Jun 15, 2019

Tentang Siapa

June 15, 2019 0 Comments

Malam ke-29 Ramadan.
Di tengah kesibukanku menyiapkan barang-barang untuk pergi mudik besok, kepalaku masih dibayangi sesosok akibat mimpiku di siang bolong. Iya, aku bermimpi bertemu dengan dia. Begitu terbangun, aku disergap rasa ingin tahu seperti apa kabar dia sekarang. Maklum, selama ini sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menelusuri media sosialnya. Sejak aku tahu, dia seringkali update bersama perempuan yang kupikir..kekasihnya. Hahaha tulisan macam apa ini.
Aku tidak akan menuliskan dengan detail seperti apa dia, kalau-kalau dia membaca ini dan sadar bahwa dialah yang sedang kubicarakan, dia akan GR. Erwh. Hal yang paling ingin kuhindari adalah membuat dia merasa istimewa. Oh ya, lagipula, sepertinya dia takkan membaca ini. Menurutku, aku hanya angin lewat di dalam hidupnya.  Apa guna juga baginya repot-repot mampir ke blogku?

(Andai bagiku dia juga sekadar angin lewat)

Aku ingin menumpahkan kerinduanku di sini, tapi itu berarti aku harus menceritakan kenangan yang pernah terjadi di antara kami. Hahaha ‘kenangan’, seolah kami memiliki suatu momen yang istimewa saja, padahal bukan sama sekali. Ketika kusebut ‘kenangan’, maksudku itu hanyalah ingatan tentang interaksi di antara kami—duduk berhadapan di sebuah tempat nongkrong, berbicara tentang apapun yang bisa dibicarakan. Kalau kuingat lagi, aku tidak tahu apa persisnya topik-topik obrolan kami. Terkadang kami sangat sedikit bicara, tapi barangkali itu karena suasana malam yang mengundang kantuk, atau hawa dinginnya cukup untuk membuat kami menikmati duduk dalam diam.

(Pertemuan-pertemuan kami yang sesederhana itu saja masih sanggup membuatku tak pernah lupa)

Aku senang ia tak pernah bertanya, mengapa aku masih mau menerima ajakannya untuk bermain atau sekadar menemaninya mengurus sesuatu hal. Kalaupun itu terjadi, barangkali aku akan menjawab dengan nada kasual, “Gak ada alasan khusus sih, kebetulan aja tiap lo ajak gue pasti lagi gabut.” Faktanya, walau sesibuk apapun pasti aku akan meluangkan waktu. Tak heran beberapa teman menilaiku bucin yang tidak pada tempatnya. Karena nyatanya, dia memang bukan siapa-siapa.
Satu hal yang kugarisbawahi ketika berurusan dengannya adalah...jangan biarkan dia tahu terlalu banyak tentangmu yang sesungguhnya. Aku berusaha untuk tidak terlalu bersikap jujur—mengutarakan semua hal yang ada di kepalaku. Meski kami sudah saling mengenal sejak berseragam putih-abu, ada titik-titik tertentu yang tidak bisa kubagikan dengan dia. Contoh: betapa senang—atau gugupnya—aku ketika sedang bersamanya. Atau, bagaimana aku bertanya-tanya kapan kiranya aku akan melihatnya lagi tiap dia mengantarku pulang. Juga, apakah dia masih bersama kekasihnya; apakah hubungan mereka lancar; apakah perempuan itu yang kulihat muncul di notifikasi layar ponselnya saat kami sedang makan.
Ya, aku tidak pernah bertanya soal pacarnya; dan ia juga tak pernah memulainya.
Bisa saja aku bertanya, “Pacar lo gimana? Bukannya lo punya pacar?” tetapi itu tidak pernah kulakukan. Karena sejujurnya, aku tidak benar-benar tahu apakah perempuan yang sering muncul di unggahan media sosialnya benar pacarnya atau bukan. Aku hanya berasumsi. Bisa kulihat pula dia tak pernah ingin membahas soal urusan pribadinya, jadi..kuabaikan yang satu itu kecuali dia yang memulai duluan.
Kami benar-benar hanya teman biasa.

(Masalahnya, kesanku terhadapnyalah yang tidak biasa)

Dalam benakku, kami terlibat suatu percakapan:
“Gue gak boleh suka sama lo lagi, kali.”
“Maksudnya?” tanyanya terkejut, respons yang sama setiap kali dia sadar aku bersikap blak-blakan.
“Bukan gak boleh sih, lebih tepatnya gue gak ngizinin diri gue sendiri buat suka sama lo lagi. Makanya yaa, gue bisa santai main berdua sama lo kayak gini.”
Dia akan terus mendesak minta dijelaskan, menatapku terpana seraya tertawa kecil—tawa mengejek.
“Karena kita pernah punya hubungan kan,”—memulai lambat-lambat—“walaupun bentar tapi ya udah kegambar gitu kayak gimana. Gue tahu sih setiap orang tuh berkembang, lo sama gue juga pasti bukan orang yang persis sama kayak waktu dulu. Pola pikir mungkin udah berubah banyak. Tapi gimanapun juga...andaikata nih ya, andaikata entah bagaimana kita terlibat hubungan jelas-gak-jelas gitu, pasti gue akan selalu jadi pihak yang paling..paling peduli (lagi) sama lo. Sama kayak waktu dulu. Dan sama kayak dulu juga, kepedulian lo ke gue gak akan pernah sebesar itu.”
Sulit dimengerti? Sengaja, hehe. Barangkali jika percakapan ini benar terjadi, dia hanya akan sedikit paham, dan terus meminta dijelaskan. Aku yakin 90,89% dia akan menatapku tidak percaya, karena seluruh kalimat panjang lebar dan berbelit-belit itu bermuara pada satu hal: confession—that i like him. Still.
Btw, nope, bukan berarti ada kemungkinan bagi kami menjadi lebih dari teman. Not at all, and i don’t expect it too. I’m very glad we are friends and i don’t want to ruin it.
Maksudku adalah, fakta bahwa aku selalu senang setiap kami berinteraksi (maya atau nyata) membuatku berusaha mencegah diriku untuk menyukainya lagi seperti dulu (yang mana ini sebenarnya cukup mudah terjadi...tapi aku bertahan, hahaha). Why? To be honest, i found it would be hard to move on for the second time if i really falling in love with him again. I thought i can’t let go and forget him easily. Sekali saja sudah sulit, bagaimana yang kedua kali? Aku tidak ingin menjadi masokis.  Terlebih lagi dia orangnya seperti itu, aku orangnya seperti ini. Kami tidak akan pernah berhasil. Sama seperti kali pertama.
Barangkali ini akan sulit dimengerti oleh orang asing. Akupun tidak berharap mereka memahaminya. Namun kalau di antaranya ada yang membaca ini sampai habis, yang bisa kukatakan adalah: terkadang banyak hal di dalam diri kita yang sulit dijelaskan. Kamu tidak mengerti kenapa kamu bisa menyukainya, kenapa kamu begitu membencinya, kenapa kamu marah dan sedih ketika melihat si A, kenapa kamu senang bersama B dan lain sebagainya. Tetapi yang bisa kamu lakukan pertama adalah jujur pada diri sendiri—berhentilah menyangkal emosimu sendiri. Setelah itu, pelan-pelan kamu bisa belajar memahami apa yang sedang terjadi.
Sampai saat ini, aku belum pernah berkomunikasi dengannya lagi. Terakhir bertemu sekitar bulan Januari, senangnya bukan main. Tetapi belum lama ini dia mengomentari instastory-ku. Satu kata dan tidak berfaedah, tetapi masih sanggup membuatku tersenyum sumringah.
Aku tidak yakin apakah aku benar-benar masih menyukai dia. Kupikir jawabannya....tidak. Asumsiku, sejak dulu aku selalu melihatnya sebagai sosok yang istimewa (meskipun cerita yang pernah terjalin di antara kami sangaaaaaaaaaat jauh dari indah). Hingga saat ini, kacamata itu belum berubah. Perasaan yang menggebu-gebu tentang dia timbul-tenggelam. Seringnya aku biasa saja, tapi kemudian entah bagaimana—sama seperti mimpi di siang ini—aku terlena lagi.
Yah, barangkali dalam hidup memang harus selalu ada satu orang yang teristimewa. Paling sulit kamu lupakan, terlepas dari di mana keberadaannya sekarang.

Apr 1, 2019

A Letter For Me

April 01, 2019 0 Comments
Dear Me,
Sebagai mahasiswa akhir, seberapa sering kamu dengar kata-kata:

“Semua akan selesai pada waktunya”
“Setiap orang punya jalan masing-masing, jangan bandingin diri kamu dengan orang lain”
“Ini bukan perlombaan, bukan tentang siapa duluan yang sampai garis finish”
“Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai”


Seberapa sering kamu dengar itu? Atau mungkin, seberapa sering kamu katakan itu pada diri sendiri?
pexels.com
   
     Oke, ayo kita bicarakan ini. Pertama, aku senang karena kamu tidak terlalu menjadikan ini sebagai beban. Sedari awal kamu sudah membangun mindset untuk menikmati semua ini. Lebih tepatnya menikmati bulan-bulan terakhir di Jatinangor, sih. Namun, atas dasar itu kamu senang-senang saja jika harus lebih banyak menghabiskan waktu di kota ini ketimbang di rumah, padahal tidak ada kelas yang wajib kamu hadiri. Padahal, kamu harus bingung dulu tiap mau makan apa. Padahal, kamu harus menyesuaikan dengan budget yang ada. Bagaimanapun, kamu menyayangi tempatmu berada sekarang hingga cukup menyadari akan betapa sedihnya kamu nanti ketika studi telah selesai dan kamu tidak akan kembali mendiami ruangan berdinding pink pucat itu. Semua itu membantumu untuk menikmati segala proses ini—suka-dukanya.
     Kedua, ingat, waktu garap proposal penelitian? Aku suka dirimu saat itu. Kamu mencoba mengerjakan tanggung jawabmu secara teratur. Kamu ciptakan pola  tidur di awal waktu. Bangun di sepertiga malam, mengetik sampai pagi, lalu ke kampus sampai sore—mengetik lagi. Yah, biasanya di siang hari kamu sudah mulai tidak fokus. Hanya main ponsel di meja perpus. Tidak apa-apa, itu manusiawi. Jangan memaksa diri terlalu keras. Kamu mampu mempertahankan pola itu beberapa minggu saja sudah luar biasa. Apresiasi dirimu sendiri.
     Nah, sekarang tanggung jawabmu belum berakhir. Masih ada 2 bab terakhir yang harus kamu geluti. Aku mengenalmu sangat baik, kamu harus mengerjakan segala sesuatu berurutan. Itu sebabnya setiap hari kamu selalu menulis to-do-list. Kamu cukup perfeksionis—itu bagus—tetapi hal ini kerap menimbulkan perasaan ‘ada yang kurang’, yang akhirnya adalah menyusahkan dirimu sendiri, sekaligus menjadikanmu lebih teliti. Kupikir, seimbangkan saja keduanya. Kamu hanya perlu ingat segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
     Tentu kamu sadar musuh terbesar adalah diri sendiri. Digayuti rasa malas, kantuk, itu serangan biasa. Bergelung di dalam selimut ketika udara sedang dingin-dinginnya dan baterai ponsel penuh adalah godaan dahsyat. Berapa jam bisa kamu habiskan dalam posisi seperti itu? Belum lagi buku-buku yang masuk dalam daftar bacamu. Singkirkan dulu Pride and Prejudice dan Percy Jackson and The Last Olympian-mu. Novel lebih sulit ditolak keberadaannya ketimbang buku macam Chicken Soup for the Soul-mu itu. Padahal kamu paling takut kehabisan waktu, tapi masih sulit menghalau dirimu sendiri dari semua gangguan itu.
     Oke, aku tidak bermaksud melarangmu bersenang-senang menghibur diri. Sebelum ini kamu bisa melakukan keduanya secara seimbang. Hanya saja, beberapa waktu ini kita sama-sama tahu waktumu didominasi yang mana. Bukankah itu berarti kamu mulai hilang kendali atas dirimu sendiri? Kupikir, jadikan kesenangan macam itu sebagai hadiah atas kerja kerasmu sebelumnya. Rasanya baru adil kalau kamu sudah berjam-jam mengerjakan skripsi, baru kemudian mengambil buku atau berselancar di youtube. Nah, kan seimbang.
     Terlalu banyak ‘hiburan’ akan melenakan, terlalu berkutat pada skripsi juga berpotensi menjadikanmu stres. Seperti yang kamu yakini, kunci dari segala sesuatunya akan berjalan baik adalah keseimbangan.
     Aku tahu kamu punya target. Dan saat ini kamu bertanya-tanya apa target itu mampu kamu penuhi. Sejujurnya, ini bisa jadi sulit—tapi bukan mustahil. Ingat bulan Maret ini? Kamu punya sesuatu yang ingin kamu capai. Awal dan pertengahan bulan semua berjalan lancar, kamu begitu tenggelam dalam ritme dan kenikmatan sensasinya. Hingga menjelang akhir bulan, ritme itu berantakan, kamu kehilangan sensasi menyenangkan ketika melakukan itu semua. Sebagian dirimu berkeras mencapai target, dan pada akhirnya...kamu berhasil. Tepat tanggal 31 Maret lalu. Ingat kata Merry Riana di bukunya yang berjudul Mimpi Sejuta Dolar? Jika sesuatu terasa semakin berat dan sulit, itu artinya kamu sudah mendekati puncak. Kamu sudah mendekati sukses.
     Dan...kita sudah hampir sampai di penghujung surat. Jadi, biar kutegaskan lagi: skripsi adalah tanggung jawabmu yang terakhir sebagai mahasiswa. Skripsi pasti selesai, pasti. Jangan cuma dipikirkan, tapi dikerjakan—begitu bunyi desktop background notebookmu, lho. Memang hanya kamu yang bisa mendisiplinkan dirimu sendiri, tapi kamu salah jika berpikir hanya kamu yang punya kendali atas dirimu. Jangan lupakan Allah, Dia yang berkuasa membolak-balikkan hatimu—bahkan mengendalikan seluruh isi dunia. Sekarang kamu bisa rajin, besok bisa jadi malas. Juga, jangan sampai kesibukan dunia melalaikan kamu dari mengingat Dia. Jangan pula menunda-nunda shalat! Memang kamu mau kalau sidangmu ditunda-tunda? Ingat—seimbang. Tutup google chrome sekarang dan mulai buka folder skripsi. Abaikan semua yang tidak penting, prioritaskan dirimu sendiri. Kamu bisa. Kamu selalu bisa dan berhasil. Bismillah, ya! Bye.
Sincerely,
You

Mar 20, 2019

Story: Tentangku, Si Pengamen Jalanan

March 20, 2019 0 Comments



Siang itu, teriknya matahari membakar tengkuk. Bulan Ramadhan atau bukan. Jakarta tidak pernah tak macet. Lalu lintas padat merayap, diwarnai oleh kepulan asap berterbangan di udara. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi kami; para pengamen jalanan, dan mereka; para pengemis keliling.
Namaku Abdullah, biasa dipanggil Adul. Seorang anak berumur dua belas tahun yang menghabiskan separuh usianya mengamen di pinggir jalan dengan ukulele buatan tangan. Kalau kau melihat bocah bertopi merah kusam dengan tas pinggang hitam yang sudah pocel berseliweran di sekitar jalan M.H. Thamrin, mungkin saja itu aku. Kau boleh menyapaku, terlebih memberikan uang usai kubernyanyi.
Lampu rambu lalu lintas sedang merah, dengan cekatan aku menghampiri mobil yang satu ke mobil lainnya di jalan raya. Kaca-kaca jendela mereka kebanyakan menutup, mungkin bagi mereka mulutku hanya bercuap-cuap tanpa suara, padahal aku benar-benar bernyanyi. Sedikit sekali dari mereka mau membuka jendela untuk sekadar memberikan kepingan lima ratus perak. Pasti enak—duduk nyaman dalam kesejukan AC mobil, tidak perlu susah payah bertarung dengan teriknya matahari apalagi berkutat dengan kerasnya jalanan di Jakarta.
Aku menyingkir ke trotoar ketika lampu berubah hijau, duduk dan mengusap wajahku yang penuh debu dengan tangan yang kotor. Sudah sejak pagi aku mengamen dan uang yang kudapatkan baru sembilan ribu rupiah. Padahal aku harus membeli makanan dan minuman untuk Ibu dan adik-adikku di rumah kardus. Tenggorokanku kering dan perutku ikut bernyanyi, sepotong roti yang kumakan saat sahur tadi sudah lama berubah menjadi energi yang tidak seberapa.
Biasanya, bulan puasa begini ‘orang-orang jalanan’ akan mendapat keuntungan lebih banyak. Terutama para pengemis jalanan, bukan tidak mungkin penghasilan mereka perharinya mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Aku kenal beberapa di antaranya, yakni Mak Acik, Mak Umay, Pak Nanang, dan Pak Solih. Mak Acik sedang duduk beralaskan koran di bawah tiang listrik seberang jalan sekarang, dengan bayi yang tertidur pulas di gendongannya. Aku meringis dalam hati. Tentu saja bayi itu tidak tertidur, mereka dibius. Hal ini dilakukan agar si ibu dapat mengemis dengan tenang tanpa gangguan rewel si bayi. Yang seperti ini sudah pernah dijaring oleh orang-orang dari Dinas Sosial. Jangan tanya aku tahu darimana, aku sudah menghabiskan separuh usiaku hidup di jalanan.
Kalau Mak Umay dan Pak Nanang, mereka adalah pasangan suami istri yang tinggal di dekat rumahku. Mereka memiliki seorang bayi bernama Narita yang disewakan untuk keperluan mengemis oleh pengemis lain. Tujuannya tidak lain untuk mengundang lebih banyak simpati. Aku pernah melihat sendiri, seorang ibu-ibu datang ke rumah Mak Umay dan memberi seratus ribu rupiah untuk menyewa Narita. Narita diberi susu yang sudah dicampur obat bius, wajah bulatnya yang mungil dilumuri serpihan arang agar terlihat kusam dan tidak terawat. Ia juga dikenakan pakaian-pakaian yang lusuh agar terlihat lebih memprihatinkan. Biasanya para pengemis yang menggunakan sewa anak begini bisa mendapat keuntungan lebih dari dua ratus ribu rupiah per harinya.
Aku berjalan perlahan, kebetulan melihat Mak Umay kini tengah bernyanyi di depan warung dengan kotak musik keliling yang melantunkan lagu dangdut. Pak Nanang berdiri di belakangnya dengan tangan tersampir di kedua bahu Mak Umay. Ia mengenakan kacamata hitam untuk menciptakan trik seolah buta, padahal aku tahu kedua matanya masih berfungsi sangat baik. Aku mengalihkan pandangan dari mereka. Walaupun tidak semua orang jalanan seperti itu, hal seperti ini tetap sudah biasa di kehidupan jalanan. Aku jadi teringat perkataan ibuku, “Allah tuh nggak suka dengan orang yang meminta-minta! Walaupun kita orang kecil, paling nggak kita harus jadi orang yang besar di mata Tuhan. Selama kita mampu, jangan ngemis. Ngamen juga harus jujur, nggak boleh nipu orang dengan berpura-pura begini dan begitu. Ingat ya, Nak.”
Aku sangat mencintai Ibu dan adik-adikku, juga ayahku yang telah almarhum. Sebagai anak sulung laki-laki, akulah tulang punggung keluarga. Meski keadaan kami seperti ini, kami jarang sekali mengeluh. Ibu selalu mengingatkan kami untuk bersyukur, katanya dengan begitu Allah akan melipatgandakan rezeki kami. Rezeki tidak hanya berupa uang, semangat juangku untuk terus bekerja juga kuanggap sebagai rezeki dari Allah. Fisik yang kuat dan gerak yang lincah membuatku tahan berlama-lama di jalanan. Aku bersyukur meski tidak selalu bisa makan enak setiap hari, paling tidak aku tetap sehat. Itu cukup sebagai modal menghidupi keluargaku.
 “Adul!” sapa seseorang. Aku menoleh ke samping dan melihat Bang Ical tengah berjalan ke arahku. Bang Ical adalah pengamen yang ‘punya’ kawasan sini. Rambutnya keriting dan bertampang sangar, tapi sebenarnya dia sangat baik. “Eh, Bang.” Aku mengangguk lemah.
“Udah dapat banyak?” tanyanya dengan nada ramah.
Alhamdulillah, Bang.” sahutku mencoba terdengar bersemangat.
Bang Ical sepertinya mengerti keadaanku yang sebenarnya. “Harus semangat, dong. Empat jam lagi buka puasa. Nanti datang aja ke dekat Plaza Indonesia, kabarnya bakal ada bagi-bagi takjil gratis.”
“Wah, makasih infonya, Bang!” aku tersenyum sumringah. Bayangan akan membawa pulang sedikit makanan membuatku senang. Aku tidak perlu melihat adik-adikku menangis kelaparan. Bang Ical menepuk pundakku dan berlalu. Dengan semangat baru, aku memutuskan untuk mengamen lagi di kawasan lain dekat jembatan penyeberangan orang (JPO).
Aku menghampiri warteg pinggiran yang menampilkan kaki-kaki ‘tanpa kepala’, belum lagi aku mulai bernyanyi, si pemilik warung sudah memberikan kepingan lima ratus perak. “Jangan di sini, biar gak berisik”, ujarnya padaku. Aku tidak merasa sakit hati, hal seperti ini sudah biasa di bulan ramadhan. Para pemilik warung yang buka di siang bolong begini memang sangat mengutamakan kenyamanan pelanggan yang tengah makan diam-diam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkah keluar, diikuti seorang bapak-bapak yang juga hendak keluar setelah membungkus makanan.
Bapak berkemeja putih garis-garis itu berhenti sebentar untuk membetulkan sepatunya yang hitam mengilap, kemudian berjalan menaiki motor hitamnya yang terparkir. Aku memandangi kepergian bapak itu sembari menyeka keringat yang mengucur. Mataku menangkap sesuatu di tempat bapak tersebut berhenti sebelumnya—ada semacam bungkusan yang dibalut kresek hitam.
Kupikir mulanya itu sampah, setelah kudekati ternyata plastik itu berisi uang! Uang yang sangat banyak! Beberapa ikat uang lima puluh ribuan menumpuk di dalamnya. Aku kalang kabut, tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Ini pasti uang milik bapak berkemeja putih tadi. Aku melongokkan kepala tinggi-tinggi, bapak itu sudah pergi cukup jauh. Buru-buru aku mencari ojek di sekitar sana dan mencoba menyusul bapak tadi dengan satu-satunya penghasilanku hari ini.
Alhamdulillah, motor hitam milik bapak berkemeja putih itu terkejar di lampu merah. Aku meminta bapak tersebut menepi dan kamipun berbelok di persimpangan.
“Bapak, ini uang milik Bapak. Saya melihatnya di depan warteg tadi.” ujarku sedikit membungkuk dan menyodorkan barang milik bapak itu.
Bapak itu terkejut bukan main. “Astagfirullahaladzim!” Ia meraih uang tersebut dan menatapku nyaris menangis. “Ya Allah, Ya Allah! Ini uang untuk biaya pengobatan anak saya di rumah sakit. Syukurlah, masih ada orang yang jujur seperti kamu.. Kalau sampai hilang saya tidak tahu harus mendapatkan uang kemana lagi. Terima kasih banyak ya, Nak!”
“Sama-sama, Pak. Kalau boleh tahu, anak Bapak sedang sakit?”
“Iya, sedang dirawat karena penyakit ginjal. Sekarang sedang ditemani oleh istri saya di rumah sakit.Saya mampir dulu ke warteg untuk beli makan buat istri saya.”
“Lho, istri Bapak tidak berpuasa?” pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku segera menutup mulut karena takut dibilang lancang. Tetapi bapak itu hanya terkekeh, “Biasalah wanita, ada masanya mereka berhalangan.” Sejurus kemudian bapak tersebut balik bertanya, “Oh ya, kamu lagi puasa?” Aku tersenyum sopan dan mengangguk.
Bapak itu diam sejenak seolah sedang menilaiku. Yang kutangkap, sorot matanya memancar kekaguman. “Hebat kamu ini, sudah sopan, jujur pula. Habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau mengamen lagi, Pak. Masih banyak waktu sebelum maghrib. Saya perlu membawa makanan untuk Ibu dan adik-adik saya.” Jawabku diiringi cengiran lebar. Hatiku merasa lega karena dapat membantu bapak ini. Kalau tadi aku tidak melihat setumpuk uang itu, keluarganya pasti akan sangat sedih kehilangan biaya pengobatan anaknya.
“Ini, belikan keluarga kamu makanan yang enak-enak.” ujar bapak itu sembari menyodorkan beberapa lembaran merah. Mataku melotot nyaris keluar dari rongganya. Aku mengangkat sepuluh jariku ke depan, “Maaf, Pak saya bukan pengemis. Saya juga tidak bermaksud minta apa-apa. Saya tidak bisa menerima uang ini, saya tidak berhak—“
“Ambil saja,” desak si Bapak dengan senyum di wajahnya. “Ini ungkapan terimakasih dari saya. Anggap saja Allah sedang ngasih kamu rezeki melalui saya. Rezeki jangan ditolak, Nak..”
“T-tapi, Pak—“
“Wah saya harus buru-buru nih ke rumah sakit, tapi saya gak akan pergi sampai kamu nerima uang ini.” Bapak di hadapanku menggertak halus, bibirnya masih tersenyum. Akhirnya dengan kedua tangan gemetar aku menerima uang tersebut. Jumlah uang terbanyak yang pernah kupegang seumur-umur.
“Nah gitu dong. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Nak. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu..”
“Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan Bapak..” tuturku pelan, masih takjub dengan apa yang ada di tanganku. Kemudian bapak tersebut berlalu dari pandanganku. Aku buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan apa yang kucari. Dengan langkah lebar-lebar aku menuju tempat tersebut. Aku melepaskan sepasang sandal butut yang kugunakan dan mulai mengambil air wudhu. Aku ingat apa yang pernah Ayah katakan, susah ataupun senang harus ‘lapor’ ke Allah dulu. Walaupun Dia Maha Tahu, Allah lebih senang kita ngadu ke Dia. Dan sekarang aku bertamu ke rumah Allah, aku mau ngadu—ada rezeki tak terduga datang!
Bagi orang kecil sepertiku, bahagia itu sederhana.
Dalam shalat sunahku, tak henti-hentinya hati ini bersyukur. Aku membawa lebih dari cukup uang untuk makan kami beberapa hari ke depan. Malam ini dan sahur besok, kami sekeluarga dapat makan yang enak. Sepulang ini aku akan membeli es pisang ijo kesukaan Ibu, beberapa gorengan dan nasi bungkus untuk aku dan adik-adikku. Oh iya, tak lupa aku harus menyedekahkan uang ini ke orang lain yang juga membutuhkan. Supaya mereka juga ikut senang!
Hari ini, aku pulang dengan langkah ringan dan senyum yang terus mengembang.
Allah benar-benar Mahabaik. Baru saja beberapa jam lalu aku khawatir karena di kantong hanya ada sembilan ribu rupiah, kini Allah memberiku berkali-kali lipatnya. Ternyata kalau kita sungguh-sungguh berusaha dan berlapang dada, maka Allah akan memberi jalan. Seperti apa kata firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)
---

Pada Februari-April 2018 lalu, Pen Fighters mengadakan lomba menulis cerpen Road to Ramadhan dengan tema Berderma di Bulan Penuh Berkah. 3 juara dan 17 kontributor terpilih cerpennya akan dibukukan. Cerita yang baru saja kau baca adalah salah satu cerpen terpilih itu. Berikut penampakan bukunya hehehe.



Mar 1, 2019

Jatinewyork

March 01, 2019 0 Comments

Februari 2019.

Ketika menulis ini, hari masih siang. Waktu baru menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit. Aku menyalakan lampu kamar. Kemana perginya matahari? Sinarnya yang terik tengah hari tadi kini sudah tergantikan oleh gemuruh petir dan hujan deras yang perlahan berubah menjadi gerimis.
Aku mulai menyalakan laptop setelah menyingkirkan buku bacaanku di meja belajar. Sudah terlalu lama aku tidak menulis lagi. Padahal benakku terus merangkai kata, menuangkannya ke memo hp untuk kemudian terlupakan begitu saja. Seseorang bertanya padaku, “Kok jarang nulis lagi di blog?”. Pertanyaan itu membuatku berpikir cukup lama. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kupikir, karena aku mau membenahi seluruh postingan blog ini namun terlalu malas dan bingung memulai dari mana. Yang pasti, aku akan mulai menulis lagi. Untuk apa perpanjang masa penggunaan domain blog kalau blog-nya dibiarkan berdebu.

Di luar, hujan kembali menderas.                           
Belakangan, aku cukup banyak memikirkan kawasan tempatku menempuh studi tiga tahun lebih ini, yaitu Jatinangor. Mungkin karena tahun ini aku akan sudah angkat kaki dari kampus, rasanya tubuh dan pikiranku ‘diprogram’ untuk lebih memaknai hal-hal sekitar. Aku tidak melihat alasan dapat kembali lagi ke sini nantinya, bahkan untuk sekadar bernostalgia. Jadi, aku harus menikmati setiap detailnya selagi bisa.
Setiap paginya, terdengar kicauan burung menyapa hari yang baru. Juga bunyi sapu lidi bergesekan dengan halaman—srek-srek-srek. Aku menyukai sensasi dingin yang menjalari kulitku di kala subuh tak berselimut, atau kesegaran udara pagi yang dengan lembut menyambangi hidung. Terkadang, percikan air dingin membuat mandi menjadi urung. Sejak merasakan air di sini, air di rumahku tidak lagi terasa dingin. Di sisi lain, mulutku dua kali lipat lebih sering mengeluh gerah saat kepanasan di kota tempat tinggal, saking terbiasanya dengan hawa dingin di sini.
Kamarku tidak begitu besar, tapi cukup nyaman. Tempat di mana aku menggantungkan mimpi-mimpi dan rencanaku, foto orang-orang tercinta dan untaian kata-kata penyemangat, pada dindingnya yang berwarna pink pucat. Ini tempat terbaik bagiku untuk me-time. Mengisinya dengan menonton Drama Korea, variety show, atau sekadar membaca buku. Juga bergelung di atas kasur, bermain handphone hingga jatuh tertidur. Hah~ waktu luang adalah sebuah kemewahan.
Ketika menghabiskan waktu di luar, kepulan asap mengiringi truk-truk besar yang berlalu-lalang. Aku menyukai langit biru dengan gumpalan awan yang berarak di atasnya, seolah menaungi kota dan segala hiruk-pikuk masyarakatnya. Yaa, di mana-mana langit dan awan sama saja, sih. Tapi di sini lebih sering yang dapat terlihat, mungkin karena aku banyak berjalan juga.

Di luar sana, hujan sudah berhenti, tapi masih terdengar gemuruh petir sesekali.
Lalu, dunia perkuliahan. Sama saja sih pada umumnya. Mencurahkan tenaga serta pikiran dalam berorganisasi dan tugas-tugas kuliah. Kakiku terbiasa melangkah cepat, sebab seringnya aku—nyaris—terlambat. Aku mengenal banyak orang dengan beragam karakter, beberapa di antaranya kemudian menjadi sahabatku. Akan sangat panjang bila bercerita tentang semuanya. Yang pasti, aku senang mengenal mereka, bahkan siapapun yang pernah memberi luka.
Bicara soal makanan.. ah, bingung memulainya. Dari ujung ke ujung, bertebaran banyak sekali gerobak jajanan, warung kaki lima, hingga semi-kafe. Belakangan ini aku banyak menghabiskan waktu di Checo, real kafe yang cozy dengan beragam menu yang enak parah, menurutku. Tapi aku tak bisa sering-sering ke sana kalau tidak mau uang bulanan cepat habis 😊. Bagaimanapun, aku lebih suka sate taichan-nya Dapur Bu Lin, roti bakar Tom & Jerry, Wiscar, Chocolate Changer, Papaaus, De’Chick, Warung Suroboyo, dan Chani. Oh ya, seblak kari’am juga tuh. Enak. Sandy Delivery! Atau Kantin Mega! Aaaah tidak ada habisnya kalau membicarakan topik ini.

Oke, hujan sudah benar-benar berhenti sekarang. Hawa semakin dingin.
Jika cukup beruntung, aku akan mendapat tempat duduk di dekat jendela ketika berada dalam bus yang membawaku pulang dan pergi. Memandang langit yang masih pagi, pepohonan yang seolah berlari, atau sinar matahari yang kian terik. Aku suka bagaimana pikiranku melayang ke segala memori, mengandaikan yang tidak pernah terjadi atau mengenang beberapa kenangan yang pahit. Tak lupa juga aku membaca doa dalam hati. Terkadang, sekelebat hal-hal manis sempat membuatku tersenyum sedikit. Aku pengingat yang baik, dan aku menyimpan segala kenangannya dengan apik.
Termasuk semua tentang Jatinangor ini.
Apa yang kutuliskan di atas memang terkesan abstrak, sebab aku tidak menggambarkan Jatinangor secara spesifik. Jadi barangkali, ketika sedang ingin, aku akan menuliskannya lagi nanti. Siapa tahu bisa jadi informasi bagi mereka kelak yang akan hidup di sini sebagai mahasiswa.
Udah ah.

Feb 21, 2019

Story: Lelaki Pujaan Kintan

February 21, 2019 0 Comments
Aku memandang rombongan anak berseragam putih-merah yang tengah menyeberang jalan dengan riang. Hatiku seolah menghangat, ingatanku melayang ke masa sekolahku sendiri—belasan tahun lalu. Momen ketika perasaan itu menumbuhkan ambisi, dan membentukku menjadi seperti sekarang ini..
Lampu lalu lintas berubah hijau; aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Sementara otakku bergerak lambat, memutar kenangan cinta pertama yang kental dalam ingatan.
***
Aku menatap sosoknya dari kejauhan, sembunyi-sembunyi di balik pagar kawat sekolah. Warna-warni cerahnya balon amat kontras dengan pakaiannya yang lusuh. Ia memberikan balon-balon itu pada teman-temanku yang lain. Wajahnya kelihatan letih, tapi senyumnya terus mengembang. Seorang teman menepuk pundakku keras sekali. Aduh. Aku meringis sementara ia tertawa mengejek, “Gak ikutan minta balon?!” cibirnya sambil lalu.
Saat lainnya. Dengan napas tersengal dan kaus lengket oleh keringat aku menghampiri kawasan kontruksi di tepi jalan besar itu. Aku tahu ia ada di sana. Kutitipkan nasi bungkus yang kubawa ke pos satpam. Kusisihkan uang jajanku untuk membelikannya makanan dari warteg terlezat. Pak Satpam memandangku heran bercampur takjub, “Kamu datang lagi.” sapanya tersenyum. “Jangan kesini terus, Nak. Lalu lintas sedang ramai di jam-jam ini. Kamu dan sepedamu bisa terserempet mobil.”
Aku hanya tersenyum sopan. Pak Satpam sudah bilang begitu lusinan kali. “Gapapa, Pak. Tolong kasih saja titipan saya, jangan beritahu kalau ini dari saya. Seperti biasa, bilang kalau ini—”
“Ya ya, Bapak akan bilang ini titipan dari Bos. Bapak hapal permintaan kamu.” Lagi, beliau tersenyum maklum.
Hari-hari lainnya. Kami bertemu di persimpangan sekolah. Ia membungkuk hingga matanya sejajar dengan mataku. Sorot matanya nampak kagum. “Kintan,” ucapnya dengan suara serak yang sudah kuhapal di luar kepala. “Namamu cantik. Kamu juga cantik. Tapi, cantik saja tidak cukup untuk hidup di dunia yang keras ini. Kamu harus tumbuh pintar, cerdas, membuat bangga ayah dan ibumu.. Hiduplah dengan baik, Kintan. Jadilah versi terbaik dirimu.” Ia mengusap kepalaku lembut, lalu kembali menggiring sepedanya dan keranjang berisi cilok dagangan. Ia tidak tahu kalau aku tahu, tempat tujuannya yang berikutnya adalah kawasan kontruksi.
Kau pasti tidak bisa membayangkan bagaimana beberapa patah kata darinya, mampu mendorong seorang bocah kelas 4 SD yang pendiam sepertiku menjadi bintang kelas hingga kelas 6 kini. Menjadi favorit para guru. Dikagumi kawan-kawan. Bersemangat untuk hidup di atas rata-rata.
“Nilaimu yang tertinggi lagi!” keluh Nissa berkacak pinggang, pura-pura marah di sebelahku setelah guru kelas kami mengumumkan hal itu. “Katamu semua berkat kekuatan cinta pertama. Seribu kali aku bertanya, kamu tetap gak mau bilang siapa dia! Aku kan penasaran siapa yang bikin sahabatku berubah begini.” ia memberengut, sementara aku hanya tersenyum getir. Ceritanya cukup pahit untuk dibagikan, aku belum siap memberitahu siapapun—kecuali satu, yang kutahu takkan pernah membocorkan rahasia, namun juga sangat mengerti lebih dari yang bisa kuungkapkan; Tuhan.
Memasuki masa paling krusial dalam umurku saat itu, minggu-minggu menjelang Ujian Nasional berlalu—siangnya aku mengerjakan banyak latihan soal dan bermain di sela-sela waktu. Kemudian mengulang pelajaran dan berdoa di malam hari. Aku harus lulus ujian dengan nilai terbaik. Begitu yang selalu kutanamkan dalam diriku; dan pada Tuhan, aku meminta-Nya untuk memberiku kekuatan mewujudkan impian itu. Keberhasilan ini tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan orang yang kucintai—ya, dia. Yang perlu dicamkan, kau boleh berusaha sendiri hingga titik darah penghabisan, tapi Tuhan yang memegang kendali segalanya. Itulah mengapa aku tak pernah absen berdoa.
Hingga akhirnya, impian itu terwujud.
Hari itu tiba. Aku nyaris berlari menemuinya, dengan secarik kertas kecil bertuliskan “LULUS” di genggaman tangan. Langkahku melambat ketika kudapati sosoknya telah berada di gerbang sekolah.
“Kamu lulus.” Itu bukan pertanyaan, dia sudah tahu.
“Katanya, nilai ujianmu yang paling tinggi dari seluruh murid SD di kecamatan ini.” Ia menerawang, nadanya terkesima. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kemarilah..” Ia menekuk sebelah lututnya dan membentangkan tangan lebar-lebar, mengundangku dalam pelukannya. Saat itulah aku menghambur memeluknya—cinta pertamaku. Perasaanku campur aduk, senang dan terharu hingga air mataku membanjir di kemejanya yang kusut.
“Hebat, putriku memang hebat..” bisiknya.
***
Assalamualaikum, Ayah…” ucapku lirih, begitu sampai di tempat yang kutuju.
Kupandangi batu nisan milik Setyo Prawira Seruni—cinta pertamaku, mimpi dan harapanku, Ayahku. Ayah si penjual balon depan sekolah, seorang kuli bangunan di kawasan kontruksi tepi jalan besar, dan pedagang cilok keliling—Ia menjelma menjadi apa saja demi menghidupi putri yang ia cintai tanpa dampingan istri.
Aku ingat tubuh kecilku mengejang kaku dan lidahku kelu saat Ayah berkata selembut mungkin, “Ibumu menikah lagi. Saat itu keadaan lebih sulit dari sekarang. Kita memang berkekurangan, tapi tidak miskin. Ayah masih mampu menafkahi keluarga ini meski tidak seberapa. Tapi rupanya, ibumu tidak tahan dengan semua ini dan memutuskan untuk pergi… Ayah tidak mengizinkannya membawamu, Kintan. Ayah boleh kehilangan istri, tapi tidak darah daging Ayah sendiri..”
“Berjanjilah pada Ayah, seperti apapun keadaannya, kamu akan selalu menghormati ibumu.” pinta Ayah, seolah memahami tatapanku yang sarat akan sakit hati dan benci: Ibu meninggalkan kami.
Sejak kusadari betapa besar pengorbanan Ayah dan rasa cintanya terhadapku, aku bersumpah pada diriku akan memberinya kemewahan hidup. Aku akan tumbuh menjadi putri cantiknya yang cerdas, sukses, versi terbaik dari Kintan—seperti yang pernah ia katakan. Sayangnya, begitu cepat Tuhan memanggil Ayah. Tepat ketika aku hendak naik ke kelas 3 SMP. Membuatku sangat terluka…
Ponselku bergetar. Ada messenger dari Nissa. Ya, Nissa sahabatku sedari SD itu. Kau masih di makam? Aku sudah selesai packing, barang-barang kita sudah disatukan biar tinggal angkut. Aku menunggu di apartemen, kita masih harus belanja sesuatu agar besok di Canberra tinggal bersantai. Salam untuk cinta pertamamu!, tulis Nissa. Aku membalas, good girl! Tunggu aku pulang.
Aku menyiram batu nisan dengan air mawar, menabur bunga-bunga di atas tanahnya yang kering sambil bercerita, “Yah, seperti yang Ayah tahu, aku sudah lulus kuliah satu setengah tahun lalu. Aku sempat bekerja di sebuah perusahaan bergengsi, tapi memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Ayah tahu aku senang belajar kan? Suasana kantor yang begitu-begitu saja membuatku jenuh. Aku mendaftar beasiswa lagi, seperti waktu kuliah kemarin; dan berhasil mendapat tempat di Australian National University. Di Canberra, lho, Yah. Keren, kan?” suaraku parau oleh air mata yang mendadak keluar.
“Jangan khawatir, aku tidak sendirian. Nissa juga berkuliah di sana. Entah sudah berapa banyak tahun kulewati dengan hidup bersama dia, Ayah. Untunglah Nissa sahabat yang sangat, sangat baik. Dan, oh—apartemen kami akan disewakan selama kami tidak ada. Ayah sama sekali tidak perlu khawatir... putri semata wayangmu sedang mengukir cita-cita setinggi mungkin.”
Aku mengecup puncak nisan Ayah dan melangkah pergi. Esok aku dan Nissa akan ikut penerbangan pagi. Entah apa aku bisa pulang lebih cepat, yang pasti masa studiku dua tahun di sana. Selama aku tidak di sini, aku hanya dapat menitipkan Ayah pada Tuhan—penjaga kami yang paling kuat. Semoga Tuhan menjaga cinta pertamaku, dan.. bolehkah kini aku meminta dipertemukan dengan cinta terakhirku?

Siapa tahu? Mungkin aku akan menemukan jodohku di Canberra.


Pertengahan Juni lalu, Inspira Pustaka Aksara menggelar lomba menulis cerpen bertema 'Cinta & Doa'. Cerpen di atas adalah naskah yang kuikutsertakan, dan menjadi bagian dari 55 peserta terbaik. Kurang lebih penampakan bukunya macam di bawah ini:

Jul 23, 2018

Story: Coulrophobia

July 23, 2018 0 Comments

14 Februari 2018 lalu Bakbuk.id mengadakan lomba cerpen & novel bertema cinta. Dari 1885 naskah cerpen yang masuk, terpilihlah 75 cerpen terbaik yang dibukukan ke dalam 3 buah antologi cerpen. Salah satunya berjudul #CintaItuApaan (Part 2), di mana karyaku termasuk di dalamnya. Alhamdulillah. Berikut kisahnya:

Jun 8, 2018

Moody

June 08, 2018 0 Comments

Di suatu siang berhawa panas, membuatku yang sudah mandi terasa seperti belum karena lengket dengan keringat.

Udah lama gak nulis blog; selama ini Twitter menjadi tempatku meracau segala sesuatu. Dan kali ini, aku mau menjabarkan beberapa minggu kemarin yang terasa berat, kacau, dan aneh. Siapa tahu ada yang senasib (?)
pexels.com

Pertama, soal tugas-tugas kuliah.
Buat sebagian orang, hal ini gak perlu dipusingkan. Syukurlah kalau kamu termasuk orang yang seperti ini. Tapi ini bukan tentang kamu, ini tentangku yang sadar bahwa aku mudah sekali tertekan ketika ditimpa banyak tugas—dengan deadline berdekatan setidaknya. Aku menyicilnya, mengerjakan sebaik mungkin entah itu tugas kelompok atau individu. Aku tidak ‘sendiri’, seringkali banyak yang bertanya kepadaku mengenai detail pengerjaan tugas itu. Ada yang sampai datang ke kostan juga. Aku selalu berusaha untuk menghadapi dengan sabar, menjelaskan sepengetahuanku meski terkadang aku lelah sendiri. Beberapa orang mungkin menangkap sikap enggan dan nada gusar dalam suaraku ketika menjelaskan langsung atau via telepon. Sorry, but I’m human too. Seperti kata salah seorang temanku, “Lo gak bisa jadi ibu peri buat semua orang.”
Ada beberapa momen di mana aku sudah benar-benar kesal terus dirongrong berbagai pertanyaan, atau justru dalam kelompok pertanyaanku diabaikan. Jangan salahkan aku bila aku bersikap ketus. Atau sengaja tidak membalas chat, mengabaikan telepon, dan mematikan data seluler. Ketiga hal ini biasanya kulakukan pada satu orang saja,  I can say that he’s my close friend, but sometimes he annoyed me. Dia tahu itu, begitu sadar nada bicaraku sudah tidak enak ketika menjelaskan, dia akan langsung berkata, “Iya, iya, gak usah marah-marah gitu dong, Lin..” rajuknya.
“Apaan dah orang biasa aja.”
“Enggak anjir, beda...” bla bla bla bla. Dan cara bicaranya mau tidak mau membuatku tersenyum juga meski enggan.
Nah, untuk problem yang satu ini, aku pernah baca postingan viral line sejenis—tentang orang yang segitu maunya direpotin orang lain; gak bisa menolak memberi bantuan. Entah karena faktor gabut, gak enakan, sangat tidak egois, dan lain-lain. Pokoknya isi postingan itu bilang, dalam Islam, seseorang yang membantu meringankan beban orang lain akan diringankan bebannya di akhirat (kalau gak salah ingat). Hmmm…
Bisi ada yang salah paham. Sebenarnya aku tidak keberatan membantu orang lain selama hal itu bisa kulakukan. Menanggapi pertanyaan bukan hal yang sulit, yang susah adalah ketika saat itu mood-ku dalam kondisi jelek. Bayangkan rasanya, ada orang yang memintamu membantu membuat UP-nya ketika kamu sedang sibuk-sibuknya mengedit tulisan dari 11 orang berbeda untuk dijadikan satu makalah runut dan rapi. Gila, marah rasanya waktu itu. Aku menolak dengan bahasa sesopan mungkin. Terkadang, makin formal dan sopan bahasaku itu berarti aku sudah di puncak kekesalan.
Aku sadar, bukan tugas-tugas menguras waktu dan pikiran yang membuatku tertekan. Tapi, keseharianku berjibaku dengan urusan duniawi itulah yang membuatku hampa, monoton, dan terbebani. Seharusnya aku bisa menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi. Aku melihatnya sebagai cara Tuhan menegur, mengundang kita untuk mendekat kepada-Nya, karena ketenangan batin memang hanya didapat lewat sana. Dan masalahku ini memang batin, psikis—bukan fisik.
Well, untuk masalah ini aku pikir solusinya adalah belajar lebih sabar dan ikhlas dalam bekerja maupun membantu orang lain. Yang terpenting, aku harus belajar tentang MANAJEMEN STRES. Apa kabarnya aku di dunia kerja kalau mengatasi stres musiman saja tidak bisa? Apalagi beberapa pekerjaan menuntut kriteria ‘mampu bekerja di bawah tekanan.’ Dan jauh di atas semua itu, tentu aku harus menyeimbangkan urusan dunia dan non-duniawi.

Kedua, masalah moody-an.
Ugh, aku benci ketika diperbudak oleh mood. Bawaannya males ngapa-ngapain, cuma tiduran dan scrolling timeline apapun sampai kuota tahu-tahu menipis. Baca males, nulis males, ngobrol sama orang juga enggan. Di satu sisi gak mau menghabiskan waktu sendirian—berbagai paradoksitas dalam diriku yang membuat tingkahku tak karuan. Puncaknya adalah ketika aku akhirnya menangis setelah temanku bilang tidak bisa menemukan sertifikat resmi TOEFL-ku. Padahal waktu itu aku beres sholat, seharusnya pikiran relatif tenang. Yang ada, aku malah menghela napas berkali-kali sambil bergumam, “haduh, kesal, kesal” dan akhirnya sesenggukan. Culun? I don’t care what you think about it..
Selama menangis, pikiranku berkecamuk. Soal tugas, rasa kesepian, hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana… aku menangis sambil chatting dengan beberapa orang yang kupilih untuk sharing masalah ini. Aku menangis selama satu jam penuh dan sadar betapa lebih tenangnya aku setelah itu. Aku sudah lupa kapan terakhir kali menangis, dan kali itu rasanya melegakan. Aku menganggap tangisan itu adalah luapan emosi yang telah lama kutahan-tahan. Ya, aku tipe orang yang lebih banyak menahan diri—dan ini tidak baik.

Ketiga, banyak hal-hal remeh yang membuat kesal.
Salah satunya ini: jadi postingan terakhirku di blog tidak terindeks google, walaupun aku sudah fetch as google, statusnya terus redirected. Padahal artikel itu kuikutsertakan dalam lomba. Aku googling dan ngulik sendiri alasan kenapa bisa begitu, dan bagaimana membetulkannya. Praktiknya cukup sulit, aku kurang mengerti. Lantas aku bertanya ke grup line square yang isinya blogger-blogger. Mulai dari yang expert sampai yang ecek-ecek kayak aku. Ada seorang yang menyahut, “Coba cari di blog google.com …. Semuanya lengkap di situ.”
Syalan.
Kalau gue nemu di google juga gak akan gue nanya ke situ :( sebel gak si. Gedek banget. Lagipula, apa gunanya ada grup kalau gak bisa dipake buat bantu solving problem seputar yang bersangkutan?? Untung gue gak kenal sama ini orang, jadi gue masih bisa nahan diri buat gak ngegas dan lebih memilih menjawab, “Hmm yaudah makasih deh.”
“Sangat informatif.” timpalnya. Siapapun dia, dia telah membuat gue malas lagi muncul di sana.
Apa lagi ya?
Kabar terkini, keadaanku sekarang sudah lebih baik. Gak terikat emosi-emosi negatif. Aku sudah lebih ringan karena sudah menyelesaikan tiga dari enam tugas akhir yang ada. Sudah lebih ceria karena bertemu dengan kawan-kawan baik di momen bukber dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Aku ke toko buku, membeli buku best-seller soal self-healing dan notebook bersampul lucu. Banyak hal yang kulakukan demi mencoba membahagiakan diriku sendiri. Kasihan dia, selama ini aku terlalu memaksanya tenggelam dalam emosi negatif.
Satu yang kusayangkan adalah, betapa cepat waktu berjalan. Aku sama sekali tidak sadar Ramadhan tinggal satu mingguan lagi. Apa-apa saja yang telah kukerjakan?

May 16, 2018

Popbela: Media Online Wanita Yang Siap Membantumu Tampil Keren!

May 16, 2018 0 Comments
pexels.com

Attention, Ladies!

Menjadi keren tidak cukup hanya dengan penampilan yang kece aja, kamu perlu meng-upgrade diri kamu agar memiliki kepribadian yang menawan. Untuk itu, menjadi wanita yang cerdas, berwawasan luas, dan produktif sangatlah penting. Dengan ini kamu mampu membawa diri dalam segala suasana dan membagikan aura positifmu pada orang banyak. Sulit gak sih untuk menjadi wanita macam begini? 
Mari kita manfaatkan era digital yang semakin berkembang! Menjadi wanita kekinian yang keren tentu tidak boleh ketinggalan informasi. Alangkah menyenangkan bisa mengakses segudang inspirasi busana, berita terkini, hingga tips & trik dalam satu wadah informasi yang simple. Nah, dari sekian banyak media online, cukup satu yang menjadi pilihan utama. Kini, semua kebutuhan dan pesona wanita muda Indonesia dapat kamu temukan di Popbela! 😄
welcome to popbela/source:popbela.com

Popbela menyajikan segudang informasi yang perlu diketahui wanita. Konten yang ditampilkan tidak melulu soal fashion, beauty, dan lifestyle. Di sini kamu juga dapat mengakses beragam serba-serbi menarik terkait politik, karir, entertainment, hingga relationship. Dari problema single hingga married, semua dikupas tuntas! Detail banget kan, ladies?
Komitmen Popbela adalah menginspirasi para wanita agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Gak heran konten yang disajikan full of positivity dan worth-sharing. Tampilan situs yang eye catching juga dijamin membuat kamu betah berlama-lama scrolling. Baca satu artikel aja gak akan puas deh. 😏

pexels.com
Kamu kekurangan ide untuk mix & match baju? Gak tahu model berpakaian apa yang lagi tren sekarang? Atau bingung aksesoris mana yang bisa membuatmu nampak lebih trendi? Jangan khawatir! Lewat menu Style & Trends dan Look for Less pada kategori Fashion Popbela, temukan tren yang sedang booming di mancanegara dan inspirasi OOTD yang bikin penampilanmu kece badai! Cek di sini.


pexels.com
Ini konten favorit penulis, dan pastinya yang paling dicari-cari oleh para wanita! Kategori Beauty di Popbela terbagi menjadi Hair, Skin, Make Up, dan Health. Penggolongan subkategori tersebut memudahkan kita para pembaca untuk mengulik info yang kita mau. Rekomendasi make up dan skincare terbaik juga pasti ada di siniDijamin deh kamu akan menemukan semua kebutuhan cantikmu di siniSiap-siap scrolling sampai juling! Hihihi 😁


pexels.com
Nah, nah. Popbela juga memerhatikan kehidupan sosialmu lho, ladies. Serba-serbi keseharian, hubungan persahabatan hingga percintaan bisa kamu temukan di kategori Relationship. Ada info menarik berdasarkan perhitungan zodiakmu juga! Popbela pun memahami kebutuhanmu akan sex education. Ketahui tips dan trik bermanfaat seputar kehidupan sex supaya kamu gak ketinggalan informasi penting ya! Yuk klik di sini.


pexels.com
Wanita yang produktif sudah pasti keren, karena ia mampu menyibukkan diri pada hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau orang lain.  Here we go!  Popbela menyediakan segudang motivasi dan inspirasi kehidupan pada kategori Career. Kamu akan menemukan banyak isu terkini hingga cerita selebriti di dalamnya. Mulai dari perjalanan bisnis, rekomendasi tempat wisata, hingga hal-hal yang menjadi inspirasi dalam hidup mereka dapat ditemukan di sini. Be positive, keep positive, share your positivity! 

Begini loh tampilan webnya/source:popbela.com
Sebagai salah seorang pengunjung rutin Popbela, penulis suka sekali dengan isi lamannya. Tampilannya simple and clean, semua kontennya informatif, dan disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan. Tentunya kita ingin belajar banyak hal tanpa melalui kalimat berbelit-belit yang membuat kita malas berpikir, kan?
Nah, Popbela adalah laman yang pas untuk kamu baca di waktu santai maupun sela-sela kesibukan. Penulis juga begitu! Jika dirasa terlalu bosan melihat foto-foto di Instagram atau scrolling status orang-orang di Twitter, cusss deh kunjungi laman berfaedah semacam Popbela. Meskipun terkesan sibuk sendiri dengan gadget di genggamansetidaknya waktu yang kamu habiskan tidak akan terbuang percuma. Iyadong, daripada ngepoin hal-hal gak berfaedah, mending pantengin Popbela. 😋
Kategori yang paling sering penulis kepoin itu Beauty dan Inspiration. Sebenarnya, banyak banget artikel yang jadi favorit! Setiap harinya berubah-ubah karena Popbela terus update informasi kekinian. Penulis bagi deh beberapa artikel recommended terfavorit saat ini di antaranya adalah 7 Beauty Vlogger Berhijab Yang Wajib Kamu Simak Videonya dan Manfaat Melakukan Double Cleansing Pada Wajah. Worth it to read? Absolutely!
Untuk kamu para wanita muda Indonesia, jangan lagi hanya menjadi sekadar ‘cantik’ ya. Yuk bersama-sama menjadi wanita cantik yang keren. Caranya? Extend your insight and make a good attitude!  Dressed up well is a must too! Bingung harus darimana memulainya? All you need is visit www.popbela.com ! 😄