa sulit tapi menyenangkan.
Aku hanya bisa bilang betapa bersyukurnya aku berada pada lingkaran pertemanan yang tepat. Inilah bagian paling menyenangkan—bermain dengan teman-teman, ngumpul-ngumpul di rumah mbahku dan jajan kesana-kemari. Teman-teman perempuanku asyik dan luar biasa baik. Yang laki-laki juga sih, hanya saja banyak juga dari mereka yang kasar dan senang memaki. You know la dulu itu jamannya ngeledek nama orang tua.
Jangan lupa bahwa aku harus bepergian setiap hari Jakarta-Bekasi untuk sekolah. Bekasi-nya di ujung, daerah Bantar Gebang. Ini bagian yang cukup sulit, terlebih ketika itu kami belum punya mobil. Bayangkan sendiri, tiap hari naik motor berempat (aku, kakak, adik, Papa) berangkat nyubuh dan pulang malam hari. Kenapa malam? Setelah mengantar kami ke rumah mbah di Jakarta (dekat sekolahku), Papa harus kembali ke Bekasi untuk bekerja dan baru menjemput kami ke Jakarta seberesnya. Agak sedih kalau diingat, kami pernah jatuh di jalan raya karena Papa terlalu ngantuk untuk mengendarai motor saat malam. Kami juga pernah tersasar di jalan. Tapi bagian paling menyedihkan bukan itu..
Suatu hari, aku tidak bisa sekolah karena Papa sakit. Jelas Papa tidak bisa mengendarai motor dan menempuh perjalanan panjang. Tubuhnya meriang. Beliau duduk bersandar pada dinding dan melipat lengannya di atas lutut ketika berkata, “Kalian harus belajar yang benar, Papa udah capek-capek ngantar...”
Di balik raut wajahku yang datar, mendadak muncul ambisi yang menggelora. Bukan beban, melainkan harapan yang mesti diwujudkan; aku akan membalas jerih payah mereka. Lihat saja.

Belajar, belajar, dan berdoa
Aku pernah baca, kalau doa seorang musafir akan diijabah oleh Allah. Waktu itu, aku tidak tahu apakah aku termasuk seorang musafir karena melakukan perjalanan Jakarta-Bekasi setiap hari. Haha. Yang pasti selain tidur atau dengar radio pakai headset di hape esia express music, ketika di motor aku selalu berkata dalam hati, “Aku pengen lulus dengan nilai tinggi, bikin Papa sama Mama bangga.” “Aku sayang banget sama teman-temanku, semoga aku masuk SMP yang sama kayak mereka dan terus sekolah di Jakarta.”
Aku ingat bagaimana rajinnya diriku pada masa itu, setiap hari belajar dan terus belajar. Anehnya, aku sangat menikmati proses itu. Guruku selalu mencekoki para muridnya dengan latihan soal-soal—membuatku terlatih. Meski persaingan di kelas sangat ketat, aku tidak patah semangat. Begitu ambisiusnya aku hingga ketika kudapati hasil try out-ku di bawah 80, aku akan membalasnya di latihan berikutnya, tak tanggung-tanggung menargetkan nilai 90. Dan aku selalu berhasil. Si Gempal? Masih mengganggu, tapi aku lebih berfokus pada quality time dengan sahabat-sahabatku dan pelajaran sehingga tidak ambil pusing.
Lupa sejak kapan, tapi aku memang suka membaca buku-buku bertema agama meski itu hanya sekadar ‘tata cara shalat lengkap’ atau ‘doa & dzikir harian’. Kala itu aku mencoba mengamalkan yang dikatakan isi buku. Katanya, kalau kita shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir, kita minta apa saja akan dikabulkan. Katanya, kalau baca doa ini-itu Allah akan memberi kelancaran, menjauhkan dari gangguan, dan sebagainya. Yoweslah aku baca saja. Belajar dari pengalaman sederhana sebelumnya, kalau kita rajin shalat dan berdoa, yang dimau akan didapat.

Hasil yang manis
Meskipun selama UN berlangsung Si Gempal masih mencontek (dia mendapat tempat duduk di depanku!), paling tidak dia kuberikan jawaban yang salah.
-Enak aja gue belajar siang malem berbulan-bulan, eh orang lain maen nyalin aja!-
Oya, ketika hari perpisahan, aku dipanggil maju ke depan oleh kepala sekolah karena mendapat nilai try out tertinggi. Lupa TO provinsi apa bukan. Pokoknya, di hari pengumuman Ujian Nasional, aku kembali mendapat hadiah yang sangaaaaat tidak terduga. Tidak hanya lulus, aku juga mendapat nem tertinggi di sekolah dengan nilai rata-rata 9! Dulu aku bukan orang yang cengeng, sehingga mendapati berita seperti ini lebih membuatku syok ketimbang menangis terharu. Keluargaku? Jelas bangga. Dan aku bahagia dapat menjadi alasan kebanggaan mereka.
Walaupun di kelas aku hanya menempati ranking 3, tapi bagiku aku sudah memenangkan persaingan yang sebenarnya. Nem-ku lebih dari cukup untuk masuk ke SMP favorit di Jakarta. Tentu saja keinginan ini pupus karena aku kembali harus pindah rumah—dan sekolah. Ke mana? Karawanx City. Di mana cerita-cerita berikutnya membentukku menjadi Alina yang sekarang…

Ini menjadi pengalamanku yang sangat berharga. Bagaimana kolaborasi usaha, doa, dan percaya pada Yang Kuasa mampu mewujudkan harapan paling tidak mungkin sekalipun. Kupikir, inilah yang menjadi alasan kuat mengapa aku seringkali membawa agama dalam celoteh tulisanku. Karena agama (dalam hal ini Islam) telah menjadi landasan pola pikirku sejak lama. Dan isi blog ini adalah buah dari pikiranku. Ya, sampai saat ini aku memang belum mampu menjadi muslimah yang sebenarnya. Aku juga tidak menganggap diriku sudah baik. Tapi menurutku, semua itu berangkat dari keyakinan hati dan pola pikir. Seiring berjalannya waktu, semua akan ikut baik.

Ya udah, gitu aja ceritanya.
Oh, seseorang pernah bilang padaku ketika aku berulang tahun, “Jangan bosan jadi orang baik ya.”
He don’t know how much it cheer me up to keep going to be better.
Kamu juga. Siapapun kamu, tetap semangat untuk menjadi yang lebih baik ya.

Apr 17, 2018

Kami Yang Tidak Sempat Menjadi 'Kita'

April 17, 2018 0 Comments

4 Februari 2018, 10:33 PM
Aku tidak bisa tidur.
Pilihannya cuma dua, membaca atau menulis sesuatu.

Aku sedang tidak tertarik membaca wattpad, apalagi membaca ulang novel-novel yang ada di kamarku; jadi aku meraih pulpen dan buku yang sengaja kuselipkan di tempat tidur.
Di kepalaku terbayang seseorang dari masa lalu. Seorang teman baik yang pernah kusakiti hatinya karena memberikan jawaban yang tidak ia harapkan. Aku masih ingat jelas saat itu, bahkan hari-hari sebelum hal itu terjadi, bagaimana kami cukup akrab hingga membuat kekasihku yang sesungguhnya saat itu cemburu. Hari-hari di mana aku menikmati momen ketika dia mengambil tempat duduk di sebelahku dan mulai menyanyikan lagu. Aku selalu suka caranya bernyanyi sambil memetik gitar, bagiku itu hiburan yang melegakan.
Aku senang dengan caranya memperlakukanku. Membuatku berpikir, begitulah seharusnya perempuan diperlakukan. Usai menjalin hubungan dengan seorang yang kasar dan hobi memperlakukanku seperti sampah, dia seolah hadir menawarkan tempat berteduh yang nyaman. Aku ingat, siang itu dia menghampiriku dan berkata, “Mana si monyt itu? Cowok macam apa yang ngomong anjing ke ceweknya?” dan aku masih ingat, bagaimana mendadak hatiku lembek seperti marshmellow. Kau boleh menyebut ini lebay, tapi kita semua memiliki caranya sendiri dalam mengistimewakan sesuatu.
www.unsplash.com
Hm, begitu memori tentang seseorang muncul, kenangan-kenangan yang menyertainya akan mengalir deras. Sebagai orang yang tidak mudah lupa, aku menyimpan baik segala kenangan itu. Setiap perbuatan orang lain kepadaku, menyenangkan atau tidak, terpatri mendetail dalam ingatan.
Kembali lagi pada lelaki yang tengah kuceritakan. Sekian waktu berlalu, begitu banyak kesalahpahaman di antara kami. Aku dengar dia menyukaiku bahkan sebelum kami mulai berteman. Aku menyukainya setelah kami berteman. Sudah kubilang, caranya memperlakukan perempuan membuatku luluh. Saking dekatnya kami, aku ingat rekan kerja kami pernah berkata, “Kalian kayak permen karet, nempel terus.” Beberapa orang menganggap kami tampak cocok bersama.
Namun secara tiba-tiba aku bersama dengan yang lain. Ah, akan sulit menjelaskan bagaimana aku dan lelaki lain itu mendadak menjadi ‘kita’. Lucu entah bagaimana, dibanding pacarku sendiri, aku merasa lebih terikat dengan dia. Waktu itu aku dan dia tengah bicara di depan pintu ruang kerja ketika si pacar terlihat datang dari ujung lorong, berjalan ke arah kami—aku memberengut kesal saat laki-laki di hadapanku ini menyuruhku masuk. Raut wajahnya mengatakan, “Lebih baik kita tidak menimbulkan salah paham.” Baca: jaga jarak.
Aku mengerti, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu dengan dia.
Selang hanya satu bulan, aku kembali berstatus sendiri. Apakah dia bergembira setelah aku bebas? Aku yakin iya. Sayangnya, perpisahan terakhirku membuatku takut akan menyakiti orang lain lagi. Kemarin itu, aku tidak cukup menyukai pacarku sehingga melepaskan diri darinya hanya menyisakan ruang untuk rasa bersalah, tidak lebih. Tak ada rasa yang tertinggal, bahkan keinginan untuk tetap bertahan. Saat itu pacar hanya mengiyakan keenggananku untuk tetap berhubungan dan pergi dengan air mata tertahan. Dari sana aku belajar, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Bagiku, tidak masalah jika hanya diri sendiri yang merasa sakit. Bagaimana cara menanggungnya, itu urusanku. Tetapi aku takkan tahan bila seseorang merana karena aku.

Aku akan menulis seolah dia ini kau.
Pola pikirku yang baru ini rupanya membuat hubungan kita rusak—kita tidak memulai apapun, namun kita juga tidak bisa berteman setelahnya. Menyakitkan. Kau dengan kepribadianmu yang begitu, dan aku dengan cara berpikirku yang semrawut.
Betapa cepat pikiranku berubah-ubah. Ketika kau—akhirnya—menyatakan perasaan padaku malam itu, aku yang semula yakin dan dengan mantap menulis jawaban mengiyakan, pada detik-detik terakhir meragu dan mengubahnya jadi sebuah penolakan..
Kau harus paham. Sebelum memberi jawaban aku merasa ragu. Lalu aku ingat pelajaran yang belum lama kudapatkan, jangan memulai hubungan tergesa-gesa; jangan memulai bila ada secuil saja keraguan. Aku takut kejadian yang sama akan berulang, menyakitimu seperti apa yang kulakukan pada yang lain. Jika aku sampai menyakitimu, tidak hanya akan ada ruang untuk rasa bersalah, tetapi juga ruang untuk merana. Karena aku menyukaimu, lebih menyukaimu dibandingkan yang sebelumnya—aku tidak dapat mengambil resiko untuk membuatmu terluka.
Katamu, kau juga takut menyakitiku seperti yang kau lakukan pada mantan pacarmu. Kalau kuingat lagi, tidakkah saat itu kita terlalu banyak berpikir? Itu tidak masalah, aku tidak pernah takut dengan hal seperti itu. Sudah kubilang, itu urusanku bagaimana menanggungnya. Namun, aku tidak akan memberikan kesempatan pada diriku untuk menyakiti orang yang penting buatku. Kau mungkin tidak akan pernah tahu, aku tidak menerimamu bukan karena tidak suka, justru karena kau istimewa.
Tak lama sejak kejadian itu, kita sama-sama menarik diri. Ah, ralat—kau yang menarik diri sementara aku dengan tidak-tahu-dirinya bilang rindu. Kau dengan kekanakan tegasnya berkata, "Kita tidak bisa berteman sedekat dulu."
Tidak apa, saat itu kita bersikap seolah sudah dewasa, padahal kita belum mencapai tahap itu.
Bermula dari dua orang yang berteman baik, kita mulai terasa asing. Hubungan kita hilang-timbul dimakan ego dan gengsi. Kau sempat membenciku, aku sempat merasa muak padamu. Kau menganggap dirimu korban, rupanya kau juga bersikap keterlaluan. Kupikir, sejak kejadian terakhir kali di penghujung masa putih abu, kedudukan kita seri. Tidak hanya aku yang menyakitimu—kau juga melakukannya padaku. Dulu aku bagaikan mengemis maafmu, ternyata kau juga berutang maaf padaku. Terima kasih, aku senang kita impas.
Terlepas dari seperti apa kita sekarang, bahkan mungkin tak pernah sedikitpun terlintas di benakmu ingatan tentang aku; aku mengingatnya dengan baik.
Ah iya, lucu; terakhir kali bertemu aku masih berdebar melihatmu. Tidak dalam artian rasa yang sama seperti kisah yang lalu. Rupanya jantungku juga sadar betul, Tuhan tidak mungkin mempertemukan satu dengan yang lain tanpa alasan. Barangkali dengan ini pendoamu bertambah satu, karena aku berharap kau sehat dan bahagia selalu.

Apr 7, 2018

Satu Juta Keluhan

April 07, 2018 0 Comments

Berapa kali aku menekankan pada diri sendiri ‘gak boleh ngeluh, gak boleh ngeluh’ tapi tetap aja ini mulut kadang-kadang suka bertindak semaunya.


Dalam salah satu episode acara Uang Kaget yang pernah kutonton, si bapak yang bakal dikasih uang itu bilang kalau penghasilan perharinya cuma enam puluh ribu. Mentok, gak lebih. Bapak itu juga bilang kalau selama ini dia sekeluarga cuma makan pakai nasi dan sayur, tanpa lauk. Malah kadang-kadang nasi sama garam. Terakhir kali dia makan daging dan ayam itu waktu lebaran haji entah tahun kapan. Aku langsung terpelatuk, selama ini di kostan ngeluh dan bosan setengah mati makan ayam terus. Padahal belum tentu orang di luar sana bisa makan ‘semewah’ aku.
Bicara soal makanan, aku mulai berpikir ada baiknya merutinkan puasa senin-kamis. Di samping bisa menghemat uang hahaha, biar merasakan sensasi betapa bersyukurnya bisa makan. Kalau aku pribadi sering kebingungan sendiri mau makan apa di sini saking bosannya. Dengan berpuasa, air putih aja kerasa nikmat. Pernah baca di buku tentang Islam gitu kalau kita makan dengan penuh rasa syukur aja tuh Allah ridho. Lupa kata-kata persisnya, tadinya mau googling dulu tapi mager. Maaf ya Allah kalau salah ingat.

-BTW, aku ngetik ini jam 2 kurang 15 pagi dan sekarang ada suara-suara apa gitu di luar kamar kost. KOK HOROR SIH WOY. Mau ngintip dari gorden gak punya nyali. Moga aja itu si bapak kost yang lagi bersih-bersih halaman abis tahajjud-

Heup, kembali lagi.
Begitu banyak yang suka dikeluhkan. Aku pernah baca juga di buku, kalau di pagi hari itu kita gak boleh mengeluh, justru harus banyak-banyak bersyukur karena Allah ‘tersinggung’ kalau pagi-pagi kita udah ngeluh. Tadinya mau cantumin di sini kata-kata persisnya, googling dulu tapi mager. Maaf ya Allah kalau salah ingat lagi. Intinya, aku berusaha mematri hal tersebut di otak dan perlahan merubah diri dari hal-hal terkecil, contohnya kayak gak ngeluh karena harus kuliah pagi.
Awalnya ini susah, banget.
Apalagi ke gedung kampus harus nanjak dikit—dikiiiit banget, tapi lumayan lah kalau jalan dari kostan ke kampus. Biasanya temenku hobi banget nyeletuk ‘aduh gua capek banget’, gak peduli udah seberapa sering di tiap harinya kami harus menanjak untuk mencapai gedung fakultas. Padahal kalau mau postitif thinking, masih mending gedung fakultas kami terjangkau dengan sekali jalan, gak perlu mengantri odong-odong kampus dan berdesakan di jam-jam sibuk. Bener-bener tinggal jalan kaki sampai. Paling cuma 5-10 menit.

Soal sehat dan sakit.
Teman dekatku sempat ada yang sakit. Beberapa waktu lalu dia masih terbaring lemah di rumahnya dan sempat berencana bakal cuti kuliah. Di samping rasa empati yang kurasakan, aku memaknai kejadian ini sebagai pelajaran juga buatku. Kebayang kalau ada di posisi dia, pasti sedih dan kepikiran. Sedih karena gak bisa ketemu teman-teman di kampus, gak bisa ngeblog, gak bisa nonton drama, gak bisa beli telor gulung dan basreng cintaqu, gak bisa beli jus di brondong ganteng HAHAHA—duh sedih. Kepikiran juga soal kuliah, walaupun ceritanya aku memang harus fokus untuk memulihkan diri dan segera sembuh, tapi pasti ada rasa terbebani karena tertinggal dari teman-teman sepantar. Btw, si teman ini alhamdulillah udah lebih sehat, tapi masih harus pemulihan. Kalaupun kamu gak kenal, pas baca ini aminin ya dia segera sembuh total—aamin!
Dari situ aku ingat masa ketika sedang ringkih-ringkihnya, berapa kali dirawat di rumah sakit gara-gara tipes dan TBC. Aku sadar betul sehat itu amat-sangat berharga. Tetapi baru kali ini aku sebersyukur ini bisa sehat walafiat—mungkin karena aku punya hobi yang sedang giat-giatnya ditekuni, punya target jangka pendek dan panjang, dan segudang hal yang harus dilakukan lainnya. Aku gak mau melewatkan satu kesempatan pun.
Sakit adalah pengalaman tidak menyenangkan. Sederhananya sih jadi susah nelan, makanan terasa hambar, pusing mulu dan rasanya lemah letih lesu lunglai alay. Pasti tahulah ya rasanya gimana. Walaupun tidak menyenangkan, gak selalu berarti buruk. Kan dengan sakit dosa-dosa kita lagi dihapus sama Allah. Mungkin itu sisi positif dari sakit.

Soal harta. Hmm, aku pribadi jarang mengeluhkan barang kepunyaan. Selagi itu masih bisa dipakai ya udah. Aku bukan anak yang suka rewel ke orang tua minta ini-itu. Sebelum hp yang sekarang, hp-ku culun. Kameranya payah, baterainya bocor dan si hp ini sakit-sakitan. Aku gak minta ke ortu buat ganti baru, pakai aja seadanya, toh masih berfungsi dengan baik walaupun selalu ada saat-saat dimana aku pengen ngebanting dan maki-maki itu hp. Jalanin aja, tau-tau ada aja kan rezeki dikasih hp baru. Btw, kayaknya ini keluar dari konteks keluhan, tapi nyambung sih. Kan mensyukuri apa yang ada.
Soal status juga. Punya pacar ngeluh, jomblo juga ngeluh—heran. Banyak kesibukan ngeluh, gabut juga ngeluh—heran. Tapi karena sekarang lagi sibuk-sibuknya, jadi gak kepengen banget punya pacar. Sama kayak kasus si hp culun tadi, kalau memang rezeki nanti juga ada waktunya berganti status. Jalani dulu aja yang ada, cmiww.

Sampai saat ini mulut masih suka ngeluh dan ngedumel, apalagi kalau lagi kesel. Aku gak mau bersikap keras pada diri sendiri dengan bener-bener melarang diri untuk mengeluh sama sekali. Kalau mumet ya keluarin aja, daripada tekanan batin. Tapi seharusnya sebaik-baik curhat atau ngeluh itu ke Allah sih. H a r u s n y a.
Inti tulisan ini adalah…mau sepositif apapun pikiran kita, kayaknya mulut gak akan pernah lepas dari keluhan. Tentang hal apapun. Namun, persepsi dan pola pikir itu bisa ditata. Kalau otak dan hati udah sinkron di koridor kebaikan, nanti mulut akan menyesuaikan.
Dari buku Fiqih Wanita yang kupunya disebutkan, “Allah SWT berfirman: “Anak Adam menyakiti Aku ketika ia mencela masa: ‘Wahai, hari sial!’ Karena itu, janganlah seseorang di antara kalian menyatakan demikian, karena Aku adalah penguasa masa. Aku membolak-balik waktu malam dan siang sekehendak-Ku.” (Abu Daud, 4/52740). Sebenarnya kalau mau dikaitkan dengan ayat atau hadist gitu bakal banyak banget gitu gak sih, karena kesemuanya berkesinambungan. Ada juga kan firman yang menyatakan kalau kita bersyukur, nikmat kita bakal ditambah. Ada pula reminder untuk kita berkata baik atau diam. Menurutku itu masuk dalam konteks ini, karena intinya sama: menyuruh kita menahan lisan dari yang buruk dan banyak bersyukur.
Aku cuma orang biasa, mahasiswi-tingkat-tiga yang kadang-kadang masih dikira mahasiswa tingkat dua bahkan maba. Masih suka spam daily activity di twitter. Ngetik begini memang gampang, ngelakuinnya yang susah. Tapi dengan menulis ini aku merasa lebih mengenali isi pikiranku, dan itu membantuku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Untuk kemudian sadar betul kalau ngeluh gak ada gunanya.
Nonton Korea dulu biar ngakak baru nugas.
Bye, Blog.

Mar 25, 2018

Sibuk Sendiri

March 25, 2018 0 Comments

Rasanya mumet banget.

Aku tipe orang yang harus bicara atau menulis untuk menjabarkan pikiran, biasanya kalau mumet begini langsung chat temen buat sharing, tapi kali ini rasanya gak nemu temen yang pas buat bicara soal ini. Mungkin karena sebenarnya aku gak butuh tanggapan, melainkan hanya ruang untuk menumpahkan segalanya. Lalu—tada—ingat punya blog untuk menuangkan semuanya~~ gak perlu nyampah di close friends’s story atau caption second acc IG.

Jadi begini, aku sadar betul betapa sibuknya aku di semester ini. Selain berfokus menjaga absensi tiap matkul sebisa mungkin 90-100% untuk memulihkan IPK yang sempat kesandung, aku harus memikirkan mau dibawa kemana UP-ku setelah SK dosen pembimbing keluar. Kertas berisi calon nyawa skripsiku itu berlum tersentuh sama sekali. Bodo amat.
Sebenarnya semua itu kesibukan biasa, namanya juga mahasiswa. Kesibukan yang memenuhi kepalaku adalah suatu jenis kesibukan yang disebut sibuk sendiri. Nyahaha.
www.pexels.com
Awalnya aku sempat ragu mendaftar badan eksekutif fakultas, nilai semester sebelumnya membuatku berpikir tiga puluh kali sebelum memutuskan. Kemudian pada suatu siang aku melihat pengumuman oprec badan eksekutif univ, beberapa teman yang kukenal keterima di sana. Seketika aku merasa….cemburu. Dalam artian begini, keraguanku untuk aktif di organisasi lagi karena semester lalu aku sudah berkecimpung di banyak kepanitiaan dan mengisi posisi-posisi cukup sentral—aku pikir itu cukup, dan aku bertekad menjauhi hal-hal non-akademik yang sekiranya ‘mengganggu’ kuliahku. Tapi, lihat mereka yang tergabung dalam organisasi univ, mereka maju dan melakukannya saja—tak peduli status mahasiswa tingkat akhir atau bukan (tingkat akhir ya, bukan semester akhir). Lagipula, aku belum pernah berkontribusi di organisasi atau kepanitiaan tingkat fakultas, aku paling tidak bisa melewatkan kesempatan. Kepengurusan tahun ini adalah kesempatan terakhirku untuk bergabung. Sekarang, atau tidak sama sekali
Dilema di antara dua pilihan itu memang hal biasa ya, tapi buat seorang labil-plinplan-overthinking like meeehh yang kayak ginian aja perlu istikhoroh dulu. Nyahahaha. Well, aku gak akan sanggup menghalau bayang-bayang penyesalan kalau kemarin itu batal daftar, jadi lebih baik aku daftar dulu aja sebagai bentuk ikhtiar dan hasilnya biar Allah yang memutuskan. Toh, Dia yang paling tahu mana terbaik buat kita.
Dan, voila. Aku tergabung. Bersyukur. Btw, aku percaya semua orang yang pernah kita temui di hidup kita itu ada alasannya. Daun yang jatuh aja udah diatur Allah, kita sesama manusia saling kenal juga pasti udah diatur Allah.
Ini juga kesibukan biasa sih, namanya juga mahasiswa. Pegiat organisasi mah hal yang biasa.

Bentuk ‘sibuk sendiri’-ku adalah, sibuk dengan hobi.
Yup, nulis.
Kegiatan nulis ini rasanya addict gitu, kayak kerinduan terhadap sesuatu yang sangat dicintai tapi udah lama gak ketemu—menggebu-gebu. Kan ini sebenarnya hobi dari SD, tapi semasa penghujung SMA sampai pertengahan kuliah hilang-timbul gak ditekuni lagi. Kemudian baru pas liburan kemarin aku kembali jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis melalui blog ini.
Aku bergabung ke dalam writer community dua platform berbeda. Yang satu, total postingan artikelku yang berhasil dibagikan sudah mencapai 800. Yang satu lagi masih 0, proses moderasi oleh pihak editornya lama banget sumpahhhh bulukan gue nungguinnya. Tapi kabarnya bakal dipublish awal April. Makan sebulan. Ya sudahlah.
Aku sangat menyenangi kegiatan ini, aku menganggapnya sebagai bentuk pelatihan menulis. Kalau tulisanku dibagikan sebegitu banyak, berarti paling tidak apa yang kutulis cukup layak untuk dikonsumsi pembaca. Masih belum ada apa-apanya sih dibanding orang-orang di luar sana, 800 total share sungguh masih jauh dari ‘banyak’. Karena segitu aja aku masih ranking ke 2.670 dari keseluruhan author……… Tapi aku selalu mensugestikan diri dengan rasa syukur—bersyukur tulisanku sedikit-banyak bermanfaat bagi orang lain.
Cita-cita lahir batin: menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Kesibukan lainnya adalah…..belajar.
Belajar di luar topik terkait jurusan. Not about sociology, no no no.
Sekarang ini semangat belajarku sedang menggelora, sampai-sampai aku agak kewalahan mengondisikannya agar gak mengganggu prioritas pembelajaran—kuliah, jelas. Mulanya, aku mengambil semacam ‘kursus online’ tentang Pengenalan Ekonomi dan Keuangan Islam, Pengenalan Broadcasting for Television, dan Public Speaking. Tapi yang kelas broadcasting udah di-cancel, walaupun aku senang ngepoin ketiga topik pembelajaran itu, tapi aku gak mau membebani diri sendiri. Sistem kursus ini belajar selama kurang lebih sebulan, dan di tiap minggunya ada tes. Ada ujian akhirnya setelah satu bulan, dan kita bisa dapat sertifikat kalau tes dan ‘UAS’ itu lolos dengan tingkat keberhasilan minimal 50%. Tapi, untuk memiliki itu kita harus bayar 250.000 hahahaha :(
Selain itu, aku juga lagi senang belajar bahasa. Via apa? Online dan gratisan pastinya. Ha. Lumayan sih buat ngisi-ngisi waktu luang dengan hal berfaedah. Aku mengambil bahasa Jerman, Inggris, Turki, Korea, dan Perancis. Tadinya gak mau ngambil banyak-banyak, tapi ya udahlah ya kayak main game aja, lagipula yang satu ini gak memberatkan sama sekali. 100% menghibur. Gak ada unsur tes-tes kaya yang di atas. Dan lagi, kalau ngeliat forum diskusinya, orang-orang di belahan bumi mana-mana yang belajar di situ ngambil pelajaran bahasa lebih banyaaaaaaaak banget. Nyampe pusing gue baca display name mereka. Bendera-bendera bahasa yang dipelajari tuh muncul gitu di sana.

-Asli, sampai sini mumetku hilang, nulis itu bener-bener jadi obat banget deh-
Seperti biasa, kebanyakan apa yang kutulis di sini kuanggap sebagai cara berbicara ke diri sendiri. Setelah mengintrospeksi diri lewat tulisan ini, aku tahu aku tidak sedang ‘sok sibuk’ atau sok-sok yang lainnya. Aku tengah mencoba menjadikan sisa-sisa status mahasiswaku yang tidak terasa akan segera usai ini tahun depanaamiin!menjadi lebih produktif. Beberapa waktu belakangan ini aku baru sadar betapa belajar itu penting; menggeluti hobi juga penting, tapi tidak wajib. Banyak juga orang yang melakukan hobinya hanya sekadar untuk bersenang-senang dan memuaskan diri. Yaa, kayak aku ngeblog sekarang ini. Kecuali kalau aku mengelola ini blog sedemikian rupa, perbanyak konten yang ‘menjual’, dapat adsense, banyak pengunjung, atau artikel-artikel yang kukirim ke laman tertentu memberi bayaran—itu sih asyik, seindah-indahnya goals. Apa yang kita lakukan menyenangkan diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Sayangnya, hidup gak semulus itu. Apa yang kita mau gak selalu bisa didapat dengan gampangnya. Tapi kuncinya dua sih, usaha dan berdoa. Sisanya serahin ke Tuhan, karena Dia yang lebih tahu mana yang terbaik buat kita. Iya ngetik gini mah gampang, nyatanya enggak :( Tapi paling nggak dengan menanamkan hal ini kuat-kuat ke dalam hati, kita harusnya berasa lebih ringan jalani hidup. Harusnya..
Intinya sih, semangat belajar atau apapun yang niatnya baik maka itu bagus. Tapi harus dikondisikan agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ada baiknya semua diatur sedemikian rupa supaya berjalan baik, terfokus, dan gak berkewalahan. Ehm, berkewalahan adalah bahasaku sendiri, jangan ditanya apa artinya. Setelah segala kepentingan bisa dikondisikan dan ‘terjadwal’, maka langkah selanjutnya adalah disiplin. Bagaimana kita mampu me-manage waktu dan diri sendiri agar segala kesibukan itu tidak mengganggu satu sama lain. Sibuk gak cuma sibuk, tapi menjadi produktif.

Satu yang aku takutkan, sebegitu sibuknya dengan urusan dunia membuatku lupa pada akhirat. Atau paling enggak, sibukku itu nirfaedah. Bukan sok alim, bukan juga sok-sok lainnya, tapi..bukankah sudah seharusnya? Gak tahu sih dengan orang-orang lain di luar sana termasuk kamu, tapi aku suka berpikir begitu. Dalam satu hadits Rasulullah dikatakan, pada hari kiamat nanti kita akan ditanya tentang umur, untuk apa kita habiskan umur tersebut.
Gak mungkin kan jawabannya nonton maraton drama Korea, scrolling timeline medsos manapun, atau swipe instastory  sampai mentok?